Cari di sini, Bos

Selasa, 28 Juni 2011

Final Fantasy VII 3

Keberhasilan dalam mencegah upaya Avalanche untuk meledakkan reaktor ini membuat para petinggi Shin-Ra menjadi tambah percaya diri. Malam itu juga Presiden Shin-Ra mengadakan rapat mendadak yang mengundang beberapa wakilnya yang duduk di posisi strategis. Wakil pertamanya adalah Heideggar, Jenderal Angkatan Bersenjata Shin-Ra yang dulunya merupakan pemimpin angkatan bersenjata dari salah satu region di benua ini yang akhirnya tunduk dibawah iming-iming kekuasaan dan uang dari organisasi Shin-Ra. Kedua adalah Scarlet, sekretaris presiden untuk hal-hal tertentu, kebanyakan untuk pengadaan energi Mako.
Perempuan ambisius yang juga cantik ini merangkap sebagai menteri dibidang energi dan sumber daya alam. Ketiga adalah Reeve, seorang birokrat dari masa pemerintahan terdahulu sebelum Shin-Ra berkuasa di Midgar.
Dia satu-satunya orang di Shin-Ra yang peduli terhadap nasib warga miskin. Tugasnya sebagai menteri kesejahteraan sepertinya tak banyak berguna bagi kepentingan Presiden Shin-Ra sehingga dia menjadi orang yang tidak diperhitungkan disana.
Keempat adalah Palmer yang membawahi bidang transportasi termasuk proyek luar angkasa organisasi jahat ini. Badannya yang lebih gendut dari Heideggar membuatnya terlihat sebagai orang tak berguna walaupun sebenarnya dia sangat cerdik. Kelima juga terakhir adalah Profesor Hojo, ilmuwan sinting yang tergila-gila pada rekayasa genetika. Berkat penemuan gilanya pula sekarang ini para anggota elite Soldier menjadi manusia setengah monster akibat rekayasa atas DNA mereka oleh Hojo.
“Well, kerja baik untuk intel yang kau miliki Scalet. Dengan amannya sektor 3 maka kita bisa menaikkan tarif untuk pemakaian energi Mako sebesar 100% hahaha…” Presiden Shin-Ra membuka pertemuan itu dengan tawa liciknya. Scarlet yang mendengar pujian itu tersenyum bangga atas kinerjanya.
“Tapi kita masih belum berhasil menghancurkan Avalanche.” Protes Palmer kepada presiden. Lalu muncullah sebuah skema yang menggambarkan peta kota Midgar dalam skala kecil. “Kita bisa menghancurkan markas mereka di sektor 4 dengan meledakkan reaktor di sektor itu. Lagi pula reaktor itu sudah lama mati bukan.” Heideggar mengusulkan cara itu yang langsung ditepis oleh Reeve. “Jika kita meledakkannya maka reaktor itu akan runtuh. Bisa banyak jatuh korban.
Dibawah reaktor itu terdapat penduduk miskin paling banyak. Kita tidak bisa melakukan itu pak presiden.” Seru Reeve, satu-satunya orang yang masih memiliki hati nurani di ruangan ini. “Hahaha…Reeve. Dengan runtuhnya reaktor itu maka kita bisa memiliki banyak keuntungan. Membuang reaktor usang itu, menyingkirkan kemiskinan terbesar dikota ini, melenyapkan Avalanche dan nantinya kita bia menuduh Avalanche yang melakukan ledakan itu maka seluruh rakyat akan membenci mereka. Hahahaha….
” Ucap Presiden Shin-Ra kepada Reeve yang masih ngotot tidak ingin hal itu terjadi. Mendengar pengakuan presiden, Reeve langsung walk out dari ruangan. Seluruh yang hadir disitu tidak senang termasuk presiden tapi mereka sudah tahu sifat Reeve jadi mendiamkannya. Satu jam setelah itu pertemuan selesai. Presiden mendekati Scarlet dan mengajaknya keruangan pribadinya.
“Sekarang aku ingin tahu apa yang kau inginkan untuk proyekmu.” Kata presiden yang sudah berumur itu kepada sekretarisnya yang mulai bertingkah nakal di ruangannya. Scarlet duduk di meja presiden dan mengangkat paha mulusnya sehingga pangkal pahanya terlihat jelas oleh tua bangka ini karena saat itu Scarlet hanya menggunakan gaun dan bagian bawahnya mempunyai belahan yang cukup tinggi. Presiden tua ini tahu benar jika Scarlet ingin memancingnya dengan menggunakan cara nakal ini untuk memuluskan proyek yang akan dia ajukan nanti. Semacam suap dengan tubuhnya yang seksi. “Ehm, aku hanya ingin meminta akses untuk menggunakan laboratorium yang dulunya dimiliki oleh Profesor Gast di daerah utara. Kuharap kau mau mengabulkannya untukku.” Rajuk Scarlet sambil memainkan kancing jas Presiden Shin-Ra dengan jemari lentiknya.
“Hemmm…Laboratorium itu sudah lama ditinggalkan. Lagipula daerah itu diluar kekuasaan Shin-Ra. Aku tak mau ambil resiko, tetapi jika kau mau menggunakannya, kau bisa mendapatkan kartu aksesnya dari Palmer. Aku akan memerintahkannya untuk memberikannya kepadamu.” Jawab sang presiden yang lalu memeluk Scarlet dan menciuminya. Bibir kedua lawan jenis yang berbeda jauh usianya itu berpadu dan saling melumat. Sebenarnya dalam hati Scarlet dia jijik berciuman dengan orang setua presiden yang usianya setidaknya 30 tahun lebih tua dari dirinya.
Tapi karena kekuasaan yang dimiliki sang presiden maka Scarlet mau tak mau harus melayani nafsu bejat pria tua ini jika ingin proyeknya berjalan dengan lancar. Hal itu yang membuatnya tetap menahan diri ketika presiden itu menanggalkan gaun merahnya sehingga sekarang dimata presiden itu terlihat tubuh seksi Scarlet yang putih mulus tanpa cela.
Tubuhnya ramping dan putih kemerahan sementara lekuk tubuhnya dapat membuat semua pria menjadi menelan ludah karena membayangkan menggagahinya. Payudaranya yang berukuran 36C itu benar-benar membuat sang presiden tak kuasa mengontrol tangannya lagi untuk menggerayanginya. Remasan demi remasan diikuti dengan kuluman presiden atas payudara Scarlet membuat vagina perempuan cantik ini basah. Walaupun dia tidak menyukai presiden tua itu tetapi rangsangannya mau tak mau membuat gairahnya muncul walaupun matanya tertutup dan membayangkan orang lain, seseorang yang lebih muda. Setelah puas mengerjai buah dada Scarlet, Presiden Shin-Ra lalu mengarahkan tangannya kearah vagina perempuan cantik ini. Jemari tangannya mulai bergerilya membelah bibir vagina Scarlet dan menusuk-nusuk liang kemaluannya tanpa ampun.
Lalu pria tua ini mengangkat kedua kaki Scarlet keatas saat perempuan ini masih dalam posisi duduk di meja kerjanya. Terlihat oleh pria tua ini bibir vagina Scarlet yang putih mulus ditumbuhi dengan bulu kemaluan yang sedikit lebat. Walaupun gelambir vaginanya ada yang sebagian kecil yang keluar tetapi tidak mengurangi keseksian kemaluan cewek satu ini. “Kau benar-benar seksi Scarlet. Walaupun melihatmu berulang kali tetapi tetap saja tidak membuatku bosan.
” Kata Presiden Shin-Ra kepada Scarlet yang kemudian mengarahkan mulutnya kearah bibir vagina perempuan ini. Lidahnya mulai menari-nari di liang kemaluan cewek nakal satu ini ditambah lagi dengan permainan lidahnya di klitoris Scarlet membuai perempuan ini hingga seakan membuatnya lupa bahwa sekarang ini yang mencumbunya adalah seorang laki-laki tua. “Akhh…akhh…” desah Scarlet yang keluar dari bibir seksinya. Rambutnya acak-acakkan dan kepalanya menoleh kekiri dan kekanan karena menahan sensasi kenikmatan bercampur geli yang dia dapatkan dari presiden tua itu. Lima menit berlalu dan laki-laki tua ini sepertinya belum berniat menyudahi permainannya.
Tiba-tiba tubuh Scarlet menegang dan kedua tangannya mencengkeram rambut lelaki tua itu sambil membusungkan dadanya kedepan. Scarlet mencapai orgasmenya yang pertama. Presiden Shin-Ra nampaknya senang dengan keadaan ini dan menjilati cairan orgasme Scarlet dengan rakusnya hingga keluar bunyi berkecipak keras.
Lalu lelaki tua ini membalikkan tubuh Scarlet sehingga sekarang perempuan ini membelakangi Presiden Shin-Ra dan kedua tangannya berpegangan bersandar ke meja kerja sang presiden. Kedua kaki Scarlet lalu dilebarkan oleh presiden tua ini dan saat itu juga Scarlet sadar kalau sebentar lagi dirinya akan mulai dikerjai oleh lelaki tua ini.
“Akhh…nikmat sekali vaginamu Scarlet.” Ucap sang presiden ketika batang kemaluannya membelah vagina Scarlet yang sudah basah kuyup itu. Scarlet memejamkan matanya, seolah ingin mengusir bayangan buruk itu dari otaknya. Sebenarnya perempuan ini tidak peduli kalau yang menidurinya adalah pria lain asalkan masih muda atau tidak setua Presiden Shin-Ra ini. Karena bagaimanapun juga melihat tubuh tua sang presiden membuatnya merasa mual apalagi harus membayangkan batang kejantanan pria tua itu menjajah liang kewanitaannya dengan brutal seperti ini.
“Akhh…akhh…terus…penis anda benar-benar nikmat…akhhh.” Racau Scarlet ketika presiden tua itu mulai memompa batang kemaluannya di vagina Scarlet. Ucapan yang dibuat-buat hanya untuk menyenangkan hati pak presiden. Sebenarnya perempuan ini tidak merasakan apapun karena penis presiden itu sudah tidak lagi perkasa dan sudah mengendur walaupun ereksi.
Sembari terus menyodok liang kemaluan Scarlet dengan penisnya, Presiden Shin-Ra mengarahkan kedua tangannya untuk meremas-remas payudara Scarlet yang sekarang menggantung bebas sehingga terlihat semakin besar saja dari aslinya. Presiden Shin-Ra mempercepat gerakannya secara spontan dan mencengkeram payudara Scarlet yang besar itu hingga memerah. Scarlet sebenarnya kesakitan tetapi tidak berani protes karena dia ingin proyeknya berhasil tembus.
“Scarlet…akhhh…” seru Presiden Shin-Ra sembari menusukkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke vagina sekretarisnya itu dan menyemburkan spermanya bertubi-tubi kedalam liang kemaluan Scarlet. Diusianya yang tua ini, sang presiden masih dapat berejakulasi sebanyak ini walaupun dia tidak dapat bertahan lama dalam bercinta. Pria tua ini memeluk tubuh telanjang Scarlet yang masih ambruk diatas meja kerjanya dari belakang sembari menikmati sisa-sisa orgasmenya barusan. Batang kemaluannya berdenyut-denyut dan mulai mengecil sedikit demi sedikit.
Saat itu juga cairan putih kental nampak meleleh dari bibir kemaluan Scarlet dan mengalir melalui tungkai kakinya yang mulus itu. Sementara itu di tempat lain, disisi lain kota Midgar. Mata Cloud perlahan-lahan mulai terbuka. Dihadapannya terdapat wajah seorang gadis cantik berambut kepang warna cokelat. Mata hijau gadis cantik ini terlihat berbinar ketika melihat Cloud siuman dari pingsannya. “Dimana aku?” kata Cloud ketika kesadarannya mulai membaik dan mulai bangkit dari tidurnya untuk duduk. “Fiuhhh…kupikir kau sudah mati tadi. Kau berada di sebuah gereja tua.
Jangan khawatir akan dirimu, lukamu sepertinya tidak parah karena taman bunga yang lebat ini telah melindungimu dari benturan.” Kata gadis berkepang itu kepada Cloud. Cloud baru sadar kalau dia sekarang sedang berada ditengah-tengah taman bunga yang sangat lebat didalam sebuh gereja tua yang sudah tak dipakai lagi. “Ups. Maaf. Aku tidak bermaksud merusak bungamu.” Kata Cloud yang langsung loncat kepinggir taman agar tidak merusak bunga-bunga itu lagi.
Gadis berkepang itu tertawa dan memetik beberapa bunga, “Hmmm..jangan khawatir, bunga-bunga inisepertinya tumbuh memang untuk menyelamatkan orang lain. Lagipula merupakan keajaiban bunga bisa tumbuh subur di Midgar apalagi didaerah slum.” Kata gadis itu lagi. Cloud mengernyitkan dahinya, “Slum? Maksudmu kita didaerah slum?” Tanya Cloud memastikan keadaannya. Gadis berkepang itu mengangguk.
“Omong-omong, namaku Aeris Gainsborough, kau bisa memanggilku Aeris. Kita pernah bertemu sebelumnya saat ledakan di sektor 6.” Kata gadis berkepang itu kepada Cloud yang mulai ingat bahwa dia pernah menabrak gadis cantik ini ketika dia berjualan bunga di kawasan komersial di distrik 6. “Terima kasih yah telah membeli bungaku.” Kata Aeris kepada Cloud setelah pemuda pirang ini memperkenalkan diri kepada Aeris. “Brak!!!” tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. Terlihat sepasukan tentara Shin-Ra menghambur masuk bersama seseorang pria berbaju jas resmi warna hitam dengan tongkat panjang ditangan. “Menyebalkan mereka itu. Selalu menggangguku.
” Gumam Aeris yang kemudian meletakkan keranjang bunganya. Cloud berniat menghampiri orang-orang itu tetapi langsung dicegah oleh Aeris. “Jangan! Berbahaya! Orang-orang itu adalah suruhan organisasi Shin-Ra. Sebaiknya kita pergi saja, lagipula aku tidak mau rebut lagi dengan mereka.” Kata Aeris lagi. “Mereka sering mengganggumu? Aneh sekali kenapa mereka mengganggu anak kecil.” Kata Cloud sembari bersiap untuk mencabut pedangnya. Aeris berkacak pinggang, “Siapa yang kau sebut anak kecil. Begini-begini umurku sudah 22 tahun tau.” Kata Aeris dengan nada tinggi.
“Hei Cloud. Kau mau melakukan sesuatu untukku? Jadilah bodyguard-ku sampai aku selamat sampai dirumah.” Kata Aeris yang lalu menyambar lengan Cloud dan mengajaknya untuk lari lewat pintu belakang bangunan tua itu. “Wow…tunggu dulu! Aku tidak mau ikut campur dengan urusan kalian. Lagipula aku selalu mendapatkan bayaran dari tiap pekerjaanku.” Sahut Cloud tetapi secara spontan tetap mengikuti langkah Aeris. “Akan kuberi kau bayaran atas kerjamu. Aku akan berkencan denganmu sekali. Itulah bayarannya menjadi bodyguardku.
Sekarang ayo cepat!” seru Aeris sambil mempercepat langkah kakinya. Setelah satu jam bermain kucing-kucingan dengan para tentara Shin-Ra itu akhirnya mereka sampai juga di daerah slum pinggiran di sektor 3. Rumah Aeris berada didekat aliran sungai kecil yang merupakan satu-satunya sungai di Midgar yang belum dihancurkan seluruhnya oleh Shin-Ra.
Rumah sederhana dan gadis cantik ini hanya tinggal bersama dengan ibunya yang bernama Elmyra.

Final Fantasy VII 2

Daerah kumuh terbesar yannjualan produk-produk yang dihasilkan dari kota-kota disekitar Midgar. Namun begitu perusahaan besar Shin-Ra membangun reaktor Mako dan dengan semakin tergantungnya para penduduk Midgar dan sekitarnya dengan kemudahan hidup mereka denan adanya energi ini maka sangat mudah bagi Shin-Ra untuk menguasai seluruh kota Midgar, bahkan faktanya Shin-Ra Corporation telah menguasai nyaris seluruh Eastern Continent. Maka hilanglah kota Midgar yang dulunya ramah dan bersahabat. Kini wajah baru Midgar menjadi kota industi yang materialist dan mempunyai gap sosial ekonomi penduduk yang tertinggi di dunia.

The Slum, begitu para pejabat Shin-Ra dan para warga elite Midgar menyebutnya. Mungkin karena banyaknya orang miskin yang tingga di tempat ini atau bisa juga karena tempt ini merupakan tempat paling kotor di Midgar, setidaknya itulah anggapan mereka.
Di depan Cloud sekarang ini adalah salah satu bangunan tua yang masih bertahan dari perubahan jaman di Midgar. Bar Seventh Heaven, yang merupakan markas utama organisasi Avalanche setidaknya selama 6 tahun terakhir. Barret yang mendirikannya, setelah dia muak dengan sepak terjang Shin-Ra yang mengeksploitasi energi Mako yang jelas-jelas bisa merusak keseimbangan alam planet yang mereka huni.
“Wah, akhirnya datang juga. Kalian pasti capek yach.” Sapa seorang gadis cantik dari belakang meja bartender ketika Cloud dan yang lain masuk. Gadis cantik ini bernama Tifa Lockheart, teman akrab Cloud sedari masih kecil. Berasal dari Western Continent, tepatnya di kota Nibelheim, kota para hantu begitu banyak orang menyebutnya. Gadis cantik ini bertubuh padat berisi dengan tinggi hanya sedikit dibawah Cloud dan berambut panjang. Adapun yang mencolok dari gadis cantik ini selain rambutnya yang hitam panjang dan lurus adalah penampilannya yang seksi. Dengan tubuh sangat ideal dia dapat mengenakan segala macam pakaian dan pasti cocok dengan penampilannya. Hampir seluruh pakaiannya merupakan jenis yang sama, yaitu kaus tanpa lengan yang pendek sehingga memamerkan pusarnya dan perut datarnya yang indah juga payudaranya yang cukup besar, kira-kira berukuran 38B. Celana pendek dan sepatu boots yang membuat paha putih mulusnya terpampang jelas. Intinya jika Jessie diberi nilai 7 maka Tifa layak mendapatkan nilai 9.
“Yo, Cloud! Kita ada pertemuan dibawah. Cepat bergabung!” teriak Barret yang kemudian menuruni tangga rahasia keruangan bawah tanah, tempat para anggota Avalanche bersembunyi dari kejaran Shin-Ra.
Cloud tidak menghiraukannya dan memberikan bunga yang dia dapat dari penjual bunga waktu di sektor 6 kepada gadis kecil yang berada di samping Tifa. “Halo Marlene. Ini untukmu.” Kata Cloud sembari memberikan bunganya dan bocah cilik itupun dengan malu-malu menerimanya lalu kembali bersembunyi dibalik tubuh Tifa. Marlene adalah anak angkat Barret Wallace setelah pria ini kehilangan istrinya.
“Cloud, Marlene malu terhadapmu. Sifatmu yang perayu itu sudah membahana seantero Midgar sampai-sampai Marlene-pun takut dibuatnya hahaha…” canda Tifa yang lalu memberikan segelas Whiskey kepada Cloud Strife.

“Kau tambah cantik saja Tifa. Bagaimana harimu?” Cloud mulai meluncurkan taktik basa-basinya yang jelas sudah basi mengingat Tifa adalah temannya sejak kecil yang terang saja sudah tahu segala tindak-tanduk Cloud.

“Tchh…sudahlah Cloud. Kau berbicara kepadaku seperti kepada orang yang baru mengenalmu saja.” Balas Tifa cuek walaupun dia juga senang dipuji oleh cowok setampan Cloud.
Cloud tahu basa-basinya gagal langsung meluncur keruang basement untuk menutupi malunya terhadap Tifa dan hanya lima menit dia-pun keluar disusul dengan Barret yang marah-marah. “Dasar serangga materialist! Kau tak ubahnya dengan orang-orang Shin-Ra itu. 3000 Gil, terima atau tidak? Hanya sebanyak itu uang yang aku punya.” Bentak Barret sebelum dia duduk di kursi bar. Gil adalah mata uang yang digunakan hampir diseluruh kota didunia ini.
Tifa langsung menengahinya. Akhirnya dengan bujuk rayu Tifa, Cloud mau juga menerima 3000 Gil untuk pembayarannya sebagai penunjuk jalan ke reaktor berikutnya, reaktor 3.
“Cih! Membuatku geram saja kepala burung ini.” Seru Barret yang kemudian menghambur keluar bersama dengan Biggs dan Wedge, sementara Jessie entah pergi kemana sedari tadi.
“Maaf, kalau dia membuatmu kesal. Akhir-akhir ini memang Barret jadi mudah terbawa emosinya. Sepertinya ada hubungannya dengan rencana Shin-Ra untuk membangun Neo Midgar.” Tifa mencoba menjelaskan. Cloud sebenarnya tidak marah, bahkan ekstrimnya lagi pemuda ini sebenarnya tidak mempunyai emosi yang jelas. Kadang dia seperti perayu ulung tetapi seringkali juga dia bersikap seperti robot yang tak menunjukkan emosinya terhadap apapun.
“Sudahlah. Aku tidak kesal. Hanya saja sepertinya aku tak akan tidur didekatnya lagi nanti malam. Dia bersuara tiap kali tidur pulas atau setelah aktifitas berat seperti ini. Itu baru yang namanya menyebalkan Tifa.” Kata Cloud sambil minum tetes terakhir Wiskey-nya. Saat Tifa akan menuangkan yang baru dia menolak lalu beranjak dari kursi bar itu.
“Kalau kau tak nyaman tidur seruangan dengan yang lain, kau bisa tidur di penginapan yang baru saja dibuka oleh pemilik bengkel didekat toko obat. Aku akan menunggumu disana…tehehe…” bisik Tifa nakal tepat sebelum Cloud berdiri. Pemuda ini tersenyum mengiyakan ajakan Tifa. Lagipula pria manapun jika diajak oleh gadis secantik Tifa dipastikan akan bersedia apalagi jika ajakannya adalah untuk tidur bersama, siapa juga yang bisa menolak.
Malamnya, Cloud masih terjaga di tempat tidur dipenginapan. Dia menunggu Tifa yang tak datang-datang juga. Sempat terlintas dalam pikirannya kalau Tifa hanya ingin mengerjai dirinya. Tapi baru pikiran itu muncul, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. “Maaf menunggu. Tadi aku harus menemani Marlene tidur dulu.” Tifa muncul dengan pakaian yang seksi. Pusarnya terlihat menggairahkan ketika gadis cantik ini berjalan mendekati Cloud.

“Sekarang giliran untuk menidurkanku.” Balas Cloud yang lalu menarik tangan Tifa hingga dara cantik ini terjatuh di tempat tidur tepat diatas tubuh Cloud yang terlentang. Merekapun berciuman dengan mesra.
“Kau ini tak pernah berubah.” Rajuk Tifa sambil mencubit nakal pinggang Cloud. Kemudian mereka berciuman kembali tetapi kali ini Cloud sudah ditelanjangi oleh Tifa. “Hmmm…kau semakin berotot saja yah. Banyak bekas luka juga. Pasti di Soldier sangatlah berat.” Kata Tifa kepada Cloud.
“Kau tak akan bisa membayangkannya Tifa. Hmmm…tanganmu…” Cloud melirik kearah tangan Tifa yang sedang memegangi penis besarnya. Tangan nakal Tifa itu memaju mundurkan penis Cloud dengan berirama seperti seorang ahli dalam hal itu.
“Ahahaha…Cloud, mukamu memerah. Aku yakin ini bukan yang pertama bagimu khan. Sebentar…” Tifa lalu membuka kaus putih tanpa lengannya, yang ternyata kali ini dia tidak mengenakan bra-nya. “Spesial untukmu…” kata Tifa sambil tersenyum.
“Dan aku tebak juga, pasti ini bukan pertama kali bagimu Tifa. Akhh…pelan Tifa.” Ucapan Cloud dibalas dengan gigitan kecil mulut Tifa di batang kemaluannya. Dengan posisi terlentang di tempat tidur, Cloud hanya bisa pasrah saja ketika Tifa menindihnya dan sekarang mempermainkan penisnya dengan bibir seksinya juga kedua tangannya yang nakal itu. Berulang kali jilatan-jilatan sensual dilakukan Tifa sehingga sekarang batang kejantanan Cloud sudah penuh dengan air liur dan cairan pelumas yang keluar dari ujung kemaluannya. Cloud benar-benar sudah tak tahan lagi.
“Cloud, bagaimana rasanya?” kata Tifa yang lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Cloud dan mereka berciuman untuk yang kesekian kalinya. Hanya saja kali ini keduanya sudah bugil total. Tifa menggesek-gesekkan bibir vaginanya diatas batang kemaluan Cloud yang sudah tegak mengacung dengan keras.
“Dadamu semakin besar saja TIfa. Pasti banyak orang yang berebutan untuk meremasnya.” Kata Cloud yang kemudian meremas-remas payudara besar Tifa itu sehingga kedua putingnya mengeras dan mengacung kedepan. Walaupun buah dadanya besar tetapi milik Tifa ini tetaplah kencang dan tidak menggelantung lemas seperti kebanyakan orang, mungkin karena dia sering berolah raga.
“Banyak memang, terutama waktu aku masih di Nibelheim. Akhhh…Cloud…akhhh…” Tifa memutuskan ucapannya dan menesah-desah tak karuan ketika Cloud menjilati kedua puting payudaranya dengan penuh nafsu. Dalam sekejap vagina gadis cantik ini sudah basah karena terangsang berat. “Cloud, aku mulai yah.” Kata dara cantik ini yang lalu memasang badan diatas tubuh terlentang Cloud dan kemudian memposisikan penis Cloud secara vertikal yang lalu diarahkan ke bibir vaginanya yang sedikit menganga.
Blesshh. Amblas sudah seluruh batang kemaluan Cloud dengan beberapa kali goyangan dari Tifa. Tifa memang sudah tidak perawan lagi karena setelah pindah dari Nibelheim, dia sudah berpacaran dengan teman kecil Cloud yang bernama Johnny yang sekarang tinggal di kota lain. “Akhh…penismu besar sekali Cloud. Dengan penis sebesar ini pasti banyak gadis yang takluk kepadamu, kamu khan perayu.” Canda Tifa yang kemudian mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur dan berputar dengan penis besar didalam liang kewanitaannya.
Cloud kembali meremas-remas buah dada Tifa yang sekal itu dan jemarinya memilin-milin puting susunya. Sesekali pemuda ini mengangkat tubuh Tifa dengan kekuatan pahanya yang lalu menghajar keras vagina gadis cantik itu dengan hunjaman-hunjaman cepat batang penisnya tanpa ampun sampai terkadang Tifa bukan hanya mendesah keenakan tapi juga berteriak kecil minta agar Cloud menyudahi hajarannya.
Rambut panjang Tifa kini sudah awut-awutan dan menjadi selimut dari persetubuhan dua orang ini. Lima belas menit kemudian Tifa mengejang dan menghentikan goyangannya. Tubuhnya menegang dan tangannya memeluk tubuh Cloud yang masih terbaring dibawahnya. “Cloud…aku…keluar…” kata Tifa terbata-bata ketika orgasmenya datang.
Hanya beberapa detik ketika orgasme Tifa mulai terasa, tiba-tiba dia merasakan kalau yang membanjiri liang senggamanya bukan hanya cairan orgasmenya tetapi juga cairan hangat lain. “Aku juga Tifa. Vaginamu memang lain. Permainan ranjangmu juga sangat hot.” Kata Cloud yang ternyata juga mencapai orgasmenya dan memeluk Tifa dengan erat. Payudara besar Tifa itu sekarang menempel erat menekan dada bidang Cloud Strife, teman kecilnya. Keduanya lalu terbuai dalam kenikmatan sebelum akhirnya tertidur.
Saat Cloud bangun pagi harinya, Tifa sudah menghilang yang ada hanya sepucuk surat diatas meja dekat tempat tidur. “Cloud, malam tadi benar-benar malam yang luar biasa. Sudah bertahun-tahun aku tidak merasakannya. Terima kasih Cloud. Oh iya, pagi ini kau ditunggu oleh Barret di dekat stasiun kereta. Berikutnya adalah reaktor sektor 3.” Begitulah bunyi dari surat Tifa itu yang lalu dirbek oleh Cloud. Dalam hati dia masih membayangkan percintaannya dengan Tifa semalam, membayangkan tubuh indah Tifa terutama buah dada Tifa yang besar itu.

“Kenapa lama sekali baru datang kepala burung?” Barret marah-marah ketika Cloud datang paling akhir dari rombongan. Cloud cuek saja dan melenggang menuju kearah kereta.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, “Tifa? Kau ikut juga?” kata Cloud padanya. Tifa mengangguk dan mengajak Cloud masuk kedalam kereta. “Tetapi ini misi berbahaya Tifa.” Seru Cloud berusaha mencegah teman kecilnya dalam bahaya namun bukan Tifa jika menurut kata-kata Cloud. Dari kecil memang gadis cantik ini terkenal dengan kemampuan bela dirinya yang ditempat sedari masih berumur 7 tahun oleh seorang master bela diri di Nibelheim.

“Huh! Kalau kau merasa takut dia celaka, lebih baik kau menjaganya. Bukankah kau adalah anggota pasukan elite Shin-Ra Soldier dulunya?” kata Barret yang tak sabar lalu mendorong Biggs dan Wedge agar cepat masuk ke gerbong kereta.
Akhirnya mereka semua masuk kedalam kereta dan menuju ke sektor 3. Sektor 3 merupakan sektor dengan kawasan komersial terbanyak no 2 setelah sekor 10. banyak pejabat Shin-Ra yang tinggal dibagian atas sektor tersebut. Dengan hancurnya sektor ini Barret berharap agar dapat menjadi tekanan besar bagi Shin-Ra.
Tapi apa daya, ternyata dalam usaha penyusupan kali ini banyak sekali halangannya. Mulai dari tanda pengenal palsu buatan Jessie tidak berhasil mengelabui mesin sensor Shin-Ra sampai dengan munculnya presiden Shin-Ra ketika Barret, Cloud dan Tifa terkepung oleh pasukan bersenjata musuh. Ini semua jebakan yang disiapkan oleh presiden Shin-Ra. Operasi peledakan pun batal dan berganti dengan usaha melarikan diri dari kejaran puluhan tentara Shin-Ra. Dalam upaya pelarian ini Cloud terkena ledakan dari salah satu robot tempur organisasi Shin-Ra dan terjatuh dari lempeng lapisan kedua menuju ke bawah kearah lapisan terbawah kota Midgar. Semua terasa gelap bagi Cloud, hal terakhir yang diingatnya adalah ketika Tifa meneriakinya dari sisi lain jembatan yang roboh dan berusaha menggapainya.

Final Fantasy VII 1

Midgar, sebuah kota yang penuh dengan mesin. Sebuah kota dengan tenaga Mako sebagai penggeraknya.dan Shin-Ra sebagai penguasanya. Midgar, nama kota yang diambil dari sebuah legenda kuno mengenai sebuah daratan yang penuh dengan kemakmuran karena selalu dijaga oleh para dewa dilangit.
Kota Midgar merupakan kota terbesar di di Eastern Continent, benua bagian timur dari planetGaia. Kota berbentuk seperti piring raksasa dari besi ini berdiri kokoh berkat kekuatan perekonomiannya yang mendominasi seluruh Estern Continent. Kota ini terbagi menjadi tiga lapisan. Lapisan teratas merupakan tempat para penduduk kelas atas tinggal di apartemen-apartemen mewah mereka dan salah satunya adalah para pejabat Shin-Ra.
Lapisan kedua merupakan tempat dimana reactor-reaktor dibangun dan juga merupakan daerah industri dan militer dengan tingkat polusi tertinggi, di sini juga dibangun sambungan rel kereta api yang dibangun mengelilingi kota Midgar dan menghubungkan tiap distrik di Midgar. Lapisan ketiga yang paling bawah urutannya adalah tempat yang jarang mendapatkan sinar matahari dan berpolusi terburuk karena mendapatkan efek polusi dari kedua lapisan diatasnya. Di lapisan terbawah ini adalah tempat para warga yang kurang beruntung, mereka yang hidup di rumah-rumah dikawasan kumuh yang disebut The Slum oleh para pejabat Shin-Ra.
Tidak seperti biasanya, di sektor 6 terdapat keributan. Terlihat dipintu masuk reaktor energi Mako di sektor ini terdapat dua mayat prajurit Shin-Ra tergeletak diseberang rel kereta api yang dibangun di samping reaktor.

Dari dalam reaktor tiba-tiba muncul sebuah bunga api yang sangat besar dan diikuti dengan ledakan dahsyat dari reaktor tersebut yang akhirnya meluluh lantakkan separuh lebih reaktor Mako di sektor 6.
Di distrik yang sama di daerah komersial terlihat seseorang pemuda berambut pirang sedang berlari kencang dan tanpa sengaja menabrak seorang gadis pembawa bunga. “Ups…maaf.” Kata gadis itu walaupun itu bukan salahnya.
Pemuda itu menengok, “Aku yang salah. Sudahlah.” Katanya kepada gadis itu sembari membantunya bangun dari jatuhnya.
Gadis itu menatap dalam kearah mata pemuda itu dan bertanya, “Ada apa yang terjadi disini? Kenapa banyak orang yang berlarian?” tanyanya yang lalu mengalihkan pandangan matanya kearah bangunan yang terbakar atapnya.
Pemuda berambut pirang ini memberikan keranjang bunga yang tadi ikut jatuh kepada sang gadis dan berlalu begitu saja. “Sebaiknya kau cepat pergi dari tempat ini karena situasi saat ini berbahaya.” Serunya sebelum dia menghilang dari pandangan gadis itu.
Sepuluh menit kemudian di sebuah gerbong barang di kereta yang sedang melaju kencang terlihat 4 orang sedang bercakap-cakap serius.
“Sial! Dia tidak berhasil lolos.” Seru seorang pria bertubuh kekar dan berkulit hitam. Pria ini sangat mencolok karena bukan hanya tubuhnya yang besar dan hitam tetapi juga karena tangan kanannya buntung dan diganti dengan sepucuk senapan kaliber tinggi, atau lebih tepatnya gatling gun bukan senapan. Rambut lurus dan dipotong cepak ala tentara ditambah dengan tato yang menghiasi lengannya membuat pria ini semakin seram saja.
“Hei Barret. Mungkin saja dia akan menunggu kita di slum.” Sahut salah seorang pria bertubuh agak gemuk dan bertopi. Pria ini memanggil pria bertangan senapan itu dengan sebutan Barret. Dialah Barret Wallace, pemimpin dari anggota pemberontakan terhadap Shin-Ra yang bernamaAvalanche. Sementara pria gemuk itu bernama Biggs. Adapun dua orang yang lain disana adalah satu pria dan satu gadis berusia 19 tahun. Pria itu bernama Wedge, bertubuh agak kurus dan jarang berbicara namun sangat setia kawan sementara sang gadis bernama Jessie, seorang gadis manus ahli mesin dan alat-alat mekanikal lainnya termasuk komputer dan detektor keamanan.
“Bagaimana kalau dia mati tertembak atau tertangkap? Akhh…aku masih berhutang budi padanya ketika dia menyelamatkanku dari ledakan di reaktor itu.” Jessie menimpali omongan Biggs barusan. Sementara itu Wedge hanya diam seperti biasa.
“Shit! Aku tak percaya seorang anggota Soldier kelas 1 bisa mati semudah itu. Sepertinya Shin-Ra terlalu melebih-lebihkan promosi mereka mengenai anggota Soldier yang mereka latih.” Seru Barret geram sembari memukul dinding gerbong.
“Maaf mengecewakanmu Barret. Tetapi memang aku tidak mudah mati, Soldier maupun bukan. Lagipula aku tak akan mati sebelum kau memberikan uang pembayaran terhadap jasaku.” Seru seseorang yang tiba-tiba melompat masuk kedalam gerbong. Yups, orang itu adalah seseorang yang ditunggu mereka berempat. Pemuda berambut pirang yang tadi sempat menabrak gadis penjual bunga. Dialah Cloud Strife, anggota Soldier kelas satu di Shin-Ra, atau lebih tepatnya mantan. Sekarang dia sudah keluar dari kesatuan dan menjadi buronan di beberapa tempat di Eastern Continent.
“Sialan! Kadang aku berharap kau mati saja. Semua yang kau bicarakan hanya mengenai uang tak ada yang lain. Apa kau tak sadar planet ini sekarat tolol.” Seru Barret yang lalu berpindah menuju ke gerbong penumpang. Wedge dan Biggs kemudian mengikutinya sementara itu Jessie masih diam disana dan setelah kedua rekannya yang lain menghilang dibalik pintu, dia mendekati Cloud yang masih berdiri didekat pintu barang dan menutup pintu itu.
“Aku masih belum mengucapkan terima kasih kepadamu.” Kata Jessie kepada Cloud. Pemuda ini mendekati Jessie yang kala itu masih menggunakan seragam teknisinya.
“Well, apa yang akan kau lakukan untukku Jessie? Tentu saja karena aku telah menyelamatkan nyawamu. Jika tidak mungkin kau masih terjepit di jeruji escalator di reaktor dan ikut dalam ledakan besar itu.” Sahut Cloud sambil mempermainkan rambut ikal Jessie yang bewarna coklat tua itu.
Saat Jessie masih dalam kegalauan, bibir Cloud tiba-tiba mengecup bibir Jessie. Gadis manis ini terkejut. “Cloud…kau…” dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Anggap saja ini adalah kencan kita. Anggap saja ini pembayaran dari usaha penyelamatanku. Menyenangkan kedua belah pihak bukan Jess…” potong Cloud sebelum Jessie sempat melanjutkan kata-katanya.
Bibir Cloud kembali mencium Jessie, hanya saja kali ini pemuda ini sudah berani lebih jauh. Tangannya menurunkan resleuting baju teknisi Jessie dan tangan satunya lagi membuai tengkuk Jessie dengan belaian lembut dan mesra. Dimata Jessie, Cloud adalah seorang pemuda yang tampan. Apalagi di daerah slum tempat dia tinggal bersama para pejuang Avalanche yang lainnya dia tidak menemukan pemuda yang lebih tampan dari seorang Cloud Strife.
Saat Jessie sedang terbuai oleh permainan bibir Cloud, dia tidak sadar kalau hampir seluruh pakaiannya sudah tanggal, kecuali bra-nya yang masih menempel ditubuhnya walau pengaitnya sudah lepas.
Saat Jessie membuka matanya dia melihat tubuh telanjangnya dengan terkejut dan berusaha untuk mendorong Cloud tetapi tenaganya tiba-tiba lemas karena gairah yang mengalahkan segala macam rasio Jessie.

“Pernahkan ada orang mengatakan kalau kau ini cantik? Karena kau memang cantik.” Rayu Cloud kepada Jessie sampai membuat wajah dara cantik ini memerah. Ditambah lagi dengan remasan mesra Cloud di kedua payudaranya yang berukuran 34C itu.
Belum cukup dengan itu, Cloud mengarahkan batang kemaluannya yang sedari tadi sudah berdiri tegak. Diarahkannya penisnya kearah bibir vagina Jessie yang sudah tidak tertutup apapun lagi. Bibir vagina Jessie sudah mulai ditumbuhi oleh bulu-bulu lembut dan jarang. Tubuh moleknya yang putih mulus sepertinya membuat Cloud tak tahan lagi menahan gejolak nafsunya terhadap gadis manis ini.
“Akhh…sakit…” jerit Jessie ketika batang kejantanan Cloud berhasil mengoyak selaput daranya. Selama ini walaupun Cloud sering merayunya, tetapi paling jauh hanya sebatas menciumnya dan tak pernah lebih seperti ini. Namun dalam hati Jessie menyukainya juga karena Cloud tampan dan juga tangguh.
Penis besar Cloud terus menerobos tanpa ampun kedalam liang kemaluan Jessie. Bibir vagina Jessie terlalu sempit sehingga tiap kali penis Cloud akan menerobos masuk kedalam liang kemaluannya, bibir vaginanya ikut melesak masuk dan mempersempit ruang terobos bagi penis Cloud yang sangat besar itu.
“Akhh…akhhhh…..akhh…sakit Cloud…akhhh…” Jerit Jessie lagi untuk yang kesekian kalinya tetapi jeritan itu langsung menghilang. Tubuh Jessie menegang, wajahnya mendongak keatas dengan raut muka menahan rasa sakit. Cloud telah memaksakan batang kemaluannya untuk menerobos paksa vagina Jessie yang masih perawan itu. Dalam sekali hentakan keras, seluruh batang kejantanan pemuda ini berhasil masuk seluruhnya kedalam lubang senggama Jessie. Selaput dara milik gadis cantik ini rusak parah seketika. Darah segar mengalir dari dalam dinding vaginanya dan mengalir keluar membasahi selangkangan kedua insan berlain jenis ini.
Dengan posisi berdiri dan menyandarkan tubuh Jessie di salah satu dinding gerbong barang, Cloud telah memerawani salah satu anggota Avalanche termuda yang juga salah satu dari yang tercantik.

“Cloud kau jahat. Sakit. Akhh…” Seru Jessie sembari berusaha mendorong tubuh Cloud. Sekarang dia merasakan selangkangannya sakit akibat desakan penis Cloud pada vaginanya. Dia bisa merasakan liang kemaluannya sudah penuh sesak oleh batang kemaluan Cloud yang sangat besar itu yang sekarang sedang menyodok-nyodok rahimnya.
“Akhh….akhhh…Cloud…” hanya berselang sebentar setelah gadis cantik ini protes, sekarang desahannya sudah mengandung raut kenikmatan didalamnya. Cloud tersenyum melihat tingkah Jessie yang sedang dia gagahi saat ini.

Kedua tangan Jessie sekarang tidak lagi berusaha mendorong Cloud untuk mundur tetapi malah mengaitkan keduanya di tengkuk Cloud dan begitu juga dengan kakinya yang sekarang mengapit pinggang Cloud. Cloud sendiri dengan bernafsunya masih memompakan batang penisnya ke vagina Jessie sekarang dengan intensitas yang lebih tinggi lebih cepat. Buah pelirnya sampai membentur-bentur bibir vagina Jessie karena Cloud menanamkan penisnya sedalam mungkin dalam tiap sodokannya.
Sepuluh menit kemudian Cloud menegang dan kedua tangannya yang sedari tadi memegangi paha dan pantat Jessie meremas kuat pantat dara cantik itu sampai memerah. “Arghh…Jessie….akhh…” Dan sperma Cloud-pun tumpah berhamburan didalam liang kemaluan Jessie. Saking banyaknya sperma yang Cloud semprotkan sampai-sampai cairan putih kental itu banyak yang meluber keluar. Cloud lalu mencium bibir Jessie sekali lagi, kali ini ciuman penuh dengan kemesraan karena nafsunya sudah tersalurkan.
Lima menit kemudian kereta berhenti di pemberhentian terakhir, sektor 4 distrik slum (daerah terbuang/kumuh).

Barret dan anggota Avalanche lainnya turun, begitu juga dengan Cloud. “Hei kau! Kita kembali ke markas. Ingat, jangan mengacau dan lekas ke markas! Aku tak mau menunggumu untuk kedua kalinya.” Seru Barret kepada Cloud yang nampaknya tak peduli dengan ucapan pria garang ini dan malah sibuk menggoda seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya di stasiun kecil itu. “Hei! Kau dengar aku kepala ayam?” Bentak Barret yang sudah kehilangan kesabarannya kepada Cloud. Cloud lalu berpaling padanya dan memberikan kode kalau dia akan segera kesana. Sekali lagi Barret mengumpatinya entah untuk yang keberapa kali dalam hari ini.
“Hei Jessie! Ada apa dengan kakimu? Apa kakimu masih sakit karena terjepit tadi? Kenapa langkahmu aneh begitu?” Tanya Barret kepada Jessie yang sejak turun dari kereta tidak dapat jalan dengan lurus.

Dara cantik itu tersipu malu dan menjawab sekenanya, “Iya, tadi belum sakit tetapi sekarang sakit.” Sahutnya sambil melirik kearah Cloud yang tak sadar dirinya diperhatikan.
Selain Cloud dan Jessie, tak ada yang tahu kalau sebab Jessie tidak dapat berjalan lurus bukan karena kakinya terkilir akibat terjepit di reaktor tadi tetapi karena waktu di gerbong barang dia telah diperawani oleh Cloud dengan penis besarnya itu. Bahkan beberapa kali sperma Cloud menetes dan mengalir dari dalam bibir vagina Jessie karena luber akibat Cloud terlampau banyak berejakulasi disana.
Lima belas menit kemudian setelah mereka berjalan kaki kearah barat dari stasiun kereta, tiba juga mereka di sektor 4 slum.
“Akhirnya sampai juga di rumah. Tak ada yang lebih nyaman daripada rumah sendiri. Benarkan Biggs?” kata Barret sambil menepuk pundak Biggs.
“Errr…yaa… begitulah.” Sahut Biggs gagap. Dalam hati, pemuda gemuk ini membayangkan sebuah kota yang lebih baik dari Midgar. Kota yang mendapatkan sinar matahari cukup dan udara bebas polusi tidak seperti daerah kumuh (slum) ini. Sebuah kota yang bernama Costa Del Sol.
Cloud datang belakangan bersama dengan Jessie. Di tengah perjalanan tadi, Cloud dan Jessie sempat bercumbu lagi didekat kaki reaktor sektor 4. Sekali lagi sperma Cloud membasahi vagina Jessie yang masih belum pulih dari hajaran penis Cloud saat di gerbong barang barusan.
Cloud menatap sektor 4 distrik slum dengan pandangan aneh. “Aku tak tahu bagaimana kau bis menghabiskan waktumu selama 5 tahun disini Jessie.” Kata Cloud kepada Jessie, tetapi dara cantik ini sudah berlalu didepannya sedari tadi dan tidak mendengar ucapan Cloud. Tepat didepannya adalah sebuah bar bernama Seventh Heaven (Surga Ketujuh) yang merupakan satu-satunya bar yang ada di daerah Slum ini.