Aku ingin memperkenalkan diriku kepada para pembaca cerita sex Dewasa tentang pengalamanku. Namaku Nadya. Aku adalah gadis keturunan chinese yang berkulit kuning langsat. Badanku tidak terlalu tinggi hanya sekitar 155 cm dan berat 45 cm. Payudaraku berukuran sedang, sekitar 34B. Usiaku sekarang 22 tahun dan aku tinggal di pinggiran kota Jakarta
Aku sebenarnya bukanlah wanita penggoda. Cuman aku sering mendengar dari teman-teman kuliahku bahwa aku termasuk cewek yang berpenampilan sexy dan sering membuat para cowok turun naik jakunnya. Terlebih aku suka memakai kaos longgar, sehingga jika aku menunduk sering terlihat gundukan payudaraku yang terbungkus bra hitam kesukaanku.
Di rumahku sendiri, setiap habis mandi, aku selalu hanya membungkus tubuhku menggunakan kimono mandi warna biru muda berbahan handuk. Seringkali karena habis tersiram air yang dingin, membuat puting susuku tercetak di balik kimono. Kamar mandiku sendiri terletak di ruang tamu, dan sering pada saat aku mandi, pacar ciciku datang sedang ngapelin ciciku. Walau aku tidak pernah berpikiran ngeres, tapi sering aku melihat pacar ciciku menelan ludah jika melihat aku habis mandi hanya berbalut kimono itu.
Ayahku adalah seorang penyalur TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri. Sering kali ada TKI baik pria maupun wanita menginap di rumah sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Hari Minggu kemarin papa baru saja membawa pulang 3 orang TKI pria berusia sekitar 20 tahunan yang kuketahui bernama Maman, Yadi, dan Mulyo. Mereka bertiga orang desa yang bertubuh kekar dan berkulit gelap. Mereka sedang menunggu akan berangkat ke Malaysia.
Pagi itu hari Senin, aku sendirian di rumah bersama ke 3 orang calon TKI itu. Mamaku sedang pergi ke Jakarta bersama papaku ada keperluan mendadak. Sementara ciciku pergi bersama pacarnya entah kemana.
Aku waktu itu habis beraerobik ria di rumah, dan kemudian ingin mandi. Seperti biasa kubawa saja kimono biruku ke kamar mandi. Dan setelah aku beberapa saat aku selesai mandi, maka kubalut tubuh telanjangku itu dengan kimonoku tanpa apa-apa lagi di baliknya.
Kemudian aku berjalan ke halaman belakang hendak menjemur pakaian dalam yang baru kupakai semalam untuk tidur. Kulihat para TKI itu sedang menikmati sarapan pagi. Mereka menyapaku ramah.
Kulihat mereka memandangiku saat aku memeras BH hitam dan celana dalam kuningku yang sexy itu. Sebenarnya aku risih juga dilihatin begitu, tapi aku pikir tanggung, sebentar lagi aku akan kekamar untuk ganti pakaian. Maka aku kemudian menjemur pakaian dalamku itu. Pada saat aku berjinjit untuk menaruh pakaian dalamku di jemuran, tak terasa kimonoku sedikit tertarik ke atas, padahal kimono itu hanya sepaha. Maka, tak elak lagi, bulu bulu vaginaku yang tidak tertutup itu sedikit kelihatan membuat mereka melotot.
Tapi aku tak menyadari hal itu, kemudian aku berbalik dan masuk ke kamar. Kamarku sendiri ada jendela besar ke halaman belakang. Aku ingat ada para TKI itu, maka korden aku tutup, namun rupanya tidak tertutup rapat dan masih bisa kelihatan dari halaman belakang.
Aku melepas kimonoku, dan mulai melotioni tubuh telanjangku ini. Aku tak sadar ada 3 pasang mata yang melotot memandangi tubuh telanjangku ini. Beberapa saat kemudian aku baru sadar saat melihat bayangan di cermin. Maka aku berteriak dan segera menutup payudara dan kemaluanku dengan tangan.
Ketiga TKI itu segera lari dan masuk ke kamarku yang memang tak pernah kukunci. Aku kaget melihat mereka bertiga masuk ke kamarku.
"Non, kami sudah melihat tubuh non yang mulus itu. Sebaiknya non tidak usah melawan karena di sini tidak ada siapa-siapa lagi " kata Mulyo cengengesan. Aku masih berusaha galak dan menyuruh mereka keluar.
Namun Maman dan Yadi segera maju dan memegangi tanganku. Kemudian aku mereka banting di ranjang. Aku kemudian berpikir daripada aku melawan malah mendapat celaka, maka lebih baik aku pasrah saja dan tidak melawan.
"Sabar-sabar, jangan pada main kasar gitu donk. Saya kan belum pernah gituan.. pelan2 kek" tegurku.
Mereka kemudian tidak lagi beringas, dan mendekatiku. Maman segera memelukku dan menciumi bibirku dengan ganas. Mula-mula aku berusaha menolak bibirnya yang bau itu, namun saat Yadi mulai menjilati payudaraku, dan Mulyo mulai mengelus-elus bibir vaginaku dengan tangannya yang kasar itu, aku mulai terangsang dan bibirku mulai membuka untuk membalas serbuan bibir Maman yang tangannya sibuk meremasi pantatku yang bulat itu.
Tanganku mulai meraba-raba celana mereka. Dan Yadi berinisiatif membuka celananya dan menyodorkan kontolnya yang lumayan besar itu ke tanganku. Aku agak kaget melihat kontol pria sebesar itu. Aku sudah sering melihat kontol milik pacar-pacarku namun tidak ada yang sebesar itu. Apalagi Maman dan Mulyo menyusul bugil. Ternyata kontol mereka begitu besar.
Aku sempat ketakutan, namun dengan halus, Mulyo memegang tanganku dan menaruhnya di batang penisnya. Akupun perlahan mulai mengelus penisnya. Maman melanjutkan menyusu di payudaraku yang montok itu.
Aku yang sudah makin terangsang, mulai bergantian menjilati batang penis Mulyo dan Yadi secara bergantian, sementara Maman kini mulai menjilati klitorisku yang memerah.
Tiba-tiba aku merasa ingin pipis dan akhirnya keluar cairan banyak dari vaginaku. Ketiga cowok itu segera saja berebut menjilati vaginaku sampai aku kegelian.
Yadi kemudian menelentangkan aku di ranjang. Aku merasa inilah saatnya aku akan kehilangan keperawananku. Saat Yadi menempelkan kepala kontolnya yang besar itu di bibir vaginaku aku sempat berusaha menolaknya. Namun dari belakang Mulyo mendorong Yadi sehingga kontolnya langsung amblas ke memekku. Aku menjerit kesakitan.
Namun Mulyo segera berinisiatif menjilati puting payudaraku sehingga aku kegelian. Yadi sendiri perlahan mulai menarik majukan kontolnya sehingga aku merasakan kegelian yang amat sangat di lubang vaginaku. Terasa kontolnya memenuhi lubang vaginaku.
Tiba-tiba sambil memelukku, Yadi menggulingkan aku sehingga aku berada di atasnya. Mulutnya segera menyerbu ke puting payudaraku yang menggantung bebas. Belum sempat aku berpikir tiba-tiba dari belakang Mulyo menyodokkan kontolnya yang besar itu ke dalam lubang anusku. Aku yang berteriak kesakitan, segera disumpal mulutku dengan kontol Maman samai aku nyaris muntah.
Kini dalam keadaan menelungkup, ketiga lubangku sudah dimasuki kontol yang berbeda. Namun aku merasakan sensasi yang luar biasa. Seluruh tubuhku serasa dilolosi. Aku mengalami orgasme sampai 3 kali.
Akhirnya aku merasa ingin orgasme lagi, dan bersamaan dengan orgasmeku, kurasakan Yadi menyemprotkan banyak sekali spermanya di dalam memekku. Kemudian aku jatuh lunglai di pelukan Yadi.
Mulyo kemudian segera menarikku duduk di pangkuannya sambil kontolnya masih menancap di lubang anusku. Dari belakang ia meremas-remas payudaraku yang berguncang-guncang. Maman yang belum klimaks, segera menyodokkan kontolnya ke dalam vaginaku yang nganggur itu.
Aku benar-benar sudah merasa kepayahan, hingga akhirnya aku merasa ingin keluar lagi. Tak lama kemudian aku benar-benar tak tahan lagi dan akhirnya aku menyemprotkan cairan orgasmeku yang kelima. Maman tak lama kemudian menyusul menyemprotkan maninya di dalam memekku.
Mulyo rupanya memang yang terkuat di antara mereka. Dia belum keluar, sehingga dia kemudian menunggingkan aku dan kontolnya pindah ke vaginaku. Dari belakang aku disodoknya sambil tangannya memeras-meras payudaraku.
15 menit kemudian dia akhirnya mencapai klimaks dan aku pun juga mencapai orgasmeku lagi. Kami berempat akhirnya lunglai di atas ranjang.
Kulihat jam, ternyata sudah hampir 2 jam kami melakukan pesta sex. Aku kemudian mengajak mereka untuk mandi bersama karena aku khawatir sebentar lagi papa mamaku pulang. Kemudian kami berempat mandi bersama. Di kamar mandi ketiga laki-laki itu selalu berebutan untuk menjamah tubuhku yang mulus ini.
Sungguh pengalaman ini tak terlupakan bagiku dan aku mulai mengerti nikmatnya sex sejak itu. Lain kali akan kuceritakan pengalamanku bersama tetanggaku.
Sejak peristiwa itu, aku merasa agak bersalah kepada pacarku, yang justru terhadapnya aku belum pernah berhubungan sex. Paling-paling hanya sebatas saling menjilat kemaluan sampai kami sama-sama klimaks.
Pagi itu, aku lupa hari apa, aku masih tertidur di ranjangku, yang kebetulan sekamar dengan orang tuaku. Kata orang tuaku sich, kami tidur seranjang untuk menghemat biaya AC yang cukup mahal itu. Saat itu aku memakai baju tidur satin warna pink yang tidak berlengan. Di dalamnya hanya mengenakan celana dalam warna kuning yang mini, sehingga kalau ada pria yang melihat pasti akan terangsang melihatnya.
Hari itu, mama dan papaku kembali sedang pergi ke Jakarta. Sedang ciciku sudah ke kantornya. Memang sudah kebiasaan di rumahku, jika ada orang di rumah, pintu depan tidak pernah terkunci, hanya dirapatkan saja.
Pagi itu, aku tidak tahu bahwa mamaku memanggil tetanggaku Benny yang tukang servis AC itu, untuk menservis AC di rumah. Benny adalah seorang cowok chinese yang wajahnya jauh dari tampan. Rambutnya agak botak. Tubuhnya tinggi. Usianya tak jauh beda dari ciciku. Katanya sich dia pernah naksir aku.
Pagi itu, sekitar jam 8, Benny datang ke rumahku membawa peralatan hendak menservis AC. Dia mengetuk pintu namun tak ada jawaban karena aku masih pulas tidur di kamar. Maka dia memberanikan diri, karena sudah kenal, masuk ke rumah.
Waktu dia mendekati kamarku, rupanya mamaku lupa merapatkan pintu kamar, hingga agak terbuka sedikit. Benny tanpa kusadari membuka pintu itu pelan-pelan. Aku saat itu sedang tertidur pulas tanpa ditutupi selimut. Baju tidurku juga sudah tersingkap sampai di pusar, sehingga celana dalamku yang berwarna kuning menyala itu terpampang bebas di hadapan Benny.
Aku merasa ada tangan yang meraba-raba pahaku. Namun aku saat itu sedang memimpikan bersetubuh dengan pacarku. Saat tangan itu membelai-belai selangkanganku yang masih tertutup CD itu, aku merasa bahwa itu adalah jilatan-jilatan dari pacarku.
Kurasakan tangan itu semakin berani merabai tubuhku. Diselipkan jarinya dibalik Cdku yang sudah mulai basah itu. Diraba-rabanya bibir vaginaku dari luar.
Tiba-tiba di halaman belakang ada suara genteng jatuh sehingga aku terkaget dan terbangun. Lebih kaget lagi saat kulihat Benny sedang mempermainkan vaginaku dengan jari-jarinya sambil cengegesan.
"Pagi Dya, sorry gua masuk tanpa permisi, abis ngga ada yang bukain pintu. Pas gua masuk eh gua liat lu lagi bobo dengan baju seksi gini." "Gua ngga tahan kalo liat lu begini"
Aku berusaha menolak Benny, tapi tangannya kuat mencengkeram bahuku sambil jari tangan yang satunya sibuk mengorek-ngorek isi vaginaku dari balik Cdku yang sudah basah itu.
Aku merasakan geli yang amat sangat, namun aku juga tak begitu rela disetubuhi oleh si Bandot ini.
"Sudah Ben.. gua ngga tahan nich.. entar ketahuan orang ngga enak " kataku sambil berusaha memegang tangannya. Namun dia tetap bertahan "Tenang aja Dya, bentar lagi pasti enak koq.. Ayo lah.. kita kan udah kenal lama, sekali-sekali kasih donk gua kesempatan.." kata Benny sambil terus mengorek-ngorek vaginaku.
Tak lama kemudian aku merasakan akan orgasme, sehingga pahaku menjepit kuat tangan Benny yang ada di selankanganku. Kira-kira 5 menit kemudian aku merasakan ada cairan yang keluar deras dari vaginaku. Aku jadi lemas karenanya dan telentang tak berdaya, pasrah membiarkan apa yang akan dilakukan Benny.
Benny kemudian menaikkan dasterku ke atas hingga lewat kepala dan membuangnya entah kemana. Dia tersenyum mesum melihat payudaraku yang terpampang bebas dengan putingnya yang merah kecoklatan itu.
Dia segera mengenyot payudara kananku, sambil lidahnya bermain-main di atas putingku. Tangan kanannya perlahan-lahan merosot Cdku hingga bugil. Kemudian jari-jarinya kembali ditusuk-tusukkan ke dalam vaginaku yang sudah becek itu. Mulutnya berganti-ganti mengenyot kedua payudaraku.
Aku yang sudah terangsang itu tak sadar mulai mengelus-elus kepala Benny yang botak itu seperti kekasihku. Padahal sebelumnya aku sama sekali tak kepengen disentuh Benny. Namun Benny sungguh sangat pandai menaikkan nafsuku.
Kemudian Benny melepas seluruh pakaiannya hingga terlihatlah kontolnya yang berukuran sekitar 18 cm dengan diameter 4 cm itu. Dia menyuruhku untuk menjilatnya.
Mulanya aku menolak karena kontol itu agak bau, namun dia menjejalkan kontolnya ke mulutku hingga aku mulai mengemutnya. Kepalaku digerakkannya maju mundur seperti sedang dientot oleh kontolnya.
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara. "Wah, lagi apa nich.. lagi asik ya.. ikutan donk.." Kami berdua menoleh. Rupanya Bang Man, sopir tetanggaku masuk ke dalam rumahku yang tak terkunci itu. "Sorry non, tadinya mau minjem tangga, eh ternyata lagi pada asyik.." Kata Bang Man.
Aku merasa kepalang basah, maka mendiamkan saja keadaanku yang sedang bugil bersama Benny. Kulihat Bang Man segera melepas celana panjang dan Cdnya. Kontol Bang Man sedikit lebih panjang dari Benny tapi lebih kurus. Selain itu warnanya juga hitam.
Kini kedua pria itu mendekatkan kontol mereka ke bibirku. Sambil terus mengocok kontol Benny yang sudah tegang itu, kontol Bang Man yang masih lemas itu mulai kujilat-jilat. Perlahan tapi pasti kontol itu mulai menegang, hingga akhirnya sama tegangnya seperti kontol Benny.
"Bang, aku udah ngga tahan.. langsung masukin aja ya.. Ben, elu masukin dari bawah aja dech.." kataku kepada keduanya.
Benny kemudian menelentang hingga kontolnya mengacung tegak ke atas. Perlahan aku naik ke atas tubuh Benny dan memasukkan kontolnya ke vaginaku.
Mula-mula agak sakit, namun Benny menghentakkan tubuhnya ke atas hingga bless.. Kontolnya langsung masuk ke dalam lubang memekku.
Aku perlahan-lahan mulai menaik turunkan tubuhku. Tak terlalu susah karena vaginaku sudah basah. Aku merasakan kegelian yang amat sangat saat kontol Benny keluar masuk tubuhku.
Tiba-tiba Bang Man memaksaku agak menelungkup. Kemudian.. bless.. Kurasakan kontolnya yang panjang itu menyodok lubang pantatku hingga aku agak terdongak ke atas. Bang Man segera menjambak rambutku dan menjadikannya sebagai pegangan.
Aku semakin kegelian karena payudaraku yang tergantung bebas itu dijilat-jilat Benny dari bawah. Sungguh sensasi yang luar biasa. Saat Bang Man menyodokkan kontolnya, saat itu pula kontol Benny tertanam makin dalam ke liang vaginaku. Aku sampai dibuat orgasme 2 kali.
15 menit kemudian mereka berganti posisi. Benny masih menelentang, namun dia mendapat jatah lubang duburku. Sementara itu dari depan, Bang Man menyodokkan batangnya kedalam vaginaku yang sudah becek. Bang Man menggenjot kontolnya maju mundur dengan cepat sambil tangannya berebutan dengan tangan Benny meremasi payudaraku.
Aku dibuat menggelinjang kesana kemari oleh terjangan dua cowok ini, hingga akhirnya aku tak tahan dan orgasme untuk entah yang keberapa.
Tak berapa lama kurasakan kontol Benny berdenyut-denyut, dan dia mencengkeram keras payudaraku. Dia kemudian menyemprotkan spermanya banyak sekali di dalam duburku.
![[imagetag]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjuUOzkXGVW3O3Y_1S-6AXUjKpHWg_DebjQdL_d_TdziBgegAbZzNSUPCGy4roszrg3t_409VD7Drjco7k9CbBt4BlI2aMTjIkOPtG5kVc3eY1ZvzlYJ630K1ZzYv8YbmRXD7bDJ0JZNc/s400/2.jpg)
Rupanya Bang Man masih perkasa. Tanpa mempedulikanku yang kecapean, dia segera memangkuku, sambil kontolnya naik turun menusuk vaginaku. Bibirnya yang hitam itu sibuk mengenyot-ngenyot puting susuku hingga aku kegelian.
Akhirnya aku kepengen orgasme lagi. " Bang.. aku mau keluar lagi.." "Tahan non, abang juga dah mau nyampe.. barengan aja "
Akhirnya kurasakan aku mulai mengejang, Bang Manpun juga demikian. Akhirnya pertahananku jebol. Dari vaginaku keluar cairan banyak sekali. Tak lama kurasakan Bang Man juga menyemprotkan banyak sekali air maninya ke dalam vaginaku.
Kami berdua kecapean hingga telentang di ranjang. Rupanya Benny sudah bangkit lagi. Hingga tanpa memberiku waktu istirahat, dia segera menancap vaginaku.
Hari itu, kami bertiga bermain sex sampai kira-kira hampir sore. Aku merasa sangat kelelahan sekali, namun juga sekaligus puas sekali. Ini adalah pengalamanku yang sangat hebat.
"Nadya, elu sungguh hebat, kapan-kapan kita main lagi ya" kata Benny sebelum pulang sambil menciumku. Dalam hati aku hanya bisa mendongkol. Enakan di dia, ngga enak di guanya, gerutuku dalam hati.
PROLOGUE
Aku dilahirkan dalam keluarga pengusaha. Papa dan Mamaku adalah pengusaha. Mereka membangun bisnis bersama dari nol. Usaha keluarga kami cukup menghasilkan. Kami mampu membeli rumah di daerah Kelapa Gading dan beberapa rumah peristirahatan di luar kota Jakarta. Keluarga kami terdiri dari Papaku, Hermawan berusia empat puluh tahun, Mamaku, Lenny berusia tiga puluh enam tahun dan aku, sekarang usiaku delapan belas tahun. Namaku Kenny, tapi sering dipanggil Koko.
Kami keturunan Tionghoa. Papaku tampak seperti pengusaha biasa, dengan rambut mulai membotak dan perut buncit. Mama, di lain pihak, adalah perempuan yang senang merawat diri. Tubuh Mama tidak pernah gendut. Ia tampak langsing dan memiliki postur yang tegap bagai peragawati. Walaupun dadanya tidak terlalu membusung, namun tetap saja terlihat indah dan mancung di balik pakaiannya. Kulit Mama yang putih dengan rambut panjang sebahu dan wajah yang runcing dan cantik, seringkali membuat teman-temanku membicarakan Mamaku sebagai obyek seks. Hal yang sering membuatku bertengkar dengan teman-temanku.
Tetapi jujur saja, aku mengagumi kecantikan Mamaku. Pernah juga aku masturbasi membayangkan tubuh Mamaku namun setelah itu aku merasa bersalah. Alasan aku pernah membayangkan tubuh Mama adalah kami punya kolam renang dan biasa berenang. Biasanya Mama memakai baju renang one piece. Dan karena biasa aku jadi tidak terlalu memikirkannya, namun suatu kali Mama memakai bikini kuning dan aku dapat melihat tubuh Mama yang hampir telanjang. Payudara Mama memang tidak besar, namun gundukkan teteknya cukup jelas terlihat dan bentuknya tegak bukan kendor, dengan puting menyembul di kain penutup dadanya. Perut Mama begitu rata dengan pinggang ramping, namun pantat sedikit besar. Tinggi badannya 160 cm, lebih pendek dariku yang bertinggi 170 cm. Kulitnya begitu putih bagai pualam. Tiba-tiba saja aku ngaceng dan akhirnya aku ke kamar mandi untuk masturbasi.
BAB SATU
KE DUKUN KARENA PUTUS ASA
Kisahku dimulai tahun lalu. Saat itu aku berusia tujuh belas tahun. Aku saat itu kelas 3 SMA. Berhubung aku sudah dewasa dan memiliki KTP, aku dihadiahkan mobil sedan yang sering kupakai untuk sekolah maupun jalan-jalan.
Pada saat itu, usaha Papa dan Mama mengalami kemunduran, kemunduran ini mulai semenjak tiga tahun belakangan. Kami tertipu ratusan juta rupiah. Selain itu, banyak juga rekan bisnis yang memilih untuk berbisnis dengan saingan kami. Juga ada investasi yang tidak menguntungkan, maka makin lama, keuangan kami mulai menipis. Bahkan dua rumah peristirahatan kamipun dijual untuk menutupi hutang-hutang.
Segala hal telah dicoba, mulai dengan menawarkan discount ke rekan bisnis ataupun customer, berhutang ke bank untuk ditanam sebagai modal (yang membuat hutang semakin banyak) dan bahkan pergi ke orang pintar untuk meminta bantuan. Namun semuanya tidak berhasil mengangkat perekonomian keluarga kami.
Suatu hari, teman dekat Mamaku datang berkunjung. Mereka asyik berbincang ngalor ngidul. Akhirnya sampai pada topic keuangan. Teman Mamaku itu juga memiliki bisnis keluarga yang dibangun bersama suaminya. Mama bertanya kepada temannya mengenai kiat mereka sehingga dalam jaman susah begini usahanya makin maju.
Sungguh terperanjat Mama ketika tahu, bahwa temannya itu pergi ke dukun di luar kota. Mulanya Mama tidak percaya, namun temannya tetap bersikukuh bahwa semua karena dukun itu. Akhirnya setelah bicara panjang lebar, Mama menjadi yakin dan ingin mencoba dukun itu. Anehnya, teman Mama berkata,
“Tetapi, Ci. Ada syaratnya.”
“Syarat? Apa syaratnya?”
“Cici harus berangkat berdua ke dukun itu. Harus membawa teman lelaki, tetapi tidak boleh membawa suami.”
“Loh, kenapa?”
“Itu memang syaratnya. Pokoknya cici percaya saja. Saya sudah membuktikan sendiri. Dan segala perkataan dukun itu telah terbukti.”
“Terus harus sama siapa?”
“Pokoknya harus lelaki dewasa yang bukan suami sendiri. Cici kan punya sopir? Saya sarankan bawa sopir aja. Kan sekalian ada yang ngatar juga. Nah, begitu sampai, Cici dan supir Cici harus menghadap dukun itu.”
Tak lama kemudian teman Mama pulang setelah memberitahukan alamat dukun itu dengan peta buram untuk mencapai ke sana. Malamnya, Mama dan Papa berembuk. Papa yang juga sudah tak berdaya menghadapi keadaan akhirnya setuju.
“Tapi, Ma,” kata Papa,” Papa ga mau Mama dianter sopir ke tempat dukun itu di luar kota. Papa ga merasa nyaman.”
“Loh, Pak Mo itu kan sudah lama jadi supir kita? Hampir sepuluh tahun.”
“Papa tetap ga setuju.”
“Tapi syaratnya kan harus ada lelaki yang ngantar Mama.”
“Begini saja, deh. Si Koko itu kan sudah besar, lagian dia juga sudah bisa bawa mobil. Mending kalian berdua saja yang pergi. Papa merasa kalau Koko yang nganter, maka lebih aman dan nyaman. Baik bagi Mama maupun bagi Papa.”
Akhirnya mereka menyetujui hal ini. Aku jadi sopirnya Mama. Pada mulanya aku menolak, berhubung akhir minggu aku ada kencan dengan pacarku. Tapi Papa malah marah dan mengatakan aku anak durhaka yang tak mau menolong keluarga. Akhirnya aku terpaksa menurut juga dengan hati penuh rasa sebal dan marah.
Malam Sabtu kami berangkat sore. Perjalanan ke tempat dukun itu memakan waktu sekitar lima jam. Sekitar pukul sepuluh kami sampai di tempat itu. Tampak banyak pengunjung. Ada sekitar dua puluhan pasangan menunggu. Setelah kamipun ada sekitar lima atau enam pasangan yang datang.
Dari kesemua pasien dukun itu, tampak sepertinya adalah majikan dan sopir. Namun ada juga yang bagaikan suami isteri yang sepantaran. Mungkin juga supir tapi ganteng, entahlah. Mama dan aku berpandangan. Jangan-jangan harus dengan sopir. Wah bisa berabe nih. Namun karena nasi sudah menjadi bubur, maka kami tetap menunggu giliran kami dipanggil dukun itu.
Akhirnya kami dipanggil masuk kamar dukun itu. Dukun itu tampak sedikit terkejut. Kami bersila di depannya dengan tempat kemenyan yang berasap di antara kami dan dukun itu. Setelah jeda yang agak lama ia berkata,
“Maaf, Mama. Mama membawa siapa?”
“Ini anak saya, Ki.”
Dukun itu mengangguk-angguk dan terdiam berfikir selama beberapa saat. Akhirnya ia berkata,
“Biasanya yang datang adalah pasien dengan sopirnya atau temannya. Tapi Mama bawa anak sendiri. Bagus, bagus.”
“Apanya yang bagus, dok?” tanyaku penasaran. Tapi dukun itu tidak menjawab malah menerawang jauh seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Akhirnya ia berkata lagi,
“Ada keinginan apa, sehingga Mama datang ke sini?”
Mamaku menjawab,
“Begini, Ki. Kami sekeluarga memiliki usaha yang besar. Tetapi akhir-akhir ini terus merugi. Kami sudah melakukan segalanya untuk memperbaiki usaha kami, tapi selalu gagal. Nah, menurut teman saya, Aki ini katanya pintar sekali dan manjur. Maka kami ke sini minta bantuan Aki agar usaha kami sukses.”
Dukun itu manggut-manggut. Setelah terdiam (lagi) beberapa saat ia berkata,
“Bisa. Bisa. Tapi, syarat untuk mencapai keinginan ini berat sekali. Kalian harus bersumpah kepada Aki untuk melakukan syaratnya. Bila syarat ini tidak dilakukan, maka hasilnya adalah harta kalian akan habis sekejap dan kalian akan jadi miskin.”
“Syarat apa itu, Ki? Kalau tidak berat maka kami pasti akan melakukannya,” kata Mamaku.
“Syarat ini jelas berat. Namun, Aki tidak boleh membicarakan syarat sebelum kalian bersumpah dahulu. Ini adalah keharusan dari ilmu yang Aki miliki.”
“Maksudnya, kami harus bersumpah tanpa tahu syaratnya apa?” Tanya Mama.
“Betul.”
“Gimana, ya Ki? Kami harus tahu dulu agar kami bisa menentukan bisa atau tidaknya. Contoh, bila syaratnya membunuh orang, tentu kami tidak akan melakukannya.”
“tidak perlu membunuh. Syarat ini tidak akan menyakiti orang lain malahan akan memberikan kebaikan pada diri sendiri.”
“Aki tidak akan bilang syaratnya sebelum kami bersumpah?”
Dukun itu mengangguk-angguk lagi.
Mama menatapku dan bertanya,
“Gimana?”
“Koko sih setuju aja bila tidak harus menyakiti orang lain. Kan semua demi keluarga.”
Akhirnya kami setuju. Dan ritual sumpah itu dilakukan. Kami bersumpah sendiri-sendiri dengan sang dukun memegang jidat kami dan mengasapi dengan kemenyan. Anehnya, aku hanya bersumpah akan melakukan satu syarat, sementara Mama harus bersumpah melakukan dua syarat. Barulah kemudian ia kembali duduk di tempat semula dan berkata,
“Perlu diingat bahwa kalian sudah bersumpah. Dan dalam sumpah itu, kalian juga menerima bahwa apabila menolak melakukan syarat-syarat, maka harta kalian akan hilang dari muka bumi.”
Kami berdua mengangguk.
“Sebenarnya syaratnya adalah kalian harus melakukan ritual dalam sebulan tiga kali, untuk membuat jin-jin membantu kalian mengumpulkan uang. Bila ritual ini tidak dijalankan, maka jin-jin itu akan menghabiskan uang kalian, alias akan merugikan kalian sendiri. Ritual itu harus dilakukan kalian berdua sebagai pasangan yang datang kemari minta bantuan.”
Sang dukun berdehem dan kemudian melanjutkan pembicaraan,
“Ritual ini adalah ritual seks.”
“Apaaaa?”
Kami berdua kaget setengah mati. Ritual seks? Mama dan anak?”
“Tapi, Ki. Kami Mama dan anak!” kata Mamaku.
“Justru disitulah kuncinya. Selama ini, Aki menganjurkan ritual dengan lelaki yang bukan suami. Demikian tuntutan ilmu itu. Berselingkuh dengan lelaki lain membuat jin-jin itu akan datang menonton dan bekerja kepada pasangan tidak sah itu. Sedangkan bila Mama dengan anak melakukan ritual, dapat dipastikan jin-jin yang datang akan lebih banyak. Karena selain berselingkuh itu adalah sesuatu yang disukai jin-jin itu, maka berselingkuh dengan anak sendiri adalah hal yang paling disukai mereka. Dipastikan akan lebih banyak Jin yang datang.”
“Tapi…… tapi………..”
Sang Dukun memotong,
“Yang perlu diingat sumpah si lelaki hanya satu syarat, tetapi sumpah si perempuan ada 2 syarat. Yang satu adalah melakukan ritual dengan pasangan yang di bawa ke sini, yang satu adalah untuk menghentikan hubungan seksual dengan suami sendiri. Ini adalah kesenangan Jin yang lain, melihat bahwa si suami tidak mendapatkan tubuh isterinya, sementara isterinya memberikan diri kepada orang lain.”
Mama tambah membelalakan matanya. Seks dengan anak sudah parah, kini tidak boleh berhubungan seks dengan suaminya. Rupanya dukun ini adalah dukun ilmu hitam. Ada rasa penyesalan yang terlihat di wajah Mama. Aku pun kaget jadinya.
Dukun ini berwajah angker dan berwibawa. Mama tidak berani menolak melainkan hanya mengangguk saja untuk memperlihatkan persetujuan. Akhirnya Mama membayar mahar sekitar sepuluh juta rupiah lalu kami pergi dari situ.
Sepanjang jalan Mama ngomel-ngomel. Untung saja Pak Mo, supir kami tidak ikut. Pak Mo itu sudah tua dan tampangnya juga jelek. Mama mana nafsu dengan lelaki itu. Aku sepanjang jalan terdiam karena ketika mendengar syarat itu aku terkejut seperti Mama, namun aku tidak semarah Mama, melainkan aku menjadi membayangkan tubuh Mama saat memakai bikini dan kontolku langsung bangun. Sungguh tak percaya aku mendengarnya. Aku malahan Bahagia. Moga-moga saja Mama mau melakukannya ketika sampai rumah.
Namun, dalam perjalanan kami itu, Mama menekankan bahwa kami tidak akan berhubungan seks. Dukun itu memang gila. Masa harus begituan dengan anak sendiri? Aku menjadi kecewa dan sedih, namun aku berusaha tidak menunjukkannya.
Kami sampai di Jakarta keesokan paginya. Aku langsung tidur karena letih dan begitu juga Mama. Sampai beberapa minggu hal ini tidak pernah kami bicarakan.
BAB DUA
KARENA TERPAKSA
Tiga minggu kemudian, saat itu malam hari. Mama mengetuk pintu kamarku dan masuk ke kamarku. Mama memakai daster yang panjang ke lutut namun bagian atasnya merupakan gaun berleher rendah dengan tali daster yang tipis memeluk bahunya. Sayangnya Mama pakai BH, dapat kulihat tali BHnya yang ada di bawah tali dasternya dan sedikit cup BH yang menyembul karena leher gaun yang cukup rendah. Aku sedang nonton TV sambil tiduran dengan hanya memakai celana boxer, karena memang seperti itu kebiasaanku.
“Ko, kamu inget dukun yang pernah kita datangi bersama-sama waktu itu?”
“Oh, yang gila itu?” kataku sambil terus menonton TV untuk menunjukkan aku tidak terlalu memikirkan hal itu, padahal selama ini aku selalu masturbasi membayangkan Mama semenjak pulang dari dukun itu.
“Begini, Ko. kamu inget ga, apa kata dukun itu bila kita tidak melakukan ritual?”
Aku belagak mendengus tak percaya, padahal aku ingat sekali semua perkataan dukun itu. Dukun itu bilang, kalau kami berdua tidak juga berhubungan seks, maka keluarga kami akan bangkrut. Aku diam-diam berharap sekali bahwa usaha keluarga kami merugi agar aku bisa tidur dengan Mama.
“Dukun itu benar, Jun. tiga minggu ini, usaha kita rugi terus. hampir 1 M melayang selama tiga minggu ini. Dan bila ini terus terjadi, kita terpaksa harus menjual hampir seluruh harta kita.”
“Apa?” aku berkata dengan memasang muka sedih, kecewa, kaget dan lain-lain. Namun hatiku berbunga-bunga. Pucuk dicinta ulam tiba, kata orang tua. Dalam hati aku begitu bahagianya hingga aku susah payah menahan senyum di wajahku. Rasanya ingin berteriak. Apakah ini berarti Mamaku mengajakku ML?
Mama mendehem sekali. Tampak ia gugup.
“Nah, Mama dan Papa tak pernah menyimpan rahasia. Dulu sewaktu pulang, Papamu telah Mama beritahu tentang dukun ini. Maka, sekarangpun Papamu tahu bahwa kita merugi karena ulah sumpah kita sendiri.”
“Terus?” dalam hati aku berteriak kegirangan. Tampaknya, harapanku akan segera terwujud.
“Mama dan Papa sepakat untuk mengikuti ritual ini selama sebulan ini. Terus kita lihat apakah ada perubahan? Bila tidak ada, maka kami berdua mohon agar kamu melupakan semua ini dan memaafkan kami berdua.”
“Bila ada perubahan dan usaha kita untung?”
Mama hanya menggeleng,
“Kita lihat saja nanti.”
Kemudian Mama menghampiriku. Aku deg-degan sekali. Mama menarik boxerku sehingga lepas. Kaget juga ia ketika melihat kontolku yang besar sudah tegak berdiri akibat pembicaraan ini. Terlihat di raut mukanya bahwa ia kaget.
“Mama agak bingung bagaimana seharusnya kita melakukannya. Tapi Mama berpendapat, kita tidak boleh melakukan hubungan seksual dengan percintaan, karena kita Mama dan anak.”
“Maksud Mama?”
“Kita tidak perlu ciuman, buka seluruh pakaian dan lain-lain seperti sepasang kekasih. Mama tetap akan pakai daster. Kamu tidak boleh memegang Mama. Biar Mama di atas saja. Kamu diam saja di bawah.”
Maka aku berbaring diam. Mamaku menekan kontolku sampai menempel di perutku dengan tangan kirinya, lalu ia menduduki kontolku. Ternyata di balik daster Mama, tidak ada celana dalam sehingga batang kontolku merasakan bibir memek Mama menekan di batang kontolku.
“Kemaluan perempuan harus basah dulu. Jadi, mama akan gesek-gesek sebentar sampai kemaluan Mama basah, lalu kita akan melanjutkan ke ritual.”
Lalu Mama menopang tubuhnya dengan memegang dadaku, kemudian ia mulai menggesekkan memeknya di batang kontolku. Aku dapat merasakan bibir memeknya membuka dan kontolku kini dijepit bibir itu, sementara bagian bawah batang kontolku menekan bagian dalam memek Mama, tepatnya dinding di mana labium minoranya terletak.
Lama kelamaan keluar cairan pelumas. Aku dapat merasakan memek Mama perlahan mulai lembap dan licin lalu basah karena lendir yang keluar dari memeknya. Selama proses ini Mama memejamkan matanya. Akhirnya setelah beberapa menit, selangkangan Mama dan batang kontolku sudah licin karena lendir Mama.
Pengalaman ini terus kuingat sepanjang hidupku. Walaupun Mama tidak membuka pakaiannya, namun aku merasakan sensualitas yang sangat tinggi menguasai tubuhku. Saat vagina Mama sudah basah dan membasahi batang kontolku, aku dapat mencium bau badan Mamaku yang perlahan memasuki hidungku. Selain itu, tubuh Mama hari itu wangi karena tampaknya baru saja mandi. Jadi, aku dapat mencium wangi sabun dan juga wangi kemaluan Mamaku tercampur di udara.
Setelah yakin bahwa memeknya telah licin dan siap untuk dimasuki penisku, Mama berlutut sebentar, tangannya memegang kontolku dan diacungkan ke atas, lalu ia memposisikan kontolku di depan lubang memeknya. Setelah posisinya pas, maka ia duduk perlahan di kontolku.
Nikmatnya merasakan kontolku perlahan menembus memek Mama. Pertama-tama lingkar luar lubang vagina Mama dilewati oleh kepala kontolku dengan susah payah. Untuk beberapa saat ujung penisku tidak berhasil masuk lubang kecil itu, lalu plop! Tiba-tiba kepala kontolku sudah masuk ke dalam liang senggama Mama. Lubang memek Mama sempit sekali, kepala kontolku bagai sedang dijepit tabung silinder yang sempit. Mama mendesah bagai sedang makan cabe. Lalu perlahan menurunkan tubuhnya lagi sampai tiga perempat kontolku menggeleser lebih jauh dalam lubang kencingnya itu. Namun, tiba-tba saja gerakan Mama berhenti karena kontolku menancap di lingkaran lubang masuk ke rahim milik Mama.
“Punya kamu besar dan panjang. Belum masuk semua udah ada di ujung rahim Mama,” kata Mama dengan nafas tersengal. Sementara itu, memek Mama berdenyut-denyut, dan menjepit kontolku begitu kuatnya. Aku merasa linu di lututku dan aku mengerang nikmat sekali walaupun kontolku berasa sedikit sakit karena sempitnya memek Mamaku.
Desahan Mama makin jelas, lalu tiba-tiba Mama menghempaskan tubuhnya ke bawah sehingga kini kontolku ambles ke dalam liang persenggamaan Mamaku. Aku dapat merasakan kepala kontolku melewati lubang masuk rahim Mama dan kini kepala kontolku dan sedikit bagian batang kontolku sudah ada di dalam rahim Mama.
Mama melenguh kecil,
“Uuuuuuuh………………. Belum pernah ada yang masuk sejauh ini………… tahan sebentar, ya………”
Mata Mama terpejam erat. Wajahnya meringis. Nafas Mama memburu. Sementara itu, Aku menjadi serba salah. Ingin rasanya kupeluk Mama lalu kuentot dengan buas tubuhnya, namun aku takut dimarahi. Kepalaku pusing menahan birahi ini. Dinding vagina Mama yang halus dan basah itu begitu kuat menjepit kontolku lagi lubang itu seakan mengenyot batangku karena membuka dan menutup seiring irama nafas Mama. Beberapa saat kemudian barulah Mama mulai menaik turunkan pantatnya. Mamaku mulai mengentoti aku dengan perlahan-lahan.
Kedua tanganku meremas seprai, sementara mataku berusaha melihat selangkangan kami berdua, namun daster Mama menghalangi. Kupandangi wajah Mama yang cantik itu. Dahi Mama mengerut seakan menahan sakit dan matanya terpejam rapat. Nafasnya yang mulai memburu mengeluarkan suara desahan nafas yang ditahan. Semakin lama nafas Mama semakin cepat dan hembusannya makin terasa di wajahku. Nafas Mama begitu segar dalam indera penciumanku.
Memek Mama masih mengocoki burungku. Selangkanganku kini sudah basah oleh lendir vagina Mamaku. Bau tubuh Mama yang menguar dari dalam kemaluannya menjadi makin kuat, mengalahkan wangi sabun yang merebak dari tubuhnya. Bau tubuh Mama yang sedang birahi, Bau yang Belum pernah kucium sebelum malam ini, karena selama ini Mama selalu memakai parfum mahal, sehingga aku tidak pernah tahu bau tubuh Mama yang sebenarnya.
Aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan. Kontolku yang tadinya perjaka kini sudah mengalami hubungan seks dengan perempuan. Memek Mamaku menyedot-nyedot kontolku, mengirimkan sensasi sensual yang menjalar dari burungku hingga ke seluruh ujung tubuhku. Aku seakan berada di suatu tempat fantasi yang indah, bukan lagi di bumi. Suatu perasaan yang begitu nikmatnya sehingga barulah aku setuju dengan orang-orang bahwa ngentot itu adalah pekerjaan yang paling enak dilakukan.
Makin lama pantat Mama makin cepat digoyang. Selangkangan Mama menumbuki selangkanganku dengan bunyi yang terdengar makin keras. Mulut Mama mulai membuka dan desahan mulutnya mulai berubah menjadi erangan.
“aaaaaaahhhhhhhhhhhh………….. aaaaaaaaarhhhhh…………. Aaaaaaaaaaaahhh……..”
Tiba-tiba Mama merebahkan diri di tubuhku dengan mata masih terpejam. Kedua tangannya memeluk pundakku dari luar kedua tanganku, sehingga menjepit kedua tanganku di samping tubuhku dengan telapak tangan mengarah kedepan sehingga ia memegang pundakku dari belakang. Dapat kurasakan kedua payudara Mama menekan dadaku dari balik daster dan BHnya. Aku tidak tahu kekenyalan yang kurasakan apakah karena busa BH ataukah karena tetek itu sendiri. Maklum, inilah pertama kalinya aku ngentot sehingga masih buta segala sesuatunya.
Bau tubuh Mama yang begitu erotis dan sensual membuatku gila, Aku ingin sekali merengkuh tubuh Mama dan balas mengentotinya dengan liar. Aku pikir karena Mama sudah memelukku, maka akupun tak apa memeluknya. Oleh Karena itu, ku peluk Mama dengan telapak tanganku memegang pantatnya.
Ketika aku mulai meremasi pantat Mama, Mama kurasakan kaget karena menarik nafas tiba-tiba. Kupikir ia akan marah, namun ternyata ia melanjutkan erangannya.
“Yeeeeaaaaaaaaaaah…… aaaaaaaaaaaaaahhhhh………. Ahhhhhhhhhhhh………..”
Pipi kami berdua kini menempel. Pelukan Mama makin erat saja, dan selangkangan kami kini sudah basah kuyup oleh cairan vagina Mama. Suara selangkangan kami yang beradu begitu cepatnya dank eras memenuhi kamar tidurku.
“plokplokplokplokplok……..”
Ditingkahi erangan Mama yang terus menerus mengatakan ‘yeah’ dan ‘ah’ diulang-ulang. Aku juga menjadi ikut terbawa suasana. Aku memberanikan diri mengerang juga.
“aaaaahhhhhh….. ahhhhhhhhhhhhhhh…… maaaa…………. Aaaaaaaaaaaahhhhhh……… Maaaa……”
Sengaja kupanggil Mama disela-sela eranganku karena hal ini membuat aku makin bernafsu. Dengan memanggil Mama, maka tersirat bahwa aku menyadari bahwa aku sedang bersetubuh dengan Mamaku dan aku menyukai bersenggama dengan Mamaku. Entah apakah Mama menyadarinya…
Namun reaksi Mama hanya terus mengerang, namun pipinya kini diusap-usapkan ke pipiku. Sementara pelukan Mama kurasa kini sudah erat sekali. Pantat Mamapun kini digerakkan naik turun begitu cepat dan keras, untungnya spring bed ku mahal sehingga mengikuti gerakan tubuh kami sehingga aku tidak merasa sakit.
Tiba-tiba Mama menekan pantatnya dalam-dalam sambil memeluk erat sekali. Pipinya pun ditekan keras-keras juga di pipiku. Dan kini Mama tidak mengerang, melainkan berteriak keras-keras,
“Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh………………..”
Kurasakan selangkangannya dan terutama dinding memeknya bergetar bagaikan tubuh orang yang kedinginan sambil menjepit kontolku erat-erat. Kejadian berikutnya berlangsung begitu cepat. Aku tak kuasa menahan birahi yang sedari tadi coba kutahan-tahan. Rasanya begitu nikmat dijepit memeknya yang hangat dan licin itu. Entah bagaimana, naluriku yang mengambil alih, aku lepas kedua tangan dari pantat Mama, lalu kupeluk tubuhnya erat-erat, kemudian aku putar badan, bagaikan pegulat professional sehingga kini aku yang ada di atas tubuh Mama. Mama masih orgasme namun membalas dengan merangkulku dengan satu tangan mendekap belakang kepalaku sementara satu tangan memeluk bahuku, dan kedua kakinya kini merangkul bagian bawah tubuhku dengan kedua tumit kaki ditekan ke pantatku.
Setelah Mama kutindih, dengan secepat mungkin dan sekuat mungkin aku kocok lubang meki Mama. Kusedot leher Mama dengan mulutku pula. Mama masih mengerang dengan keras dan memelukku erat-erat. Kulit leher Mama begitu halus di mulutku. Kucupang leher itu dengan mengenyotinya keras-keras. Sementara Memek Mama yang sempit itu kuhujami berkali-kali sekuatnya. Akhirnya aku sampai juga. Kutumpahkan maniku di dalam rahim Mama.
Kami terdiam beberapa lama. Lalu tanpa bicara, Mama mendorong tubuhku sehingga tak lagi menindihnya, lalu ia pergi ngeloyor keluar. Di antara perasaan kecewaku, ada perasaan Bahagia dan puas juga. Akhirnya, pikirku. Lalu aku tertidur.
BAB TIGA
SEKS TANPA CINTA
Keesokan harinya, sarapan pagi dengan kedua orangtuaku menjadi canggung. Kami bertiga tidak banyak bercakap-cakap seperti biasanya. Mama dan Papa hanya berbicara seperlunya saja. Aku sendiri malah hanya terdiam saja sambil mengunyah. Kami bertiga tahu apa yang terjadi tadi malam, sehingga masing-masing terbelenggu dengan fakta bahwa Mama dan anak tadi malam baru saja melakukan perhubungan yang tabu.
Papa pergi bekerja, sementara Mama menyMamakkan diri di dapur untuk cuci piring dan lainnya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sehingga memutuskan untuk sekolah tanpa berbicara apa-apa lagi. Hubungan keluarga kami sekarang sudah berbeda dan tidak dapat dirubah lagi. Entah aku ini senang atau tidak, namun kini, tiap kali aku lihat Mama maka aku pasti ngaceng.
Ketika hari makin cepat berlalu, aku jadi semakin kecewa. Karena Mamaku tidak pernah lagi datang ke kamarku untuk begituan. Apakah dukun itu gagal? Pikirku. Apakah Papa masih merugi walaupun aku dan Mama telah melakukan ritual? Aku menjadi sangat sedih ketika kulihat pada bulan ini, tinggal tersisa dua hari lagi. Malam ini akan terlihat apakah Mama akan meneruskan ritual itu, karena sesuai pesanan pak dukun, kami harus melakukannya tiga kali dalam sebulan.
Hari telah malam dan menunjukkan pukul sepuluh. Aku duduk di kamar dengan hanya memakai celana boxer saja. Jantungku berdetak kacau menunggu Mama. Di satu pihak aku berharap sangat Mama akan datang, di lain pihak aku ketakutan bila Mama tidak datang hari ini.
Tiba-tiba saja pintu perlahan terbuka, dan Mama masuk ke dalam kamar dengan memakai daster yang sama. Aku merasa lega sekali. Perasaanku berbunga-bunga dan perlahan burungku mulai mengeras. Aku menanti-nanti dengan jantung yang berdebar-debar ketika Mama naik ke tempat tidur pelan-pelan tanpa mengeluarkan suara, matanya tak pernah menatap mataku, lalu ia memelorotkan celanaku sampai lepas dan menduduki kontolku seperti sebelumnya. Hanya saja, saat ini aku sedang duduk di tempat tidur dan bukan tiduran seperti sebelumnya.
Kini posisinya Mama menduduki kedua pahaku dan kemaluannya menempel di batang kontolku yang kini mengacung ke atas terjepit antara memek Mama dan perutku sendiri, lalu Mama memeluk kepalaku sehingga jatuh di pundaknya. Namun aku dapat melihat bahwa kini teteknya tidak ditutupi BH sehingga aku menjadi girang tak terkira. Apalagi saat dadaku merasakan tetek Mama yang hanya berlapiskan daster untuk pertama kalinya. Tetek Mama begitu empuk dan kenyal dengan puting yang menonjol bagaikan pensil.
Mama tidak bau sabun. Tampaknya ia tidak mandi sebelum ke sini seperti sebelumnya, tapi aku tidak kecewa. Malah aku senang jadinya. Aroma memek Mama yang pernah kucium sedikit tercium dari ketiak Mama. Mama mulai menggesekkan kemaluannya di batang kontolku. Namun, kali ini gesekkannya lebih cepat dan nafas Mama pun kali ini memburu lebih cepat dibandingkan sebelumnya dan lagi pelukan Mama begitu eratnya. Akupun memeluk badan Mama dan Mama tampaknya tidak marah.
Apakah Mama sudah horny duluan? Pikirku dalam hati. Ada kemungkinan begitu, karena aku ingat bahwa dukun bilang Mama hanya boleh bersenggama denganku, sementara sudah duapuluh hari yang lalu kami berdua melakukan hubungan seksual. Kemungkinan selama ini Mama seringkali berhubungan seks dengan Papa. Aku pun kalau menjadi Papa akan selalu ingin berhubungan seks dengan isteri secantik Mama.
Tak lama memek Mama sudah basah sekali. Kemudian Mama melepaskan pelukannya, lalu sedikit menaikan pantat, memegang kontolku dan akhirnya memasukkan memeknya ke kontolku yang sudah tegang dari tadi hingga kepala kontolku memasuki liang senggamanya. Mama lalu menaruh kedua tangannya di pundakku lalu perlahan-lahan merendahkan tubuhnya sehingga perlahan memeknya membungkus kontolku.
Sepanjang perjalanan masuknya kontolku, Mama memejamkan matanya dan melenguh,
“oooooohhhhhh…………. Yeaaaaaahhhhhhhhhh……..”
“Maaaamaaaaaaahhhhhhh…..” kataku tak mau kalah,” yeeeaaaaaaah…… Maaaaa……….”
Ketika kontolku sampai lagi di ujung rahimnya, Mama melingkarkan tangannya di leherku dan dengan satu tangan mendekap kepalaku. Lalu tiba-tiba pantatnya dihenyakkan ke bawah sehingga kontolku menghujam masuk rahimnya secara cepat.
Reaksiku adalah memeluk Mama erat-erat karena kaget dan sedikit sakit. Rangkulan Mamapun juga makin erat. Mama mengerang-ngerang dan aku mendesah-desah merasakan sensasi kontolku yang dMamangkus dinding memek Mama sedang dipijat-pijat dinding memek itu.
Lalu Mama mulai menggoyang pantatnya. Aku merasakan nikmat sekali. Apalagi kini kami dalam posisi duduk dan berpelukan. Rasanya kami adalah dua pasang kekasih. Kuingat Mama tidak mau berciuman denganku, namun aku tak tahan dengan keintiman tanpa cinta ini. Aku ingin sekali menciumi tubuh Mamaku. Akhirnya aku masa bodo dan mulai mengenyot pundak Mama yang telanjang.
Mama mulai mendesis-desis seperti kepedesan. Aku kini menjilati pundak Mama dan mengarah ke lehernya. Kukecupi dan kujilati leher Mama yang halus. Wajahku terbenam di lehernya, rambut Mama menutupi kepalaku. Wangi shampoo Mama dan bau tubuh Mama bercampur di hidungku. Ini adalah bau surgawi, pikirku dalam hati. Mulutku tidak pernah tinggal diam. Leher Mama sudah habis aku ciumi, jilati dan kenyoti. Mama makin keras mendesahnya. Semakin lama Mama mempercepat goyangannya pula.
Kedua tanganku kugerakkan ke bawah sehingga meremas kedua pantat Mama yang bahenol. Otot pantat Mama sungguh kenyal dan tidak lembek. Ini mungkin karena Mama rajin ke gym untuk berolahraga. Sementara itu, kedua pantat Mama yang masih ditutupi daster telah kuremas-remas sambil kutarik-tarik seirama dengan goyangan pantat Mama.
Suatu saat ketika aku meremas-remas pantat Mama, tak sengaja kain daster Mama sudah tertarik ke atas. Aku baru menyadari ketika ujung jari tangan kiriku menyentuh kulit Mama. Aku serentak mendapatkan ilham. Aku mulai meremasi pantat Mama sambil berusaha menyingkap daster Mama ke atas lagi. Usahaku perlahan berhasil. Pada akhirnya kedua tanganku berhasil menggenggam kedua pantat Mama tanpa dihalangi kain daster itu.
Mama masih sMamak menggoyangkan pantat dan mengerang-erang kenikmatan. Aku mengambil kesempatan dengan menyusupkan tangan kananku ke atas sehingga kini tangan kananku sudah berada dalam daster dan memegang punggung Mamaku secara langsung.
Tiba-tiba Mama memelukku begitu eratnya aku sampai aku merasa sedikit sesak. Selangkangan Mama tiba-tiba berhenti bergerak. Mama menekan kontolku keras sekali sambil berseru,
“Yeeeeaaaahhhhhh…… Mama sampaaaaiiiiiiii……………”
Mamaku orgasme duluan. Akhirnya Mama melepaskan pelukannya beberapa saat kemudian. Aku kecewa begitu Mamaku menarik kedua tanganku sampai lepas dari tubuhnya. Ia menatapku lalu berkata,
“Ko, kamu itu bandel ya. Kamu kok cium-cium leher Mama kayak gitu. Kan Mama sudah bilang, kita ini bukan kekasih. Kita ini Mama dan anak. Jangan berperilaku ga sopan gitu donk.”
Aku hanya menunduk saja karena kecewa. Tapi setidaknya tanganku yang menggerepe dia tidak diprotes. Artinya aku boleh lagi nanti. Mama meninggalkan pangkuanku, untuk sementara aku kecewa sekali karena belum sampai orgasme, namun Mama tidak keluar kamar melainkan ia merangkak di tempat tidur bagai anjing, hanya saja sedikit nungging karena kepalanya ia taruh di bantal. Mama lalu menoleh ke arahku yang berada di belakangnya dan berkata,
“Kamu masukkin dari belakang saja ya. Biar kamu ga cium-cium Mama lagi.”
Tanpa disuruh kedua kalinya, Aku segera memposisikan diri di belakang Mama, berhubung aku lebih tinggi dari Mama, maka aku hanya sedikit menekuk lutut agar kontolku sejajar dengan memeknya. Aku menyingkap dasternya yang saat itu menutup pantatnya. Karena Mama tidak bilang apa-apa, aku beranikan diri menyingkap daster itu hingga tersingkap hingga setengah punggungnya. Aku belum berani terlalu jauh takut dimarahi.
Aku tekan kontolku di depan lubang memek Mama dengan dipandu tangan kananku, tangan kiriku menyibak pantatnya agar terlihat lubang itu. Setelah pas posisinya, aku dorong pantatku perlahan demi menikmati sensasi gesekan kontolku yang memasuki liang vagina Mamaku, suatu sensasi gerakan menggeser di mana gesekkan antara dinding vagina Mama dan batang kontolku menyebabkan nafsu birahiku yang sudah tinggi menjadi semakin tinggi lagi.
Gerakanku terhenti ketika kontolku sudah di ujung lubang dalam vagina Mama dan mencapai awal rahimnya. Kini kedua tanganku memegang kedua pinggul Mama. Sambil menghentakkan pantatku ke depan, kedua tanganku menarik pinggulnya untuk menambah tenaga tumbukkan. Dengan suara plok tanda selangkanganku menampar pantat Mama, kepala kontolku kini sudah memasuki rahim Mama.
“Ooooooooh……………” teriak Mama perlahan,” dalam banget rasanya…………….”
Dalam posisi seperti ini, aku rasakan seluruh kepala kontolku masuk ke rahim Mama, sementara sebelumnya hanya tiga perempat saja yang masuk. Posisi ini ternyata memberikan jarak penetrasi yang lebih jauh.
Aku terpaku pada pemandangan indah di bawahku. Mamaku yang sedang setengah telanjang dengan daster terbuka setengah punggung dan bagian bawah yang telanjang, dalam posisi doggy style dengan kontolku ambles memasuki memeknya. Aku tarik kedua pantatnya menggunakan kedua tanganku agar pemandangan ini lebih jelas. Kulihat anus Mama begitu rapat tanda Mama sedang mengencangkan otot vaginanya yang membuat kontolku merasa nikmat karena diremas otot vaginanya itu.
Perlahan kutarik kontolku hingga hanya setengah yang keluar dari memek Mama, lalu kudorong lagi sehingga seluruh kontolku terbenam di sana. Kulakukan berulang-ulang masih dengan gerakan pelan, karena pemandangan kontolku keluar masuk lubang kehormatan Mamaku itu begitu indah di mataku. Begitu sucinya selangkangan Mama. Begitu sucinya kemaluan Mama. Kemaluan yang hanya pernah dijelajah oleh ayahku dan kini aku yang menjelajahi tiap jengkalnya. Bahkan Papaku itu belum pernah menjelajah sampai ke dalam rahim Mama. Aku menjelajahi alat reproduksi Mama lebih jauh daripada siapapun di dunia ini! Saat itulah aku berketetapan dalam hati, bahwa Mama harus menjadi milikku dan bukan milik orang lain. Perempuan keturunan Tionghoa ini harus menjadi milikku. Seluruh jengkal tubuh perempuan ini harus jadi milikku. Aku harus menjelajahi tiap senti tubuh seksi ini. Tubuh seorang bidadari yang turun dari surga.
Entah beberapa menit aku asyik menarik dan mendorong kontolku untuk menggeleser dalam lubang kenikmatan Mamaku, aku baru sadar ketika Mamaku mulai balas mendorong dan menarik pantatnya. Selain itu, suara Mama mulai terdengar lagi,
“Yeaaah…… yeaaaaaaaaaaaaah……. Lebih cepat….. lebih cepat…….. yeaaaahhhhh..”
Maka aku mulai mempercepat gerakanku. Di samping tempat tidurku ada lemari dengan kaca besar di salah satu pintunya. Aku melihat bayangan kami berdua di cermin itu. Cermin yang menunjukkan seorang remaja sedang mengentot perempuan dewasa dalam posisi doggy style. Kepala perempuan itu bergerak-gerak dan di wajahnya tampak kenikmatan dalam bersenggama. Aku lihat dasternya yang terbuka sampai setengah tubuh Mama. Mungkin kalau aku dorong sedikit-sedikit, aku dapat melihat tetek Mama dari cermin.
Aku segera bertindak. Kedua tanganku yang sedang memegang pantatnya mulai kugerakan untuk meremas-remas pantat itu. Mama mulai memperkeras suaranya, kurasa Mama tidak sengaja melainkan kenikmatan ini sudah menguasai pikirannya.
“Yeeeeahhhhhhhhhh!! Cepaaat……….!! Teruuuuus……… Yeeeeaaaaaaaaaaahhhh…….”
Kedua tanganku kini mulai mengusap-usap pantatnya diselingi oleh remasan. Makin lama kedua telapakku bergerak ke atas. Kini punggung bawahnya aku belai. Sebenarnya belai tidak tepat, melainkan aku mengusap-usap punggungnya. Akhirnya usapanku makin memanjang, dari bawah punggung ke bagian tengah punggung Mama tepat di kain dasternya yang terlipat di sana.
Punggung Mama begitu licin karena Mama sudah keringatan. Kulit putihnya mengkilat dijilat oleh cahaya lampu kamar. Begitu erotis, pikirku. Usapanku itu terus ku lakukan hingga jari tanganku mulai mendorongi daster Mama sedikit demi sedikit. Namun agak susah mendorongnya karena daster itu terlipat. Aku mendapat ilham lagi lalu aku mengusap ke atas lagi namun kali ini bukan mendorong daster melainkan tanganku menyusup. Setelah setengah telapakku menyusup di balik daster di bagian tengah punggung di antara belikatnya, aku segera mengusap balik ke bawah dan menunggu reaksi Mama. Mama tetap hanya mengerang-ngerang.
“Yeaaaaah……… teruuuuuusssss!!!!”
Aku susupkan lagi tanganku di bawah dasternya, namun kali ini ketika jariku hendak masuk, aku menggerakkan kedua telunjukku ke atas dan aku mengkaitkan kain daster itu di kedua telunjukku, menyebabkan bagian bawah daster mama terjepit antara telunjuk dan jari tengahku, lalu kuteruskan mengusap ke atas dengan kedua tanganku, sehingga kini kain daster Mama ikut bergerak ke atas. Untung saja posisi Mama sedikit nungging, sehingga daster itu kini berjumbel di dada bagian atasnya dan tidak kembali jatuh ke bawah.
Dari cermin kulihat toket Mama yang bulat dan mancung menjuntai. Yang menakjubkan adalah toket itu tampak lebih besar daripada yang tersirat ketika Mama memakai baju. Aku ingin sekali meraba dada itu namun takut dimarahi. Makanya aku kini kembali mengusap-usap punggung Mama. Tak terasa karena aku semakin bernafsu, aku kini mengentoti Mama dengan kuat. Selangkanganku menumbuki pantat Mama dengan mengeluarkan suara PLOK! PLOK! PLOK! Yang keras terdengar.
“YEAAAH……!” tahu-tahu kini suara Mama keras sekali. Mama sudah berteriak dan suaranya memenuhi ruangan kamarku,”TERUUUUSS……. KOCOK TERUUUUS…….. KOCOK MEMEK MAMAAAA……. MAMA SAMPAIIIII……..”
Aku kaget. Kemarin Mama tidak seliar ini. Entah apa yang ada dipikirannya. Aku menjadi gelap mata. Kuraih kedua payudaranya dari belakang. Kurasakan bulatan payudara Mama melebihi kapasitas genggamanku. Ternyata cukup lebar lingkar payudara Mama. Aku remasi payudara Mama yang lembut dan kenyal itu. Dan aku tiba-tiba saja tak dapat menahan lagi dan memuntahkan peju di dalam rahim Mama.
Setelah beberapa saat aku merebahkan diri di samping Mama. Entah bagaimana aku merasa sangat puas dan tenteram sehingga tak lama kemudian aku tertidur.
BAB EMPAT
PACAR MENJADI SOLUSI
Di sekolah aku tidak bisa konsen. Aku terus terbayang keindahan tubuh Mamaku dan nikmatnya mengentoti tubuh mulus itu. Kulit Mama begitu halus dan lembut. Ototnya begitu kenyal tanda berolahraga. Aroma tubuhnya begitu harum terasa menusuk hidung. Namun aku belum puas. Aku ingin menciumi tiap jengkal tubuh Mama. Ingin kurasakan seluruh kulitnya di lidahku. Ingin aku mengecap tubuhnya yang seksi itu.
Pikiranku mencoba mencari cara untuk mendapatkan Mama. Bagaimana caranya agar ia mau dicumbu olehku. Sepanjang jam pelajaran otakku berputar-putar untuk mendapatkan jalan keluar masalah ini. Bahkan, cewek gebetanku selama ini yang bernama Siska tidak aku pedulikan. Siska berusaha mengajakku ngobrol waktu bel istirahat. Namun aku hanya menjawab sekedarnya dan lalu tampaknya ia mengerti aku sedang tidak mood sehingga akhirnya ia menyerah dan berlalu.
Aku dikagetkan ketika sedang berjalan ke arah mobilku oleh Siska. Ia memojokkanku dan berkata,
“Ken. Elo kok jadi pendiam akhir-akhir ini. Siska lihat kamu sekarang suka menyendiri dan tidak mau bergaul?”
Aku yang sedang pusing memikirkan cara menaklukkan Mama, menjadi sedikit geram. Siska adalah cewek Menado yang tinggi semampai dan berbadan aduhai. Dia adalah model paruh waktu yang terkadang muncul di majalah remaja perempuan. Walaupun bukan untuk cover majalah, namun dia terkadang suka difoto untuk produk-produk baju remaja. Cukup lama aku mengejar cewek ini. Namun dia suka jual mahal. Kami hanya beberapa kali menonton film di bioskop dan makan di beberapa restoran terkenal. Akupun hanya mendapatkan cium pipi dan pegang-pegang tangan. Selebihnya Siska menolakku. Pernah aku mencoba menggerepe toketnya, Siska malah marah dan menamparku. Kami tidak bertegur sapa selama sebulan. Namun akhirnya aku minta maaf dan kami berteman lagi. Setelah itu kami biasanya sms-an seperti orang yang pacaran namun tidak lebih dari itu. Jadi bisa dibilang TTM.
Melihat Siska menghadangku begitu aku berkata ketus,
“Lo mau ngapain sih?”
Siska tampak terpukul oleh perkataanku dan di matanya kulihat ada kilatan marah mengancam. Katanya,
“Elo udah punya cewek baru ya? Ngaku deh!”
“Cewek baru? Emangnya gue selama ini punya cewek, apa?”
“Oh begitu? Jadi hubungan kita selama ini elo anggap apa?”
“Tau deh. Yang jelas bukan pacaran. Elo gue cium bibir aja nggak mau.”
“oke. Gue ngerti. Jadi sekarang elo udah punya cewek yang mau elo cium-cium gitu?”
“Apaan sih? Gue belum punya pacar sampai sekarang. Dari dulu juga enggak punya. Elo jangan belagak cemburu gitu deh. Pacar juga bukan. Udah deh, gue mau pulang.”
Aku bergegas meninggalkan Siska. Namun, tiba-tiba Siska memegang tanganku.
“Elo marah ya?” tanyanya kepadaku.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas aku sedang pusing mikirin Mamaku dan kini Siska yang cantik itu sedang menggelayuti tangan kananku, dadanya ditekan sehingga aku merasakan payudara kirinya menempel di lenganku itu.
“Sis. Gue udah cape. Tolong deh, jangan bikin gue frustasi begini. Kita temenan aja. Bener-bener temenan. Bukan flirting-flirting kayak gini. Gue udah ga tahan.”
“Emang elo ga tahan mau ngapain?” tiba-tiba saja suara Siska terdengar manja sekali. Kulihat wajah cantiknya, matanya yang belo menatapku begitu sayu, hidung mancungnya dikerutkan sementara mulutnya yang manis dimajukan, tampak menggoda sekali. Tiba-tiba saja aku merasakan kontolku ngaceng. Aku yang sedang frustasi karena Mama, menjadi gelap mata dan berkata,
“Gue mau perkosa aja, gimana?”
Siska terkejut mendengar kata-kata vulgarku. Pegangannya mengendur. Aku pikir sekarang doi sudah takut kepadaku. Aku sedikit lega lalu ku tarik lenganku dari pegangannya dan kemudian berjalan ke mobil tanpa berkata apa-apa.
“Ken….” Siska memanggilku. Dengan malas aku menoleh. Aku mendapatkan matanya berkaca-kaca.
“Lo kenapa Sis?”
“Kok elo jahat gini sih? Ngaku aja deh kalo kamu udah dapet cewek baru….”
Melihat Siska ternyata ada hati kepadaku, aku merasa sayang kalo kesempatan ini berlalu begitu saja. Maka kataku sambil mendekatinya,
“Sis. Gue belum punya pacar. Titik. Gue dari dulu ngejar-ngejar elo, tapi ga ada hasil sampai sekarang.”
“Kan Elo yang ga pernah nembak gue, Ken?”
“Soalnya gue ga ngerasa elo sayang sama gue. Buktinya dicium aja enggak mau. Gue pegang-pegang juga ga mau. Gue ga merasa elo cinta kepada gue sebesar cinta gue ke elo, Sis…”
Mulut Siska perlahan menunjukkan senyum kecil.
“Jadi elo cinta sama gue, gitu?”
Aku merasa kalau sudah basah ya nyebur aja sekalian. Maka aku menggombal dan bilang,
“Banget.”
Perlahan Siska berkata,
“Aku juga cinta sama kamu….”
“Siska,” kataku pelan,” Kita ini hidup di jaman modern. Sekarang cinta bukan sekedar kata-kata. Kalo elo emang sayang sama gue, elo harus membuktikannya.”
Ada semburat rasa takut kulihat di matanya. Siska mengerti bahwa aku ingin make love dengan dia. Maka aku menyambung,
“Dan kalau ada keraguan di pihak elo, sebaiknya kita sampai di sini saja.”
Siska tampak shock mendengar perkataanku dan hanya termangu dengan rasa takut di matanya. Aku yang melihat bahwa hasil dari percakapanku ini setidaknya berguna bagiku. Bila Siska tidak mau, aku jadi bebas memikirkan hubunganku dengan Mama, namun bila Siska mau aku akan mendapatkan tubuh cewek remaja ini. Siapa tahu dia masih perawan. Aku menjadi tertawa dalam hati.
Beberapa saat tak ada tanggapan darinya, aku segera berjalan meninggalkan Siska. Setidaknya tidak ada lagi yang mengganggu, pikirku. Aku bebas mencari cara untuk mendapatkan Mama. Namun, betapa kagetnya ketika aku mematikan alarm dan membuka pintu mobil, Siska tampak berjalan ke arah pintu yang satu lagi dan lalu membuka pintu itu dan duduk di sampingku. Wajahnya menunduk namun tak berkata apa-apa.
“Bokap sama Nyokap Lo di rumah?” tanyaku. Siska menggeleng. “Kak Sandra?”
Siska menggeleng lagi. Maka aku menjalankan mobilku menuju rumahnya. Sepanjang jalan tangan kiriku meraba-raba rok seragam sekolah Siska. Berhubung mobilku matic, maka tangan kiriku bebas berkelana. Kali ini Siska tidak menolak, bahkan ketika tanganku dengan bernafsu menarik rok itu ke atas dan menyusup ke dalam. Paha Siska yang putih dan halus kuraba-raba. Siska seperti belagak tidak tahu dan hanya menatap jalanan yang kami lalui.
Ketika tangan kiriku mulai naik, kulihat dada Siska mulai naik turun lebih cepat. Entah karena horny atau sedang ketakutan aku tidak tahu. Namun tidak ada penolakan dari Siska. Siska tetap diam saja sambil melihat jalanan. Aku lalu mengobokkan tanganku ke selangkangannya. Celana dalam Siska halus sekali. Aku membelai-belai memeknya yang ada di balik CDnya itu. Siska mulai mendesah-desah. Aku ingin sekali menggagahinya saat itu juga, namun dengan sekuat tenaga kutahan birahiku itu.
Akhirnya kami sampai di rumah Siska. Celana dalamnya sudah basah oleh cairan kewanitaannya. Bau kelamin Siska mulai tercium di kabin mobil. Bau tubuh Siska berbeda dengan Mama, namun keduanya bagiku sungguh harum dan memabukkan. Kepalaku sudah pusing tujuh keliling dan waktu bergerak cepat sekali.
Kami tahu-tahu sudah ada di kamarnya. Pembantu-pembantu Siska sedang asyik mengurus rumah. Siska adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak perempuan yang sulung sudah kuliah semester empat dan jarang di rumah karena aktif di kampusnya. Papa Mama Siska adalah tipikal orang kaya yang jarang di rumah pula. Sehingga menjadikan rumah Siska tempat yang tepat untuk memadu kasih. Apalagi hari itu Papa dan Mamanya sedang ke Singapura.
Siska berdiri menghadapku dengan seragam sekolahnya. Tinggi badannya 168 cm. sedikit lebih pendek dariku. Tubuhnya proporsional. Dadanya tidak besar, bahkan terlihat lebih kecil dari Mamaku. Namun tetap saja cukup mancung di balik bajunya. Entah karena BH atau tidak, aku akan segera mengetahuinya.
Aku merengkuhnya dalam pelukanku. Kucium bibirnya. Kurasakan ia memberikan perlawanan dengan bibirnya walaupun dalam pengamatanku perlawanannya itu tidak begitu hot. Entah karena Siska malu atau memang tidak begitu berpengalaman. Perlahan tangannya mulai merangkulku. Kumainkan lidahku perlahan untuk menyapu bibirnya. Tak lama lidah Siska ikut bermain pula. Kami asyik bertukaran ludah selama beberapa saat.
Aku melepaskan rangkulanku dan menarik tangannya sehingga rangkulannyapun terlepas juga. Dengan perlahan aku membuka kancing seragam sekolahnya. Siska memejamkan matanya. Perlahan-lahan kemejanya terlepas. Aku dapat melihat BH putihnya. Lembah antara kedua dadanya terlihat menyembul di balik kemeja yang kancingnya telah terlepas. Kulitnya begitu putih. Aku melepaskan kemeja sekolahnya dan melemparnya ke lantai. Kini Siska hanya memakai BH putih yang menutupi tubuh atasnya. Kedua payudaranya begitu bulat dan menonjol tampak naik turun seiring nafasnya.
Aku kemudian merangkul tubuhnya untuk melepaskan pengait roknya yang berada di belakang. Kubuka resletingnya, lalu dengan tarikan perlahan akhirnya rok seragam abu-abu itu jatuh ke lantai. Kini gadis tercantik di sekolahku berdiri hanya menggunakan BH dan CD putih.
Perlahan aku membuka BHnya. Kulempar BH itu setelah pengaitnya terlepas. Aku menahan nafas melihat kedua payudara putihnya yang bulat tegak dengan puting yang masih rata dengan areolanya menghiasi kedua gunung kembarnya dengan sempurna. Letak pentilnya hampir tempat di tengah-tengah. Berhubung payudaranya tidak besar maka tidak terlihat turun seperti halnya perempuan yang memiliki toket gede. Payudara ini tampak begitu tegak menantang. Payudara yang belum pernah diremas oleh lelaki.
Aku mencium tetek Siska yang sebelah kiri dengan perlahan, tepat di bulatan bagian atasnya. Siska mendesah perlahan. Kulitnya begitu halus dan kenyal. Bau parfum Davidoff begitu manis tercium dari kulitnya. Aku menciumi sekujur toket Siska yang bulat itu dengan gerakan searah jarum jam, menghindari pentilnya yang merah muda. Siska memeluk kepalaku. Lalu setelah puas menciumi sekujur toket kirinya, aku mulai menjilati gundukan kenikmatan itu.
“mmmmmhhhhhh……..” Siska menggumam-gumam keeenakan saat lidahku mulai menjilati bukitnya itu. Lidahku bagaikan menari di atas kain sutera yang begitu halus dan harum. Mulutku tak sabar mulai menyedoti gundukan itu. Kusedot dan kuhisapi payudara kiri Siska hingga tak lama bekas cupanganku tercetak di sana-sini.
Sementara, tanganku mulai menarik tali celana dalamnya ke bawah. Dengan bantuan kaki kananku, aku menginjak celana dalam Siska saat CD itu sudah di lututnya. Kemudian aku melepaskan rangkulanku dan mundur selangkah untuk melihat pemandangan indah di hadapanku.
Siska telanjang bulat di depanku dengan wajah yang malu-malu ditundukkan. Kulihat jembut Siska tidak selebat jembut Mama. Namun tampak jembut itu dicukur rapi segitiga. Bibir luar vaginanya atau labium majoranya tampak terlihat rapat tertutup di bawah jembutnya yang keriting itu.
Birahiku sudah tinggi sekali. Aku segera melepaskan bajuku secara tergesa-gesa. Pakaianku kulempar dengan cepat sehingga berjatuhan di lantai di sana-sini. Aku gendong Siska sambil kuserang bibirnya, lalu aku setengah terjun ke tempat tidurnya.
Aku sudah mabuk oleh birahi, sehingga nafsuku menjadi liar. Kujilati seluruh wajah Siska mulai dari kepala sampai dagu. Bahkan lubang hidung Siska beberapa saat ku rogoh dengan lidahku. Aku ingin merasakan seluruh jengkal wajah cantik gadis ini. Aku sungguh merasa beruntung, karena gadis model ini mau disetubuhiku.
Mulutku mulai bergerak menjelajahi lehernya. Tak lama leher Siska sudah bau mulutku dan dipenuhi ludahku. Cupanganku mendarat di berbagai tempat di lehernya dan meninggalkan bekas di sana-sini. Tubuh ini adalah milikku dan cupanganku adalah tanda bahwa lahan ini sudah dimiliki. Bukan lahan pribumi tentunya, karena aku keturunan Tionghoa. Hahahah.
Lalu mulutku mulai menggarap dadanya. Lembah antara kedua bukit kembarnya begitu seksi karena terlihat begitu dalam disebabkan payudaranya yang begitu mancung dan agak berjauhan. Ada tahi lalat kecil di lembah payudaranya. Tak lama lembah itu penuh dengan liur dan bekas cupangan. Siska mulai mengerang kecil sambil menyebutkan namaku.
“aaaahhhh….. Keeeen…………. Aaaaaaahhhhhh”
Kemudian mulutku mulai mengembara di payudara yang sebelah kanan. Berhubung toket kirinya sudah penuh cupanganku. Kujilati gundukannya terlebih dahulu, karena inilah kesukaanku. Aku suka menjilati gundukan terlebih dahulu sebelum akhirnya bercokol di pentil perempuan. Kukenyot-kenyot tetek kanan Siska dengan penuh nafsu sementara Siska memeluk erat kepalaku sambil meremas-remas rambutku. Setelah cukup mencupangi dada kanannya itu, aku mulai menyedoti pentil Siska. Yang menggemaskan adalah karena pentil itu masih kecil sehingga kini walaupun sudah kusedot-sedot, pentil itu hanya sedikit saja menonjol.
Cukup lama aku mengenyoti payudara Siska yang imut itu. Akhirnya aku mulai menjilati perut gadis itu. Aku mengenyoti pusarnya yang tampak menggairahkan. Pusarnya bagaikan celah yang sempurna. Kusodoki celah itu dengan lidahku, kukenyoti celah itu, sementara bau tubuh Siska mulai memenuhi ruangan. Kugerakkan mulutku ke bawah lagi, dan lidahku mengenai bulu kemaluannya. Kusedoti jembut Siska yang jarang dan keriting itu sementara Siska mulai bertambah keras erangannya. Atau bisa saja dibilang bahwa sekarang Siska mulai melenguh. Memek Siska kini mengeluarkan bau badannya dengan hebat sekali hingga hidungku seakan dipenuhi bau tubuhnya itu.
Aku beringsut duduk dan membuka pahanya lebar-lebar. Bibir luar memeknya masih rapat sekali. Dengan kedua jempolku kubuka bibir luar itu dan melihat kemaluan Siska yang merah muda dan basah mengkilat. aku menerjunkan lidahku ke dalam vagina Siska yang mengeluarkan bau menggiurkan. Siska melenguh keras,
“Uuuuuuuhhhh……. Enak Saaaayyyyyy…………..”
Baru kali ini kudengar kata-kata ‘say’ keluar dari bibir Siska. Aku kini paham bahwa gadis ini sudah jadi milikku sepenuhnya hari ini. Apalagi bila aku telah menyetubuhi Siska, tentu akulah yang akan menjadi satu-satunya lelaki di dalam hidupnya.
Kunikmati air kemaluan Siska. Lubang memeknya begitu lembek, hangat dan basah. Mulutku kini sudah basah oleh cairan vagina Siska. Bau tubuh Siska begitu kerasnya sehingga walaupun sudah bercampur dengan air liurku, bau mulutku tidak tercium sama-sekali di kemaluannya. Hanya bau tubuh Siska yang dapat tercium di hidungku. Inilah mengapa aku suka sekali menjilati kemaluan perempuan. Aku tidak harus terganggu dengan bau mulutku sendiri. Maka cukup lama aku menjilati dan menyedoti memek Siska hingga Siska mulai berteriak kecil dan pinggulnya mulai bergerak untuk menekan memeknya ke mulutku.
Aku pikir sudah saatnya menuntaskan rasa hausku akan tubuh Siska. Maka aku segera mengarahkan kontolku ke lubang memeknya dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku menopang badanku yang telah kugerakkan sehingga berada di atas tubuh Siska. Aku sodok pantatku sehingga tahu-tahu kepala kontolku melesak ke dalam.
Memek Siska sangat sempit. Dinding vaginanya menjepit kepala kontolku dengan begitu kuatnya sehingga ada rasa linu yang kurasakan. Namun dipihak lain, kemaluan Siska demikian hangatnya dan lembab sehingga menimbulkan sensasi yang begitu nikmat. Siska menjerit kecil lalu merangkulku erat-erat.
“Sakiiiit saaaay……………”
Aku menindih Siska dengan kedua tangan di samping sehingga sedikit membagi beban agar Siska tidak menopang tubuhku seratus persen. Kucium bibirnya dengan rakus. Siska meremas-remas rambutku sambil membalas ciumanku juga dengan penuh nafus. Kusodok lagi kontolku, namun kontolku tertahan oleh selaput daranya. Siska melepaskan ciumannya dan berteriak kecil lagi,
“Sakkiiiiiittttt…………..”
Dengan suara perlahan aku bujuk dia,
“Sayangku……. Nanti aku sodok kuat-kuat supaya keperawanan kamu jebol. Pasti akan sakit. Tapi aku janji nanti akan jadi enak. Oke?” karena sudah tumbuh cintaku pada Siska yang selama ini terpendam, aku mulai mengganti elo gue menjadi aku kamu.
Dengan dahi berkerut menahan sakit dan mulut bawah yang digigit Siska mengangguk. Pelukannya begitu erat kurasakan. Aku segera menyusupkan tanganku di kedua pantatnya, lalu dengan sekuat tenaga aku menghantamkan pantatku ke depan sehingga robeklah selaput daranya dan seluruh kontolku amblas masuk ke liang senggama Siska.
Siska berteriak sambil memelukku dengan kedua tangan dan kakinya. Kakinya merangkul paha belakangku erat-erat. Kurasakan memek sempit Siska menggenggam kontolku erat sekali. Kontolku senat-senut jadinya.
“Kalau udah reda sakitnya, kamu goyang pantatmu maju mundur, ya Say?”
Siska hanya mengangguk sambil tetap meringis dan memejamkan matanya. Aku memeluknya dan mencium bibirnya. Siska membalas pagutanku dan untuk beberapa lama kami berciuman dengan perlahan. Makin lama, ciuman Siska makin hot. Lidahnya mulai menyapu-nyapu dengan cepat. Dan nafasnya mendengus-dengus di hidungku. Akhirnya kurasakan pantat Siska mulai bergoyang. Pertama kalinya perlahan, dan makin lama makin terasa sodokan pantatnya. Memek Siska pun mulai mengeluarkan pelumas lagi sehingga kontolku mulai licin terkena cairan kemaluannya.
Maka aku mulai membalas goyangan pantatnya dengan tusukan pantatku sendiri. Karena Siska baru pertama kali ini ngentot, maka mula-mula susah juga untuk menyeragamkan gerakan kami berdua, namun lama kelamaan kami berdua mulai menemukan irama ngentot yang tepat. Kontolku mengocoki memeknya yang sempit dan hangat itu berkali-kali. Selangkangan kami terus beradu mengeluarkan bunyi tamparan yang semakin lama semakin keras terdengar. Siska mulai terbiasa ngentot, bahkan kini mulutnya tak mau tinggal diam dan mengimbangi jilatan dan hisapanku. Bahkan kala aku mengenyoti leher dan pundaknya, Siska menciumi dan menjilat pipi dan jidatku. Siska mulai melepaskan nafsu binatang yang dimiliki manusia tanpa malu-malu lagi.
“Enak yang?” tanyaku.
“he-eh…” jawabnya.
“Memek kamu rapet banget…….”
“Ih ngomong jorok…… burung kamu aja yang gede, yang.”
“Burung apaan? Kontol……. Bilang aja kontol……..”
“Ihhh… jorok!”
“Aku marah nih….. aku pulang nih……….”
“Ah…… kamu jahat………….”
“Bilang dong kontol………..”
“Kontoooolll…………..”
“Gitu baru pacarku……”
Lalu aku kembali mencium bibirnya sembari mengentoti tubuh Siska yang sintal dan hangat itu.
Kedua tubuh kami sudah mengeluarkan keringat walaupun di kamar yang ber AC. Keringat kami bersatu padu, sementara di selangkangan kami, kedua keringat kami telah bercampur dengan cairan memek Siska dan darah dari selaput daranya.
Lama-kelamaan kami mulai mencapai puncak kenikmatan. Selangkangan kami mulai berbenturan dengan keras karena gerakan pantat kami yang makin cepat dan kuat.
“Yaaaaaang……………………………. Kenny sayaaaaaaaaaaaaaaaaaangggggg…………. Aku mau pipiiiiiiiiiiissssssss…………”
“Bukan pipis, neng…… itu mau sampeeeeeeeeeeeee………………… aku jugaaaaaaaaaaa……….”
Tiba-tiba Siska mencengkram tubuhku kuat-kuat dan kurasakan kemaluannya yang sempit itu bagaikan bergetar bagaikan orang yang sedang kedinginan. Dinding memek Siska bagaikan bernafas cepat yang menyedot-nyedot kontolku. Jebol sudah birahiku, aku akhirnya ejakulasi berkali-kali di dalam kemaluan pacarku yang cantik itu.
Untuk beberapa saat kami bertindihan lemas setelah masing-masing mencapai klimaksnya. Aku segera berbaring di sebelah tubuh telanjang Siska agar tidak menindihnya terlalu lama. Beberapa saat kami terdiam hingga akhirnya Siska berkata,
“Kalau aku hamil, gimana?”
Aku hanya tersenyum dan berkata,
“Ya kita nikah saja. Gitu aja kok repot…..”
Siska menyergapku tiba-tiba dan memelukku.
“Oh Suamikuuuuuuuuuuuu…………..”
Kami asyik berpelukan dan bercanda sehingga tidak terasa sudah jam empat sore ketika Sandra menelpon Siska. Ternyata Sandra ada kegiatan kampus sehingga baru pulang besok. Kebetulan sekali, pikirku. Maka kami merayakan keberuntungan kami dengan melakukan hubungan seks lagi. Hari itu tiga kali kami berhubungan badan. Kami hanya break sebentar waktu maghrib untuk makan lalu kami kembali bergumulan di ranjang Siska. Tidak hanya seks, tapi kami juga bercanda dan membicarakan banyak hal layaknya orang pacaran.
Ketika itu sudah pukul delapan malam kala kami baru saja selesai berhubungan seks kali ketiganya saat tiba-tiba HPku bordering. Siska yang cepat-cepat mengambil HPku sambil berkata curiga,
“siapa sih yang telpon malem-malem?”
Namun saat Siska melihat nama yang muncul di layar HP, ia segera memberikannya kepadaku lalu berkata,
“Mamamu……. Aku mandi dulu ya, Say…….” Lalu Siska bergegas ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
“Halo,” Kataku.
“Koko….. kamu di mana?”
“Di rumah teman…..”
“Kok belum pulang sih?”
“Tanggung nih, Ma…….”
“Kamu di rumah siapa?”
Aku menimbang-nimbang apakah akan jujur atau tidak. Namun ide brillian tiba-tiba saja muncul di kepalaku. Lalu aku menjawab,
“Di rumah Siska……”
“Siska? Siapa itu? Pacar kamu?”
“Iya, Ma. Emang kenapa?”
“Kok wakuncar bukan di week end? Ini kan hari sekolah…. Emangnya orangtua Siska ga marah?”
“Enggak lah, Ma. Orangtuanya kan di singapura…”
“Di sana ada siapa? Ada Kakaknya?”
“Ya enggak lah. Yang ada Cuma Siska, Koko sama pembantu-pembantunya Siska…”
“Apa? Kamu lagi ngapain?”
“Koko lagi tiduran”
“Tiduran?”
“Iya, di kamarnya Siska.”
“Apaaaa????”
“Udah lah, Ma. Koko kan bukan anak kecil lagi. Udah dewasa. Biasa aja kali, Ma.”
“Koko…… kamu berhubungan seks sama dia?”
“Iya, dong. Ma. Kan Siska pacar Koko.”
“Kamu itu! Kamu masih kecil! Gimana kalo dia hamil?”
“Masih kecil? Koko udah dewasa Ma. Koko udah pernah gituan sama Mama, kan?”
Mama terdiam. Mungkin sedang bingung harus ngomong apaan. Akhirnya Mama berkata,
“Pokoknya kamu sekarang harus pulang.”
“ga mau ah…. Koko mau nginep di sini aja.”
“Apaaa? Kamu ga mau pulang?”
“enggak.”
“Koko! Kamu harus bantu di rumah! Kamu mau jadi orang miskin?”
“Bantu apa, Ma?”
“Jangan belagak bodoh, Ko! Kita harus melakukan ritual kalau ga mau sengsara!”
“Maksud Mama, Koko harus ngentot sama Mama, kan?”
“Anak kurang ajar! Ini Mama kamu, masak ngomong begitu?”
“Ritualnya kan ngentot, Ma. Emangnya ngapain?”
“Kamu jadi bandel begini Ko!”
“Pokoknya Koko ga mau ngentot sama Mama! Ga mau!!!”
Mama terdiam. Ada jeda beberapa saat sebelum Mama berteriak lagi,
“bagus! Kamu anak durhaka! Kamu senang ya kalau kita jadi melarat?!”
Aku belagak terdiam sebentar lalu menarik nafas.
“Sebenarnya Koko ga mau kita melarat, Ma,” kataku pelan,” tapi untuk ngentot sama Mama, koko rasanya ga enak saja”
“Maksud kamu?”
“Abis, setiap kali kita ngentot masa pakai baju, terus ga boleh cium lah ga boleh beginilah begitulah, Koko ga merasa nyaman.”
“Habis mau kamu apa?”
“Koko kalau ngentot sama Siska ngerasa asyik sekali. Karena bisa ciuman dan pegang-pegang sebebasnya. Tapi kalau sama Mama kayaknya gimana gitu. Ga ada kebebasan….”
Mama terdiam agak lama. Lalu Mama berkata perlahan,
“Ya udah, kamu pulang sekarang. Terserah deh kamu mau ngapain…..”
Lalu mama menutup telpon. Aku bersorak kegirangan. Akhirnya aku buru-buru berpakaian. Aku pamit pada Siska yang sedang mandi. Siska pikir bahwa Mamaku concern dan ingin anak kesayangannya pulang sehingga akhirnya membiarkan aku pulang. Aku segera bergegas pulang ke rumah dengan memacu mobilku secepatnya.
BAB LIMA
MIMPI JADI KENYATAAN
Aku sampai di rumah pukul setengah sepuluh. Kamar tamu sudah gelap. Aku bergegas ke kamarku. Kulihat kamar Papa dan Mama masih menyala lampunya. Aku buka pintu kamarku dan kaget melihat Mamaku sedang tidur tanpa selimut di tempat tidurku dengan memakai gaun tidur mahal berenda yang mini dan sedikit transparan. Mama mematikan AC sehingga tidak kedinginan dan dapat tidur nyaman tanpa kedinginan. Bahkan, aku rasa udara di kamar cukup panas karena aku mulai sedikit berkeringat.
Gaun tidur Mama tampaknya sebatas setengah paha, namun karena posisi tidurnya miring maka bagian hemnya tertarik sampai di bawah pinggul. Sedikit pantatnya menyembul menunjukkan ia tidak memakai apa-apa. Dari pintu masuk aku hanya bisa melihat bagian belakang tubuh Mama. Aku segera menutup pintu lalu membuka seluruh bajuku.
Setelah telanjang, aku beringsut menghampiri Mama di tempat tidur.
“Baru datang?” Tanya Mama perlahan. Ternyata beliau belum tidur.
Aku tidak menjawab melainkan memeluk Mama dari belakang. Walaupun belum berhubungan seks, namun badan Mama sudah mengeluarkan bau tubuh tanpa ada campuran sabun maupun parfum. Kontolku ku tekan di belahan pantatnya. Mama menengok ke belakang.
“Kamu mau cium Mama?” tanyanya sambil mengangkat tangannya dan berbalik hingga kini tidur telentang menghadapku yang sedang tidur miring. Posisi kepalaku tepat di hadapan ketek Mama. Kini aku dapat melihat ketek Mama ditumbuhi bulu-bulu halus keriting, sesuatu yang tidak pernah kusadari sebelumnya karena hubungan kami berdua selama ini hanya seks tanpa eksplorasi. Dari ketiak itu tersebar aroma tubuh Mama. Apalagi ketiak itu kini lumayan basah, karena Mama yang biasanya di ruangan AC kini tidur di kamarku yang panas. Kulihat sekujur tubuh Mama juga sudah berkeringat sehingga membuat kulitnya mengkilat bak batu intan yang indah.
Aku mendekatkan hidungku ke ketek Mama.
“Terserah kamu mau ngapain. Tapi Mama kasih tahu ya, Mama hari ini belum mandi. Gosok gigi Cuma tadi pagi aja.”
Rupanya Mama berusaha membuatku mengurungkan niatku untuk mencumbu Mama dengan cara ini. Namun anehnya, aku menjadi kepincut bau tubuh Mama yang belum mandi ini. Aku tidak menjawab Mama melainkan segera menubruk Mama dari samping dan membenamkan wajahku ke ketek Mama yang berbulu itu.
Aroma tubuh Mama yang tajam memasuki hidungku hingga memenuhi benakku. Keteknya yang lembat membasahi ujung hidungku. Bulu ketek halusnya menggelitik indera penciumanku ini. Mama tampak kaget dan menarik nafas. Aku segera menjilati ketek Mama yang keringetan itu. Sementara, tanganku mulai menyusup dari bawah gaunnya dan merayap ke atas. Tangan kananku itu menemukan payudara kanan Mama setelah menyusup dan membuat gaun itu terangkat sampai ke tengah tubuhnya. Mama juga membantu dengan sedikit mengangkat tubuh sehingga gaun tidurnya secara mudah tertarik ke atas.
Setelah asyik menjilati ketek kanan Mama, aku segera duduk dan menarik gaun tidur Mama ke atas sampai terbuka. Mama duduk agar memudahkanku melucuti gaun tidurnya. Kini kami berdua telanjang bulat dan saling duduk berhadapan. Tubuh Mama yang berkeringat dan mengeluarkan aroma perempuan yang tajam membuatku tak dapat menahan diri. Aku tomplok Mama dengan buas sehingga kini aku menindihnya lalu aku sergap bibirnya.
Awalnya aku menyerang bibir Mama dengan bibirku tanpa ada perlawanan. Aku terus menjilat, mengecup dan menyedoti bibir Mama dengan rakus sementara kedua tanganku memeluk tubuhnya yang telanjang dan basah itu. Kedua kaki Mama yang tadinya rapat aku buat mengangkang dengan kedua kakiku sehingga kini kedua kakiku di dalam kedua kaki Mama yang mengangkang.
Tangan kananku kutarik dan kini aku mengelusi paha kiri Mama dengan tangan itu. Mama belum membalas ciumanku, maka aku menyedoti bibirnya agar bibir itu membuka. Suatu kali aku berhasil mengenyoti bibir atas Mama sehingga kedua bibirnya terbuka, aku segera memutar kepalaku lalu mulai menjilati dalam mulut Mama yang sedikit terbuka. Sementara tangan kananku mulai mengelusi pantat Mama yang sedikit kutarik ke atas.
Dengan tangan kiri yang memeluk Mama aku ubah posisi kami sehingga sedikit menyamping dengan kaki kananku di antara kedua kaki Mama. Kutarik pantat Mama dan aku tekuk lutut kananku sehingga pahaku menempel di selangkangan Mama dengan kaki kiri Mama di atas pahaku sehingga akhirnya Mama posisinya miring menghadapku.
Mama belum membalas ciumanku. Aku tetap menjelajahi mulutnya kini dengan lidahku. Kujilati bibirnya yang diam itu sementara aku meremasi pantat kiri Mama dengan tangan kananku sembari pahaku ku gesek-gesek di bibir memek Mama. Lama kelamaan Memek Mama basah. Tangan kiriku tetap memeluk badan Mama, sementara kedua tangan Mama hanya memegangi lenganku perlahan.
Kemudian aku mulai mendorong pantat Mama ke bawah sambil terus meremas pantat itu sehingga gesekan memek Mama dan pahaku bertambah keras. Memek Mama makin basah dan akhirnya Mama membuka mulutnya untuk mendesah sementara pegangan tangannya menguat di lenganku.
“Aaaahhhhh…..” mulut Mama membuka dan dengan sigap aku menjulurkan lidahku memasuki mulut Mama yang terbuka. Serta merta lidahku menempel di lidah Mama. Aku jilati lidah Mama sambil sesekali mengecupi bibirnya yang sensual. Mama memejamkan matanya. Aku lalu menciumi leher Mama. Mama tetap hanya mendesah. Kucupangi lehernya dan kujilati juga. Lalu aku kembali mengarahkan mulutku ke bibir Mama. Ternyata kedua bibir Mama tidak tertutup melainkan terbuka walau tidak terlalu lebar. Aku menjilati mulutnya dan mengenai giginya. Ketika lidahku masuk di giginya, Mama mendesah lagi yang menyebabkan mulutnya terbuka lagi sehingga kini lidahku menjilati lidah Mama lagi.
Kemudian aku mengecupi pipi Mama sambil menjilati sekali-kali. Kuselomoti juga seluruh wajah Mama yang cantik khas oriental itu lalu kembali aku menjilati bibirnya. Mama mendesah lagi dan membuka mulutnya. Aku kembali dapat menjilati lidahnya.
Kemudian aku menarik kepalaku lalu sedikit mendorong tubuh Mama dengan kedua tanganku sehingga kini aku dapat melihat kedua tetek Mama yang berukuran sedang namun dengan bulatan yang lebih besar dibanding miliknya Siska. Dengan cepat aku mulai menciumi dada kiri Mama. Seperti biasa, aku menyelomoti seluruh gundukannya dulu sebelum beralih ke pentilnya yang sudah mengeras dan mancung. Pentil dan areola Mama lebih besar dibanding Siska. Aku berikan cupangan disekeliling toket kiri itu, terkadang aku lama juga mengenyoti satu tempat sebelum pindah ke tempat berikutnya. Toket Mama lebih lembut dibanding Siska yang memiliki toket dengan otot yang lebih keras. Namun toket Mama menawarkan sensasi bola yang memantul, atau bisa dibilang sofa yang empuk namun memantul sehingga memiliki cita rasa yang berbeda dengan payudara Siska.
Setelah payudara itu penuh dengan liur dan cupanganku, aku mulai mengenyot-ngenyot pentil Mama yang besar itu. Kunikmati rasa menjepit pentil di antara langit-langit mulut dan lidahku. Lidahku membelai-belai pentil itu kadang dengan gerakan memutar kadang dengan gerakan menjilat. Saat ini Mama mulai mendekap kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah.
Aku ingin mengetes Mama, maka aku kini kembali menjilati bibir Mama. Mama membuka mulutnya dan aku mulai menjilati lidahnya lagi.
“Julurin lidah Mama…… kurang nih……..” kataku diselingi desahan penuh nafsu.
Mama tetap memejamkan mata namun perlahan lidahnya keluar. Aku mulai mengenyoti dan menjilati lidah Mama. Kupegang kepala Mama sehingga agak tegak, lalu aku mulai meludah tepat ke lidah Mama yang terjulur.
Mama membuka matanya dan melihat ketika aku meludah kedua kalinya ke lidahnya.
“Telan ludah Koko, Mah………”
Mama menatapku dengan tatapan aneh lalu menutup mulutnya. Terlihat sejenak Mama mengulum-ngulum lalu menelan ludahku. Aku menjilati bibir Mama lagi dan Mama otomatis membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya. Sementara, memek Mama sudah basah kuyup jadinya.
Aku menghentikan aksiku untuk sejenak. Kuposisikan Mama tidur dan aku menaruh kontolku di depan lubang memeknya. Kemudian aku memasuki Mamaku. Mama mengerang-erang. Ketika aku peluk tubuh Mama, Mama balas mendekapku. Aku mulai mengocok kemaluan Mama dengan kontolku. Mama terus mengerang-erang kenikmatan.
Aku mencium bibir Mama dan kali ini Mama membalas! Dengan gembiranya aku menciumi bibir Mama dengan penuh nafsu dan Mama pun mengimbangi dengan ciuman yang ganas pula. Akhirnya pertahanan Mamapun jebol!
Kamar tidurku kini dipenuhi suara selangkangan beradu ditingkahi dengan suara kecipak kecipuk ciuman dan juga terkadang erangan dan desahan. Bau tubuh kami berpadu menjadi satu mengisi segenap penjuru kamar. Keringat pada tubuh kami sudah tidak jelas lagi dari pihak yang mana karena sudah menyatu seperti halnya tubuh kami yang sudah bersatu di alat kelamin kami.
Dengan jeritan kecil Mama mencapai orgasme yang disambut dengan muntahan spermaku yang memenuhi rahimnya. Kami berciuman lama setelahnya.
EPILOGUE
Si dukun berkata bahwa kami harus melakukan ritual tiga kali dalam sebulan, namun pada kenyataannya, kami melakukannya hampir tiap hari dengan pengecualian malam minggu aku harus memuaskan pacarku, Siska.
Mama hamil anak kami tiga bulan kemudian, sementara Siska untungnya tidak hamil ketika kami melakukannya pertama kali tanpa kondom. Untuk selanjutnya dengan Siska, aku selalu memakai kondom.
Usaha Papaku semakin maju. Papa mengambil isteri kedua dan tinggal di rumah yang berbeda dengan kami. Kehidupanku, singkatnya sangat Bahagia. Hanya saja, aku masih bingung untuk ke depannya. Pada akhirnya aku pasti akan menikahi Siska dan tinggal dengannya. Bagaimanakah caranya agar hubunganku dengan Mama dapat berlanjut seterusnya? Mama adalah cinta pertamaku, tentunya. Aku masih belum kepikiran bagaimana seharusnya nanti ketika aku sudah berumah tangga. Tapi biarlah aku nikmati saja dahulu kehidupanku dengan dua kekasih dalam hidupku…..