Cari di sini, Bos

Selasa, 28 Juni 2011

Final Fantasy VII 5

“Pergi kalian! Don hanya menerima tamu wanita bukan pria. Sekarang pergilah kecuali kau membawa teman wanita kemari nona berkepang.” Seru salah seorang penjaga pintu gerbang di Corneo Mansion, rumah dari Don Corneo.
“Itu akan jadi masalah besar Cloud. Kita tidak bisa masuk dengan dirimu. Karena kau pria.” Kata Aeris kepada Cloud. Setelah lama mereka berpikir akhirnya Aeris mendapatkan ide untuk membuat Cloud menyamar sebagai perempuan. Tentu saja Cloud menolak ide gila ini habis-habisan tetapi ketika Aeris mengingatkan bahaya yang mungkin menimpa Tifa, Clud jadi luluh juga akhirnya dan menerima usulan dara cantik ini.
“Maaf, aku tidak punya pakaian yang cocok untuk temanmu nona. Karena badan temanmu terlalu besar.” Kata seorang penjual pakaian di tempat itu. “Kecuali jika kau memesannya dan kami akan membuatkan yang pas untuk temanmu yang…errr….pria ini. Tetapi kami butuh waktu sehari, besok siang mungkin akan selesai.” Ucap penjual ini lagi yang ternyata juga seorang designer pakaian.
“Terima kasih tuan. Oh iya, buatkan yang dapat membuatnya cantik yah, dari satin atau sutera. Uang tak jadi masalah.” Kata Aeris sambil menyerahkan uang sebesar 500 Gil kepada penjual itu.
“Wow. Dengan uang sebanyak ini kau bisa memperoleh pakaian semahal pakaian seorang Don nona.” Sahut penjual itu terpana ketika melihat besaran uang yang diserahkan Aeris.
Setelah keluar dari toko pakaian itu, Cloud menarik tangan Aeris, “Memang dari mana kau dapat uang itu?” Cloud sepertinya penasaran dengan gadis cantik ini.
“Hehehe…aku berhasil memperolehnya dari para pemuda di luar Honey Bee Inn setelah mereka termakan rayuanku.” Sahut Aeris sambil mengibaskan sisa uang yang tak kalah banyaknya dari yang tadi dihadapan Cloud.
“Malam ini kita menginap disini Cloud.” Kata Aeris sambil memesankan kamar untuk mereka berdua di hotel dekat toko baju tadi. Berhubung kamar kosong tinggal satu maka Cloud dan Aeris terpaksa tidur satu kamar dan satu tempat tidur pula.
“Hmmm…kau tidak berganti pakaian?” tanya Cloud pada gadis cantik ini. Berhubung kamar mandi pintunya berupa plastik transparan membuat Aeris tak nyaman dibuatnya.
“Itu khan yang kamu tunggu dari tadi. Memang aku gerah tapi kamar mandipun bisa dilihat dari luar. Sangat tak nyaman.” Sahut dara berkepang ini kepada Cloud yang sekarang sudah tiduran di tempat tidur besar di kamar itu.
“Jangan khawatir. Aku tak akan mengintipmu Aeris.” Kata pemuda pirang ini sambil membalikkan tubuhnya yang rebah itu membelakangi Aeris.
“Jangan mengintip!” Ancam Aeris yang kemudian membuka pakaiannya satu persatu dibelakang Cloud. Mulai dari jaket mini yang dipakainya hingga gaun terusan warna pink yang ia pakai sepanjang hari ini.
Dalam hati Cloud membayangkan seperti apa tubuh seorang Aeris. Dengan hati-hati dia menoleh sedikit kearah Aeris yang juga membelakanginya. Pemuda ini terkesiap ketika melihat pantat sekal padat milik Aeris yang putih mulus itu. Aeris benar-benar sedang telanjang sekarang. Saat Aeris sedikit menengok untuk mengambil celana dalam dan bra-nya, terlihat sepintas buah dada Aeris yang berputing pink itu dimata Cloud. Buah dadanya memang tidak sebesar milik Tifa yang besar sekali itu tetapi terlihat padat dan lebih mancung dari milik Tifa. Seperti buah pear, kata Cloud dalam hati.
Saat celana dalam Aeris nyaris mencapai puncaknya, tiba-tiba ada sepasang tangan mendekap tubuhnya dari belakang. “Cloud! Apa-apaan ini?” seru Aeris dengan nada tinggi. Tetapi sepertinya gadis cantik ini sudah tak berdaya lagi ketika tangan nakal Cloud sudah berkarya dengan kedua buah dadanya yang ranum itu dengan liarnya. Memang Cloud sangat ahli dalam merangsang perempuan terutama dari dada mereka. Remasan dari pemuda dibelakangnya itu membuat Aeris mau tak mau terangsang juga. Entah bagaimana tadinya, tiba-tiba dia sadar kalau celana dalamnya sudah lenyap dari kedua pahanya. Aeris terlalu terlena untuk sadar terhadap sesuatu yang menimpanya sekarang.
“Aeris. Kau cantik sekali. Aku menyukaimu cantik.” Kata Cloud mesra dari belakang telinga Aeris membuat bulu kuduk gadis ini seluruhnya berdiri. Seketika telinga dan wajahnya menjadi panas dan memerah karena malu sekaligus risih dengan perlakuan Cloud. “Kau juga seksi sekali.” Ucap pemuda pirang ini lagi sambil meningkatkan intensitas remasan tangannya.
“Cloud…kenapa jadi be..gi..ni…akhhh…” tanpa sadar Aeris mendesah karena tak kuat lagi menahan rasa nikmat yang mendera tubuhnya. Matanya menjadi semakin sayu seolah pasrah terhadap perbuatan Cloud pada dirinya. Namun mata sayu itu tiba-tiba saja berubah sesaat ketika jemari Cloud menyentuh kemaluannya. Lubang suci yang belum pernah disentuh orang lain sebelumnya. Sekarang jemari Cloud dengan nakalnya menggesek-gesek bibir vagina Aeris denan jemarinya sambil beberapa kali menstimuli klitoris gadis cantik ini dengan cara yang pandai.
Tubuh telanjang Aeris menegang dan menggelinjang hebat ketika Cloud memadukan ciumannya di leher dan bibir Aeris dengan remasan dan sentuhan pada buah dada maupun vagina gadis cantik ini. Aeris tanpa sudah mencapai orgasmenya secara cepat dengan kepiawaian Cloud dalam foreplay. “Akhhh….Cloud…” desah Aeris yang kemudian nyaris ambruk kebelakang jika saja Cloud tidak berada dibelakangnya menahan beban tubuhnya. Saat itu juga Aeris merasakan benda tumpul menempel di pantatnya. Dia baru sadar kalau Cloud sedari tadi sudah telanjang bulat.
Aeris yang berusaha melepaskan diri dari Cloud akhirnya lemas juga karena tubuhnya kini sudah diselimuti oleh hawa nafsunya sendiri yang tak kalah buasnya dengan milik Cloud. Dalam pangkuan Cloud yang duduk di pinggiran tempat tidur, Aeris menggeliat-geliat karena tak tahan lagi dengan rangsangan yang diberikan Cloud kepadanya. Entah sudah berapa ciuman, sedotan dan remasan yang hinggap di sekujur tubuhnya sehingga dibagian paha, perut, leher dan buah dadanya terdapat tanda cupang dimana-mana. Tanda bewarna merah ini menjadi saksi bagaimana ciuman maut Cloud membuat gadis se-innocent Aeris bisa berubah menjadi seliar perempuan seperti Tara.
Kemudian Cloud membalikkan tubuh Aeris hingga menghadapnya sekarang. Lalu diputarnya posisi duduknya dan sekarang Aeris telah rebah di atas kasur sementara kedua kakinya masih menjuntai kebawah karena tidak disangga apapun. Cloud lalu mengangkat dan melebarkan kedua paha Aeris lalu kepalanya menjulur kedalam selangkangan Aeris.
“Akhh…Cloud…jangan disitu…akhh…” desah Aeris ketika dia merasakan lidah Cloud menari-nari di bibir vaginanya dan selang beberapa detik kemudian Aeris mendesah lebih keras lagi ketika klitoris-nya di jilati oleh Cloud dan dipermainkan dengan lidahnya yang panjang itu. “Cloud…akhh…awww…” jeritnya tertahan ketika lidah nakal Cloud sudah menembus lipatan kedua bibir vaginanya dan terus merangsek kearah dalam liang kemaluan dara cantik ini. Sesekali ditusuk-tusukkan lidahnya itu kedalam vagina Aeris sehingga terkadang menyentuh selaput dara Aeris yang membuat gadis cantik ini menjerit kesakitan.
“Aeris. Vaginamu benar-benar wangi sekali Aeris. Seperti milik seorang dewi saja.” Puji Cloud yang membuat wajah Aeris tambah merah padam karena malu dan risih karena itu kali pertamanya dia menunjukkan tubuh bugilnya kepada seorang pria apalagi pria tersebut sekarang sudah menjamah seluruh tubuhnya tanpa sisa.
“Akhh..Cloud…aku…akhhh…” desah Aeris sembari menegangkan tubuhnya menggeliat seperti cacing kepanasan. Kepalanya menggeleng liar kekiri dan kekanan. Aeris mencapai orgasmenya yang kedua. Cloud menghentikan oral seks-nya dan memandang Aeris dengan senyuman penuh kemenangan. Lalu dengan perlahan dia mengangkat lagi kedua tungkai kaki Aeris dan disandarkannya dibahu miliknya. Bisa ditebak gerakan apa selanjutnya yang dilakukan pemuda pirang ini kepada Aeris. Pinggulnya maju kearah selangkangan Aeris yang terbuka lebar dan ditumbuhi bulu-bulu halus warna cokelat itu.
“Akhh…sakit…!!!” jerit Aeris ketika merasakan kemaluannya sedang dimasuki oleh benda asing yang sangat besar. Penis Cloud sekarang sedang berusaha mendesak masuk membelah bibir vagina Aeris yang putih bersih itu. Aeris yang masih perawan terang saja menjerit kesakitan. Namun Cloud tidak mengurungkan niatnya dan terus memaksa agar batang penisnya dapat masuk seluruhnya kedalam liang senggama Aeris yang masih sempit itu. “Akhhh…Cloud…sakitt…!!!” jerit Aeris lagi entah untuk yang keberapa kalinya. “Arrghhhh…!!!” kali ini Cloud berhasil menusukkan batang kejantanannya secara keseluruhan kedalam liang kemaluan Aeris. Seketika darah perawan Aeris mengalir dan membasahi selangkangannya dan juga batang penis Cloud yang putih kemerahan itu.
“Aeris. Kamu masih perawan yah ternyata. Aku bakalan lembut kepadamu sayang. Aku mulai goyangannya yah?” ucap Cloud kemudian mulai memaju mundurkan penisnya yang sudah terpancang kuat di liang kemaluan Aeris itu.
“Akhh…akhhh…pelan-pelan…akhhh…” rintih Aeris disela-sela sodokan-sodokan Cloud yang penuh nafsu itu. Tak jarang sesekali Cloud memutar-mutar penisnya untuk memberikan sensasi lebih pada batang kebanggaannya itu dan itu membuat vagina Aeris memperoleh tekanan lebih kuat yang membuat dara cantik ini terkadang kembali menjerit kecil menahan perih.
Puas dengan mengerjai Aeris dari luar tempat tidur, Cloud merubah posisinya. Sekarang dia mengangkat Aeris dan memangkunya diatas pinggiran kasur sementara Aeris membelakanginya. Dari sela-sela ketiak dari belakang Cloud meremas-remas kedua payudara Aeris yang sekarang sudah bertambah kencang akibat rangsangan bertubi-tubi tadi, sementara itu pinggulnya masih menagngkat tubuh Aeris dengan bantuan daya tolak pada per di pinggiran tempat tidur yang membuat tubuh Aeris dapat naik turun dengan leluasa.
Selama kurang lebih sepuluh menit vagina Aeris memompa penis Cloud, gadis ini sudah mulai lemas mungkin karena terlalu banyak orgasme karena setidaknya dia sudah 3 kali orgasme sampai detik ini. Darah perawan Aeris sudah habis dari sumbernya sementara bekas darah yang tadi menodai sprei kasur dan lantai juga beberapa tempat lainnya karena sedari tadi Cloud mengerjai Aeris dengan posisi yang berpindah tempat terus.
“Akhhh…Aeris sayang….” Desah Cloud sambil menggelinjang yang lalu menghunjamkan batang kejantanannya dengan keras sedalam-dalamnya pada liang kemaluan Aeris. Pemuda pirang ini menggelinjang hebat dan berejakulasi didalam vagina Aeris yang tadinya masih perawan itu. “Oh, kamu benar-benar luar biasa sayangku Aeris.” Puji Cloud yang lalu membaringkan Aeris yang telah letih itu keatas kasur sambil mencabut kemaluannya yang masih berada didalam kemaluan Aeris. Saat Cloud mencabut batang kejantanannya dari liang kewanitaan Aeris, terlihat cairan sperma Cloud mengalir dari dalam kemaluan gadis itu yang kemudian membajiri selangkangannya yang putih mulus itu.
Cloud lalu ambruk dan tidur memeluk Aeris yang sempat menitikkan air matanya melihat keperawanannya telah hilang malam itu. Anehnya walaupun Aeris menangis tetapi saat tengah malam Cloud bangun dan menyetubuhinya lagi dia tidak melawan sama sekali malah terlihat berusaha menikmati.
Cloud yang dengan giatnya memompa Aeris yang telah ditindihnya di atas kasur itu akhirnya harus berejakulasi lagi setelah setengah jam lamanya. Kali ini dia mengeluarkan sperma kloter keduanya diatas perut dan pusar Aeris yang putih mulus itu. Tak puas hanya dengan itu, Cloud kembali menyetubuhinya dengan gaya doggy style dan kembali berejakulasi didalam rahim Aeris. Terus berulang hingga menjelang pagi. Setidaknya Cloud sudah menumpahkan spermanya 7 kali berturut-turut ditubuh Aeris. Sekarang seluruh tubuh molek dara cantik ini sudah belepotan sperma yang lengket dan putih kental. Vagina, payudara, pusar, perut, pantat, punggung dan bahkan wajahnya juga telah dinodai oleh sperma Cloud.
Esok harinya mereka berkemas dan kembali ke toko pakaian. “Kau sakit nona? Kok sepertinya pucat.” Tanya sang penjual pakaian setelah melihat raut muka Aeris.
“Tadi malam di hotel banyak tikus nakal yang menyebalkan membuatku tak dapat tidur nyenyak. Tikus bewarna pirang….benar-benar menyebalkan.” Ucap gadis ini sambil membuka baju yang disusun rapi oleh sang penjual itu.
“Tikus warna pirang? Memangnya ada yah? Tapi kalau tikus memang di Midgar menjadi surga bagi tikus.” Balasnya tanpa tahu kalau ucapan Aeris tadi adalah sindiran bagi Cloud. Sementara Cloud sendiri tidak berkomentar karena masih sedikit merasa bersalah telah memerawani Aeris.
“Nah ini pakaian yang kupersiapkan tadi malam. Khusus untukmu nona…eh tuan….errr…maksudku…sudahlah. Ini untukmu.” Kata penjual itu kepada Cloud sambil menyerahkan pakaian berupa ‘gaun’ khusus untuk Cloud.
“Nah cocok bagimu nona Cloud. Hahahaha…” ejek Aeris. Dalam hati dia senang setidaknya sedikit kejengkelannya kepada Cloud telah hilang, walaupun sedikit.
Akhirnya mereka berdua berhasil masuk kedalam kediaman Don Corneo dan langsung disambut oleh pengurus rumah. “Kalian tunggulah disini! Malam ini Don akan memilih salah satu dari kalian bertiga untuk menjadi pasangannya nanti malam. Sebentar lagi akan dimulai kontesnya. Semoga beruntung.” Kata pengurus rumah itu yang lalu pergi meninggalkan Cloud bersama dengan Aeris sendirian.
“Semoga beruntung? Enak saja. Don itu hidupnya benar-benar mewah dan enak sampai-sampai tiap beberapa hari sekali mendapatkan jatah dari para perempuan yang ingin bekerja di Honey Bee Inn miliknya itu.” Gerutu Cloud seolah membayangkan dirinya di posisi Don.
“Huhu…jangan katakan kalau kau iri kepadanya Cloud. Karena tadi malam kau sudah mendapatkan tubuh perawanku.” Aeris sepertinya menangkap apa yang ada dibenak Cloud saat ini.
“Shhh…jangan keras-keras! Tadi orang itu mengatakan kita bertiga, berarti Tifa memang ada disini. Sekarang kita cari saja!” Cloud lalu mulai bergerak menyusuri tiap ruangan di mansion itu bersama Aeris dibelakangnya dan akhirnya mereka menemukan ruangan bawah tanah tempat Don biasa mengurung dan menyiksa musuh-musuhnya. Tifa berada disana dengan gaun warna biru yang aduhai.
“Hai Tifa! Maaf aku terlambat.” Kata Cloud yang kemudian membuat Tifa terbengong-bengong. Tak lama kemudian Tifa berteriak terkejut setelah tahu bahwa perempuan didepannya adalah Cloud.
“Kyaaa….Cloud! Kenapa denganmu? Apa kepalamu terantuk batu jadi hilang ingatan atau apa…?” Tifa panik namun Aeris dengan cepat menjelaskan semuanya termasuk bagaimana pertemuan mereka berdua.
“Oww…jadi kau adalah gadis yang bersamanya di taman itu. Hai namaku Tifa. Maaf kalau sudah membuatmu repot.” Kata Tifa kepada Aeris yang kemudian menjabat tangannya. “Sebenarnya aku kemari untuk mencari akses ke sektor 4 yang ditutup saat ini. Entah karena apa tetapi aku merasa ada yang tak beres. Seolah-olah Shin-Ra ingin mengisolasi sektor tersebut dari sektor lain manapun. Sekarang ini yang aku tahu Don Corneo adalah satu-satunya orang yang memiliki akses ke sektor tersebut lewat jalan rahasianya. Aku curiga kalau dia orang kepercayaan Shin-Ra. Itu sebabnya aku menyamar agar dapat masuk ketempat ini.” Kata Tifa menjelaskan alasannya ditempat Don Corneo sekarang.
“Sekarang kita keluar! Don sudah menunggu diruangannya.” Seru seseorang dari atas yang merupakan kepala pengurus rumah di mansion ini. “Keruangan ini!” perintahnya ketika mereka berjalan melewati sebuah ruangan besar ditengah koridor.
“Hohoho…akhirnya datang juga para calon pengantinku malam ini. Wow cantik-cantik semuaaa….huhuhu…” Don Corneo yang bertubuh tambun ini benar-benar mata keranjang sekali. Tiap kali ada gadis yang ingin bekerja dengannya maka harus ditiduri dulu dan jika ada lebih dari satu gadis maka harus diseleksi terlebih dulu sebelum diajak tidur bersama.
“Wow! Gadis ini terlihat sangat tangguh dan juga cantik. Aku bisa tebak kalau di ranjang dia bakalan menghajarku habis-habisan dengan payudaranya yang besar ini hahaha…” gelak Don Corneo ketika melihat Tifa yang kemudian menjulurkan tangannya untuk meremas buah dada gadis cantik ini. Tifa hanya bisa diam karena ingin penyamarannya tak terbongkar.
“Hmmm…yang ini sepertinya sangat cantik dan juga terlihat tidak berdosa. Bakalan laku keras jika ditaruh di Honey Bee Inn milikku. Matanya besar dan bening, aku suka sekali…huhuhu…” nafsunya semakin terpompa saja ketika melihat Aeris dengan seksama.
“Err….ini seperti seorang perempuan tangguh. Pemalu namun penuh nafsu. Hahaha…aku suka yang berambut pirang ini. Seperti gadis tomboy saja hehehe…” kembali Don Corneo bergairah hebat ketika melihat….Cloud??? Ternyata dandanan Cloud dengan gaun specialnya ditambah dengan lingerie yang dia dapatkan dari Tara membuatnya menjadi ‘cantik’ dimata para pria hidung belang ini. Krja bagus sang desainer baju.
“Aku malam ini memilih….errrr….kau yang berambut cokelat. Dua yang lain bisa kalian miliki.” Seru Don yang kemudian disambut dengan suka cita para anak buahnya yang membayangkan dapatkan pelayanan istimewa malam ini.
Aeris lalu masuk kedalam kamar Don Corneo bersama dengan sang Don sementara Cloud dan Tifa digiring keluar oleh anak buah Don yang sudah berbinar-binar berharap dapatkan tubuh molek dua gadis cantik.
“Hmmm…kau sekarang sendirian diantara kami cantik. Gaya seperti apa yang kau mau? Hehehe…” anak buah Don Corneo yang bernama Ben ini tertawa menyeringai. Dikamar yang lumayan luas itu, Tifa berada didalamnya bersama dengan Ben dan 4 rekannya yang merupakan pengawal pribadi Don.
“Ughh…maaf tapi aku tak tertarik dengan kalian. Aku ingin bertemu Don. Minggir!” seru Tifa dengan posisi siap tempur tetapi dia lengah hingga salah satu anak buah Don Corneo yang bertubuh paling besar berhasil mendekapnya dari belakang dan membuatnya tak dapat bergerak.
“Oh…jadi kamu suka yang bersifat keras seperti itu cantik. Baiklah. Kami akan memenuhi permintaanmu. Kalian dengarkan! Dia ingin adanya kekerasan, sepertinya gadis cantik ini suka kekerasan. Perkosa dia!!!” seru Ben memberi perintah.
“Tidak! Lepaskan aku!” Tifa mencoba berontak tetapi kini tubuhnya sudah terpasung di atas karpet tebal dilantai. Kedua tangan dan kakinya dicekal oleh keempat anak buah Don Corneo.
“Huhu…gaun biru ini sebaiknya aku lepaskan saja. Hehehe…kau bakalan mendapatkan malam yang penuh dengan kenikmatan disini.” Ucap Ben sambil merengut gaun Tifa hingga robek dan melucuti seluruh pakaian Tifa hingga dara cantik berambut panjang ini akhirnya telanjang bulat didepan Ben.
Buah dada besar Tifa tertutupi separuh oleh rambut hitam panjangnya yang terurai lepas. Sementara tubuh bugilnya sudah membuat para pria diruangan itu menjadi bak seorang Momotaro yang menemukan buah pear pertamanya aau bagaikan manusia gua yang kejatuhan seorang dewi yang super molek. Bagaimana tidak, Tifa yang cantik ini walaupun pernah berhubungan intim dengan pria tetapi tubuhnya tidak berubah selayaknya wanita pada umumnya. Kulitnya masih kencang begitu juga dengan payudaranya yang besar tetap saja kencang seolah baru berusia belasan tahun saja. Perutnya yang datar dan pinggangnya yang ramping ditambah lagi dengan kulitnya yang mulus putih mau tak mau membuat pertahanan semua pria jebol juga. Cloud yang biasanya dingin saja bisa terayu oleh bentuk tubuh Tifa dan kecantikannya apalagi para buaya darat ini.
“Ahhh. Mimpi apa aku semalam bisa mendapatkan gadis secantik dirimu nona. Sekarang akan aku ajarkan kau menjadi seorang pelayan para pria yang baik. Nanti setelah kau bekerja di Honey Bee Inn pasti aku akan setiap hari menjengukmu untuk menidurimu hahaha…” gelak Ben yang kemudian membuka ikatan dicelananya dan seketika dari dalam keluarlah secara perlahan batang kemaluan Ben yang cukup besar itu. Penis yang bewarna coklat tua itu sudah tegak dan berliur seperti tak sabar untuk menerkam Tifa.
Tifa mencoba berteriak, menjerit dan meronta tetapi pegangan dari 4 orang anak buah senior Don Corneo tidak dapat dia kalahkan juga. Sementara itu buah dadanya yang besar itu menjadi bulan-bulanan bagi keempat anak buah yang mencekal tangan dan kakinya. Mereka bergantian meremas dan menjilati payudara cewek cantik ini. Puting susu Tifa mengeras dan mengacung seolah mengisyaratkan bahwa gadis cantik ini sudah siap untuk ditiduri.
“Akhh…lepas…jangan! Akhh….” Seru Tifa ketika dia merasakan bibir vaginanya terasa didesak oleh sesuatu yang besar dan panjang. Benda asing it uterus masuk dan membelah kedua bibir vagina Tifa yang tadinya mengatup rapat. Bukan hanya itu saja karena berikutnya Ben menyodokkan batang penisnya sedalam-dalamnya diliang kemaluan Tifa yang membuat gadis cantik ini berteriak menahan sakit.
“Wow! Kamu masih sempit. Luar biasa gadis manis.” Kata Ben yang kemudian menggoyangkan pantatnya menyodok-nyodok vagina gadis cantik ini. “Luar biasa! Kalian harus mencoba vagina nona cantik ini. Luar biasa!” kata Ben berulang-ulang sambil mempercepat laju pompaan batang kejantanannya atas diri Tifa.
Dalam posisi terlentang tak berdaya, Tifa mau tak mau harus menahan penghinaan ini. Dia menggigit bibir bawahnya berharap ini cepat selesai. Dan memang cepat selesai karena baru tiga menit menggenjot tubuh Tifa, Ben sudah berejakulasi didalam liang kemaluan gadis cantik ini.
Tifa yang sedari tadi mencoba melawan seolah tak berdaya lagi. Tenaganya sudah habis sementara itu tubuhnya sudah merasa sakit karena cekalan dari keempat pria lainnya yang terlampau kuat hingga menyakiti tangan dan kakinya. Tubuh dara cantik ini lalu dibalik dengan posisi tengkurap di atas permadani besar.
Seorang anak buah Don Corneo yang bernama Chad lalu berbaring terlentang dengan telanjang dan penis menghadap keatas. Lalu tubuh Tifa diarahkan oleh pria-pria yang lain untuk menindih tubuh Chad terutama bagian penisnya. Vagina Tifa yang masih belum kering dari semprotan sperma itu kembali dijarah oleh penis anak buah Don Corneo tapi kali ini dihajar dari bawah.
“Akhh…” Tifa yang lemas hanya bisa menesh-desah saja berusaha menikmati perkosaan itu ketika tubuhnya terdorong-dorong keatas mengikuti irama sodokan batang kemaluan Chad yang saat ini masih bercokol di vaginanya yang indah itu. Tifa seperti mesin penggilas saja hanya saja kali ini pantatnya menggilas penis Chad yang ukurannya lebih besar sedikit dari milik Ben dan lebih hitam seperti warna kulit Chad.
“Kemari sayang!” Chad lalu memeluk Tifa yang berada diatas tubuhnya hingga buah dada dara cantik ini menempel dengan dada Chad yang bidang dan berbulu agak lebat ini. “Sekarang Bruno!” kata Chad lagi.
Bruno adalah salah satu dari kelima pria dikamar ini. “Baik. Sekarang giliran lubang lainnya yang dikerjai hahaha…” tawa Bruno menghiasi jeritan Tifa ketika batang penis Bruno yang sebesar milik Chad itu menyeruak masuk menembus lubang anus Tifa yang selama ini belum pernah menerima penetrasi penis siapapun. Seketika darah segar membasahi penis Bruno karena lubang anus Tifa menjadi sedikit lecet dan robek sementara itu Bruno malah menggenjotnya dengan sangat kasar.
“Akhhh….sakit! Lepaskan aku….!” Seru Tifa sambil berusaha memukul-mukul mereka tetapi sia-sia saja karena tenaganya sudah habis. “Akhh…!” pekik gadis ini lagi ketika Bruno dan Chad menggenjot kedua lubang miliknya secara bersamaan dan sama-sama kasar. Penis kedua pria ini seolah saling berlomba untuk merusak lubang-lubang pribadi Tifa itu dengan sodokan-sodokan keras mereka. Belum lagi tiap kali mereka melakukan penetrasi bersamaan maka dinding pemisah antara kedua lubang milik Tifa menjadi sangat tipis dan menorehkan gesekan yang cukup perih. Tak jarang buah pelir Chad dan Bruno beradu karena irama tusukan mereka yang sama.
“Okhh…nikmat sekali pelacur ini. Akhhh…” seru Bruno yang lalu menyemprotkan spermanya didalam anus Tifa. Sementara itu Chad juga tak beda tipis dengan Bruno, dia mencapai orgasmenya dengan berejakulasi didalam liang vagina Tifa.
Tepat saat kedua pria itu sedang menikmati orgasme mereka, tiba-tiba pintu didobrak dan muncullah Cloud yang sudah berganti pakaian dengan pakaian pria yang biasa dia pakai lengkap dengan pedang ditangan. Karena kurang sigap maka Ben dan kawan-kawan langsung kalah dengan sangat memilukan yaitu tubuh tertebas pedang hingga tewas.
Tifa masih dijejali oleh dua penis Chad dan Bruno yang telah mati ini. Lalu dengan bantuan Cloud, akhirnya dara cantik ini bebas juga. “Wow! Aku malah belum pernah mencoba lubangmu yang satu itu Tifa.” Canda Cloud.
“Sialan kau Cloud! Kenapa lama sekali? Kau ingin aku digilir 5 pria hah?” TIfa berang melihat Cloud terlambat menolongnya.
“Hehehehe. Sebenarnya aku jadi horny juga ketika melihat dirimu diperkosa ramai-ramai tetapi karena waktu mendesak maka pertunjukan cukup sampai disini saja hehe…” canda Cloud. Tifa menganggapnya itu bercanda padahal Cloud benar-benar sempat menonton perkosaan atas diri gadis itu walaupun hanya sesaat terakhirnya.
“Kita cari Aeris!” kata Cloud sambil menghambur keluar ruangan dan menghajar dua penjaga yang lain.
Tifa jengkel melihat Cloud sepertinya hanya peduli dengan Aeris itu. “Huh. Setidaknya berikan aku pakaian pengganti gaunku ini.” Gerutu Tifa sambil berlalu.
“Brakkk!!!” Pintu kamar Don Corneo didobrak oleh Cloud dan Tifa. Mereka melihat Corneo sedang menindih Aeris yang bagian atas gaunnya sudah tersingkap dan payudara mulusnya sudah didalam remasan tangan Don Corneo. “Mau apa kalian? Penjaga! Ada penyusup disini. Tangkap mereka! Penjaga…!!!” Don mulai panik tapi tak ada satupun penjaga yang datang. Aeris menggunakan kesempatan ini untuk kabur dan berdiri dibelakang Cloud.
“Jangan khawatir! Para penjaga sudah habis ditangan kami. Sekarang kita selesaikan urusan kita.” Kata Tifa sambil mengenakan sarung tangannya yang terbuat dari serat kulit Adamantoise, seekor kura-kura raksasa yang kulitnya konon sekeras besi tetapi ringan, hidup di daerah perairan Wutai. “Sarung tangan ini bernama Kaiser Knuckle. Konon bisa menghancurkan batu cadas dalam sekali pukul. Kamu tentu tak mau kalau kepalamu yang menjadi seperti batu cadas itu bukan?” seru Tifa membentak.
Don Corneo yang nyalinya langsung ciut itu mundur dan dengan tergagap dia berkata, “Apa ma…mau ka..lian…? Kalau uang kalian..bisa…am..bil…tapi jangan sakiti a…ku.” Pria gendut ini berusaha membeli hidupnya dengan uang haramnya.
Tifa naik keatas ranjang besar Don. “Aku tak ingin uangmu. Aku ingin kartu masuk untuk ke sektor 4 dan aku juga ingin bertanya beberapa hal mengenai Shin-Ra.”
“Jangan! Apapun silakan tetapi jangan Shin-Ra! Aku tidak mau berurusan dengan mereka. Berbahaya. Kumohon!” pinta Don Corneo memelas. Sejenak dia membayangkan siksaan yang bakal dia terima jika berkhianat kepada Shin-Ra. Karena terakhir kali dia melihat para pembunuh bayaran Shin-Ra yang tergabung dalam organisasi hitam The Turks telah menghabisi seorang pengkhianat didepan matanya dengan sadis.
Namun akhirnya Don menyerah juga setelah lehernya bersentuhan dengan ujung pedang Cloud. Don menceritakan seluruh operasi Shin-Ra termasuk rencana mereka menghancurkan kawasan sektor 4 terutama daerah Slum dan reaktor bekasnya karena dianggap tidak menguntungkan sekaligus sebagai upaya menghancurkan kelompok perlawanan Avalanche. Tifa yang terkejut akan hal itu ingin menghabisi Corneo tetapi Cloud mencegahnya. “Jangan! Tanganmu tak pantas dikotori oleh darah orang bejat ini. Nanti juga biarkan Shin-Ra yang menyiksanya sampai mati.” Kata Cloud meredakan emosi Tifa.
Saat Cloud dan kawan-kawan akan pergi Don Corneo memanggil mereka. “Hei tunggu! Aku ingin tanya kepada kalian semua.”
“Apa maumu? Cepat katakan!” seru Cloud sembari mengacungkan lagi pedangnya.
“Hei, hei. Sabar! Aku tidak berniat melukai. Aku ingin tanya saja mengenai suatu hal.
Menurut kalian mengapa seorang pria berumur sepertiku masih gemar bermain perempuan? Pilihan jawabannya: a, karena ingin merasa berguna; b, karena nafsuku yang besar; c, karena gadis muda masih mempunyai daya tarik sendiri; d, karena itu satu-satunya cara menjaga kewibawaanku sebagai playboy di Midgar ini. Pilih salah satu!” kata Don Corneo.
“Pertanyaan apa ini? Aneh.” Seru Aeris. Cloud lalu mendekat, “Aku tak peduli jawabannya tetapi jawaban pribadiku adalah karena kau hanya ingin merasa berguna. Sebab diluar bermain perempuan, kau tak bisa apa-apa tanpa pengawalmu.” Sahut Cloud ketus.
“Hmmm…nyaris benar. Sayang kurang sedikit.” Kata Don Corneo yang kemudian menarik tuas rahasia disitu dan tiba-tiba terbuka sebuah lubang besar dilantai dimana Cloud dan yang lain berpijak. Otomatis ketiga orang ini langsung terjun bebas kebawah. “Selamat bersenang-senang dibawah sana. Oh iya aku lupa memberitahu kalian kalau dibawah sana ada hewan peliharaanku yang lupa kuberi makan.
Maaf yach…huhuhuhu.” Akhirnya Cloud, Tifa dan Aeris masuk perangkap licik Don Corneo dan terjatuh kedalam lubang perangkap yang kemudian melemparkan mereka keterowongan bawah tanah yang berakhir di selokan besar dibagian bawah lapisan ketiga kota Midgar. Sebuah tempat yang kotor dan menjijikkan tetapi lebih dari itu, sebuah bayangan besar mengintai dengan mata yang bersinar tajam seolah ingin menerkam Cloud dan dua gadis yang baru saja sadar dari pingsan mereka.

Final Fantasy VII 4

Selesai makan malam, Cloud mengatakan kalau dia akan pergi ke sektor 4 dan Aeris langsung menawarkan diri untuk mengantarnya. Elmyra berusaha mencegah keinginan anak semata wayangnya tetapi harus menyerah atas kekeras kepalaan Aeris. Saat Aeris mempersiapkan kamar untuk Cloud, Elmyra memohon agar Cloud pergi sendiri karena Elmyra takut kalau Aeris pergi keluar karena organisasi Shin-Ra sedang berjaga-jaga dengan ketat diseluruh sektor untuk memburu para gerilyawan Avalanche. Cloud sadar kalau dirinya tidak dapat memberikan beban kepada Aeris kemudian dia menyelinap ketika Aeris tertidur.

“Hmm…pintu masuk menuju ke distrik perdagangan terbesar di Midgar,Wallmarket. Aeris bilang kalau ingin ke sektor 4 harus melewati tempat ini. Yah berarti harus memutar, tetapi lebih baik dari pada bertemu dengan pos pemeriksaan para tentara Shin-Ra.” Kata Cloud dalam hati.
Saat Cloud akan melanjutkan langkahnya, dia terkejut karena didepannya sudah ada Aeris yang sedang duduk di puing-puing mesin penggali yang sudah rusak. “Hmm…bangun lebih pagi Cloud?” sindir Aeris.
Cloud jadi salah tingkah dibuatnya. “Hei, aku hanya tak ingin kau terluka jika aku nanti bertemu dengan para prajurit Shin-Ra.” Cloud mencoba membela diri.
“Sudah selesai kata-katamu? Sekarang ayo kita pergi, temanmu pasti menunggumu.” Kata Aeris yang kemudian berlari kearah terowongan penghubung antara sektor 3 dengan wallmarket. “Ayo Cloud! Apa yang kau tunggu?” teriaknya begitu sudah sampai jauh. Cloud hanya bengong dan mau tak mau dia mengikuti langkah gadis cantik itu.
“Bruakkk!!!” sebuah robot jatuh berhamburan. Bagian-bagian tubuhnya terlepas satu sama lain. “Robot rongsokan milik Shin-Ra. Mereka sering membuang robot-robot penjaga mereka yang tidak mereka gunakan lagi disini. Tempat ini berbahaya bagi orang luar yang tidak berhati-hati. Untung saja ada aku yang memandumu.” Kata Aeris sembari mendaki tumpukan logam rongsokan yang menggunung untuk mempersingkat waktu.
“Ya…ya..ya…terserah apa katamu saja.” Sahut Cloud dingin sambil menyarungkan pedangnya kembali. “Asal jangan lupa kalau aku yang menebas robot sial itu jadi tiga bagian.”
“Huhuu…tak kusangka benda ini masih berada disini.” Seru Aeris sambil bermain ayunan di lokasi mirip taman bermain. “Dulu waktu aku masih kecil, tempat ini adalah taman bermain dan dulunya banyak sekali anak-anak yang bermain disini dengan gembira diantaranya adalah aku. Ayunan dan patung kucing untuk perosotan itu juga sudah ada sejak aku kecil. Dulu kami sering berebut dengn anak lain untuk menggunakannya….sekarang sudah tak ada yang ceria lagi. Semua gara-gara Shin-Ra yang membangun reaktor Mako. Midgar tak ubahnya seperti kuburan sekarang.” Aeris menerawang ke angkasa. Dulu waktu dia melihat kelangit dia bisa menatap bintang dan awan cerah, sekarang yang bisa dilihat hanyalah tembok dan susunan bangunan pencakar langit dan belum lagi lapisan bertingkat yang digunakan untuk memisahkan tiap level di kota Midgar ini.
Cloud mendekati Aeris yang kala itu masih duduk santai meluruskan kakinya diatas perosotan besar berbentuk kucing. “Pasti berat untukmu yah. Aku ikut sedih untukmu.” Kata Cloud menghibur Aeris. Pemuda pirang ini memegang bahu Aeris dengan tangannya yang hangat.
Aeris sedikit kaget dan memandang dalam-dalam Cloud. “Kau ini memang unik. Sesaat kamu seperti tidak peduli tetapi terkadang bisa begitu manis.” Kata Aeris yang lalu membuat Cloud kembali salah tingkah.
“Akhh…sudahlah. Maaf kalau membuatmu kecewa.” Cloud mengangkat tangannya dari bahu Aeris dan disusul dengan tawa Aeris.
“Hahaha…kau benar-benar lucu Cloud, kau tahu itu? Omong-omong, apakah kau anggota Soldier?” Tanya Aeris tiba-tiba dan membuat Cloud yang mendengarnya terkesiap.
“Dari mana kau tahu?” tanyanya penuh rasa penasaran. Dalam hati dia was-was takut kalau Aeris merupakan salah satu mata-mata Shin-Ra. Tapi itu semua hilang ketika mendengar jawaban Aeris.
“Dulu aku mempunyai kekasih. Dia juga seorang anggota Soldier kelas 1. Matamu sama seperti matanya. Kalian memiliki mata yang sama, mata yang memancarkan kesepian.” Kata Aeris pelan.
“Oh…begitu. Kebetulan karena aku juga kelas 1. Siapa nama kekasihmu itu? Siapa tahu aku kenal.” Tanya Cloud kepada Aeris tetapi gadis cantik ini mengelak.
“Maaf aku tak ingin membicarakannya. Lagipula itu adalah masa lalu. Aku mencoba untuk melupakan pria itu. Entah kenapa melihatmu menjadi membuatku kembali teringat padanya.” Lanjut dara cantik ini yang kemudian memandang Cloud lagi. Entah dorongan apa yang membuat mereka begitu dekat dan nyaris berciuman seandainya saja tidak ada suara mendadak yang mengagetkan mereka.
Pintu besar pembatas antara tingkat atas sektor 3 dengan Wallmarket terbuka dan muncullah kereta yang ditarik oleh seekor Chocobo melintasi jalan itu. Kereta itu menuju kearah Wallmarket. Chocobo adalah seekor hewan berbentuk mirip ayam tetapi bentuknya sangat besar dan setinggi kuda. Selain itu hewan ini cukup cerdas dibandingkan dengan kuda dan cukup cepat. Kebanyakan Chocobo adalah hewan yang hanya bisa berjalan didarat namun menurut rumor yang beredar, ada yang pernah melihat hewan ini melintasi sungai dengan menyelam dan bahkan terbang seperti burung.
Dibagian belakang kereta itu Cloud dapat melihat seorang gadis berpakaian serba biru terikat didalam kereta. “Astaga. Itu Tifa.” Pekik Cloud tak percaya. “Tifaaa…Tifaa….” Seru Cloud dan gadis berpakaian biru itupun menoleh dan sadar kalau temannya masih hidup.
“Cloud!” Itulah satu-satunya teriakan yang sempat dilakukan Tifa sebelum kereta itu berlalu terlalu jauh dari Cloud.
“Hemmm…jadi itu gadis yang kau katakan sebagai temanmu? Cantik juga. Pasti pacarmu.” Tebak Aeris penuh curiga.
“Arghh…tak mungkin. Kami hanya teman sejak kecil. Tak lebih.” Cloud membela diri dan kembali Aeris tertawa kecil melihat tingkah Cloud ini. “Tak perlu sekecewa itu Cloud. Lagipula masih banyak harapan menemukan gadis cantik lainnya.” Kata Aeris sambil menggandeng lengan Cloud. “Ayo sekarang kita susul temanmu! Aku tahu jalan kesana.” Lanjut Aeris dan akhirnya mereka berdua berlari menuju ke daerah Wallmarket.
“Wow. Tempat yang sangat ramai. Jadi ini pusat perdagangan bawah tanah kota Midgar. Cukup hebat mengingat tempat ini berada di lapisan bawah Midgar.” Cloud terkagum-kagum melihat bangunan-bangunan pertokoan bertebaran di Wallmarket dan tempat ini dipenuhi oleh lalu lalang orang-orang yang saling bersaing mengais uang sebanyak-banyaknya disini.
“Heheheh…kau sepertinya baru pertama kemari. Oh iya, kita bisa cari informasi mengenai Tifa disekitar tempat ini. Biasanya di jalan merupakan tempat terbaik mencari informasi asalkan kau punya uang tentu saja.” Kata Aeris kepada Cloud yang masih memandangi aktifitas orang-orang ditempat ini.
“Well, ayo sekarang kita cari Tifa.” Ucap Cloud kepada Aeris yang kemudian pergi menuju kearah utara.
Aeris berkacak pinggang, “Cloud! Kau tidak dengar kata-kataku tadi? Kita harus mencari informasi terlebih dahulu mengenai keberadaan Tifa. I-N-F-O-R-M-A-S-I. Paham?” seru Aeris kepada si pemuda pirang itu.
“Oh. Aku lupa. Dengan banyaknya orang disini apa perlu kita tanya satu persatu mengenai Tifa?” sahut Cloud santai.
“Ughhh…untuk seorang Soldier, ingatanmu benar-benar payah Cloud. Bukankah di kereta itu terdapat tulisan berbunyi Corneo. Kita bisa mulai dari situ.” Seru Aeris yang sudah agak jengkel dengan sikap Cloud yang masa bodoh.
“Hmmm…terus…?” pemuda ini tetap tak mengerti sampai Aeris menunjukkan tangannya kearah sebuah papan penunjuk arah yang berbunyi ‘Honey Bee Inn, Milik pribadi Don Corneo. 100 meter lagi.’
“Kurasa itu bisa membantumu.” Kata Aeris yang lalu pergi kearah yang ditunjukkan papan nama itu. “Hei tunggu aku!” Cloud menyusul dengan berlari dibelakang Aeris.
Honey Bee Inn ternyata adalah sebuah rumah bordil/ tempat pelacuran. Satu-satunya tempat pelacuran di Wallmarket. “Wow. Sepertinya kita berada ditempat yang salah.” Kata Aeris ketika sesampai disana dia sadar seperti apa tempat yang mereka tuju itu.
“Hai cantik. Kau sendirian?” sapa seseorang berjaket hitam yang berdiri didekat neon papan nama tempat pelacuran itu. “Sepertinya kau ingin menjadi bagian dari pesta Don. Hehehe.” Lanjut seseorang yang lainnya.
“Aku tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku ingin tanya pada kalian sesuatu.” Balas Aeris tetapi pria-pria hidung belang ini sepertinya tidak mau dengar kata-kata Aeris lagi dan mereka merangsek maju untuk menggoda dara cantik ini.
“Cloud! Tolong aku! Cloud dimana kau?” seru Aeris panik. Tanpa sepengetahuan gadis cantik ini, Cloud sudah menyelinap menuju kedalam Honey Bee Inn. Didalam tempat pelacuran ini dia mencari-cari informasi mengenai Tifa.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya seorang gadis dari belakang Cloud. Sepertinya dia adalah penyambut tamu disini.
“Aku ingin bertanya mengenai temanku yang bernama Tifa. Apakah kau menge…..” ucapan Cloud terputus ketika melihat pakaian super seksi yang dikenakan oleh gadis pramuria itu. Cewek ini berpakaian dengan hanya mengenakan bikini berwarna kuning berloreng hitam mirip dengan lebah. Cantik dan montok padat berisi. Payudaranya yang putih mulus itu seperti akan loncat dari himpitan bikininya yang sangat ketat dan tipis. “Hai namaku Cloud. Dan namamu adalah…” Cloud seperti lupa akan tujuannya kemari setelah melihat kecantikan dan keseksian gadis ini.
“Tara. Tara Honey tapi kau bisa memanggilku Tara. Nah ruangan mana yang kau akan gunakan tuan Cloud. Tiap ruangan terdapat pasangan yang bisa kau pilih.” Sahut gadis cantik ini.
“Hmmm…ruangan manapun deh asalkan gadisnya adalah kau hehehe. Oh iya, jangan pakai tuan, panggil saja Cloud.” Balas Cloud. Gadis ini sepertinya mulai tertarik dengan gaya Cloud walaupun sebenarnya itu karena dibuat-buat saja, lagipula ini adalah pekerjaannya, berpura-pura senang.
“Ruangan ini?” tanya sang gadis namun dijawab dengan pelukan Cloud yang erat yang kemudian menyeretnya kedalam kamar itu. Kamar yang ber-jacuzzi dan mempunya tempat tidur yang berukuran king size. Belum lagi dengan harumnya ruangan itu karena memang itu adalah ruangan termahal.
“Tunggu! Aku bukan pelacur yang bekerja disini. Aku hanyalah penyambut tamu. Tuan Cloud hentikan!” seru gadis cantik ini berontak namun Cloud telah menindihnya diatas tempat tidur.
“Ya…ya…ya. Dan aku adalah tukang sapu disini. Kau pikir aku percaya? Kau berada disini dengan pakaian nyaris telanjang itu pasti memang untuk menggodaku dan kau telah berhasil nona Tara.” Balas Cloud sembari melucuti pakaiannya sendiri. Sekarang Tara dapat melihat tubuh kekar Cloud yang dihiasi dengan beberapa luka akibat perang.
“Kau salah sangka tuan. Tunggu! Tungg….ermpfff…” Tara tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba mulutnya tersumpal ciuman Cloud. Cloud yang sudah tak dapat menguasai nafsunya lagi.
Dalam sekali betot saja seluruh bikini yang dipakai oleh Tara langsung lepas dan terlempar dari tempatnya.
Kontan saja payudara Tara terbuka di udara bebas. Sekarang menjadi pemandangan bagi sepasang mata Cloud yang kemudian dengan liarnya meremas-remas payudara gadis cantik itu dan sesekali menjilati putingnya hingga mengeras. “Aku tak tahu permainan apa yang kalian lakukan disini tetapi aku sangat suka dan menikmatinya. Pura-pura menolak tapi mau juga….seperti memperkosa saja nih. Kalian memang pandai bermain sandiwara bagi para pelanggan kalian…aku salut.” Kata Cloud yang masih mengira kalau semua perlawanan Tara hanyalah permainan kinky yang diciptakan oleh pemilik rumah pelacuran ini.
“Akhh…jangan…” seru Tara berteriak ketika dia merasakan bibir vaginanya dibelah oleh himpitan benda panjang dan keras. Ternyata Cloud sudah melakukan penetrasinya kepada Tara dan batang kejantanannya yang sudah mengeras itu tanpa tunggu waktu lagi langsung ditusukkan kedalam kemaluan Tara.
“Ohhh…nikmat sekali Tara. Kalian memang pandai menghibur tamu.” Ucap Cloud yang tanpa peduli terus menusuk-nusukkan penisnya kedalam vagina Tara yang sekarang nyaris berhasil ditembusnya itu.
“Arghh…hentikan….akhhh!!!” pekik Tara ketika kemaluan Cloud yang besar itu berhasil masuk seluruhnya kedalam liang kemaluan Tara yang masih sempit itu. Selama ini Tara hanya pernah berhubungan badan dengan kekasihnya saja yang nota bene dia baru berpacaran dengan 2 orang, itupun dia hanya beberapa kali saja bercinta dengan mereka. Dengan usia yang masih semuda ini dan pengalaman minim itu membuat bibir kemaluan Tara masih sempit dan membuat Cloud tertantang untuk menjebolnya kembali.
“Ohhh…walaupun susah tetapi ternyata nikmat juga setelah didalam. Membuatku teringat akan Jessie yang kuperawani waktu di gerbong kereta. Kau seperti dewi Tara.” Ucap Cloud setelah mantap membenamkan batang kejantanannya didalam liang senggama dara cantik itu. Lalu perlahan tapi pasti, Cloud mulai menggoyang-goyangkan batang penisnya untuk menyodoki kemaluan Tara yang sudah mulai basah itu. Yak benar, Tara sudah horny sekarang dan membuat goyangan Cloud menjadi lebih mudah dari sebelumnya karena sudah penuh dengan pelumas.
“Kenapa kau memperkosaku?…Hiks….” isak Tara ketika tubuhnya bergoyang-goyang di guncang oleh pompaan penis Cloud pada vaginanya yang sempit itu. “Akhh…” pekik gadis itu lagi ketika Cloud sengaja dengan kasar menusukkan batang penisnya dengan cepat langsung kedalam vagina Tara. Kemaluan Cloud yang berukuran 22cm itu terang saja membuat dara cantik ini menggelinjang hebat. Klitorisnya terangsang habis-habisan akibat sodokan itu.
“Arghh…sakit…akhhh…” rintih Tara. Tapi dalam hati dia harus mengakui bahwa Cloud lebih ahli bercinta dibandingkan kedua kekasihnya. Dia tambah terangsang ketika Cloud membalikkan tubuh moleknya sehingga sekarang mereka bercinta dengan posisi doggy style. Batang kemaluan Cloud dengan leluasa keluar masuk menggoyang dan mendobrak seluruh sel-sel didalam vagina dan bibir kemaluan Tara cantik itu.
Sembari meremas-remas payudara Tara yang mungil dan menggelantung bebas kebawah, Cloud terus menggoda Tara dengan ucapan-ucapan mesumnya tiada henti. “Ternyata kamu jago bercinta juga yah Tara. Begitu kok tadi bilang tidak mau. Jujur saja, permainan pemerkosaan ini benar-benar membuatku tambah bergairah. Kalian para pelacur memang hebat.” Goda Cloud yang lalu menarik kedua tangan Tara kebelakang dan menyodokkan batang kejantanannya dengan cepat dan sedalam-dalamnya saat tubuh Tara sedikit mendongak akibat ditarik.
Hal tersebut membuat Tara merasakan rasa sakit di kemaluannya tetapi disaat yang sama dia juga merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dalam hidupnya. Selama lima belas menit lebih dia dikerjai Cloud dengan gaya ini. Tiba-tiba Cloud menggelinjang hebat dan merasakan batang kemaluannya berdenyut-denyut kencang. Lalu pemuda pirang ini mencabut batang kemaluannya dan mengocoknya diatas pantat Tara. “Akhh…Tara…” seru Cloud sambil menembakkan sperma sebanyak 7 kali semprotan keatas pantat sekal nan mulus Tara dari ujung kemaluannya yang besar dan memerah itu.
Tara hanya bisa menutup mata setelah ambruk dalam posisi tengkurap. Dia merasakan orgasme juga tadi tepat sebelum Cloud berejakulasi, sesuatu yang dia tidak pernah dapatkan dari kekasihnya terdahulu.
Sekarang dara cantik itu merasakan cairan hangat dan lengket membasahi kedua pantatnya dan beberapa ada yang mengalir turun membasahi lubang anus dan bibir vaginanya lewat bulu kemaluannya yang tipis itu.
Cloud lalu merapikan dirinya. “Kau benar-benar hebat Tara. Kalau tahu disini ada permainan kinky sepeti pemerkosaan seperti ini, aku bakalan sering kemari dulu-dulu. Terima kasih cantik, ini tips untukmu.” Kata Cloud sambil meletakkan beberapa lembar uang diatas meja kecil dekat tempat tidur. Pemuda pirang ini masih mengira kalau Tara hanya pura-pura diperkosa padahal sebenarnya Tara memang bukan pelacur tetapi hanya penerima tamu saja.
Tara tidak protes lagi. Tubuhnya belepotan peluh dan sperma. Dalam kondisi masih bugil dia menutup matanya seolah merenungkan kejadian barusan. Hati berontak tetapi hasratnya menginginkan lagi…dan lagi. Ada sebagian dari hatinya menginginkan Cloud datang kembali dengan penis perkasanya itu untuk memberinya kenikmatan berulang-ulang tanpa henti.
“Sudah puas Cloud?” teriak Aeris dengan nada emosi ketika melihat pemuda pirang itu keluar dari Honey Bee Inn.
Cloud hanya tersenyum. “Maaf tapi aku harus mencari informasi disini. Kalau saja mereka tahu dimana Tifa, sayangnya tidak.” Balas Cloud mencoba membela diri, seolah-olah tak ada yang terjadi barusan.
“Oh ya? Aku meragukan itu Cloud. Tetapi syukurlah ada aku disini. Aku berhasil mendapatkan info mengenai Tifa setelah aku merayu beberapa dari mereka. Tifa ada di rumah besar kediaman Don Corneo, orang terkaya di Wallmarket.” Aeris berkata kepada Cloud seolah tak percaya kalau Cloud hanya mencari informasi saja didalam sana dan tidak melakukan apapun. “Lain kali kalau mau mencari informasi tak perlu membawa pakaian dalam perempuan juga Cloud.” Ejek Aeris sambil melirik kearah saku celananya yang dari luar terlihat celana dalam seksi cewek menyembul keluar. Pemuda ini tak tahu kalau Tara diam-diam menyelipkan lingerie itu dengan harapan Cloud nanti datang kembali.
“Ughh…anu…itu tak seperti dugaanmu Aeris. Itu…” Cloud tak dapat melanjutkan kata-katanya. Sementara itu Aeris dengan cuek melenggang dan menuju kearah lokasi rumah Don Corneo di bagian utara Wallmarket.

Final Fantasy VII 3

Keberhasilan dalam mencegah upaya Avalanche untuk meledakkan reaktor ini membuat para petinggi Shin-Ra menjadi tambah percaya diri. Malam itu juga Presiden Shin-Ra mengadakan rapat mendadak yang mengundang beberapa wakilnya yang duduk di posisi strategis. Wakil pertamanya adalah Heideggar, Jenderal Angkatan Bersenjata Shin-Ra yang dulunya merupakan pemimpin angkatan bersenjata dari salah satu region di benua ini yang akhirnya tunduk dibawah iming-iming kekuasaan dan uang dari organisasi Shin-Ra. Kedua adalah Scarlet, sekretaris presiden untuk hal-hal tertentu, kebanyakan untuk pengadaan energi Mako.
Perempuan ambisius yang juga cantik ini merangkap sebagai menteri dibidang energi dan sumber daya alam. Ketiga adalah Reeve, seorang birokrat dari masa pemerintahan terdahulu sebelum Shin-Ra berkuasa di Midgar.
Dia satu-satunya orang di Shin-Ra yang peduli terhadap nasib warga miskin. Tugasnya sebagai menteri kesejahteraan sepertinya tak banyak berguna bagi kepentingan Presiden Shin-Ra sehingga dia menjadi orang yang tidak diperhitungkan disana.
Keempat adalah Palmer yang membawahi bidang transportasi termasuk proyek luar angkasa organisasi jahat ini. Badannya yang lebih gendut dari Heideggar membuatnya terlihat sebagai orang tak berguna walaupun sebenarnya dia sangat cerdik. Kelima juga terakhir adalah Profesor Hojo, ilmuwan sinting yang tergila-gila pada rekayasa genetika. Berkat penemuan gilanya pula sekarang ini para anggota elite Soldier menjadi manusia setengah monster akibat rekayasa atas DNA mereka oleh Hojo.
“Well, kerja baik untuk intel yang kau miliki Scalet. Dengan amannya sektor 3 maka kita bisa menaikkan tarif untuk pemakaian energi Mako sebesar 100% hahaha…” Presiden Shin-Ra membuka pertemuan itu dengan tawa liciknya. Scarlet yang mendengar pujian itu tersenyum bangga atas kinerjanya.
“Tapi kita masih belum berhasil menghancurkan Avalanche.” Protes Palmer kepada presiden. Lalu muncullah sebuah skema yang menggambarkan peta kota Midgar dalam skala kecil. “Kita bisa menghancurkan markas mereka di sektor 4 dengan meledakkan reaktor di sektor itu. Lagi pula reaktor itu sudah lama mati bukan.” Heideggar mengusulkan cara itu yang langsung ditepis oleh Reeve. “Jika kita meledakkannya maka reaktor itu akan runtuh. Bisa banyak jatuh korban.
Dibawah reaktor itu terdapat penduduk miskin paling banyak. Kita tidak bisa melakukan itu pak presiden.” Seru Reeve, satu-satunya orang yang masih memiliki hati nurani di ruangan ini. “Hahaha…Reeve. Dengan runtuhnya reaktor itu maka kita bisa memiliki banyak keuntungan. Membuang reaktor usang itu, menyingkirkan kemiskinan terbesar dikota ini, melenyapkan Avalanche dan nantinya kita bia menuduh Avalanche yang melakukan ledakan itu maka seluruh rakyat akan membenci mereka. Hahahaha….
” Ucap Presiden Shin-Ra kepada Reeve yang masih ngotot tidak ingin hal itu terjadi. Mendengar pengakuan presiden, Reeve langsung walk out dari ruangan. Seluruh yang hadir disitu tidak senang termasuk presiden tapi mereka sudah tahu sifat Reeve jadi mendiamkannya. Satu jam setelah itu pertemuan selesai. Presiden mendekati Scarlet dan mengajaknya keruangan pribadinya.
“Sekarang aku ingin tahu apa yang kau inginkan untuk proyekmu.” Kata presiden yang sudah berumur itu kepada sekretarisnya yang mulai bertingkah nakal di ruangannya. Scarlet duduk di meja presiden dan mengangkat paha mulusnya sehingga pangkal pahanya terlihat jelas oleh tua bangka ini karena saat itu Scarlet hanya menggunakan gaun dan bagian bawahnya mempunyai belahan yang cukup tinggi. Presiden tua ini tahu benar jika Scarlet ingin memancingnya dengan menggunakan cara nakal ini untuk memuluskan proyek yang akan dia ajukan nanti. Semacam suap dengan tubuhnya yang seksi. “Ehm, aku hanya ingin meminta akses untuk menggunakan laboratorium yang dulunya dimiliki oleh Profesor Gast di daerah utara. Kuharap kau mau mengabulkannya untukku.” Rajuk Scarlet sambil memainkan kancing jas Presiden Shin-Ra dengan jemari lentiknya.
“Hemmm…Laboratorium itu sudah lama ditinggalkan. Lagipula daerah itu diluar kekuasaan Shin-Ra. Aku tak mau ambil resiko, tetapi jika kau mau menggunakannya, kau bisa mendapatkan kartu aksesnya dari Palmer. Aku akan memerintahkannya untuk memberikannya kepadamu.” Jawab sang presiden yang lalu memeluk Scarlet dan menciuminya. Bibir kedua lawan jenis yang berbeda jauh usianya itu berpadu dan saling melumat. Sebenarnya dalam hati Scarlet dia jijik berciuman dengan orang setua presiden yang usianya setidaknya 30 tahun lebih tua dari dirinya.
Tapi karena kekuasaan yang dimiliki sang presiden maka Scarlet mau tak mau harus melayani nafsu bejat pria tua ini jika ingin proyeknya berjalan dengan lancar. Hal itu yang membuatnya tetap menahan diri ketika presiden itu menanggalkan gaun merahnya sehingga sekarang dimata presiden itu terlihat tubuh seksi Scarlet yang putih mulus tanpa cela.
Tubuhnya ramping dan putih kemerahan sementara lekuk tubuhnya dapat membuat semua pria menjadi menelan ludah karena membayangkan menggagahinya. Payudaranya yang berukuran 36C itu benar-benar membuat sang presiden tak kuasa mengontrol tangannya lagi untuk menggerayanginya. Remasan demi remasan diikuti dengan kuluman presiden atas payudara Scarlet membuat vagina perempuan cantik ini basah. Walaupun dia tidak menyukai presiden tua itu tetapi rangsangannya mau tak mau membuat gairahnya muncul walaupun matanya tertutup dan membayangkan orang lain, seseorang yang lebih muda. Setelah puas mengerjai buah dada Scarlet, Presiden Shin-Ra lalu mengarahkan tangannya kearah vagina perempuan cantik ini. Jemari tangannya mulai bergerilya membelah bibir vagina Scarlet dan menusuk-nusuk liang kemaluannya tanpa ampun.
Lalu pria tua ini mengangkat kedua kaki Scarlet keatas saat perempuan ini masih dalam posisi duduk di meja kerjanya. Terlihat oleh pria tua ini bibir vagina Scarlet yang putih mulus ditumbuhi dengan bulu kemaluan yang sedikit lebat. Walaupun gelambir vaginanya ada yang sebagian kecil yang keluar tetapi tidak mengurangi keseksian kemaluan cewek satu ini. “Kau benar-benar seksi Scarlet. Walaupun melihatmu berulang kali tetapi tetap saja tidak membuatku bosan.
” Kata Presiden Shin-Ra kepada Scarlet yang kemudian mengarahkan mulutnya kearah bibir vagina perempuan ini. Lidahnya mulai menari-nari di liang kemaluan cewek nakal satu ini ditambah lagi dengan permainan lidahnya di klitoris Scarlet membuai perempuan ini hingga seakan membuatnya lupa bahwa sekarang ini yang mencumbunya adalah seorang laki-laki tua. “Akhh…akhh…” desah Scarlet yang keluar dari bibir seksinya. Rambutnya acak-acakkan dan kepalanya menoleh kekiri dan kekanan karena menahan sensasi kenikmatan bercampur geli yang dia dapatkan dari presiden tua itu. Lima menit berlalu dan laki-laki tua ini sepertinya belum berniat menyudahi permainannya.
Tiba-tiba tubuh Scarlet menegang dan kedua tangannya mencengkeram rambut lelaki tua itu sambil membusungkan dadanya kedepan. Scarlet mencapai orgasmenya yang pertama. Presiden Shin-Ra nampaknya senang dengan keadaan ini dan menjilati cairan orgasme Scarlet dengan rakusnya hingga keluar bunyi berkecipak keras.
Lalu lelaki tua ini membalikkan tubuh Scarlet sehingga sekarang perempuan ini membelakangi Presiden Shin-Ra dan kedua tangannya berpegangan bersandar ke meja kerja sang presiden. Kedua kaki Scarlet lalu dilebarkan oleh presiden tua ini dan saat itu juga Scarlet sadar kalau sebentar lagi dirinya akan mulai dikerjai oleh lelaki tua ini.
“Akhh…nikmat sekali vaginamu Scarlet.” Ucap sang presiden ketika batang kemaluannya membelah vagina Scarlet yang sudah basah kuyup itu. Scarlet memejamkan matanya, seolah ingin mengusir bayangan buruk itu dari otaknya. Sebenarnya perempuan ini tidak peduli kalau yang menidurinya adalah pria lain asalkan masih muda atau tidak setua Presiden Shin-Ra ini. Karena bagaimanapun juga melihat tubuh tua sang presiden membuatnya merasa mual apalagi harus membayangkan batang kejantanan pria tua itu menjajah liang kewanitaannya dengan brutal seperti ini.
“Akhh…akhh…terus…penis anda benar-benar nikmat…akhhh.” Racau Scarlet ketika presiden tua itu mulai memompa batang kemaluannya di vagina Scarlet. Ucapan yang dibuat-buat hanya untuk menyenangkan hati pak presiden. Sebenarnya perempuan ini tidak merasakan apapun karena penis presiden itu sudah tidak lagi perkasa dan sudah mengendur walaupun ereksi.
Sembari terus menyodok liang kemaluan Scarlet dengan penisnya, Presiden Shin-Ra mengarahkan kedua tangannya untuk meremas-remas payudara Scarlet yang sekarang menggantung bebas sehingga terlihat semakin besar saja dari aslinya. Presiden Shin-Ra mempercepat gerakannya secara spontan dan mencengkeram payudara Scarlet yang besar itu hingga memerah. Scarlet sebenarnya kesakitan tetapi tidak berani protes karena dia ingin proyeknya berhasil tembus.
“Scarlet…akhhh…” seru Presiden Shin-Ra sembari menusukkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke vagina sekretarisnya itu dan menyemburkan spermanya bertubi-tubi kedalam liang kemaluan Scarlet. Diusianya yang tua ini, sang presiden masih dapat berejakulasi sebanyak ini walaupun dia tidak dapat bertahan lama dalam bercinta. Pria tua ini memeluk tubuh telanjang Scarlet yang masih ambruk diatas meja kerjanya dari belakang sembari menikmati sisa-sisa orgasmenya barusan. Batang kemaluannya berdenyut-denyut dan mulai mengecil sedikit demi sedikit.
Saat itu juga cairan putih kental nampak meleleh dari bibir kemaluan Scarlet dan mengalir melalui tungkai kakinya yang mulus itu. Sementara itu di tempat lain, disisi lain kota Midgar. Mata Cloud perlahan-lahan mulai terbuka. Dihadapannya terdapat wajah seorang gadis cantik berambut kepang warna cokelat. Mata hijau gadis cantik ini terlihat berbinar ketika melihat Cloud siuman dari pingsannya. “Dimana aku?” kata Cloud ketika kesadarannya mulai membaik dan mulai bangkit dari tidurnya untuk duduk. “Fiuhhh…kupikir kau sudah mati tadi. Kau berada di sebuah gereja tua.
Jangan khawatir akan dirimu, lukamu sepertinya tidak parah karena taman bunga yang lebat ini telah melindungimu dari benturan.” Kata gadis berkepang itu kepada Cloud. Cloud baru sadar kalau dia sekarang sedang berada ditengah-tengah taman bunga yang sangat lebat didalam sebuh gereja tua yang sudah tak dipakai lagi. “Ups. Maaf. Aku tidak bermaksud merusak bungamu.” Kata Cloud yang langsung loncat kepinggir taman agar tidak merusak bunga-bunga itu lagi.
Gadis berkepang itu tertawa dan memetik beberapa bunga, “Hmmm..jangan khawatir, bunga-bunga inisepertinya tumbuh memang untuk menyelamatkan orang lain. Lagipula merupakan keajaiban bunga bisa tumbuh subur di Midgar apalagi didaerah slum.” Kata gadis itu lagi. Cloud mengernyitkan dahinya, “Slum? Maksudmu kita didaerah slum?” Tanya Cloud memastikan keadaannya. Gadis berkepang itu mengangguk.
“Omong-omong, namaku Aeris Gainsborough, kau bisa memanggilku Aeris. Kita pernah bertemu sebelumnya saat ledakan di sektor 6.” Kata gadis berkepang itu kepada Cloud yang mulai ingat bahwa dia pernah menabrak gadis cantik ini ketika dia berjualan bunga di kawasan komersial di distrik 6. “Terima kasih yah telah membeli bungaku.” Kata Aeris kepada Cloud setelah pemuda pirang ini memperkenalkan diri kepada Aeris. “Brak!!!” tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. Terlihat sepasukan tentara Shin-Ra menghambur masuk bersama seseorang pria berbaju jas resmi warna hitam dengan tongkat panjang ditangan. “Menyebalkan mereka itu. Selalu menggangguku.
” Gumam Aeris yang kemudian meletakkan keranjang bunganya. Cloud berniat menghampiri orang-orang itu tetapi langsung dicegah oleh Aeris. “Jangan! Berbahaya! Orang-orang itu adalah suruhan organisasi Shin-Ra. Sebaiknya kita pergi saja, lagipula aku tidak mau rebut lagi dengan mereka.” Kata Aeris lagi. “Mereka sering mengganggumu? Aneh sekali kenapa mereka mengganggu anak kecil.” Kata Cloud sembari bersiap untuk mencabut pedangnya. Aeris berkacak pinggang, “Siapa yang kau sebut anak kecil. Begini-begini umurku sudah 22 tahun tau.” Kata Aeris dengan nada tinggi.
“Hei Cloud. Kau mau melakukan sesuatu untukku? Jadilah bodyguard-ku sampai aku selamat sampai dirumah.” Kata Aeris yang lalu menyambar lengan Cloud dan mengajaknya untuk lari lewat pintu belakang bangunan tua itu. “Wow…tunggu dulu! Aku tidak mau ikut campur dengan urusan kalian. Lagipula aku selalu mendapatkan bayaran dari tiap pekerjaanku.” Sahut Cloud tetapi secara spontan tetap mengikuti langkah Aeris. “Akan kuberi kau bayaran atas kerjamu. Aku akan berkencan denganmu sekali. Itulah bayarannya menjadi bodyguardku.
Sekarang ayo cepat!” seru Aeris sambil mempercepat langkah kakinya. Setelah satu jam bermain kucing-kucingan dengan para tentara Shin-Ra itu akhirnya mereka sampai juga di daerah slum pinggiran di sektor 3. Rumah Aeris berada didekat aliran sungai kecil yang merupakan satu-satunya sungai di Midgar yang belum dihancurkan seluruhnya oleh Shin-Ra.
Rumah sederhana dan gadis cantik ini hanya tinggal bersama dengan ibunya yang bernama Elmyra.