Aku hanya bisa memandangi foto orang yang menurut mama adalah ayahku. Disaat aku menyesali segala macam perbuatan terkutukku terhadap mama, orang yang selama 18 tahun telah merawatku seorang diri hingga tumbuh menjadi seperti ini. Aku terlahir sebagai anak yatim karena tak pernah melihat ayahku kecuali foto yang kusaksikan saat ini. Ayahku tewas kecelakaan saat akudalam kandungan. Dulu ayahku adalah seorang pekerja proyek bangunan irigasi, hingga selalu bekerja berpindah-pindah dari satu pelosok ke pelosok lainnya.
Pada suatu saat di dusun pedalaman sumatera barat, ayahku berkenalan dengan seorang gadis yangselanjutnya menjadi ibuku. Memang mama terlalu dini untuk menikah, saat itu ayahku berumur 27 tahun sedangkan mama baru berumur 15 tahun tapi hal itu bukan menjadi penghalang mereka untuk menikah. Saat itulah ayahku memboyong mama ke jakarta. Namun naas tak dapat dihindari, tiga bulan kemudian ayahku tewas dalam kecelakaan lalu linrtas. Dari saat itu mama mengasuhku seorang diri dengan membuka toko kelontong kecil dari uang sisa warisan ayahku hingga berkembangseperti saat ini.
Kejadiannya bermula ketika ujian EBTA selesai, waktu itu pukul 9:00 pagi. Aku langsung saja meluncur pulang karena memang aku mesti pulang. Sesampainya di rumah aku melihat mama sedang memasak makanan, hal itu biasa dan memang seperti biasanya, yang luar biasa adalah saat itu mama hanya menggunakan daster yang sangat pendek, hanya setengah paha.
"Ma.. itu baju siapa?" tanyaku heran.
Aku dapat melihat walaupun diumurnya yang akan menginjak 34 tahun tapi mama masih memiliki tubuh yang sintal, terlihat dari balik daster itu masih menampakkan tonjolan di pantat dan dadanya. Aku pun larut membantu mama menyiapkan bahan masakan, tapi kembali aku terpaku disaat duduk berhadapan mengiris sayuran, mataku menangkap warna putih celana dalam mama, sebenarnya mama duduk dalam posisi yang biasa, namun ia belum sadar kalau saat itu ia hanya menggunakan daster pendek, aku berusaha mangalihkan pandanganku, tapi selalu saja kembali melirik ke arah itu sampai akhirnya aku tertangkap basah, saat aku melirik disaat itu pula mama melihat ke arahku, kemudian secara perlahan ia merapatkan pahanya. Kejadian itu membuatku tidak tenang, selalu akumemikirkan apa yang ada di balik warna putih kain penutup tersebut, walau aku selalu mendapatkan ranking di kelasku tapi dalam hal wanita dan isi dalamnya, aku berada di nomor 39 alias nomor absensi terakhir di kelasku. Hal ini menimbulkan ide edan di kepalaku, tanpa sepengetahuan mama, lubang kunci pintu kamar mandi akan menjadi teropongku! Benar saja sekitar pukul 5 sore jadwal mama mandi. Aku pura pura saja membaca koran di ruang tamu manakala mama lewat hanyamelilitkan handuk di tubuhnya.
"Donny.. udah mandi belumm?" tanyanya sembari berlalu.
"Iya ntar.. Mama dulu deh" sahutku sambil berpura-pura serius membaca koran.
Aku mendengar suara pintu kamar mandi ditutup, secepat kilat aku berlari untuk menngintip. Perlahan mama melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya. Hufss.. tampaknya tak ada lagi yang menutupi tubuh mama, dadanya tampak membulat indah, dengan bulu-bulu lembut menghiasi selangkangannya, lalu ia mulai mengguyurkan tubuhnya denghan air. "Jduk.." tiba-tibakepalaku terbentur gagang pintu karena kurang konsentrasi. Aku tak tahu apakah mama merasa curiga atau tidak karena saat itu aku telah lari kembali ke ruang tamu.
Seminggu telah berlalu dari kejadian tersebut dan kini aku telah mempunyai ide yang lebih edan lagi, "Obat tidur!" Aku membeli pil atifan, kata temanku itu adalah pil penenang dengan efek samping tidur. Disaat makan siang aku membubuhkan atifan yang telah kutumbuk menjadi tepung ke gelas mama. Ternyata memang benar, tak beberapa lama berselang mama telah pulas di kamarnya. Aku menuju kamar mama sejam kemudian, aku berusaha untuk membangunkannya untuk meyakinkan bahwa ia benar-benar tidur.
"Ma.. ma.. Mama.." tak ada reaksi, aku memegang tangannya untuk lebih yakin lagi, tapi masih juga tak ada reaksi, aku merasa lega. Namun masalah kemudian timbul, saat itu mama menggunakan celana panjang lantaran tak sempat untuk mengganti dengan daster tidurnya.
Perlahan aku membelai wajahnya, mama memang mempunyai wajah yang sangat cantik, setidaknya itu menurutku. Setelah puas, belaian tanganku mulai turun ke pangkal lehernya yang putih mulus dan jenjang. Ada rasa hangat mulai berdesir di tubuhku, jantungku mulai berpacu tak normal. Sangat pelan aku mulai meraba dada yang masih terbalut oleh bra berwarna krem. Aku sudah tidak sabaringin melihat yang lebih jauh lagi. Perlahan sekali aku melepaskan kancing celana panjangnya, kemdian menurunkan reitslitingnya lebih perlahan lagi, yang kemudian menampakkan celana dalam warna krem juga. Saat itu aku merasa telah berada di dunia lain karena jantungku berdetak begitu kencangnya. Dari ujung kaki aku menarik celana panjang hitam itu hingga terlepas sama sekali. Tak lupa celana dalam krem itupun kulorotkan juga. Dalam seumur hidup, baru saat itulah kalipertama aku melihat vagina seorang wanita dari jarak yang begitu dekatnya. Kucoba untuk meregangkan kedua pahanya untuk memperhatikan lebih detail isi dari vagina wanita. Hufhh.. dengan warnan kemerahan sepertinya menantang untuk disentuh, kucoba untuk membelainya kemudian memasukkan jari tengahku ke dalam lubang hangat tersebut, ternyata masih sempit. Sampai disitu aku tak melanjutkan aksiku, kupakaikan kembali pakaiannya seperti semula, akhirnya aku onani sendiri di kamar mandi.
Setelah kejadian itu aku jadi semakin berani, saat bercanda dengan mama aku sering mencubit pantatnya bahkan kadang aku sudah berani mencium belakang lehernya, tapi aku tak tahu apakah mama masih menganggapnya itu suatu kewajaran atau mama telah sadar bahwa ada kelainan pada diriku tapi berpura-pura tidak tahu. Terakhir, aku menyewa sebuah VCD, walaupun bukan filmporno tapi dapat dikatakan film itu setingkat diatas film semi.
"Ma.. umur Donny sekarang berapa?" tanyaku mencari alasan.
"18.. emang kenapa sayang?" jawabnya sambil mengerutkan dahi.
"Berarti Donny boleh nonton film 17 tahun ke atas, khan?" lanjutku kembali.
"Bolehh.. Donny khan sudah besar.." sahut mama membuatku merasa dewasa.
"Mau khan Mama nonton bareng Donny?" pintaku, dan aku merasa senang saat mama menganggukkan kepalanya tanda ia mau menemaniku. Terlebih saat itu mama memakai daster pendeknya lagi.
Sepuluh menit berlalu setelah film di putar, posisinya masih seperti semula, aku memeluk mama dari belakang karena memang sebelumnya adalah biasa kalau aku memeluk mama saat nonton film.Adegan mulai panas ketika memasuki menit ke 15, tak terasa adik kecilku mulai bangkit dari tidurnya, sialnya lagi badan mama menempel di tubuhku hingga menyulitkan posisi adikku, untungnya mama mengerti, kemudian menarik badan untuk tidak bersandar lagi ke tubuhku. Kesempatan itu kugunakan untuk memperbaiki posisi adikku. Tak berselang lama kemudian aku memeluk mama lagi, perlahan kutarik tubuhnya untuk bersandar lagi di dadaku. Aku tidak tahu apakah ia merasakan di punggungnya ada benda keras melintang, sementara tanganku masih melingkar manis di perutnya yang ramping.
Adegan film semakin panas, kami hening tak bicara, yang ada hanya suara cegukan air ludah yangditelan paksa keluar dari mulut kami berdua. Aku semakin memeluknya lebih erat lagi, mama masih diam dan terus menyaksikan film, darahku sepertinya berdesir hebat, kuberanikan diri kembali untuk mengecup leher bagian belakangnya, satu dua kali mama masih terpaku diam. Akhirnya kubuka pembicaraan.
"Gimana sih rasanya gituan.." tanyaku lirih ketika di layar TV adegan telah menjurus ke hubungan seks.
"Nggak tau Don.. Mama juga sudah lupa.." jawabnya lebih lirih lagi tapi matanya tetap lurus ke layar TV.
"Mama nggak pengen gituan lagi?" tanyaku terbata-bata.
Yang pasti pertanyaanku tidak terjawab karena setelah itu hening kembali, sepertinya mama sangat menikmati film tersebut dan tidak mempedulikan semua pertanyaanku.
Pelan sekali aku mulai menggerak-gerakan tangan di sekitar perutnya, dasternya begitu tipishingga terasa sekali kalau tanganku sedang mengitari pusarnya. Aku menciumi lagi leher bagian belakang, antara hidup dan mati aku memberanikan diri untuk menaikkan rabaan tanganku hingga pelan namun pasti tanganku sampai di dada yang menurutku tidak begitu besar tapi masih padat dan montok.
"Ehem.." mama terbatuk, entah sengaja atau tidak hal itu seperti halilintar bagiku dan menampar pipiku. Tapi sampai saat itu mama masih membiarkan tanganku di dadanya. Aku memberanikan diri lagi untuk mencium belakang lehernya, nafasku seperti memburu, aku sudah lupa diri, kuciumi semua leher sampai belakang telinganya.
"Hhhsstthh.." terdengar suara rintihan mama walau pelan tapi terdengar begitu berarti bagiku. Tanganku mulai meremas dadanya, sedangkan tangan kiriku mulai turun menyingkap daster mininya.
"Donny jangan nakal ahh.." mama mulai bicara namun masih juga belum menangkis tanganku. Suaranya begitu pelan dan lembut. Akupun mulai menurunkan reitliting daster yang ada dipunggung mama, hingga sebatas pinggang.
"Donny jangan.." Mama mulai bereaksi namun masih belum menghindar. Kuciumi punggung indah mama sembari tanganku berusaha untuk melepaskan tali BH-nya hingga terlepas sama sekali.
"Sayang mau ngapain sih.." ujar mama sambil menyeringai penuh arti. Aku terus berusaha untuk menelanjangi mama. Aku melorotkan daster mini itu, dengan mengangkati sedikit saja pantatnya untuk meloloskan daster itu, lepaslah daster mini aduhai tersebut. Kini mama hanya menggunakan celana dalam saja, tanganku tak henti-hentinya meremas dada mama.
"Hhssthh.. Donny.." mama merintih menikmati belaianku. Di layar TV nampak adegan permainan yangsensasional, mama terus memandangi film itu sambil menikmati remasanku. Aku mulai mengusap celana dalam mama, mama masih diam. Perlahan kugosokkan secara melingkar, sepertinya mama menikmati setiap sensasi yang kuberikan. Perlahan aku mulai membuka celana dalam mama, dan sepertinya mama memberikan jalan untuk itu, dalam sekejap celana dalam itu telah berada disampingku alias mama telah bugil total. Kembali tanganku mengusap vagina yang sudah sangat basahbahkan cenderung becek itu, sangat hangat dan seperti ada denyutannya.
"Uhh.. Donny jahat.." kata mama sambil meringis kenikmatan. Kini aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya, tapi sepertinya mama menolak, mama tak mau berhadapan denganku.
"Jangan sayang, ini Mama lho bukan orang lain.." kata mama lagi, kesempatan itu kugunakan untuk membuka bajuku sendiri dalam sekejap aku telah bugil juga. Aku masih berusaha untuk menciumi bibirnya.
Dua menit kemudian baru aku mendapatkan. Aku merebahkan mama di lantai, seluruh bibirnya telah kulumat dan mama membalas dengan sangat garang sepertinya ia sangat haus akan sentuhan setelah sekian lama tak terjamah laki-laki. Aku menindih mama. "Donny..?" ujar mama sambil membeliakkan matanya seolah tak percaya dengan yang digenggam, ketika tangannya memegang adikku yang sangat sangat tegang. "Emang kenapa Ma..?" tanyaku disela-sela nafasku yang makin memburu.Mama kembali terdiam, sedangkan aku terus merangsangnya, aku tak mau mama keburu sadar, pikirkukalau basah ya mandi sekalian. Aku berusaha memasukkan penisku ke vaginanya namun selalu meleset dan meleset, sepertinya ukuran penisku terlalu besar untuk ukuran vagina mama. Di samping mamayang selalu menhindari tusukanku.
"Ma.. nggak bisa masuk" ujarku perlahan.
"Jangan ya sayang ya, ini mama lho.." mama mulai melarangku sambil membelai rambutku sepertinya ia mulai tersadar.
"Donny tau kok, Mama pengen juga khan? " aku berusaha untuk menghindar disalahkan.
"Mama nggak munafik, mama akui mama pengen, tapi jangan sama Donny dong.." jawab mama lembut untuk meyakinkanku.
"Berarti Mama pengen gituan sama orang ya?" tanyaku balik tak terima.
Sejenak mama terdiam membisu, sekilas aku melihat mata mama mulai berkaca-kaca. Seolah mama tak percaya dengan apa yang baru kuucapkan.
Kemudian berkata, "Mama nggak mungkin gituan sama orang lain, mama terlalu sayang sama Donny.. nggak pernah terlintas di kepala mama untuk mencari laki-laki lain.." mama mulai menangis yang membuatku diam sejuta bahasa.
"Bahkan mama rela mati untuk Donny." lanjutnya kembali sambil mengusap air mata yang mulai menetes.
"Mama nggak tega untuk meninggalkan Donny." kembali mama melanjutkan kesahnya.
Aku merebahkan tubuh di samping mama, kondisi kami berdua masih bugil, sedangkan film di TV telah kumatikan. Kami diam, hening sunyi tanpa ada pembicaraan berarti. Aku berpikir bahwa aku benar-benar anak durhaka, bahkan mama sendiri ingin kutiduri.
Ketika tiba-tiba mama bersuara pelan, " Kenapa sih Donny pengen tidurin mama.." tanya mamaterdengar seperti pertanyaan seorang hakim di pengadilan.
"Mama.. cantik." ujarku pelan hampir tak terdengar.
"Karena Donny sayang Mama," lanjutku kembali berusaha untuk meyakinkan mama.
"Mama juga sayang sama Donny, tapi apa harus seperti ini penyampaiannya." tanya mama lagi lebih mendetail.
"Iya emang Donny salah kok.. Donny salah.. Donny salah.." tukasku keras sambil duduk dan memakai celana dalam yang sejak tadi berserakan.
"Donny marahh?" ujar mama lembut sambil berusaha meraih kepalaku untuk mengelus rambut yang acak-acakan.
Tak lama kemudian mama memelukku sambil sesekali terisak, "Jangan marah ya.. jangan siksa perasaan mama." kata mama disela-sela isak tangisnya.
"Maafin Donny Ma, tadi Donny kurang kontrol," sahutku pelan sambil membelai punggung mulusnya.
"Donny pengen menyerahkan keperjakaan Donny untuk mama, pengen kalau mama orang pertama yang mengajari tentang semuanya, tapi Donny sadar itu salah.." ujarku memperbaiki kesalahan ketika ciuman hangat jatuh di keningku, kemudian turun dan tanpa sadar mulut kami beradu lagi tapi tidak sekencang yang pertama namun begitu lembut hangat dan mesranya. Giliran mama sekarang yang memelukku erat seolah tak ingin dilepaskannya lagi.
"Maafin mama.." ujarnya sambil terus memelukku.
"Mama terlalu egois.." lanjutnya sembari menciumi pipiku dengan penuh kasih sayang.
"Kalau memang itu yang Donny mau," tanpa meneruskan kalimatnya selanjutnya, mama bangkit kemudian berjalan menuju kamarnya. Seribu pikiran telah merambah kepalaku, aku bingung harus bagaimana. Tapi akhirnya aku memilih alternatif kedua, ikut masuk ke dalam kamarnya.
Aku terpana saat melihat mama tidur terlentang sambil matanya menatap sayu ke arahku. Bulu-bulu lembut tampak semerawut di sekitar selangkangannya. Pelan aku mendekatinya, sepertinya gayung bersambut.
"Mama ingin jadi orang pertama yang memberikan sayang seluruhnya pada Donny." kata mama sambil berusaha menutupi selangkangannya dengan kedua tangan, nyata sekali kalau mama masih caanggung untuk bugil di depan orang. Seketika seranganku ke mulutnya dibalas lebih garang lagi. Aku benar-benar tidak tahan, kucoba memasukkan penisku secepat mungkin. Namun selalu meleset.
"Abis Donny sihh besar sekali.." sambil tangannya menuntun penisku ke liang tempat aku lahir.
"Ditekan.. sayang.." lanjut mama sambil tangannya tetap memegang penisku agar diam. Aku berusaha untuk menekan, namun terasa seperti ada sesuatu yang menahan. Aku terus berusaha sampai akhirnya, "Slebs.." kepala penisku amblas melewati pintu lubang yang sangat sempit itu. "Ukhh.." mama menjerit tertahan sepertinya mama merasakan sakit. Aku terus menekan menerobos masuk hingga benar-benar amblas seluruhnya, kepala adikku seperti menyentuh sesuatu yang kenyal di kedalamansana.
"Sayang yang pelan dong.." ujar mamaku sambil meringis menahan sakit. Aku mulai mengocokkan keluar masuk, mama benar-benar menikmati setiap gerakan yang kuberikan. "Uuhh.." mama merintih pelan. Mama mulai mendekap tubuhku erat. Sedangkan aku terus menurun-naikkan tubuh hingga aku merasakan nikmat luar biasa. Mama mulai maracau tak karuan ketika gerakanku semakin cepat menghantamnya. Suara desahan nafas bercampur dengan suara vagina yang dikocok oleh penisku, begitu kontras. Nyata sekali kalau vagina mama benar-benar telah basah bahkan mungkin sangat becek hingga mengeluarkan suara yang menurutku aneh, sepertinya ada sesuatu terjadi pada mama, ia semakin mendekapku erat, goyangan pinggulnya semakin liar dan hal itu membuatku seperti akan meledak, keringat telah membanjiri tubuh kami berdua. Aku semakin akan mendekati puncak ketika tiba-tiba mama menjerit dan telah sampai pada puncaknya yang sedetik kemudian aku menyusul ke surga dunia tersebut. Aku terkulai lemas. Diam tanpa ada suara sedikitpun. Sejenak kemudian ada suara isak tangis dari mulut mama, rupanya mama tersadar kemudian berlari ke kamar mandi, setelah itu hening.
Keesokan harinya keadaan tetap seperti biasanya, hari itu libur sekolahku aku tetap berada di rumah untuk menemani mama, aku tak tega untuk meninggalkannya seorang diri di rumah. Saat itu mama sedang mencuci pakaian, mama adalah seorang yang rajin, semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri olehnya, itu yang membuatku terkagum-kagum padanya, ia selalu mengerjakan semua tanpa pernah meminta tolong kecuali mamang setelah ia tak mampu. Tapi saat itu aku berinisiatif untuk membantunya lagi pula 70% yang dicuci mama adalah bajuku sendiri. Tanpa basa basi aku langsung menuju ember untuk mengucek baju baju ringan agar bersih.
"Lho mimpi apa semalam kok tumben nyuci.." kata mama sedikit menyindir.
"Nggak kok cuma pengen bantu aja." sahutku sambil nyengir tak karuan.
Kami pun larut dalam pekerjaan itu, beberapa menit kemudian tugas harian itu selesai. Baju yang kupakai basah semua begitu juga dengan mama. Akupun mandi lagi, setelah selesai disusul mama. Saat itu kami sedang menonton TV, ketika langit mendung dan menampakkan akan datang hujan, benar saja beberapa menit kemudian gerimis pun jatuh perlahan dari langit, kami pun berlari ke belakang menyelamatkan baju-baju yang hampir kering.
"Jduaarr.." petir menyambar dengan lantangnya seolah tak ada yang berani melawan. TV telah mati, otomatis. Aku diam sendiri melamun, sedangkan mama masih asyik dengan majalah Femina-nya duduk di ruang tamu, hujan turun dengan lebatnya, aku pun ikut larut duduk di ruang tamu sambil membaca majalah Femina yang banyak terdapat di kolong meja ruang tamu, sesekali aku memperhatikan wajah mama, memang benar kata orang kalau mama seorang wanita yang cantik, tinggi semampai dengan kulit putih mulus, leher jenjang dan dada membulat indah, seandainya sajaorang juga tahu kalau mama mempunyai vagina yang indah dengan warna kemerahan dan terlihat seperti milik gadis belasan tahun maka lengkaplah mama sebagai wanita sempurna.
Bolak balik aku membuka halaman namun tak ada satupun isi majalah yang menarik minatku untukmembacanya. Majalah itu kuletakkan kembali di bawah meja, aku duduk sendiri lagi, kembali kuperhatikkan mama, aku teringat semalam bagaimana mama bagai kuda binal memacu mengejar kenikmatan. Tak terasa penisku membengkak. Sepertinya mama tahu kalau sedang diperhatikan.
"Donny ngapain juga ngeliatin mama seperti itu.." tanyanya sambil membalik ke halaman berikut.
"Nggak kok Ma.. mama cantik sih," jawabku lugu sambil memperbaiki posisi penisku.
Mama tersenyum renyah, ufhh sungguh manis jika mama tersenyum. Kemudian mama meletakkan kembali majalahnya untuk bangkit menuju jendela menyaksikan hujan yang turun dengan lebatnya. Aku melihat dari belakang betapa sexy-nya tubuh mama, pantatnya menonjol keluar, penisku serasa meledak saja, melihat hal itu. Aku pun beranjak menyaksikan hujan dari belakang mama. Kupeluk tubuh mama, mama memegang tanganku di perutnya. Penisku sengaja kutempel di belakang pantatnya.
"Ma.. Donny sayang mama," lirihku pelan.
"Mama juga sayang sama Donny." sahut mama sambil mencium keningku, kemudian ia berbalik menghadapku, mama memelukku dengan melingkarkan kedua tangannya di leherku. Aroma tubuh wanita asli tanpa farfum pun keluar dari tubuh mama terutama kedua ketiaknya, membuatku semakin terangsang. Lama kami saling pandang, mama begitu cantiknya dengan hidung bangir bibir tipis dan mungil. Semakin aku memeluknya erat serasa tak ingin kulepaskan lagi.
"Dansa yuk.." ajak mama gembira sambil meregangkan pelukannya.
"Boleh tapi tapenya khan di kamar," jawabku bingung.
"Ya.. iya dansanya di kamar Donny aja," sahutnya kembali menjelaskan.Tak berapa lama berselang alunan piano chopin pun beralun sendu, begitu romantisnya kami berdansa layaknya pasangan yang lagi dimabuk asmara. Mama memeluk leherku dengan lembut aku pun tak mau kalah, pinggang mama yang ramping kujadikan sandaran tanganku. Tak lama kemudian mama merebahkan wajahnya di dadaku, aku merapatkan pelukanku sambil mengelus elus punggungnya, kuciumi rambut mama yang wangi sembari tangan kananku terus menelusuri tubuhnya hingga menuju pantat yang membulat sempurna. Sambil berdansa santai, kuremas pantat indah mama.
"Tu khan.. Donny nakal lagi," kata mama protes sambil mencubit belakang leherku.
Aku tak mempedulikan kata-katanya, aku terus meremas pantatnya, perlahan kutarik roknya yang sebatas lutut hingga mendapatkan ujungnya. Dari situ aku memasukkan tanganku untuk memegang langsung pantat yang dibalut celana dalam yang aku belum tau warnanya itu.
"Donny, jangan lagi ah.." ujar mama masih menandakan dengan suara yang lembut.
Mama tetap bersandar di dadaku, aku terus mendekapnya erat tanpa melepaskannya sedikitpun. Kami terus masih berdansa ketika tanganku telah berhasil masuk ke dalam celana dalam melewati sisi sampingnya. Terasa sekali kulit pantat mama begitu lembutnya. Perlahan kulorotkan celana dalam penghalang itu, mama masih diam ketika celana itu telah lorot sampai setengah paha, dengan bantuan kakiku akhirnya celana yang ternyata berwarna kuning itu merosot sampai telapak kaki mama.
"Donny mau telanjangi mama lagi yaa?" tanyanya sambil menatapku, kali ini mama mengangkat kepalanya menatapku.
Aku diam tak bisa menjawab, terpaksa wajahku tertunduk malu. Aku tak kuasa memandangi wajah mama. Aku berpikir mungkin mama masih menginginkan kejadian semalam, tapi dugaanku ternyata meleset.
"Maafin Donny Maa.." sahutku tertunduk, "Abis Donny pengen seperti tadi malam lagi.." lanjutku polos tanpa ada yang tertahan.
"Donny pengen lihat mama telanjang lagi?" tanya mama sambil mengelus pipiku.
Aku diam tak bisa menjawab kecuali memandangi kuku kakiku yang mulai panjang.
"Atau mungkin Donny pengen tiduri mama lagi yaa?" kembali pertanyaan itu bagai petir yang berkecamuk di luar menghantam ubun-ubunku.
Mama tersenyum, kemudian menjauh dariku hingga posisi kami berhadapan tapi di sisi tembok yang berlawanan. Perlahan sekali mama menarik kaos yang digunakan hingga terlepas sama sekali, kini mama hanya menggunakan bra yang ternyata berwarna kuning juga sepertinya satu paket dengan celana dalam yang tadi berhasil kulorotkan dengan rok sebatas lututnya. Chopin masih sibuk dengan pianonya dalam tape-ku. Saat kemudian kembali bra kuning itu dilepaskan mama hingga menampakkan gundukan kenyal dan montok itu seperti terbebas dari penjara bernama BH. Aku masih terpana dengan kelakuan mama, sepertinya bukan aku saja yang sakit jiwa tapi mama juga sudah tertular dengan penyakit incest-ku. Dalam hati aku berpikir ternyata rok itu telah mencapai lutut hingga ketika tangan halus mama melepaskannya. Tak ada lagi penghalang yang menutupi tubuh indah mama. Cegukkan air liur terdengar seperti pemaksaan ditelan keluar dari mulutku.
"Mama nggak mau mengotori kamar Donny.." sambil mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai mama berlalu menuju kamarnya. Kembali hal ini meninggalkan sejuta pertanyaan di benakku, tapi seperti kemarin aku selalu memilih alternatif yang kedua, mengikuti ke kamarnya. Kali ini aku tak mau setengah-setengah, seluruh pakaianku kulepas semua, ketika aku berjalan ke kamar mama kondisiku sudah dalam keadaan bugil dengan penis tegang mengacung-acung.
Tak ada yang istimewa, kulihat mama duduk di meja rias menghadap cermin tetap dalam keadaan bugil. Aku mendekati untuk selanjutnya duduk di belakang mama sambil memeluknya. Mama tersenyum penuh arti kemudian berdiri lagi dan meninggalkanku lagi yang duduk terpaku. Ternyata dugaanku benar mama berdiri menuju tempat tidur, terlentang sambil memandangku. Dan aku sudah paham dalam kondisi ini mama sudah dalam keadaan terangsang. Sekarang sudah saatnya aku akan mempraktekkan teori dalam film blue bagaimana cara memuaskan wanita.
Perlahan aku menindihnya, kemudian mulut kami beradu dengan dahsyatnya terdengar bersuara begitu kerasnya, aku menciuminya dengan penuh nafsu. Lalu aku menurunkan ciumanku ke arah leher, mama sedikit melenguh, ketika ciumanku sampai di daerah puting susunya. Kuhisap dan kulum puting yangberwarna kemerahan itu. Kembali ciuman kuturunkan sampai mengelilingi pusar yang kelihatan begitu bersihnya.
"Uhh.." mama melenguh keras saat lidahku menyentuh klitorisnya. Vaginanya begitu basah denganbau khas yang menambah seleraku untuk menjilatinya, kucoba untuk menjilati daerah basah tersebut. Ufssh.. Asin dan terasa seperti sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya tapi keadaan itu tak membuatku menghentikan kegiatanku, aku terus menjilatinya bahkan semakin rakus seperti ingin membersihkan vagina orang yang paling kusayangi tersebut.
"Mmmhh.. sstt.." mama menjerit tertahan saat kucoba memasukkan jari tengahku ke dalam dirinya, terasa begitu hangat dan lembab. Kocokan keluar masuk tanganku semakin membuat mama kelojotan tak tentu arah, mama mulai menggerakkan pinggulnya yang tadi hanya diam karena itu aku yakin mama dalam keadaan sangat terangsang. Aku terus menjilati klitorisnya sembari jari tengahku keluar masuk melewati pintu sempit vagina mama. Semakin liar mama menggerak-gerakkan pinggulnya seolah ingin cepat sampai pada orgasmenya. Aku sudah tak tahan, secepat kilat aku menjajarinya, kuciumi mulut tipis mama, kuhisap sepenuh tenaga. Hingga kurasakan penisku digenggam oleh mama dan secara paksa menariknya mendekati lubang kewanitaannya.
"Cepat sayang.. tekan," mama memohon padaku untuk segera memasukkan penisku ke arahnya.
Perlahan kutekan sambil menikmati sensasi yang timbul ketika menyaksikan wajah mama meringis menahan sesuatu saat penisku melewati dinding dinding sempit vaginanya secara perlahan.
"Bless.." akhirnya penisku terbenam seluruhnya dan tepat mengenai mulut rahim yang kenyal.
"Ouhh.. Donny sayang," mama kembali melenguh saat kucoba untuk menarik penisku secara perlahan dan kembali membenamkannya hingga amblas seluruhnya. Pinggul mama mulai bergoyang lagi mengimbangi tusukanku yang tetap konsisten berirama pelan. Suara decakan vagina yang beradu dengan penis mulai terdengar karena kurasakan mama adalah tipe wanita dengan vagina yang becek, namun di situlah nikmatnya berhubungan seks dengan mama, suara itu seperti menambah semangatku untuk terus memacunya.
"Teruskan sayang.. terus.." mama mulai meracau tak karuan, saat hentakanku semakin cepat frekuensinya. Hal ini membuat suara decakan vaginanya semakin terdengar keras, membuat mama terus menjerit tertahan. Akupun seperti ingin melepaskan sesuatu tapi tetap kutahan, aku ingin mencapai orgasme bersamaan dengan mama. Aku semakin mempercepat gerakanku, "Lagi sedikit sayang.." Mama mulai meringis, menantikan malaikat kenikmatan datang menjemputnya. Ketika tiba-tiba, "Ouhhsstt Donny.." mama sepertinya telah bertemu dengan malaikat itu. Kurasakan vaginanyaberdenyut memijit penisku, aku terus memacu agar malaikat itu jangan pergi meninggalkanku, ketika tak lama berselang, "Cret.. creet.. creet.." penisku menyemburkan lahar panas di dalam vagina mama. Kami tidur memulihkan tenaga, sesaat kemudian mama bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan vaginanya, dan kali ini tanpa air mata penyesalan. Begitu balik, langsung memelukku. Kami pun tidur sambil berpelukkan mesra.
Aku masih terpaku menyaksikan foto ayah, aku benar-benar merasa berdosa terhadapnya, aku merasa tak mampu menjaga mama dengan baik, atau mungkin mama yang tidak berhasil mendidikku menjadi anak yang baik. Saat ini mama sedang menjaga toko milik kami, walaupun sudah ada karayawan, mama selalu menyempatkan diri diakhir hari untik mengecek secara langsung laba yang di peroleh.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara bel menandakan kalau di luar ada tamu, cepat aku membukakan pintu. Ternyata seorang wanita paruh baya telah berdiri di depanku dengan anggunnya, kelihatan sekali kalau dia seorang wanita kantoran yang selalu sibuk dengan urusan, sepertinya dia seumuran dengan mama.
"Kami dari asuransi xx(edited), dan telah melakukan janji dengan ibu Ernie" sapa wanita itu dengan ramah.
"Oh iya.. silakan masuk Bu." aku mempersilakan wanita itu untuk duduk, tak lama kemudian aku melaju dengan sepeda motorku menjemput mama di toko yang jaraknya cuma seratus meter dari rumah.
"Ehh.. ibu maafkan saya Bu saya lupa kalau ada janji dengan ibu hari ini," kata mama dari luar ruangan begitu sampai sembari cepat duduk di kursi.
"Ah nggak apa-apa kok Bu," sahut wanita itu tersenyum ramah.
Kemudian mereka bicara panjang sekali kali diselingi tawa renyah keluar dari mulut mereka berdua. Menurutku itu adalah kelebihan seorang pegawai asuransi untuk selalu familiar terhadap klien-nya. Sejam kemudian setelah mereka berbicara panjang akhirnya wanita itu pamit pulang, mama menutup pintu ketika aku mengambil formulir asuransi di meja. Aku melihat isi formulir itu ternyata ada dua. Ternyata mama akan mengasuransikan pendidikanku sebesar $4000 yang akandiangsur secara triwulan, lembar lainnya akan mengasuransikan toko kami tanpa ada nominalnya. Akupun memeluk mama kuucapkan terima kasih padanya, mama hanya tersenyum sambil mengatakan kalau itu memang sudah menjadi kewajibannya.
Keesokan harinya wanita itu datang lagi, kali ini mama sendiri yang membukakannya pintu. Kembali suara tawa riang renyah terdengar dari mulut mereka berdua, aku pun merasa happy melihat mama telah mempunyai teman baru yang baik, kukatakan baik karena saat itu di belakang aku sedang menyantap black forest bingkisannya. Karena selama ini mama terlalu sibuk dengan urusannya mengurus toko hingga jarang mempunyai teman seperti wanita itu. Mereka pun kelihatan akrabsekali.
Dua jam mereka bicara ketika wanita itu pamit pulang Mama menceritakan padaku kalau wanita itu bernama Ni Wxx Ayu Wxx(edited), orang Bali namun terlahir dan besar di Jakarta, juga tentang profesinya selain pegawai kantor asuransi juga instruktur fitness pada suatu fitness center, tak ketinggalan statusnya yang janda tanpa anak. Ooo.. batinku mengatakan pantas saja mereka akrab rupanya sama sama janda.
Keesokan harinya wanita itu datang lagi namun kali ini sedikit lebih pagi, saat itu jam menunjukkan pukul delapan. Aku membukakannya pintu.
"Hai Donny," sapanya masih ramah seperti kemarin.
"Tante Ayu.." jawabku ringan sembari mempersilakan Tante Ayu masuk. Mama keluar dari kamar dengan pakaian santainya, celana jeans dengan atasan kaos biasa, walau begitu tak memudarkan kecantikan alaminya. Dengan meminta izin kepadaku mama pun keluar dengan Tante Ayu. Lama aku menanti mama ketika pukul 11:00 terdengar suara klakson mobil, mama turun dari mobil ketika mobil Tante Ayu melaju entah kemana. Aku melihat mama membawa beberapa tas, rupanya ia barudari mall. Tak sabar aku ingin melihat apa yang ada di dalam tas itu. Ketika kulihat beberapa potong pakaian senam.
"Mama mau ikut senam ya?" tanyaku heran.
"Iya.. bolehkan.." jawabnya sambil memandangku.
"Enak lho yang ngajarin Tante Ayu langsung.." sambungnya kembali.
"Berarti Donny nanti sendiri di rumah dong.." ujarku dengan nada tak terima.
"Nggak lah sayang, pokoknya Donny ikut kemana pun mama pergi," ujar mama meyakinkanku.
"Dan Tante Ayu bisa mengerti hal itu.." sambungnya kembali membuatku benar-benar merasa tenang.
Dua hari setelah itu aku mengantarkan mama untuk pertama kalinya ke tempat senam yang dituju, di sana Tante Ayu sudah menunggu dengan pakaian senamnya, oleh Tante Ayu aku dibawa ke ruangan khusus dimana aku bebas melihat ke mana pun namun aku sendiri tak terlihat dari luar. Mama mulai membuka pakaian luarnya, karena sejak dari rumah mama sudah memakai baju senamnya. Terlihat sekali walaupun Tante Ayu adalah instruktur senam, namun tubuh mama mampu mengimbanginya walaupun mama tak pernah melakukan senam apapun. Kelihatan sekali mama masih canggung dalam gerakan-gerakan senam ketika wanita wanita lain mengikuti dengan lancar gerakan gerakan yang Tante Ayu perlihatkan.
Akhirnya senam pun selesai dan aku akan keluar dari penjara ini menurut batinku. Begitu aku akan memegang gagang pintu, aku melihat dua pemuda dengan badan kekar masuk, ketika ruangan telah sepi dan meninggalkan mama dan Tante Ayu, sejenak aku menahan hasratku untuk keluar dari ruangan itu. Salah seorang bahkan menggandeng Tante Ayu, tanpa canggung mereka berpelukan mesra, mamaku masih duduk di pojok saat Tante Ayu mengenalkan para lelaki kekar itu satu-persatu. Kemudian Tante Ayu mengajak mama dan para pemuda itu ke ruangan sebelahnya, walaupun agak terhalang tapi aku masih bisa melihat keseluruhan ruangan dengan menaiki kursi.
Tante Ayu kembali bercanda dengan pemuda itu sesekali lelaki itu menjawil pantat Tante Ayu.
"Bu Ernie ngomong dong," ujar Tante Ayu kepada mama.
"Oh iya.." tiba-tiba mama manjawab tapi masih malu-malu.
Tante Ayu terus bermesraan dengan pemuda itu, bahkan saat itu Tante Ayu duduk di pangkuannya. Mama masih terdiam membisu saat seorang lagi mendekati mama.
"Hai Mbak.. kok dari tadi diam aja sih," tanya lelaki itu.
"Ah nggak kok.." ujar mama merasa risih.
"Mungkin Mbak Ernie masih canggung ya?" lanjutnya kembali, mama masih diam namun sedikit tersenyum.
" Mbak.. di luar aja yuk, khan nggak enak.. mengganggu Mbak Ayu di sini.." sepertinya laki-laki itu pintar memanfaatkan suasana. Berkata demikian kemudian laki-laki itu menggandeng mama untuk kembali berada di ruangan senam, dan mama hanya nurut saja saat itu.
Mama duduk berdampingan dengan pemuda itu, sementara Tante Ayu terdengar mulai mendesah, saat itu kalau kulihat pakaian senamnya telah merosot sampai perutnya. Mama hanya menggigit bibir mendengar desahan nafas Tante Ayu.
"Mbak ernie kelihatannya lembut sekali.." pemuda itu mulai merayu mama.
"Ah kamu bisa aja.." sahut mama mulai melayani pembicaraannya.
"Pasti banyak laki-laki naksir sama Mbak." lanjut pemuda itu sambil melingkarkan tangan kirinya di pinggang mama. Mama masih diam tidak berusaha untuk menghindar. Kembali terdengar suara lenguhan Tante Ayu yang begitu kerasnya, karena saat itu Tante Ayu telah telanjang total begitu juga dengan pemuda itu, nampak bulu-bulu yang sangat lebat menghiasi selangkangan Tante Ayu.
Tiba-tiba mama berdiri..
"Maaf Mas, aku akui aku sedang bernafsu, tapi tidak sama kamu.." mama mulai membentak saat tangan pemuda itu menyentuh buah dada mama. Merasa terhina pemuda itu pergi entah kemana. Tak lama kemudian aku pun keluar dari ruangan itu, belum selesai aku menutup pintunya mama menghampiriku dan mendorongku masuk kembali. Mama menutup pintu itu kemudian memburuku. Habis sudah mulutku diciumi. Pakaianku dibuka dengan paksa, sekejap saja aku dalam keadaan bugil. Mama mengelus penisku yang sudah menjulang tinggi. Berusaha untuk memasukkannya ke dalam mulutnya yang kurasa begitu tipis dan mungilnya, walau begitu akhirnya masuk juga walau serasa dipaksakan.
Tak lama kemudian mama membuka pakaian senamnya sendiri, bau keringat mama menambah daya tariknya. Aku memeluknya dari belakang, meremas buah dada yang kenyal nikmat. "Mama sayang kamu Don.. ujarnya lirih sambil meremas penisku. Aku tak berkata apapun selain menyuruhnya untuk nungging. Mama mau saja saat kutusuk vaginanya dari belakang. Aku mulai melakukan gerakan maju mundur. Vagina mama serasa lebih sempit karena faktor gaya nungging tersebut. Tak lama kemudian mama menyuruhku mencabut penisku.
"Mama nggak bisa menikmati.." katanya berkeluh padaku. Akupun disuruhnya duduk di kursi ketika mama mulai mengangkangiku berhadapan dan memasukkan penisku secara perlahan ke dalam dirinya. Aku cukup senang dengan gaya itu mama duduk di pangkuanku dan buah dadanya tepat berada di mulutku. Rakus aku menjilati dada yang menjulang menantang itu, saat mama mulai melakukan aksinya menurun naikkan tubuh indahnya di hadapanku.
"Ouh.. Mama.." tak sadar aku bicara demikian, mama meringis namun terus menutup mulutnya rapat rapat. Mama menggerakkan pinggulnya dengan berbagai variasi kadang memutar, maju mundur dan turun naik, semua berirama membuat aku tak tahan. Ketika 5 menit kemudian..
"Ma.. Donny mau keluar.." bisikku pelan.
"Tahan sayang, tunggu mama lagi sebentar.." ujar mama pelan seperti takut kedengaran, mama terus memutar-mutarkan pinggulnya membikin penisku pusing tujuh keliling, ketika tak lama kemudian..
"Ukkhh.. sstt.." bersamaan kami mencapai puncak kenikmatan yang kami daki. Mama menciumiku mesra. Beberapa saat kami saling pagut sebagai tanda kasih sayang diantara kami berdua. Aku merasa mama adalah bidadariku yang tercantik. Setelah itu kami pun keluar dari ruangan itu untuk selanjutnya pulang tanpa pamit kepada Tante Ayu.
Situs Blog cerita dewasa indonesia terlengkap ! :D hanya 17++ yangboleh masuk
Cari di sini, Bos
Kamis, 05 Januari 2012
Senin, 28 November 2011
Adek Cewek yang Seksi 7 : final
Vany masih terlelap, terlentang di atas ranjang. Dadanya yang super besar bergerak naik-turun seirama dengan perutnya yang sedang hamil 8 bulan, bernafas tenang. Aku duduk di sebelahnya, mengusap perut buncitnya perlahan. Vany tetap pulas.
Perlahan, kubuka kancing piyama pinknya. Satu-dua-tiga-empat-lima... Yak terbuka semua. Kubuka piyamanya, perlahan, hati-hati sekali, jangan sampai ia terbangun... Vany tidak memakai BH... Astagah aku tak pernah bosan akan dada adikku; luar biasa besar (ukurannya 34F sekarang... Bahkan bertambah besar 1 cup lagi dalam 3 bulan ini), mulus, bulat penuh, montok—entah kenapa tidak ada tanda-tanda menurun sedikit pun, dan sekarang tentu saja penuh susu yang nikmat. Putingnya yang coklat tua sempurna sekali. Baru tadi pagi kusedot susu banyak-banyak dari dalamnya sebelum berangkat kuliah.
Aku menegakkan diriku, memandangi tubuh mungil Vany; sempurna sekali. Perutnya yang bulat dan sangat buncit mulus sekali tanpa bekas stretch-mark sedikit pun. Vany jelas bertambah gemuk sejak hamil, tapi entah kenapa justru aura kecantikan dan keseksian adik kecilku ini semakin bertambah kuat.
Dengan lembut, kuremas dada Vany. Enak sekali, lembut dan penuh di tanganku. Vany menggeliat, tapi masih terlelap. Telunjukku memainkan kedua putingnya. Kurasakan putingnya mengeras, menegang; Vany memang sangat mudah terangsang sejak hamil.
Kudekatkan kepalaku, dan mulai menjilat, menyedot putingnya dengan lembut, sambil terus meremas dadanya, semakin kuat. Susu yang nikmat segera menyembur keluar. Kumainkan puting kirinya yang sangat sensitif dengan lidahku, kujilat, kusedot susunya.
“Mmmh...” Vany mendesah perlahan dalam tidurnya.
Kusedot semakin kuat putingnya. Semakin banyak air susu keluar. Tanganku membelai perut buncitnya. Penisku sudah tegang sekali, sakit rasanya tertahan celana dalam dan celana jeansku.
“Ngg... Mmhh...” desahan Vany semakin terdengar jelas.
Kembali kuremas-remas dada adikku, kali ini dengan nafsu walau tetap lembut. Vany menggeliat lebih kuat. Tanganku merogoh ke dalam celananya, mengusap lembut vagina adikku... Agak basah.
“Mmhh... Nghh... Kaak?” kata Vany setengah mengantuk.
“Bangun Van...” kataku sambil nyengir. “Udah jam empat.”
“Mmmm? Iyaa...” Vany menunduk, melihat apa yang kulakukan untuk membangunkannya. “Iiii... Kakaaak... Uda dibilang banguninnya jangan nakal aaa... Ini malah nakal banget!” ujar Vany setengah kesal. Tapi bibirnya membentuk senyum manis.
“Hehehe abis kamu seksi banget sih... Tidur aja seksi...” belaku. Vany tertawa renyah.
“Aa... Kakak...”
Kuremas-remas dadanya dengan lebih kuat. Air susunya menyemprot, mengalir keluar. Perlahan, kukecup dada adikku, bergerak turun ke perut hamilnya. Kecupanku lembut di atas perutnya yang mulus. Vany tersenyum.
“Kakak suka banget sama perutku...” bisiknya. Aku mengangguk setuju.
Kubuka celana panjang piyamanya, celana dalam hijau muda berenda Vany sudah agak basah. Tersenyum, kubuka juga celana dalam adikku perlahan-lahan. Vaginanya yang tembem dihiasi bulu yang sangat tipis, membuatnya bertambah seksi. Vany telah membuka kemeja piyamanya, sehingga adikku telah telanjang bulat sekarang, terlentang di atas ranjang.
“Ayo tanggung jawab...” katanya. Aku terbahak.
“Ih nafsu banget deh...”
“Iiii kakak itu yang nafsu aku bangun-bangun langsung di ML-in!” ujarnya tak mau kalah.
Tertawa, aku merunduk, menciumi dan menjilati vagina adikku. Vany menggeliat, mengejang. Kujulurkan lidahku, menjilati bagian dalam vaginanya.
“MMhh... Aahh... Kaakk...” desahnya.
Kusedot klitoris Vany yang menonjol. Kedua tangan Vany mencengkeram seprei. Jelas nikmat sekali. Aroma segar vaginanya yang basah memenuhi inderaku.
“Aahhh.... Kaakk.... Mmmhh.... Nhh...”
Aku bergerak naik, kuciumi perut buncitnya sambil kubelai lembut. Bibirku naik menyedot putingnya, meminum susu yang nikmat. Tangan kananku merogoh ke bawah, kumasukkan tiga jemariku ke dalam vagina Vany, yang langsung mengejang.
“Nggghh!! Kaakk.. Aaa... Kaakhh... Aaahh... Aahh...” desahnya seru.
Kecupanku naik ke lehernya yang kurus, Vany memejamkan mata, menggigit bibirnya menahan nikmat. Semakin naik, kulumat bibir mungil adikku. Vany segera membelitkan lidahnya dengan lidahku. Jemariku bergerak semakin cepat, menusuk-nusuk vaginanya. Cairan vaginanya bermuncratan keluar. Muka Vany memerah.
“Aaahhh!! Aahh.. Kakkk.. Kaaakkkk!!” desahnya. Aku tahu tak lama lagi Vany akan keluar.
“Ayo, Van... Keluarin...”
“NNggghhh... Kaaakk....” Vany mencengkeram lenganku. Suara ‘crek crek crek crek’ jemariku yang menghujam vaginanya semakin terdengar, semakin basah.
“Aaahhh... KKAAAKK!! MMMMMMNnnnhhhh!!!”
Kucabut tanganku dari vaginanya. Vany squirting; satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh... Semburan demi semburan cairan keluar dari dalam vaginanya. Vany terkulai lemas di ranjang. Matanya terpejam, nafasnya terengah, tubuhnya gemetar dampak orgasmenya yang hebat.
“Nnnnhh... Kaa..kk.... Ngac...oo...” bisiknya, gemetar. Kukecup bibir adikku lembut, menenangkannya.
“Kakakku ini super nakal...” katanya lemah. Aku nyengir. “Harus dihukum...”
“Heh? Dihukum gimana?” tanyaku, tersenyum lebar. Vany nyengir.
“Ayo buka celananya!” perintahnya. Aku tertawa, menurut. Kubuka celana jeansku. Penisku yang sudah sangat tegang langsung menyembul keluar. Ujungnya telah basah.
“Sini...” kata Vany, perlahan menegakkan diri hingga terduduk, menepuk perlahan perutnya yang mulus dan sangat besar. Aku berlutut di depan adikku, Vany menggenggam penisku, dan segera mengulumnya dengan nikmat. Sensasi lembut bibir Vany yang mungil membungkus penisku, enak sekali.
Kepala Vany bergerak maju-mundur menyedot penis kakaknya. Aku memejamkan mata, benar-benar enak sekali. Lidahnya bergerak nakal di bagian bawah penisku.
“Mmhh.. Vann... Enak... Bangett...” ujarku menikmati. Vany menyedot dengan sangat-sangat lembut, semakin lama semakin kencang dan kuat.
Vany mengulum penisku hingga ke pangkalnya, kemudian dengan amat sangat perlahan menarik mulutnya hingga ke kepala penisku yang berdenyut-denyut rasanya. Dibiarkannya penisku keluar perlahan-lahan dari celah mungil bibirnya yang lembut, kemudian Vany menjilati penisku dari kepala hingga pangkalnya. Aku benar-benar tidak tahan.
“Vaann... Maauu kk.... keluarr...” kataku terbata.
Tapi saat sedikit cairan kental keluar dari kepala penisku, Vany mengangkat kedua dadanya yang super besar dan montok itu, diselipkannya penisku diantara belahannya. Kelembutan dan kekenyalan dada adikku membungkus penisku, yang entah kenapa menahan semburan spermanya.
Vany menekan, memijat penisku dengan dadanya. Susunya mengalir perlahan setiap kali Vany menekan dadanya yang besar lebih kencang lagi membungkus penis kakaknya. Tanpa sadar pinggulku bergerak maju-mundur. Jika ada satu hal yang dapat membuatku kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kenikmatannya, itu adalah titf*ck dari adikku Vany.
Gerakan pinggulku semakin kencang. Bagian bawah penisku tertekan perut buncitnya yang keras. Kulihat kepala penisku hilang-timbul dari belahan dada Vany. Aku sungguh-sungguh tak tahan.
“Nnggghhh... Mmhh... Vaann.... VVVAANN....NNYY!!” seruku.
Spermaku meledak bertubi-tubi melumuri wajah imut adikku. Vany telah mengangakan mulutnya lebar-lebar, sehingga bulir demi bulir cairan kentalku menyemprot ke dalam mulutnya. Rasanya lama sekali baru penisku berhenti menyemprotkan sperma, dan saat berhenti, kulihat wajah, poni, leher, dan dada Vany telah berlumuran sperma kakaknya.
Aku terduduk, kujatuhkan tubuhku ke belakang hingga terlentang. Penisku rasanya ngilu sekali. Ini ejakulasi kelima hari ini; sekali tadi pagi dengan Vany, tiga kali dengan Cherry tadi siang, dan yang barusan ini. Tiba-tiba aku merasa ngantuk sekali.
“Ah Kakak kebanyakan sih ama Cherry tadii...” ujar Vany manja, menelungkup di atasku; perutnya yang buncit menekan penisku. “Jadi udah lemes deh sama aku... Harusnya disimpen aja.”
Aku tertawa. “Hahaha ntar sore juga udah kuat lagi... Kakak boleh tidur dulu ga?”
Vany nyengir dan mengangguk. “Aku mandi trus siapin buat masak dulu deh... Kakak ntar bantuin kan?”
“Yup. Cherry juga koq,” kataku. “Kakak tidur sejam deh...”
Vany mengecup bibirku dengan lembut.
“Sleep tight, Sayang...” bisiknya. Aku tersenyum, memejamkan mata.
Aku terbangun karena aroma masakan Vany. Kulirik jam di dinding... Setengah 6 lebih sepuluh menit. Cherry akan datang pukul 6 sepertinya. Aku beranjak dari ranjang, masih dengan sedikit lemas aku berjalan keluar kamar, mencari adikku.
Aku berjalan ke arah dapur, tapi aku tidak menemukan adikku. Panci-panci sudah dimatikan apinya, hanya uap yang masih menguar dari balik penutup panci, menyebarkan aroma khas sup kacang merah buatan adikku. Aku tersenyum, bahkan wangi sup-nya pun sudah sama dengan wangi sup buatan ibuku. Kulirik tudung saji di atas meja, menyembunyikan beberapa piring hidangan nikmat olahan Vany. Hatiku tergoda untuk menyicipi salah satunya, tapi menahan diri karena tak ingin merusak kesenangan menyantap bersama makan malam dengan Vany dan Cherry.
Aku menguap, masih mengantuk... Kubuka lemari es untuk mengambil sebotol minuman isotonik. Masih mengantuk, aku berjalan kembali ke kamar sambil meminumnya. Di mana Vany?
Terduduk di ranjang, kembali meneguk minumanku, aku menoleh dan melihat sehelai t-shirt warna hijau tergeletak di sisi ranjangku. Astagah... Tentu saja Vany mandi. Rupanya tadi aku terbangun belum sadar betul sehingga tak menyadarinya. Sekarang aku bisa mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Aku segera berdiri, melepas pakaianku dan berjalan masuk ke kamar mandi, berniat mandi bersama adikku. Namun aku tertegun saat masuk.
Kutemukan bukan hanya Vany di dalam ruangan shower, tapi juga Cherry sahabatku. Dua cewek super seksi ini sedang mandi bersama, saling mengusap tubuh satu sama lain, meremas dada, pantat, dan saling mengecup leher dan bibir satu sama lain dengan perlahan... Dan tentu saja saling mengusap perut buncit mereka satu sama lain. Penisku langsung tegak berdiri menatap pemandangan seperti itu.
“Wow...” kataku.
Sahabatku dan adikku menoleh, dan ketika melihatku langsung nyengir senang sekali. Wajah imut Vany merona sedikit.
“Akhirnya lu bangun juga!” ujar Cherry.
“Wa... Koq.. Koq bisa...” kataku terbata. Cherry terbahak. Vany semakin merona.
“Mmm... Tadi aku lagi masak... Cherry dateng, terus bantuin... Terus abis masak keringetan... Terus mandi deh,” jelasnya polos.
Aku nyengir. Adikku ini lucu sekali. Ngomong sangat polos padahal satu tangannya masih terletak di dada Cherry, yang lain di atas perut buncitnya.
“Boleh gabung?” tanyaku.
Cherry tak menjawab, hanya berjalan keluar dan menarikku masuk ke dalam ruangan shower. Agak sempit rasanya sekarang... Dipenuhi 3 orang. Tapi aku tak peduli. Saat pancuran air hangat menyentuh tubuh kami, aku teringat saat pertama kali Vany melepas keperawanannya... Sore hari di bulan Juli yang lalu, mirip seperti sekarang. Bedanya hanya sekarang ada satu cewek lagi, membelai punggungku perlahan, perutnya mengusap punggungku perlahan. Enak sekali.
“Gue mandiin ya, Dit...” bisik Cherry. Tangannya mulai mengusap dada dan perutku dari belakang. Aku memejamkan mata, menikmati. Rupanya Vany tak mau kalah.
“Kak... Mandiin aku donk...” pinta Vany manja. Aku terbahak.
“Nakal kamu...” bisikku. Vany menjulurkan lidah, menyerahkan botol sabun cair kepadaku. Tersenyum, aku mulai menggosokkan sabun ke badan adikku dengan lembut, mulai dari lehernya yang agak gemuk sekarang, pundak, dan punggung...
Perlahan tanganku meraba dadanya yang super besar dan kencang, kuremas dadanya dengan lembut. Jemariku memainkan dan memelintir puting Vany yang keras... Menyemprotkan susu ke arah kaca yang membatasi ruang shower. Vany memejamkan mata, menikmati sentuhan kakaknya. Tangan Vany bertumpu pada kaca pembatas.
“Mmhh.. Kaak...” desahnya pelan. Uap mengembun di kaca, keluar dari mulut adikku. Kucium leher dan pundaknya perlahan. Tanganku bergerak turun, melumuri perut adikku yang buncit dengan sabun. Aku suka sekali dengan perut ini... Aku tak menolak perut adikku yang rata dulu sebelum dia hamil, tapi entah kenapa semakin besar perutnya, semakin seksi menurutku. Sesekali aku menoleh ke belakang untuk melumat bibir Cherry.
Cherry terus membelai tubuhku, menciumi pundak dan punggungku. Ini enak sekali. Tangannya yang lembut mulai memegang penisku... dan mengarahkannya ke pantat Vany. Aku nyengir, menoleh. Cherry mengedip padaku. Cherry menyelipkan penisku yang sangat tegang di belahan pantat Vany yang sangat montok. Tanganku bergeser ke pinggulnya yang melebar, sudah siap melahirkan. Aku mulai bergerak maju-mundur, menggesekkan penisku di antara kedua bongkahan pantatnya yang empuk.
“Kaakk... Ga mau disimpen buat ntar malem aja?” ujar Vany lemah.
“Hmm... Masih kuat koq...” kataku. Vany hanya tersenyum manis, memejamkan mata. Perlahan, kumasukkan penisku ke dalam anusnya, dan mulai menggenjotnya dengan nafsu. Sempit, hangat sekali.
“Mmh... Mnghh.. Ngh... Hh.. Kaakk... Kakk...” desah Vany tiap kali penisku menghujam tubuhnya. Pantatnya yang tebal dan besar menepuk-nepuk pingganggku. Kuremas dada Vany kuat-kuat, memeras susunya semakin banyak keluar. Hujamanku semakin kencang. Cherry mencium dan menijlati leherku dari belakang, jemarinya memainkan putingku. Aku tak tahan, aku siap keluar.
“Vann.... V... Vannny... Nggghhh!!!”
Kuledakkan spermaku berkali-kali dalam anus Vany. Gemetar, Vany berbalik, mencium bibirku dengan nikmat. Tangannya membelai penisku yang masih tegang, masih meminta lagi. Kupegang perutnya yang mulus dan besar, enak sekali.
“Eeh... Giliranku sekarang...” kata Cherry tak mau kalah. Vany mengerucutkan bibir, pura-pura merajuk, tapi ia membalikkan badanku menghadapi sahabatku yang super cantik, yang sudah berlutut di lantai ruang shower menghadapi penisku, dan seketika itu juga memasukkannya ke dalam mulutnya. Aku memejamkan mata. Sekarang giliran Vany yang menggosokku dengan perut buncitnya yang super mulus. Cherry bergerak maju-mundur mengulum penisku. Lidahnya berulah di bawah batang penisku. Enak sekali. Vany menjilati leherku. Gila... Threesome seperti ini benar-benar luar biasa.
“Mmmm... Sllrppp... Sllrppp....” Cherry berisik menyedot penisku. Bibirnya yang cukup tebal membungkus penisku dengan sempurna. Benar-benar enak.
“MMhhh.... Cherr... Ngh...” desahku... Aku tahu aku tak dapat bertahan lama dibeginikan terus... Tapi Cherry tiba-tiba melepaskan sedotannya, berdiri perlahan, membalikkan badannya ke arah tembok. Tangan kirinya masih memegang penisku, membimbingnya ke arah vaginanya.
Tak menunggu disuruh dua kali, segera kuhujamkan penisku ke dalam vagina sahabatku. Kedua tanganku meremas erat-erat pantat yang sampai hari ini menurutku masih pantat termontok dan terindah di muka bumi (well... Di samping pantat Kim Kardashian atau selebritis mancanegara lainnya), yang semakin bertambah besar karena kehamilannya. Pinggulku bergerak maju-mundur, menghujamkan penisku kuat-kuat ke dalam rahim Cherry yang sedang mengandung anak kembarku.
“Oohh.. Oohh... Aangghh... Nhh... NNnnhh...” desahnya tak karuan tiap kali penisku menghujam ke dalam tubuhnya.
Vany berjalan perlahan ke depan Cherry, memegang kedua lengannya yang bertumpu ke dinding, mengalihkannya ke atas perut Vany. Cherry menegakkan diri, melumat bibir adikku dengan nafsu. Tangannya meremas dada Vany kuat-kuat, menyemprotkan susu dari dalamnya. Vany dan Cherry berciuman dengan sangat hot, saling membelitkan lidah.
Genjotanku semakin kuat. Aku semakin terangsang melihat adik dan sahabatku saling berciuman. Vagina Cherry seolah semakin lama semakin menyempit. Setiap kali Vany mencubit putingnya, vagina Cherry menjadi lebih sempit lagi. Ini enak sekali.
“Mmhh... Vann... Cherr.... Nngghh...”
“Ngh... Ngh... Ngh... Hh... Ngghh... Dit... Dit..” Cherry mendesah bertubi-tubi.
“Oohh... Ch... Cherryy....” desah Vany saat Cherry menghisap susu dari putingnya. Aku tak tahan.
“Nnnnnnngghhhh!!!”
Kuledakkan spermaku ke dalam rahim Cherry berkali-kali. Sekujur tubuhku seperti tersengat listrik rasanya. Penisku seperti tak mau berhenti mengeluarkan cairan. Kutarik lepas penisku dari vagina sahabatku saat masih mengeluarkan sperma. Beberapa muncrat menyemprot punggung Cherry, bahkan wajah Vany. Cherry merosot ke lantai. Rupanya Vany juga berhasil dibuat orgasme oleh Cherry yang terus memainkan dadanya. Adikku bersandar ke dinding, memejamkan mata, terengah-engah.
Sempoyongan, aku bersandar ke dinding. Cairan putih masih mengalir dari dalam vagina Cherry, meleleh keluar melumuri pahanya yang montok. Aku terengah-engah... Tapi penisku masih meminta lagi.
“Hh... Di... Di kamar aja, yuk?” kataku, tersengal.
“Kakak masih kuat??” tanya Vany, sedikit terkejut. Aku pun heran. Cherry menggeleng lemas, nyengir lebar.
Kami berjalan keluar dari kamar mandi, mengeringkan tubuh kami masing-masing dengan handuk, dan berjalan ke kamar. Vany dan Cherry merebahkanku terlentang di tengah-tengah ranjang, mereka berdua berlutut di sebelahku, Vany di kanan dan Cherry di kiriku, siap melanjutkan. Penisku sudah tegang sekali.
“Sekarang Kakak nurut aja yaa...” bisik Vany menggoda di telingaku.
“Kita yang bakal kerja keras...” kata Cherry.
Perlahan, dengan sangat sexy, mereka berdua membuka handuk yang membungkus tubuh hamil mereka, kemudian melemparkannya ke lantai. Entah apa, tapi tubuh (dan terutama perut) mereka terlihat mengkilat sore itu. Sangat mulus. Tak tahan, tangan kiriku meremas bongkahan pantat Cherry yang montok sekali, dan membelai perut Vany yang super besar dan mulus.
Kedua cewek ini mendekatkan wajah mereka ke penisku yang sudah tak sabar. Hatiku berdebar-debar, entah kenapa. Cherry mulai dengan mengulum kepala penisku. Vany menjilati batangnya perlahan. Sensasi diblow-job oleh 2 cewek tak pernah dapat kulukiskan.
“Mnhhh.. Vann... Cherrr.... Mngghh...”
“Slrrppp... sllrp.. Enak Kak?” tanya Vany. Aku hanya dapat mengangguk buru-buru.
“Mmmmm... Slrpp... Mm... Mah... Apa gue manggil lu ‘Kak’ juga aja ya, Dit?” kata Cherry sambil melepas kulumannya.
“Heh jangan aneh-aneh! Udah lanjutin!” ujarku sambil tertawa. Vany terbahak.
“Cherry... Gantian doonk...” pinta Vany. Cherry mengangguk, berpindah menjilati batangku, membiarkan Vany menyedot kepala penisku. Sedotan Vany selalu kuat.
Cherry mulai menciumi pinggangku, menyerahkan penisku sepenuhnya pada Vany yang telah memasukkan seluruh batang penis kakaknya ke dalam mulutnya. Lidahnya yang mungil bermain di bawah batang penisku, menyedotnya cepat. Kepalanya bergerak naik-turun-naik turun. Aku tak tahan.
“Vann... Kakak... mmmnnhh.... Kkhh...” kata-kataku tercekat.
“Eits... Jangan keluar dulu,” kata Vany, tiba-tiba melepas sedotannya. Benang ludah tipis menjuntai antara bibirnya dengan kepala penisku.
“Kita ada surprise buat lu...” kata Cherry.
“Astagah surprise apa lagi...” kataku, senang.
Cherry dan Vany menegakkan diri, berlutut berhadap-hadapan di kanan-kiri penisku. Perut mereka yang buncit menghadapi penisku, dan perlahan, Vany dan Cherry mendekatkan perut mereka, menjepit penisku dengan perut hamil mereka yang mulus dan kencang.
“Uwahh.. Vann... Cheerrr... Aahh... Ahh...” desahku tak karuan. Nikmat sekali.
Vany dan Cherry nyengir, mulai bergerak naik-turun menggosok penisku dengan perut mereka. Aku mendudukkan diri, kubelai perut keduanya; perut Vany yang sudah 8 bulan hamil lebih besar sedikit dari perut Cherry yang 5 bulan hamil anak kembar, tapi keduanya benar-benar mulus dan menggiurkan.
“I love you, Kak...” bisik Vany, memegang perutnya dengan kedua tangannya dan menggerakkannya lebih cepat menggosok penisku. Aku memejamkan mata, ini enak sekali.
“MMhh... Sini kamu, Vany...” ujar Cherry tiba-tiba, meremas dada adikku dan mengecup bibirnya. Vany terbelalak, tapi sesaat kemudian sudah menikmati ciuman Cherry, membelit lidahnya. Aku tak pernah tahan melihat pemandangan ini.
“MMMMMNNGGHHH.. nGGGHH... Gue... Kellluarr.... Nnhgggghh...”
Kuledakkan spermaku berkali-kali di antara perut buncit kedua cewek ini, menyemprot wajah, dada, dan tentunya perut keduanya. Aku tergeletak, terengah. Tubuh kami bertiga sudah berkeringat.
“... Gila itu... itu... tadi... Enak banget...” kataku. Kedua cewek itu tertawa. Mereka merebahkan diri di kanan-kiriku.
“Ayo, Sayang...” pinta Cherry sambil membelai penisku. Aku mengangguk, berlutut, berbalik menghadapi mereka berdua.
Aku memandangi kedua cewek cantik yang sedang bugil di atas ranjangku ini. Benar-benar luar biasa. Dua kecantikan yang berbeda, kulit dan wajah Vany yang sangat oriental, bersebelahan dengan Cherry yang tanned cenderung sawo matang dengan wajah bule-nya, keduanya sedang mengandung anak-anakku. Benar-benar luar biasa.
Kuarahkan penisku pertama-tama pada vagina Vany. Tembem dan hangat sekali sekarang. Vany memejamkan mata saat perlahan-lahan penisku menembus liang vaginanya. Cherry memain-mainkan dada Vany dengan satu tangan, sambil menjilati lehernya.
“Mmnhh... Ngghh... Nhhh...” desah Cherry. Aku mulai mempercepat tusukanku. Badan Vany yang terlentang bergerak seirama hujamanku. Semakin lama semakin kencang, semakin kuat.
“Oohh... Kakkk... Kakkkk... Nghh...” desahnya makin kuat.
Aku menggenjot adikku semakin kuat. Vany memejamkan mata, mulutnya menganga. Tangannya mencengkeram seprei kuat-kuat.
“Kakk.. Kaaaakkk.... Nnggghh!!!!!”
Vany squirting kuat-kuat, membasahi penis dan perutku. Aku mendudukkan diriku di sisinya. Mengerti, Vany naik ke atasku, membelakangiku, dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Vany menggelinjang, tangannya menopang perutnya yang buncit. Tanganku merogoh ke depan, meremas dada montok Vany yang berguncang-guncang menggiurkan, kumainkan putingnya.
Cherry beranjak turun dari ranjang, mencari sesuatu dari tasnya yang terletak di sebelah ranjangku, dan mengeluarkan sebuah dildo besar berwarna merah; bukan dildo biasa, tapi double-dildo (kedua ujungnya berbentuk kepala penis) dengan strap-on, sehingga bisa dipakai oleh cewek. Vany terbelalak menatap dildo besar itu.
“Gila.... Gede... Banget, Cher?” katanya sedikit tersengal karena penisku masih menghujam vaginanya.
“Hmmm... Kalo pas Kakakmu ga ada aku pake ini...” jawab Cherry cuek. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Sahabatku ini cukup maniak rupanya.
Perlahan, Cherry menusukkan salah satu ujung dildo itu ke dalam vaginanya hingga masuk setengah, kemudian memakai strap-on nya. Muka Cherry merona merah. Sekarang sahabatku ini terlihat seperti memiliki penis besar berwarna merah, lebih besar dari penisku. Cherry naik ke ranjang, membelai perut Vany dan melumat bibirnya. Vany mulai was-was.
“Ch.. Cherr? Mau ngapain.... Nnnhh... nh...” tanyanya.
“Tenang aja...” bisik Cherry, menjilat tangannya dan membasahi kepala ‘penis’ merahnya. Aku mengerti apa yang ingin dilakukan Cherry, sehingga aku melepas penisku dari dalam vagina Vany dan menusukkannya ke dalam anus Vany. Vany menggelinjang, terbelalak.
“Aaah... Kakk... Ch... Aaah? Ch... OOOHHH! Cherrryy!!”
Cherry telah menusukkan dildo merah besar itu ke dalam vagina adikku dan mulai menghujam-hujamkannya. Perut buncit mereka saling bergesek. Muka Vany merah padam. Ia memejamkan mata, menikmati double penetration pertamanya.
“Aaaannghh.. Annnhhh.. Aaannhhh...” desah Vany kuat-kuat. Anusnya menyempit tiap kali Cherry menusukkan dildonya ke dalam vagina Vany.
“Nhhh.. Oohh.. V... Vann.. Ini enakk...” desah Cherry. Ia melumat bibir adikku, sementara aku menciumi leher serta terus meremas dadanya. Kedua lubangnya penuh, terus-menerus bergantian ditusuk oleh penisku di anusnya dan dildo Cherry di vaginanya.
“NNGHHH.. Nggghhhh.. NNggghhhhhh... Nggghhhh...” lenguh Vany tak karuan. Badannya bergetar. Tiba-tiba Cherry menjerit. Aku tahu Vany baru saja mengeluarkan jurus spesialnya, membuat dildo merah itu bergetar kuat sekali, sehingga dildo yang masuk ke dalam vagina Cherry pun bergetar.
“Ngghhhhhh!!!!! NNGHHH!!! OOOHH!!”
Vany menjerit dan squirting kuat sekali hingga dildonya terlepas. Sesaat kemudian ia kembali squirting kencang-kencang. Tubuhnya terkulai bersandar padaku, masih gemetar hebat sekali. Kubelai perutnya dan kukecup kepalanya untuk menenangkannya.
“La... gi...” desah Vany, meminta lagi.
“Heh... Kamu udah lemes gitu...” kata Cherry.
“Lagii... Sekali... Lagi....” desaknya. Rupanya ia ketagihan.
“Terakhir ya...” bisikku.
Tak menunggu lama, kutegakkan tubuh adikku, kumasukkan penisku ke dalam vaginanya dari belakang. Vany menggelinjang. Setelah penisku mantap berada di dalam vaginanya, Cherry perlahan menusukkan dildonya kedalam vaginanya juga dari depan. Vany terbelalak, mulutnya menganga.
“Aaaaa... Aaahhhhh... Annnhhh..... Aannnhh!!!” desahnya saat dua batang besar memenuhi vaginanya yang sempit.
Perlahan-lahan, bergantian, aku dan Cherry mulai menusukkan senjata kami ke dalam vagina Vany. Vany menggeletar. Aku pun memejamkan mata, ini enak dan sempit sekali.
Hujaman kami semakin cepat. Aku tahu Cherry juga mempercepat tusukannya. Muka Vany kembali merah padam. Desahannya semakin kuat.
“Ngghh! Aannghh... Arghhh... Annhh!! Mmhhh!! Mngghh!!!!” desahnya tak karuan.
“Diit... Dit.. Gue mau.. Ngghh.. Kuarrr...” ujar Cherry, memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya.
“Gue juga... Nnnhh.... V... Vannn?” kataku. Vany mengangguk liar.
“Hnnnghhh... Nhhgg!!” lenguh Vany tak karuan.
Hujamanku semakin kuat ke dalam vagina Vany. Tiba-tiba Vany mengeluarkan jurus spesialnya. Gelombang demi gelombang serangan memijat penisku dari dalam vaginanya. Aku tak tahan. Aku tahu Cherry juga sudah mencapai orgasmenya.
“Oooohh... Vvvvv... Vaaaaannn!!!”
Bertubi-tubi aku mengeluarkan spermaku ke dalam rahim Vany. Cherry dan Vany juga squirting bersamaan. Cherry merebahkan diri ke ranjang, terengah-engah. Aku masih meledakkan spermaku ke dalam Vany. Linu sekali rasanya sekarang penisku, sejak tadi dipaksa terus menerus mengeluarkan sperma.
Kucabut penisku dari tubuh adikku. Vany terengah-engah, matanya menatap kosong langit-langit ruangan, sepertinya sudah hilang kesadaran. Penisku masih tegak berdiri, masih meminta lagi.
Aku berbaring miring di belakang tubuh sahabatku. Kubuka strap-on nya, tapi kubiarkan dildo merah itu menancap di vaginanya. Kutampar pantat Cherry , kemudian kutusukkan penisku ke dalam anus Cherry. Bongkahan pantatnya yang montok membungkus, menjepit penisku erat-erat.
“Lu... Gi... la.... Aaahhh.. Annhh...” desahnya. Aku tersenyum.
“Habis ini gue pingsan kali,” kataku. Kupercepat hujamanku ke dalam anusnya. Cherry mendesah, menggelinjang, tangannya mengelus-elus perutnya yang buncit. Tangan kiriku merogoh dari bawah tubuhnya, ikut membelai perutnya. Tangan kananku memainkan dildo merah itu, menusuk-nusukkannya ke dalam vaginanya.
“Nnnnggghhh... Hunn... nny... Nngghhhh!” katanya.
“Ch... Cherrr... Cherrr gue mau keluarr.... Cherrr...” kataku semakin cepat, hujamanku semakin kencang. Kepalaku berdenyut-denyut rasanya. Cherry mengangguk, mengetatkan jepitan anusnya. Tanganku menhujam-hujamkan dildo semakin cepat ke dalam vaginanya.
“Aaaa..... AAAHH... AANNHH!!” jerit Cherry.
“Chhhh... Cherrryyyy!!!!”
Aku tak tahu berapa kali aku menyemprotkan spermaku ke dalam anus Cherry, yang pasti saat kucabut penisku, cairan putih meleleh keluar dari antara pantatnya yang super montok.
Kami bertiga berbaring telentang di ranjang, menatap langit-langit. Aku memejamkan mata. Gila... Hari ini sepertinya penisku bekerja lebih keras dari yang sudah-sudah. Sudah lemas sekarang, sudah puas.
Aku menoleh ke kiri, menatap Vany, adik cewekku yang seksi, yang sedang menatap kakaknya. Senyum lemah mengembang di wajahnya yang imut.
“.... Love you...” bisiknya, nyaris tak terdengar.
“Love you too, Van...”
Aku menoleh ke kanan, menatap sahabatku Cherry, yang masih memejamkan mata rapat-rapat, menikmati sisa-sisa sensasinya. Kulitnya yang sawo matang tertimpa cahaya oranye matahari senja itu, terlihat mengkilat mirip emas.
“I love you, Dit...” ujarnya. Aku terbahak.
“I love the both of you...” kataku. Kupeluk keduanya. Kami terdiam, memejamkan mata, masih terengah.
Tiba-tiba kami mendengar bunyi seperti genderang perang yang ditabuh kencang sekali.
“Suara apaan, tuh?” tanya Vany, terbelalak. Cherry menggeleng.
Tiba-tiba terdengar lagi. Kali ini aku tertawa kencang-kencang.
“Itu suara perut kita! Laper!!” ujarku.
“Oooohhhh!! Yaelaaahh!!” ujar Vany. Cherry tertawa.
“Bener juga ya! Makanannya jangan-jangan udah dingin lagi kita tinggal ML gini!” ujar Cherry. Vany segera terduduk mendengar masakannya terancam bahaya.
“Oiya! Ayo cepet! Bangun!! Makan!!” tukasnya, segera berdiri dan memakai pakaian, meninggalkan ruangan. Aku terbahak-bahak melihat tingkah adikku.
“Yuk!” ajakku pada Cherry. Cherry mengangguk, nyengir lebar.
Malam itu dinner kami berjalan dengan luar biasa. Rasanya aku belum pernah makan malam sebahagia itu. Masakan Vany benar-benar sedap, dan kami bertiga makan dengan seru, ditingkahi canda satu sama lain. Seusai makan, kami pergi menonton bioskop bersama. Aku sadar beberapa orang menoleh dan menatap kami dengan tatapan heran karena selama berjalan aku menggandeng atau merangkul kedua gadis cantik yang sedang hamil ini di kanan dan kiriku, tapi aku benar-benar tak peduli; aku berjalan dengan adikku yang sexy dan sahabatku yang luar biasa cantik, dan keduanya mengandung anak-anakku. Hidup tak akan pernah sesempurna ini. Tentu saja kami mengakhiri malam itu dengan sekali lagi Threesome sepulang nonton, dan sepertinya jika seperti ini terus... Bisa-bisa kandungan Vany dan Cherry bisa bertambah satu janin lagi.... Oke itu tidak mungkin.
Semuanya berjalan lancar setelah itu. Ella lahir sebulan kemudian dengan sehat dan normal, tanpa cacat sedikit pun. Yang unik hanyalah kedua iris matanya yang terkena heterochromia iridium, sehingga membuat iris mata Ella berlainan warna; yang kanan berwarna biru, yang kiri berwarna hijau. Tapi selain itu tidak ada cacat sedikit pun. Vany pun sehat, dan setelah selesai semua perawatan, ia pun dapat kembali melanjutkan sekolahnya. Ella diurus oleh ibu dan ayahku.
Tiga bulan kemudian Cherry melahirkan sepasang anak kembar, 2-2nya perempuan. Aku memberi mereka nama Yuri dan Yuna. Cantik-cantik, mirip bule seperti ibunya. Keduanya diadopsi oleh sepupu Cherry. Aku dan Cherry resmi berpacaran setelah itu.
Kuliahku berjalan lancar. Aku kuliah sambil bekerja paruh-waktu sebagai fotografer di salah satu model agency dari Jepang. Cherry kuliah sambil mengajar dance di kampus dan di sebuah tempat kursus dance yang cukup terkemuka di Singapore. Setahun setelah semuanya, Cherry mengandung anakku untuk yang kedua kalinya, kali ini laki-laki, dan lahir pada bulan Oktober 2010. Aku menamainya Shinji. Sejak itu aku memutuskan untuk menikah dengan Cherry dan merawat anak ini. Setelah itu, Cherry kembali mengandung dan melahirkan dua orang anak perempuan lagi untukku, masing-masing berjarak setahun. Aku kembali menamai mereka berdua Yuri dan Yuna, seolah mendapat kembali anak-anak kembarku yang pertama yang diadopsi oleh sepupu Cherry.
Dan... Tentu saja. Aku masih tetap sering pulang ke Jakarta setiap ada kesempatan untuk menjenguk Vany dan Ella, juga mengundang mereka datang berkunjung ke Singapore (dengan seizin Cherry). Aku dan Vany masih sering ML, kadang-kadang threesome bersama Cherry. Vany bertumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik, sangat seksi. Dadanya tetap 34F, perutnya telah kembali langsing, lekuk tubuhnya semakin terbentuk, semakin banyak pria mengidam-idamkannya, tapi sayangnya... Vany tak pernah membuka hatinya untuk pria lain.
Kamis, 28 Juni 2012 - 9.00pm WIB
Jakarta, Indonesia
“.... And the prince and princess lived happily ever after. The end.”
Kututup buku cerita bergambar Snow White itu. Ella menatapku mengantuk dengan matanya yang unik, mulut mungilnya menyunggingkan senyum manis.
“Good night, Sayang...” kataku lembut sambil mengecup dahi anak perempuanku. Ella sudah berumur hampir 3 tahun.
“Good night, Papi...” bisik Ella. Memejamkan mata.
Kubenarkan selimutnya, dan dengan perlahan aku berjalan keluar kamar Ella, mematikan lampu. Sebelum keluar aku menoleh sekali lagi. Ella sudah tampak terlelap, memeluk boneka panda. Tersenyum, aku menutup pintu kamarnya perlahan.
Aku baru kembali ke Jakarta sore hari itu. Sudah dua bulan lebih aku tidak pulang. Kali ini aku kembali ke Jakarta untuk menghadiri wisuda dan prom night Vany, adikku. Tak terasa ia pun telah lulus SMA. Vany sudah diterima di Waseda University di Jepang, dan karena aku dan Cherry pun telah lulus kuliah, kami berencana untuk pindah ke Jepang bersama-sama; Aku, Cherry, Shinji, Yuri dan Yuna, juga Vany dan Ella. Aku akan bekerja di kantor pusat model agency-ku di Jepang sambil melanjutkan kuliah S2 di sana.
Aku masuk melalui pintu tembusan ke dalam kamarku, yang sekarang juga menjadi kamar Vany. Ayahku merenovasi rumah sedikit sejak kehadiran Ella, membuat kamar lama Vany menjadi kamar Ella dan kamarku menjadi kamar Vany. Ia pun mengizinkanku tidur sekamar dengan Vany bila aku kembali ke Jakarta.
Vany, 18 tahun sekarang, sedang memilah-milah baju untuk prom night esok malam. Beberapa gaun dan setelan bertebaran di atas ranjang kami, dan Vany yang mengenakan lingerie polos berwarna kuning muda agak transparant masih menatap lemari pakaian dengan tampang serius. Aku tersenyum geli, mendekatinya. Vany menoleh.
“Hai, Kak... Ella udah tidur?” tanyanya.
“Udah... Dia demen banget Snow White,” kataku, mengecup pipinya. Vany terkekeh.
“Iya... Tiap malem minta dibacainnya Snow White mulu...” jawabnya, kembali berkonsentrasi pada lemari pakaian.
“Haha... Pantes kulitnya putih banget kayak Snow White,” candaku sambil duduk di ranjang. Kulit Ella memang sangat putih mulus seperti susu, cenderung kemerahan.
“Kak, bagus ini atau ini?” Vany menunjukkan dua potong gaun: Satu sack dress berwarna ungu tua dengan motif kristal di bagian dada, satu lagi sheath dress polos berwarna hitam. Aku memperhatikan keduanya.
“Hmm... Kalo yang item ini apa nggak membuat kecemburuan sosial?” kataku. Vany terbahak.
“Hahahaha.. Iya sihh.. Toket segede ini...” katanya. “Tapi kalo ditutupin selendang gitu? Ato cardigan?”
“Acaranya di mana sih?” tanyaku.
“Kempinski Ballroom... Grand Indonesia itu loh,” jawab Vany, kembali memutar badan menghadap lemari.
Aku memperhatikan adikku dari belakang. Aku bisa melihat bongkahan pantatnya dari balik daster ini... Benar-benar seksi adik cewekku ini. Tapi semenjak tadi sore saat ia menjemputku di airport, aku seperti melihat sesuatu yang berbeda darinya. Apa ya?
“Ah! Ini aja deh!” Vany berbalik dan menunjukkan cocktail dress berwarna biru langit dengan motif batik berwarna sama di bagian kanan bawah. Vany mendekatkan dress itu ke badannya. Cocok sekali.
“Hmm... Ini bagus!” ujarku jujur. Vany nyengir senang, menggantung dress itu pada pintu lemari pakaiannya dengan riang.
“Kakak besok dance sama aku ya...” pintanya. Aku tertawa.
“Hahaha... Vaann... Kamu tuh udah minta 15 ribu kali, kali...” kataku melebih-lebihkan. Vany memang sudah sangat sering memintaku untuk berdance dengannya saat prom night. Vany tertawa.
“Iiihhh.. Mendramatisir!” ujarnya. Ia berjalan mendekatiku, mengalungkan tangannya di sekeliling leherku, mengecup bibirku.
“Aku sayang Kakak...” katanya lembut.
“I love you too, Van...” jawabku. Aku memandangi matanya yang sipit. Rupanya Vany menangkap sesuatu dari mataku.
“Kak... Ada apa?” tanyanya. Aku tersenyum.
“Kamuu... Agak lain. Jujur,” jawabku. Senyuman Vany semakin lebar.
“Ih, Kakak... Masa dari tadi belom nyadar juga,” katanya nakal. Aku semakin heran.
“Hmm? Nyadar apa?”
Vany menatapku, menggelengkan kepala pura-pura kesal. Perlahan, Vany melepas tali pundaknya lingerienya, dan membiarkan lingerie itu jatuh perlahan ke lantai, menampakkan tubuhnya yang sudah matang sekarang; dadanya yang bulat penuh dengan puting yang coklat muda sempurna... Dan... Perutnya...?
“Aku hamil, Kak... 2 bulan...” katanya. Muka Vany merona merah. Tangannya mengelus perutnya yang baru sedikit membuncit. “Baru tau 3 hari yang lalu, koq...”
“... Van... Kamu... Hamil lagi?” tanyaku terbata, terkejut. Rasa senang merayapi tubuhku. Tapi tak ada rasa takut kali ini. Vany mengangguk, nyengir lebar.
“Semoga yang ini cowok ya...” bisiknya, duduk di atas pangkuanku, mencium bibir kakaknya. Kupeluk erat adikku yang seksi ini, kuremas pantatnya. Pikiran dan perasaanku bercampur aduk; senang, kaget... Semuanya. Astagah... Padahal 2 bulan lalu kami hanya ML satu kali.
“Van...”
“Hmm...?”
“I... I love you, Vany...” aku terbata. Vany tersenyum manis, memelukku erat.
“I’m forever yours, Kak...”
Perlahan, kubuka kancing piyama pinknya. Satu-dua-tiga-empat-lima... Yak terbuka semua. Kubuka piyamanya, perlahan, hati-hati sekali, jangan sampai ia terbangun... Vany tidak memakai BH... Astagah aku tak pernah bosan akan dada adikku; luar biasa besar (ukurannya 34F sekarang... Bahkan bertambah besar 1 cup lagi dalam 3 bulan ini), mulus, bulat penuh, montok—entah kenapa tidak ada tanda-tanda menurun sedikit pun, dan sekarang tentu saja penuh susu yang nikmat. Putingnya yang coklat tua sempurna sekali. Baru tadi pagi kusedot susu banyak-banyak dari dalamnya sebelum berangkat kuliah.
Aku menegakkan diriku, memandangi tubuh mungil Vany; sempurna sekali. Perutnya yang bulat dan sangat buncit mulus sekali tanpa bekas stretch-mark sedikit pun. Vany jelas bertambah gemuk sejak hamil, tapi entah kenapa justru aura kecantikan dan keseksian adik kecilku ini semakin bertambah kuat.
Dengan lembut, kuremas dada Vany. Enak sekali, lembut dan penuh di tanganku. Vany menggeliat, tapi masih terlelap. Telunjukku memainkan kedua putingnya. Kurasakan putingnya mengeras, menegang; Vany memang sangat mudah terangsang sejak hamil.
Kudekatkan kepalaku, dan mulai menjilat, menyedot putingnya dengan lembut, sambil terus meremas dadanya, semakin kuat. Susu yang nikmat segera menyembur keluar. Kumainkan puting kirinya yang sangat sensitif dengan lidahku, kujilat, kusedot susunya.
“Mmmh...” Vany mendesah perlahan dalam tidurnya.
Kusedot semakin kuat putingnya. Semakin banyak air susu keluar. Tanganku membelai perut buncitnya. Penisku sudah tegang sekali, sakit rasanya tertahan celana dalam dan celana jeansku.
“Ngg... Mmhh...” desahan Vany semakin terdengar jelas.
Kembali kuremas-remas dada adikku, kali ini dengan nafsu walau tetap lembut. Vany menggeliat lebih kuat. Tanganku merogoh ke dalam celananya, mengusap lembut vagina adikku... Agak basah.
“Mmhh... Nghh... Kaak?” kata Vany setengah mengantuk.
“Bangun Van...” kataku sambil nyengir. “Udah jam empat.”
“Mmmm? Iyaa...” Vany menunduk, melihat apa yang kulakukan untuk membangunkannya. “Iiii... Kakaaak... Uda dibilang banguninnya jangan nakal aaa... Ini malah nakal banget!” ujar Vany setengah kesal. Tapi bibirnya membentuk senyum manis.
“Hehehe abis kamu seksi banget sih... Tidur aja seksi...” belaku. Vany tertawa renyah.
“Aa... Kakak...”
Kuremas-remas dadanya dengan lebih kuat. Air susunya menyemprot, mengalir keluar. Perlahan, kukecup dada adikku, bergerak turun ke perut hamilnya. Kecupanku lembut di atas perutnya yang mulus. Vany tersenyum.
“Kakak suka banget sama perutku...” bisiknya. Aku mengangguk setuju.
Kubuka celana panjang piyamanya, celana dalam hijau muda berenda Vany sudah agak basah. Tersenyum, kubuka juga celana dalam adikku perlahan-lahan. Vaginanya yang tembem dihiasi bulu yang sangat tipis, membuatnya bertambah seksi. Vany telah membuka kemeja piyamanya, sehingga adikku telah telanjang bulat sekarang, terlentang di atas ranjang.
“Ayo tanggung jawab...” katanya. Aku terbahak.
“Ih nafsu banget deh...”
“Iiii kakak itu yang nafsu aku bangun-bangun langsung di ML-in!” ujarnya tak mau kalah.
Tertawa, aku merunduk, menciumi dan menjilati vagina adikku. Vany menggeliat, mengejang. Kujulurkan lidahku, menjilati bagian dalam vaginanya.
“MMhh... Aahh... Kaakk...” desahnya.
Kusedot klitoris Vany yang menonjol. Kedua tangan Vany mencengkeram seprei. Jelas nikmat sekali. Aroma segar vaginanya yang basah memenuhi inderaku.
“Aahhh.... Kaakk.... Mmmhh.... Nhh...”
Aku bergerak naik, kuciumi perut buncitnya sambil kubelai lembut. Bibirku naik menyedot putingnya, meminum susu yang nikmat. Tangan kananku merogoh ke bawah, kumasukkan tiga jemariku ke dalam vagina Vany, yang langsung mengejang.
“Nggghh!! Kaakk.. Aaa... Kaakhh... Aaahh... Aahh...” desahnya seru.
Kecupanku naik ke lehernya yang kurus, Vany memejamkan mata, menggigit bibirnya menahan nikmat. Semakin naik, kulumat bibir mungil adikku. Vany segera membelitkan lidahnya dengan lidahku. Jemariku bergerak semakin cepat, menusuk-nusuk vaginanya. Cairan vaginanya bermuncratan keluar. Muka Vany memerah.
“Aaahhh!! Aahh.. Kakkk.. Kaaakkkk!!” desahnya. Aku tahu tak lama lagi Vany akan keluar.
“Ayo, Van... Keluarin...”
“NNggghhh... Kaaakk....” Vany mencengkeram lenganku. Suara ‘crek crek crek crek’ jemariku yang menghujam vaginanya semakin terdengar, semakin basah.
“Aaahhh... KKAAAKK!! MMMMMMNnnnhhhh!!!”
Kucabut tanganku dari vaginanya. Vany squirting; satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh... Semburan demi semburan cairan keluar dari dalam vaginanya. Vany terkulai lemas di ranjang. Matanya terpejam, nafasnya terengah, tubuhnya gemetar dampak orgasmenya yang hebat.
“Nnnnhh... Kaa..kk.... Ngac...oo...” bisiknya, gemetar. Kukecup bibir adikku lembut, menenangkannya.
“Kakakku ini super nakal...” katanya lemah. Aku nyengir. “Harus dihukum...”
“Heh? Dihukum gimana?” tanyaku, tersenyum lebar. Vany nyengir.
“Ayo buka celananya!” perintahnya. Aku tertawa, menurut. Kubuka celana jeansku. Penisku yang sudah sangat tegang langsung menyembul keluar. Ujungnya telah basah.
“Sini...” kata Vany, perlahan menegakkan diri hingga terduduk, menepuk perlahan perutnya yang mulus dan sangat besar. Aku berlutut di depan adikku, Vany menggenggam penisku, dan segera mengulumnya dengan nikmat. Sensasi lembut bibir Vany yang mungil membungkus penisku, enak sekali.
Kepala Vany bergerak maju-mundur menyedot penis kakaknya. Aku memejamkan mata, benar-benar enak sekali. Lidahnya bergerak nakal di bagian bawah penisku.
“Mmhh.. Vann... Enak... Bangett...” ujarku menikmati. Vany menyedot dengan sangat-sangat lembut, semakin lama semakin kencang dan kuat.
Vany mengulum penisku hingga ke pangkalnya, kemudian dengan amat sangat perlahan menarik mulutnya hingga ke kepala penisku yang berdenyut-denyut rasanya. Dibiarkannya penisku keluar perlahan-lahan dari celah mungil bibirnya yang lembut, kemudian Vany menjilati penisku dari kepala hingga pangkalnya. Aku benar-benar tidak tahan.
“Vaann... Maauu kk.... keluarr...” kataku terbata.
Tapi saat sedikit cairan kental keluar dari kepala penisku, Vany mengangkat kedua dadanya yang super besar dan montok itu, diselipkannya penisku diantara belahannya. Kelembutan dan kekenyalan dada adikku membungkus penisku, yang entah kenapa menahan semburan spermanya.
Vany menekan, memijat penisku dengan dadanya. Susunya mengalir perlahan setiap kali Vany menekan dadanya yang besar lebih kencang lagi membungkus penis kakaknya. Tanpa sadar pinggulku bergerak maju-mundur. Jika ada satu hal yang dapat membuatku kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kenikmatannya, itu adalah titf*ck dari adikku Vany.
Gerakan pinggulku semakin kencang. Bagian bawah penisku tertekan perut buncitnya yang keras. Kulihat kepala penisku hilang-timbul dari belahan dada Vany. Aku sungguh-sungguh tak tahan.
“Nnggghhh... Mmhh... Vaann.... VVVAANN....NNYY!!” seruku.
Spermaku meledak bertubi-tubi melumuri wajah imut adikku. Vany telah mengangakan mulutnya lebar-lebar, sehingga bulir demi bulir cairan kentalku menyemprot ke dalam mulutnya. Rasanya lama sekali baru penisku berhenti menyemprotkan sperma, dan saat berhenti, kulihat wajah, poni, leher, dan dada Vany telah berlumuran sperma kakaknya.
Aku terduduk, kujatuhkan tubuhku ke belakang hingga terlentang. Penisku rasanya ngilu sekali. Ini ejakulasi kelima hari ini; sekali tadi pagi dengan Vany, tiga kali dengan Cherry tadi siang, dan yang barusan ini. Tiba-tiba aku merasa ngantuk sekali.
“Ah Kakak kebanyakan sih ama Cherry tadii...” ujar Vany manja, menelungkup di atasku; perutnya yang buncit menekan penisku. “Jadi udah lemes deh sama aku... Harusnya disimpen aja.”
Aku tertawa. “Hahaha ntar sore juga udah kuat lagi... Kakak boleh tidur dulu ga?”
Vany nyengir dan mengangguk. “Aku mandi trus siapin buat masak dulu deh... Kakak ntar bantuin kan?”
“Yup. Cherry juga koq,” kataku. “Kakak tidur sejam deh...”
Vany mengecup bibirku dengan lembut.
“Sleep tight, Sayang...” bisiknya. Aku tersenyum, memejamkan mata.
***
Aku terbangun karena aroma masakan Vany. Kulirik jam di dinding... Setengah 6 lebih sepuluh menit. Cherry akan datang pukul 6 sepertinya. Aku beranjak dari ranjang, masih dengan sedikit lemas aku berjalan keluar kamar, mencari adikku.
Aku berjalan ke arah dapur, tapi aku tidak menemukan adikku. Panci-panci sudah dimatikan apinya, hanya uap yang masih menguar dari balik penutup panci, menyebarkan aroma khas sup kacang merah buatan adikku. Aku tersenyum, bahkan wangi sup-nya pun sudah sama dengan wangi sup buatan ibuku. Kulirik tudung saji di atas meja, menyembunyikan beberapa piring hidangan nikmat olahan Vany. Hatiku tergoda untuk menyicipi salah satunya, tapi menahan diri karena tak ingin merusak kesenangan menyantap bersama makan malam dengan Vany dan Cherry.
Aku menguap, masih mengantuk... Kubuka lemari es untuk mengambil sebotol minuman isotonik. Masih mengantuk, aku berjalan kembali ke kamar sambil meminumnya. Di mana Vany?
Terduduk di ranjang, kembali meneguk minumanku, aku menoleh dan melihat sehelai t-shirt warna hijau tergeletak di sisi ranjangku. Astagah... Tentu saja Vany mandi. Rupanya tadi aku terbangun belum sadar betul sehingga tak menyadarinya. Sekarang aku bisa mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Aku segera berdiri, melepas pakaianku dan berjalan masuk ke kamar mandi, berniat mandi bersama adikku. Namun aku tertegun saat masuk.
Kutemukan bukan hanya Vany di dalam ruangan shower, tapi juga Cherry sahabatku. Dua cewek super seksi ini sedang mandi bersama, saling mengusap tubuh satu sama lain, meremas dada, pantat, dan saling mengecup leher dan bibir satu sama lain dengan perlahan... Dan tentu saja saling mengusap perut buncit mereka satu sama lain. Penisku langsung tegak berdiri menatap pemandangan seperti itu.
“Wow...” kataku.
Sahabatku dan adikku menoleh, dan ketika melihatku langsung nyengir senang sekali. Wajah imut Vany merona sedikit.
“Akhirnya lu bangun juga!” ujar Cherry.
“Wa... Koq.. Koq bisa...” kataku terbata. Cherry terbahak. Vany semakin merona.
“Mmm... Tadi aku lagi masak... Cherry dateng, terus bantuin... Terus abis masak keringetan... Terus mandi deh,” jelasnya polos.
Aku nyengir. Adikku ini lucu sekali. Ngomong sangat polos padahal satu tangannya masih terletak di dada Cherry, yang lain di atas perut buncitnya.
“Boleh gabung?” tanyaku.
Cherry tak menjawab, hanya berjalan keluar dan menarikku masuk ke dalam ruangan shower. Agak sempit rasanya sekarang... Dipenuhi 3 orang. Tapi aku tak peduli. Saat pancuran air hangat menyentuh tubuh kami, aku teringat saat pertama kali Vany melepas keperawanannya... Sore hari di bulan Juli yang lalu, mirip seperti sekarang. Bedanya hanya sekarang ada satu cewek lagi, membelai punggungku perlahan, perutnya mengusap punggungku perlahan. Enak sekali.
“Gue mandiin ya, Dit...” bisik Cherry. Tangannya mulai mengusap dada dan perutku dari belakang. Aku memejamkan mata, menikmati. Rupanya Vany tak mau kalah.
“Kak... Mandiin aku donk...” pinta Vany manja. Aku terbahak.
“Nakal kamu...” bisikku. Vany menjulurkan lidah, menyerahkan botol sabun cair kepadaku. Tersenyum, aku mulai menggosokkan sabun ke badan adikku dengan lembut, mulai dari lehernya yang agak gemuk sekarang, pundak, dan punggung...
Perlahan tanganku meraba dadanya yang super besar dan kencang, kuremas dadanya dengan lembut. Jemariku memainkan dan memelintir puting Vany yang keras... Menyemprotkan susu ke arah kaca yang membatasi ruang shower. Vany memejamkan mata, menikmati sentuhan kakaknya. Tangan Vany bertumpu pada kaca pembatas.
“Mmhh.. Kaak...” desahnya pelan. Uap mengembun di kaca, keluar dari mulut adikku. Kucium leher dan pundaknya perlahan. Tanganku bergerak turun, melumuri perut adikku yang buncit dengan sabun. Aku suka sekali dengan perut ini... Aku tak menolak perut adikku yang rata dulu sebelum dia hamil, tapi entah kenapa semakin besar perutnya, semakin seksi menurutku. Sesekali aku menoleh ke belakang untuk melumat bibir Cherry.
Cherry terus membelai tubuhku, menciumi pundak dan punggungku. Ini enak sekali. Tangannya yang lembut mulai memegang penisku... dan mengarahkannya ke pantat Vany. Aku nyengir, menoleh. Cherry mengedip padaku. Cherry menyelipkan penisku yang sangat tegang di belahan pantat Vany yang sangat montok. Tanganku bergeser ke pinggulnya yang melebar, sudah siap melahirkan. Aku mulai bergerak maju-mundur, menggesekkan penisku di antara kedua bongkahan pantatnya yang empuk.
“Kaakk... Ga mau disimpen buat ntar malem aja?” ujar Vany lemah.
“Hmm... Masih kuat koq...” kataku. Vany hanya tersenyum manis, memejamkan mata. Perlahan, kumasukkan penisku ke dalam anusnya, dan mulai menggenjotnya dengan nafsu. Sempit, hangat sekali.
“Mmh... Mnghh.. Ngh... Hh.. Kaakk... Kakk...” desah Vany tiap kali penisku menghujam tubuhnya. Pantatnya yang tebal dan besar menepuk-nepuk pingganggku. Kuremas dada Vany kuat-kuat, memeras susunya semakin banyak keluar. Hujamanku semakin kencang. Cherry mencium dan menijlati leherku dari belakang, jemarinya memainkan putingku. Aku tak tahan, aku siap keluar.
“Vann.... V... Vannny... Nggghhh!!!”
Kuledakkan spermaku berkali-kali dalam anus Vany. Gemetar, Vany berbalik, mencium bibirku dengan nikmat. Tangannya membelai penisku yang masih tegang, masih meminta lagi. Kupegang perutnya yang mulus dan besar, enak sekali.
“Eeh... Giliranku sekarang...” kata Cherry tak mau kalah. Vany mengerucutkan bibir, pura-pura merajuk, tapi ia membalikkan badanku menghadapi sahabatku yang super cantik, yang sudah berlutut di lantai ruang shower menghadapi penisku, dan seketika itu juga memasukkannya ke dalam mulutnya. Aku memejamkan mata. Sekarang giliran Vany yang menggosokku dengan perut buncitnya yang super mulus. Cherry bergerak maju-mundur mengulum penisku. Lidahnya berulah di bawah batang penisku. Enak sekali. Vany menjilati leherku. Gila... Threesome seperti ini benar-benar luar biasa.
“Mmmm... Sllrppp... Sllrppp....” Cherry berisik menyedot penisku. Bibirnya yang cukup tebal membungkus penisku dengan sempurna. Benar-benar enak.
“MMhhh.... Cherr... Ngh...” desahku... Aku tahu aku tak dapat bertahan lama dibeginikan terus... Tapi Cherry tiba-tiba melepaskan sedotannya, berdiri perlahan, membalikkan badannya ke arah tembok. Tangan kirinya masih memegang penisku, membimbingnya ke arah vaginanya.
Tak menunggu disuruh dua kali, segera kuhujamkan penisku ke dalam vagina sahabatku. Kedua tanganku meremas erat-erat pantat yang sampai hari ini menurutku masih pantat termontok dan terindah di muka bumi (well... Di samping pantat Kim Kardashian atau selebritis mancanegara lainnya), yang semakin bertambah besar karena kehamilannya. Pinggulku bergerak maju-mundur, menghujamkan penisku kuat-kuat ke dalam rahim Cherry yang sedang mengandung anak kembarku.
“Oohh.. Oohh... Aangghh... Nhh... NNnnhh...” desahnya tak karuan tiap kali penisku menghujam ke dalam tubuhnya.
Vany berjalan perlahan ke depan Cherry, memegang kedua lengannya yang bertumpu ke dinding, mengalihkannya ke atas perut Vany. Cherry menegakkan diri, melumat bibir adikku dengan nafsu. Tangannya meremas dada Vany kuat-kuat, menyemprotkan susu dari dalamnya. Vany dan Cherry berciuman dengan sangat hot, saling membelitkan lidah.
Genjotanku semakin kuat. Aku semakin terangsang melihat adik dan sahabatku saling berciuman. Vagina Cherry seolah semakin lama semakin menyempit. Setiap kali Vany mencubit putingnya, vagina Cherry menjadi lebih sempit lagi. Ini enak sekali.
“Mmhh... Vann... Cherr.... Nngghh...”
“Ngh... Ngh... Ngh... Hh... Ngghh... Dit... Dit..” Cherry mendesah bertubi-tubi.
“Oohh... Ch... Cherryy....” desah Vany saat Cherry menghisap susu dari putingnya. Aku tak tahan.
“Nnnnnnngghhhh!!!”
Kuledakkan spermaku ke dalam rahim Cherry berkali-kali. Sekujur tubuhku seperti tersengat listrik rasanya. Penisku seperti tak mau berhenti mengeluarkan cairan. Kutarik lepas penisku dari vagina sahabatku saat masih mengeluarkan sperma. Beberapa muncrat menyemprot punggung Cherry, bahkan wajah Vany. Cherry merosot ke lantai. Rupanya Vany juga berhasil dibuat orgasme oleh Cherry yang terus memainkan dadanya. Adikku bersandar ke dinding, memejamkan mata, terengah-engah.
Sempoyongan, aku bersandar ke dinding. Cairan putih masih mengalir dari dalam vagina Cherry, meleleh keluar melumuri pahanya yang montok. Aku terengah-engah... Tapi penisku masih meminta lagi.
“Hh... Di... Di kamar aja, yuk?” kataku, tersengal.
“Kakak masih kuat??” tanya Vany, sedikit terkejut. Aku pun heran. Cherry menggeleng lemas, nyengir lebar.
Kami berjalan keluar dari kamar mandi, mengeringkan tubuh kami masing-masing dengan handuk, dan berjalan ke kamar. Vany dan Cherry merebahkanku terlentang di tengah-tengah ranjang, mereka berdua berlutut di sebelahku, Vany di kanan dan Cherry di kiriku, siap melanjutkan. Penisku sudah tegang sekali.
“Sekarang Kakak nurut aja yaa...” bisik Vany menggoda di telingaku.
“Kita yang bakal kerja keras...” kata Cherry.
Perlahan, dengan sangat sexy, mereka berdua membuka handuk yang membungkus tubuh hamil mereka, kemudian melemparkannya ke lantai. Entah apa, tapi tubuh (dan terutama perut) mereka terlihat mengkilat sore itu. Sangat mulus. Tak tahan, tangan kiriku meremas bongkahan pantat Cherry yang montok sekali, dan membelai perut Vany yang super besar dan mulus.
Kedua cewek ini mendekatkan wajah mereka ke penisku yang sudah tak sabar. Hatiku berdebar-debar, entah kenapa. Cherry mulai dengan mengulum kepala penisku. Vany menjilati batangnya perlahan. Sensasi diblow-job oleh 2 cewek tak pernah dapat kulukiskan.
“Mnhhh.. Vann... Cherrr.... Mngghh...”
“Slrrppp... sllrp.. Enak Kak?” tanya Vany. Aku hanya dapat mengangguk buru-buru.
“Mmmmm... Slrpp... Mm... Mah... Apa gue manggil lu ‘Kak’ juga aja ya, Dit?” kata Cherry sambil melepas kulumannya.
“Heh jangan aneh-aneh! Udah lanjutin!” ujarku sambil tertawa. Vany terbahak.
“Cherry... Gantian doonk...” pinta Vany. Cherry mengangguk, berpindah menjilati batangku, membiarkan Vany menyedot kepala penisku. Sedotan Vany selalu kuat.
Cherry mulai menciumi pinggangku, menyerahkan penisku sepenuhnya pada Vany yang telah memasukkan seluruh batang penis kakaknya ke dalam mulutnya. Lidahnya yang mungil bermain di bawah batang penisku, menyedotnya cepat. Kepalanya bergerak naik-turun-naik turun. Aku tak tahan.
“Vann... Kakak... mmmnnhh.... Kkhh...” kata-kataku tercekat.
“Eits... Jangan keluar dulu,” kata Vany, tiba-tiba melepas sedotannya. Benang ludah tipis menjuntai antara bibirnya dengan kepala penisku.
“Kita ada surprise buat lu...” kata Cherry.
“Astagah surprise apa lagi...” kataku, senang.
Cherry dan Vany menegakkan diri, berlutut berhadap-hadapan di kanan-kiri penisku. Perut mereka yang buncit menghadapi penisku, dan perlahan, Vany dan Cherry mendekatkan perut mereka, menjepit penisku dengan perut hamil mereka yang mulus dan kencang.
“Uwahh.. Vann... Cheerrr... Aahh... Ahh...” desahku tak karuan. Nikmat sekali.
Vany dan Cherry nyengir, mulai bergerak naik-turun menggosok penisku dengan perut mereka. Aku mendudukkan diri, kubelai perut keduanya; perut Vany yang sudah 8 bulan hamil lebih besar sedikit dari perut Cherry yang 5 bulan hamil anak kembar, tapi keduanya benar-benar mulus dan menggiurkan.
“I love you, Kak...” bisik Vany, memegang perutnya dengan kedua tangannya dan menggerakkannya lebih cepat menggosok penisku. Aku memejamkan mata, ini enak sekali.
“MMhh... Sini kamu, Vany...” ujar Cherry tiba-tiba, meremas dada adikku dan mengecup bibirnya. Vany terbelalak, tapi sesaat kemudian sudah menikmati ciuman Cherry, membelit lidahnya. Aku tak pernah tahan melihat pemandangan ini.
“MMMMMNNGGHHH.. nGGGHH... Gue... Kellluarr.... Nnhgggghh...”
Kuledakkan spermaku berkali-kali di antara perut buncit kedua cewek ini, menyemprot wajah, dada, dan tentunya perut keduanya. Aku tergeletak, terengah. Tubuh kami bertiga sudah berkeringat.
“... Gila itu... itu... tadi... Enak banget...” kataku. Kedua cewek itu tertawa. Mereka merebahkan diri di kanan-kiriku.
“Ayo, Sayang...” pinta Cherry sambil membelai penisku. Aku mengangguk, berlutut, berbalik menghadapi mereka berdua.
Aku memandangi kedua cewek cantik yang sedang bugil di atas ranjangku ini. Benar-benar luar biasa. Dua kecantikan yang berbeda, kulit dan wajah Vany yang sangat oriental, bersebelahan dengan Cherry yang tanned cenderung sawo matang dengan wajah bule-nya, keduanya sedang mengandung anak-anakku. Benar-benar luar biasa.
Kuarahkan penisku pertama-tama pada vagina Vany. Tembem dan hangat sekali sekarang. Vany memejamkan mata saat perlahan-lahan penisku menembus liang vaginanya. Cherry memain-mainkan dada Vany dengan satu tangan, sambil menjilati lehernya.
“Mmnhh... Ngghh... Nhhh...” desah Cherry. Aku mulai mempercepat tusukanku. Badan Vany yang terlentang bergerak seirama hujamanku. Semakin lama semakin kencang, semakin kuat.
“Oohh... Kakkk... Kakkkk... Nghh...” desahnya makin kuat.
Aku menggenjot adikku semakin kuat. Vany memejamkan mata, mulutnya menganga. Tangannya mencengkeram seprei kuat-kuat.
“Kakk.. Kaaaakkk.... Nnggghh!!!!!”
Vany squirting kuat-kuat, membasahi penis dan perutku. Aku mendudukkan diriku di sisinya. Mengerti, Vany naik ke atasku, membelakangiku, dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Vany menggelinjang, tangannya menopang perutnya yang buncit. Tanganku merogoh ke depan, meremas dada montok Vany yang berguncang-guncang menggiurkan, kumainkan putingnya.
Cherry beranjak turun dari ranjang, mencari sesuatu dari tasnya yang terletak di sebelah ranjangku, dan mengeluarkan sebuah dildo besar berwarna merah; bukan dildo biasa, tapi double-dildo (kedua ujungnya berbentuk kepala penis) dengan strap-on, sehingga bisa dipakai oleh cewek. Vany terbelalak menatap dildo besar itu.
“Gila.... Gede... Banget, Cher?” katanya sedikit tersengal karena penisku masih menghujam vaginanya.
“Hmmm... Kalo pas Kakakmu ga ada aku pake ini...” jawab Cherry cuek. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Sahabatku ini cukup maniak rupanya.
Perlahan, Cherry menusukkan salah satu ujung dildo itu ke dalam vaginanya hingga masuk setengah, kemudian memakai strap-on nya. Muka Cherry merona merah. Sekarang sahabatku ini terlihat seperti memiliki penis besar berwarna merah, lebih besar dari penisku. Cherry naik ke ranjang, membelai perut Vany dan melumat bibirnya. Vany mulai was-was.
“Ch.. Cherr? Mau ngapain.... Nnnhh... nh...” tanyanya.
“Tenang aja...” bisik Cherry, menjilat tangannya dan membasahi kepala ‘penis’ merahnya. Aku mengerti apa yang ingin dilakukan Cherry, sehingga aku melepas penisku dari dalam vagina Vany dan menusukkannya ke dalam anus Vany. Vany menggelinjang, terbelalak.
“Aaah... Kakk... Ch... Aaah? Ch... OOOHHH! Cherrryy!!”
Cherry telah menusukkan dildo merah besar itu ke dalam vagina adikku dan mulai menghujam-hujamkannya. Perut buncit mereka saling bergesek. Muka Vany merah padam. Ia memejamkan mata, menikmati double penetration pertamanya.
“Aaaannghh.. Annnhhh.. Aaannhhh...” desah Vany kuat-kuat. Anusnya menyempit tiap kali Cherry menusukkan dildonya ke dalam vagina Vany.
“Nhhh.. Oohh.. V... Vann.. Ini enakk...” desah Cherry. Ia melumat bibir adikku, sementara aku menciumi leher serta terus meremas dadanya. Kedua lubangnya penuh, terus-menerus bergantian ditusuk oleh penisku di anusnya dan dildo Cherry di vaginanya.
“NNGHHH.. Nggghhhh.. NNggghhhhhh... Nggghhhh...” lenguh Vany tak karuan. Badannya bergetar. Tiba-tiba Cherry menjerit. Aku tahu Vany baru saja mengeluarkan jurus spesialnya, membuat dildo merah itu bergetar kuat sekali, sehingga dildo yang masuk ke dalam vagina Cherry pun bergetar.
“Ngghhhhhh!!!!! NNGHHH!!! OOOHH!!”
Vany menjerit dan squirting kuat sekali hingga dildonya terlepas. Sesaat kemudian ia kembali squirting kencang-kencang. Tubuhnya terkulai bersandar padaku, masih gemetar hebat sekali. Kubelai perutnya dan kukecup kepalanya untuk menenangkannya.
“La... gi...” desah Vany, meminta lagi.
“Heh... Kamu udah lemes gitu...” kata Cherry.
“Lagii... Sekali... Lagi....” desaknya. Rupanya ia ketagihan.
“Terakhir ya...” bisikku.
Tak menunggu lama, kutegakkan tubuh adikku, kumasukkan penisku ke dalam vaginanya dari belakang. Vany menggelinjang. Setelah penisku mantap berada di dalam vaginanya, Cherry perlahan menusukkan dildonya kedalam vaginanya juga dari depan. Vany terbelalak, mulutnya menganga.
“Aaaaa... Aaahhhhh... Annnhhh..... Aannnhh!!!” desahnya saat dua batang besar memenuhi vaginanya yang sempit.
Perlahan-lahan, bergantian, aku dan Cherry mulai menusukkan senjata kami ke dalam vagina Vany. Vany menggeletar. Aku pun memejamkan mata, ini enak dan sempit sekali.
Hujaman kami semakin cepat. Aku tahu Cherry juga mempercepat tusukannya. Muka Vany kembali merah padam. Desahannya semakin kuat.
“Ngghh! Aannghh... Arghhh... Annhh!! Mmhhh!! Mngghh!!!!” desahnya tak karuan.
“Diit... Dit.. Gue mau.. Ngghh.. Kuarrr...” ujar Cherry, memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya.
“Gue juga... Nnnhh.... V... Vannn?” kataku. Vany mengangguk liar.
“Hnnnghhh... Nhhgg!!” lenguh Vany tak karuan.
Hujamanku semakin kuat ke dalam vagina Vany. Tiba-tiba Vany mengeluarkan jurus spesialnya. Gelombang demi gelombang serangan memijat penisku dari dalam vaginanya. Aku tak tahan. Aku tahu Cherry juga sudah mencapai orgasmenya.
“Oooohh... Vvvvv... Vaaaaannn!!!”
Bertubi-tubi aku mengeluarkan spermaku ke dalam rahim Vany. Cherry dan Vany juga squirting bersamaan. Cherry merebahkan diri ke ranjang, terengah-engah. Aku masih meledakkan spermaku ke dalam Vany. Linu sekali rasanya sekarang penisku, sejak tadi dipaksa terus menerus mengeluarkan sperma.
Kucabut penisku dari tubuh adikku. Vany terengah-engah, matanya menatap kosong langit-langit ruangan, sepertinya sudah hilang kesadaran. Penisku masih tegak berdiri, masih meminta lagi.
Aku berbaring miring di belakang tubuh sahabatku. Kubuka strap-on nya, tapi kubiarkan dildo merah itu menancap di vaginanya. Kutampar pantat Cherry , kemudian kutusukkan penisku ke dalam anus Cherry. Bongkahan pantatnya yang montok membungkus, menjepit penisku erat-erat.
“Lu... Gi... la.... Aaahhh.. Annhh...” desahnya. Aku tersenyum.
“Habis ini gue pingsan kali,” kataku. Kupercepat hujamanku ke dalam anusnya. Cherry mendesah, menggelinjang, tangannya mengelus-elus perutnya yang buncit. Tangan kiriku merogoh dari bawah tubuhnya, ikut membelai perutnya. Tangan kananku memainkan dildo merah itu, menusuk-nusukkannya ke dalam vaginanya.
“Nnnnggghhh... Hunn... nny... Nngghhhh!” katanya.
“Ch... Cherrr... Cherrr gue mau keluarr.... Cherrr...” kataku semakin cepat, hujamanku semakin kencang. Kepalaku berdenyut-denyut rasanya. Cherry mengangguk, mengetatkan jepitan anusnya. Tanganku menhujam-hujamkan dildo semakin cepat ke dalam vaginanya.
“Aaaa..... AAAHH... AANNHH!!” jerit Cherry.
“Chhhh... Cherrryyyy!!!!”
Aku tak tahu berapa kali aku menyemprotkan spermaku ke dalam anus Cherry, yang pasti saat kucabut penisku, cairan putih meleleh keluar dari antara pantatnya yang super montok.
Kami bertiga berbaring telentang di ranjang, menatap langit-langit. Aku memejamkan mata. Gila... Hari ini sepertinya penisku bekerja lebih keras dari yang sudah-sudah. Sudah lemas sekarang, sudah puas.
Aku menoleh ke kiri, menatap Vany, adik cewekku yang seksi, yang sedang menatap kakaknya. Senyum lemah mengembang di wajahnya yang imut.
“.... Love you...” bisiknya, nyaris tak terdengar.
“Love you too, Van...”
Aku menoleh ke kanan, menatap sahabatku Cherry, yang masih memejamkan mata rapat-rapat, menikmati sisa-sisa sensasinya. Kulitnya yang sawo matang tertimpa cahaya oranye matahari senja itu, terlihat mengkilat mirip emas.
“I love you, Dit...” ujarnya. Aku terbahak.
“I love the both of you...” kataku. Kupeluk keduanya. Kami terdiam, memejamkan mata, masih terengah.
Tiba-tiba kami mendengar bunyi seperti genderang perang yang ditabuh kencang sekali.
“Suara apaan, tuh?” tanya Vany, terbelalak. Cherry menggeleng.
Tiba-tiba terdengar lagi. Kali ini aku tertawa kencang-kencang.
“Itu suara perut kita! Laper!!” ujarku.
“Oooohhhh!! Yaelaaahh!!” ujar Vany. Cherry tertawa.
“Bener juga ya! Makanannya jangan-jangan udah dingin lagi kita tinggal ML gini!” ujar Cherry. Vany segera terduduk mendengar masakannya terancam bahaya.
“Oiya! Ayo cepet! Bangun!! Makan!!” tukasnya, segera berdiri dan memakai pakaian, meninggalkan ruangan. Aku terbahak-bahak melihat tingkah adikku.
“Yuk!” ajakku pada Cherry. Cherry mengangguk, nyengir lebar.
Malam itu dinner kami berjalan dengan luar biasa. Rasanya aku belum pernah makan malam sebahagia itu. Masakan Vany benar-benar sedap, dan kami bertiga makan dengan seru, ditingkahi canda satu sama lain. Seusai makan, kami pergi menonton bioskop bersama. Aku sadar beberapa orang menoleh dan menatap kami dengan tatapan heran karena selama berjalan aku menggandeng atau merangkul kedua gadis cantik yang sedang hamil ini di kanan dan kiriku, tapi aku benar-benar tak peduli; aku berjalan dengan adikku yang sexy dan sahabatku yang luar biasa cantik, dan keduanya mengandung anak-anakku. Hidup tak akan pernah sesempurna ini. Tentu saja kami mengakhiri malam itu dengan sekali lagi Threesome sepulang nonton, dan sepertinya jika seperti ini terus... Bisa-bisa kandungan Vany dan Cherry bisa bertambah satu janin lagi.... Oke itu tidak mungkin.
* * *
Semuanya berjalan lancar setelah itu. Ella lahir sebulan kemudian dengan sehat dan normal, tanpa cacat sedikit pun. Yang unik hanyalah kedua iris matanya yang terkena heterochromia iridium, sehingga membuat iris mata Ella berlainan warna; yang kanan berwarna biru, yang kiri berwarna hijau. Tapi selain itu tidak ada cacat sedikit pun. Vany pun sehat, dan setelah selesai semua perawatan, ia pun dapat kembali melanjutkan sekolahnya. Ella diurus oleh ibu dan ayahku.
Tiga bulan kemudian Cherry melahirkan sepasang anak kembar, 2-2nya perempuan. Aku memberi mereka nama Yuri dan Yuna. Cantik-cantik, mirip bule seperti ibunya. Keduanya diadopsi oleh sepupu Cherry. Aku dan Cherry resmi berpacaran setelah itu.
Kuliahku berjalan lancar. Aku kuliah sambil bekerja paruh-waktu sebagai fotografer di salah satu model agency dari Jepang. Cherry kuliah sambil mengajar dance di kampus dan di sebuah tempat kursus dance yang cukup terkemuka di Singapore. Setahun setelah semuanya, Cherry mengandung anakku untuk yang kedua kalinya, kali ini laki-laki, dan lahir pada bulan Oktober 2010. Aku menamainya Shinji. Sejak itu aku memutuskan untuk menikah dengan Cherry dan merawat anak ini. Setelah itu, Cherry kembali mengandung dan melahirkan dua orang anak perempuan lagi untukku, masing-masing berjarak setahun. Aku kembali menamai mereka berdua Yuri dan Yuna, seolah mendapat kembali anak-anak kembarku yang pertama yang diadopsi oleh sepupu Cherry.
Dan... Tentu saja. Aku masih tetap sering pulang ke Jakarta setiap ada kesempatan untuk menjenguk Vany dan Ella, juga mengundang mereka datang berkunjung ke Singapore (dengan seizin Cherry). Aku dan Vany masih sering ML, kadang-kadang threesome bersama Cherry. Vany bertumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik, sangat seksi. Dadanya tetap 34F, perutnya telah kembali langsing, lekuk tubuhnya semakin terbentuk, semakin banyak pria mengidam-idamkannya, tapi sayangnya... Vany tak pernah membuka hatinya untuk pria lain.
* * *
Kamis, 28 Juni 2012 - 9.00pm WIB
Jakarta, Indonesia
“.... And the prince and princess lived happily ever after. The end.”
Kututup buku cerita bergambar Snow White itu. Ella menatapku mengantuk dengan matanya yang unik, mulut mungilnya menyunggingkan senyum manis.
“Good night, Sayang...” kataku lembut sambil mengecup dahi anak perempuanku. Ella sudah berumur hampir 3 tahun.
“Good night, Papi...” bisik Ella. Memejamkan mata.
Kubenarkan selimutnya, dan dengan perlahan aku berjalan keluar kamar Ella, mematikan lampu. Sebelum keluar aku menoleh sekali lagi. Ella sudah tampak terlelap, memeluk boneka panda. Tersenyum, aku menutup pintu kamarnya perlahan.
Aku baru kembali ke Jakarta sore hari itu. Sudah dua bulan lebih aku tidak pulang. Kali ini aku kembali ke Jakarta untuk menghadiri wisuda dan prom night Vany, adikku. Tak terasa ia pun telah lulus SMA. Vany sudah diterima di Waseda University di Jepang, dan karena aku dan Cherry pun telah lulus kuliah, kami berencana untuk pindah ke Jepang bersama-sama; Aku, Cherry, Shinji, Yuri dan Yuna, juga Vany dan Ella. Aku akan bekerja di kantor pusat model agency-ku di Jepang sambil melanjutkan kuliah S2 di sana.
Aku masuk melalui pintu tembusan ke dalam kamarku, yang sekarang juga menjadi kamar Vany. Ayahku merenovasi rumah sedikit sejak kehadiran Ella, membuat kamar lama Vany menjadi kamar Ella dan kamarku menjadi kamar Vany. Ia pun mengizinkanku tidur sekamar dengan Vany bila aku kembali ke Jakarta.
Vany, 18 tahun sekarang, sedang memilah-milah baju untuk prom night esok malam. Beberapa gaun dan setelan bertebaran di atas ranjang kami, dan Vany yang mengenakan lingerie polos berwarna kuning muda agak transparant masih menatap lemari pakaian dengan tampang serius. Aku tersenyum geli, mendekatinya. Vany menoleh.
“Hai, Kak... Ella udah tidur?” tanyanya.
“Udah... Dia demen banget Snow White,” kataku, mengecup pipinya. Vany terkekeh.
“Iya... Tiap malem minta dibacainnya Snow White mulu...” jawabnya, kembali berkonsentrasi pada lemari pakaian.
“Haha... Pantes kulitnya putih banget kayak Snow White,” candaku sambil duduk di ranjang. Kulit Ella memang sangat putih mulus seperti susu, cenderung kemerahan.
“Kak, bagus ini atau ini?” Vany menunjukkan dua potong gaun: Satu sack dress berwarna ungu tua dengan motif kristal di bagian dada, satu lagi sheath dress polos berwarna hitam. Aku memperhatikan keduanya.
“Hmm... Kalo yang item ini apa nggak membuat kecemburuan sosial?” kataku. Vany terbahak.
“Hahahaha.. Iya sihh.. Toket segede ini...” katanya. “Tapi kalo ditutupin selendang gitu? Ato cardigan?”
“Acaranya di mana sih?” tanyaku.
“Kempinski Ballroom... Grand Indonesia itu loh,” jawab Vany, kembali memutar badan menghadap lemari.
Aku memperhatikan adikku dari belakang. Aku bisa melihat bongkahan pantatnya dari balik daster ini... Benar-benar seksi adik cewekku ini. Tapi semenjak tadi sore saat ia menjemputku di airport, aku seperti melihat sesuatu yang berbeda darinya. Apa ya?
“Ah! Ini aja deh!” Vany berbalik dan menunjukkan cocktail dress berwarna biru langit dengan motif batik berwarna sama di bagian kanan bawah. Vany mendekatkan dress itu ke badannya. Cocok sekali.
“Hmm... Ini bagus!” ujarku jujur. Vany nyengir senang, menggantung dress itu pada pintu lemari pakaiannya dengan riang.
“Kakak besok dance sama aku ya...” pintanya. Aku tertawa.
“Hahaha... Vaann... Kamu tuh udah minta 15 ribu kali, kali...” kataku melebih-lebihkan. Vany memang sudah sangat sering memintaku untuk berdance dengannya saat prom night. Vany tertawa.
“Iiihhh.. Mendramatisir!” ujarnya. Ia berjalan mendekatiku, mengalungkan tangannya di sekeliling leherku, mengecup bibirku.
“Aku sayang Kakak...” katanya lembut.
“I love you too, Van...” jawabku. Aku memandangi matanya yang sipit. Rupanya Vany menangkap sesuatu dari mataku.
“Kak... Ada apa?” tanyanya. Aku tersenyum.
“Kamuu... Agak lain. Jujur,” jawabku. Senyuman Vany semakin lebar.
“Ih, Kakak... Masa dari tadi belom nyadar juga,” katanya nakal. Aku semakin heran.
“Hmm? Nyadar apa?”
Vany menatapku, menggelengkan kepala pura-pura kesal. Perlahan, Vany melepas tali pundaknya lingerienya, dan membiarkan lingerie itu jatuh perlahan ke lantai, menampakkan tubuhnya yang sudah matang sekarang; dadanya yang bulat penuh dengan puting yang coklat muda sempurna... Dan... Perutnya...?
“Aku hamil, Kak... 2 bulan...” katanya. Muka Vany merona merah. Tangannya mengelus perutnya yang baru sedikit membuncit. “Baru tau 3 hari yang lalu, koq...”
“... Van... Kamu... Hamil lagi?” tanyaku terbata, terkejut. Rasa senang merayapi tubuhku. Tapi tak ada rasa takut kali ini. Vany mengangguk, nyengir lebar.
“Semoga yang ini cowok ya...” bisiknya, duduk di atas pangkuanku, mencium bibir kakaknya. Kupeluk erat adikku yang seksi ini, kuremas pantatnya. Pikiran dan perasaanku bercampur aduk; senang, kaget... Semuanya. Astagah... Padahal 2 bulan lalu kami hanya ML satu kali.
“Van...”
“Hmm...?”
“I... I love you, Vany...” aku terbata. Vany tersenyum manis, memelukku erat.
“I’m forever yours, Kak...”
Langganan:
Postingan (Atom)