Cari di sini, Bos

Memuat...

Rabu, 04 Desember 2013

JKT48 : The Dark Diary 6

Diary Hari Keduapuluhlima

Si Nomor 25.

Begitulah cara kalian memanggilku.

Tak seorangpun di antara kalian pernah menanyakan namaku. Sebaliknya aku dengan mudah dapat menghapal semua nama kalian.

Sejak hari pertama aku sudah kebingungan dengan sikap kalian yang menjauhiku. Tapi setelah membaca buku ini, aku tahu duduk permasalahannya.

Kalian membenci semua hal yang kumiliki sejak lahir. Kalian membenci cara berpakaianku tanpa tahu memiliki satu helai pakaian saja adalah anugerah di keluargaku. Kalian membenci suaraku tanpa tahu aku menderita radang infeksi di hidung yang merubah total suaraku. Kalian membenci cara berjalanku tanpa tahu tulang belakang dan kakiku mengalami kelainan sedari balita. Kalian membenci wajahku, tubuhku dan bahkan keberadaanku di dekat kalian. Apakah sebegitu buruknya seseorang yang tidak sempurna di mata kalian?

Kalian pasti bingung kenapa buku ini berada di tanganku. Aku akan berbaik hati menceritakannya. Nanti, di akhir tulisanku.

Empat minggu yang buruk. Seburuk perlakuan kalian padaku. Sebusuk tuduhan yang kalian bebankan padaku.

”Bukan aku pelakunya!”

Kalimat itu berulang-ulang kuteriakkan. Namun telinga kalian terlalu tuli untuk mendengarnya. Kalian tanpa menimbang hati nurani telah menetapkan orang berfisik buruk pasti juga berhati buruk.

Aku tahu kalian membenciku! Lebih dari apapun! Dan didasari rasa benci itulah kalian merasa berhak mengunciku berhari-hari di ruangan iblis ini!

Tidak berhenti sampai di situ. Kalian berkedok sikap sok manis membawakan makanan dan minuman untukku.

Memuakkan!

Minuman yang kalian bawa ternyata air comberan yang disaring. Sementara makanannya sudah basi berhari-hari. Aku marah, sedih dan ketakutan. Tapi apa yang bisa kulakukan?

Lalu datanglah anak itu. Pertama ditamparnya aku. Ditendangnya. Dipukulinya seluruh tubuhku sampai semua tulangku terasa remuk. Anak itu tidak berhenti melakukannya meskipun aku meratap memohonnya berhenti.

”Apa kalian masih menganggap diri kalian manusia?” aku terus bertanya. ”Apa salahku?”

Kalian pasti menjawabnya dengan tuduhan-tuduhan itu lagi.

”Kau melakukan ini.”

”Kau hampir membunuhku.”

”Kau melukaiku.”

Kalian bahkan tak berniat sedikitpun membuktikan apa benar aku pelakunya. Kalian seenak perut kalian mengkambinghitamkan aku. Jadi jangan salahkan aku jika akhirnya aku harus menggunakan cara ini. Cara balas dendamku pada kalian.

Senin pagi nanti saat kalian mengeluarkanku, aku takkan mengatakan apapun. Pulang ke rumah sebentar untuk mengganti pakaianku. Baru kembali ke sekolah seakan tak pernah terjadi apa-apa. Di sore harinya aku akan mengumpulkan kalian. Akan kukatakan aku mau menebus semua kesalahan dan meminta ma’af. Atau mengatakan bualan apapun sampai kalian bersedia mengikutiku ke ruang penyimpanan bawah tanah ini. Aku bisa membayangkan isi pikiran kalian, ”Si nomor 25 cuma sendirian, jumlah kita jauh lebih banyak, kalau gerak-geriknya mencurigakan, kita tinggal mengeroyoknya.”

Cara pengecut seperti biasa.

Setelah kita semua berada di ruang penyimpanan, aku tinggal mengaktifkan tuas itu. Tuas yang kupersiapkan sebelumnya. Hanya dengan menekan sebuah tombol maka sebidang beton akan terjatuh menutupi pintu keluar sekaligus memotong tali yang menjadi alat penghubung untuk keluar ruangan. Trik yang mudah bagiku untuk merangkainya. Ya, kalian semua bakal merasakan bagaimana rasanya terkurung di sini. Bersama diriku yang dengan senang hati menertawakan kepanikan kalian. Tapi tenang saja, kita tak harus berlama-lama terkurung, karena aku telah mempersiapkan kejutan lain bagi kalian.

Di berbagai titik di sekolah kuletakkan bom-bom berkekuatan ledakan kecil. Tidak cukup untuk menghancurkan sekolah namun pasti berhasil menyulut kebakaran. Kebakaran yang menggerogoti pondasi gedung dan ujungnya menghujani kita yang berada di ruang penyimpanan dengan bongkahan-bongkahan beton.

Rencana yang hebat kan? Kalian begitu menginginkan aku tersingkir dari kelas. Maka aku bersedia mati demi kalian, sayangnya, aku mengajak kalian serta!

Sekarang akan kujelaskan bagaimana aku mendapatkan buku ini...

Malam ini seseorang di antara kalian, aku tidak tahu siapa karena dia menutup wajahnya dengan topeng, mengatakan padaku bahwa ini adalah malam terakhirku. Aku meludahinya dan dia balas melempariku menggunakan sebuah buku, meninggalkanku beserta sang buku.

Malam terakhir? Memangnya sudah berapa hari aku di sini? Tidakkah kalian tahu aku bahkan tak bisa membedakan siang dengan malam.

Dan jawaban penderitaanku terpampang jelas di buku ini. Mulanya kupikir itu buku harian Shania, aku mengenali tulisannya. Buku tersebut, yang secara tidak sengaja kini berada di tanganku, membuatku sadar seperti apa pemikiran kalian terhadapku.

Oh… andai kalian bisa membaca tulisanku ini. Aku menulis rencana ini dengan penuh kebahagiaan.

Hari keduapuluhlima memang baru dimulai besok. Tapi untuk apa kita mempermasalahkan hal itu. Toh saat buku ini ditemukan dan ada orang lain yang membacanya, kita semua telah menjadi mayat, di ruang penyimpanan ini.

Selamat tinggal semuanya...

Dari seseorang yang kalian benci dalam darah dan daging kalian.

(Si Nomor 25)

***

Konklusi : Fakta Dibalik Tragedi

“Teman-teman saya! Tolong teman-teman saya!” ratap anak itu.

“Lepaskan dia!” perintah Inspektur pada para petugas paramedis.

“Tapi, Pak…” sang petugas paramedis ingin menolak.

“Teman-teman saya!!!” jerit anak tadi, menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

“Lepaskan anak itu!!!” perintah Inspektur lagi. Kali ini intonasinya lebih keras.

Para petugas paramedis mengalah. Mereka melepaskan pegangannya. Si anak menatap Inspektur, bingung sekaligus berterimakasih. “Bapak siapa?” tanyanya pada Inspektur.

“Namaku Inspektur Gunther Shya. Kurasa kau sekelas dengan anakku.”

Mulut anak itu terbuka lebar. “Cleopatra?” Air matanya mengalir di pipinya.

“Ya, dia putriku.” Inspektur Gunther memeluknya. “Tenanglah, kau aman di sini.”

Namun si anak menolak dipeluk. “Anda tidak mengerti! Cleo dan yang lain, mereka terkubur hidup-hidup! Ada murid gila yang berniat mencelakai kami!”

“Apa maksudmu!?” Mata Inspektur Gunther terbelalak.

“Saya berhasil kabur! Yang lain tertipu kata-katanya dan dia mengurung mereka di ruang penyimpanan beserta dirinya sendiri!”

“Pelan-pelan… kami tidak dapat memahami ceritamu kalau kata-katamu tidak jelas seperti ini.”

Anak tadi tercekat. Dia membuka seragamnya dan mengeluarkan sebuah buku dari balik baju dalamannya. “Ini,” diserahkannya buku itu pada Inspektur Gunther. “Semuanya ada di sini.”

“Buku apa ini?” Inspektur Gunther membuka halaman pertamanya.

“Itu diary kelas. Yang lebih penting sekarang, tolong Anda segera ke belakang sekolah. Cari sebuah pintu tingkap beton. Di bawahnya ada ruang penyimpanan. Di sanalah Cleopatra dan yang lain terkurung. Tolong teman-teman saya!”

Inspektur Gunther langsung memahami kondisinya. “Lakukan yang dia katakan! Panggil bantuan! Segera!” teriaknya.

Bawahannya berhamburan mematuhinya. Inspektur Gunther sendiri berlari menuju belakang gedung sekolah. Si anak berniat menyusulnya yang tentu saja langsung dihalangi petugas paramedis yang menanganinya.

“Lukamu belum sembuh, Nak.” kata si petugas.

“Tapi teman-teman saya?”

“Ada petugas yang lebih kompeten menanganinya! Kemarikan kepalamu, perbannya longgar gara-gara kau banyak bergerak!”

Si anak terpaksa menurut.

“Kalau kau menurut begini kan enak. Kami tahu kau khawatir, tapi kondisimu sendiri juga sedang cedera. Beristirahatlah dulu. Oh ya, namamu siapa? Biar kami bisa menghubungi orang tuamu.”

Si anak meringis karena si petugas terlalu kencang menarik perban di kepalanya. Kemudian dia menyebutkan namanya. “Saya Frans. Frans Lephard.”

“Oke, Frans. Perbanmu sudah rapi. Kau berbaringlah. Kami harus mengecek korban yang lain. Tak apa kan kami tinggal sebentar?”

“Ya, saya—“

“Biar saya yang menjaganya,” seru seseorang.

Frans dan si petugas menoleh ke arah wanita yang datang tiba-tiba itu.

“Anda siapa?” tanya si petugas.

“Saya guru di sekolah ini. Nama saya Collins.”

Sang petugas paramedis menilai Collins secara sambil lalu. “Benar dia gurumu?” tanyanya pada Frans.

“Iya,” jawab Frans meyakinkan.

“Syukurlah, saya sebenarnya tidak enak meminta Anda menjaganya. Tapi kami benar-benar kekurangan tenaga, dan kalau Anda memang bersedia tentunya,” kata si petugas.

“Dengan senang hati.” jawab Collins.

Si petugas meninggalkan mereka.

Setelah tak ada orang lain di sekitar mereka, Frans tertawa kecil. “Collins? Nama yang bodoh, bukan begitu, Bu Donna?”

Collins alias Bu Donna naik ke dalam ambulance dan duduk di samping ranjang Frans. “Nama itu terlarang, Frans. Orang-orang tidak akan memperlakukan seorang Donna dengan baik setelah mereka tahu hal-hal yang kulakukan pada anak-anak itu.”

“Well, Collins tidak terlalu buruk,” tambah Frans. Dia tersenyum dan menarik tangan Bu Donna, lalu meletakkan di atas penisnya yang masih setengah besar belum terlalu tegang.

“Prestasimu kali ini sangat memuaskan, Frans. Pihak sekolah memuji habis-habisan dan upah atas hasil kerjamu ini akan melonjak jauh. Aku pribadi berpendapat ide diary kelas itu brilian. Bukti tertulis yang membuat setiap orang yang menangani kasus ini akan berpikir ke arah yang kau mau.” Bu Donna membuka ritsluiting celana Frans. Begitu tersentuh oleh tangannya, penis Frans langsung berdiri dengan gagahnya dan mulai membesar cepat sekali.

“Yah, kurasa aku harus memulainya dari sana kan? Mova yang baik, dia mengira ide tentang diary kelas itu datang dengan sendirinya dalam otaknya. Padahal sepanjang hari pertama aku menanyakan ke setiap anak, ‘Apa kalian melihat diaryku? Diary itu berisi semua kejadian di SMP-ku, banyak kenangan penting di dalamnya’. Dan Mova menelan pancingan tersebut bulat-bulat. Untungnya dia malah lupa aku yang menyebutkan kata ‘diary’ tersebut. Terlepas dari kemungkinan bahwa dia belum hapal dan mengenal anak lain selain Nabilah.” Frans menahan tangan gurunya itu dan memandangi mata Bu Donna, meminta wanita itu agar segera mengocoknya.

“Aku juga penasaran pada ramalan Jhan yang selalu tepat. Apa menurutmu dia benar-benar bisa meramal?” tersenyum malu dan tersipu, Bu Donna pun melakukannya. Tangannya mulai bergerak naik turun mengurut penis besar Frans.

Frans merintih tanpa suara. “Jhan? Meramal? Ibu percaya itu!? Akulah yang ’meramal’ untuknya. Aku menghadiahinya satu set kartu tarot. Membohonginya bahwa kartu tarot itu bisa meramal sendiri. Selanjutnya setiap aku perlu, aku tinggal mengambil sehelai kartu tarot, menuliskan sebuah ramalan, menyelipkan ke bukunya dan Jhan yang menemukannya kegirangan mengira kartu tarot tadi benar-benar ajaib. Walau kuakui aktingnya sebagai peramal palsu saat menyampaikan ’ramalan-ramalan’ tersebut sungguh memudahkan rencanaku.” Frans merasa tubuhnya melayang, dengan berani dipegangnya lengan Bu Donna, lalu terus naik ke bahu, leher, dan pelan-pelan turun ke dada perempuan cantik itu.

“Tak ada yang curiga?” tanya Bu Donna dengan suara agak sedikit serak saat Frans mulai meremas-remas tonjolan buah dadanya.

“Carada pernah curiga si Jhan tidak se-ahli kelihatannya. Beberapa anak yang lain juga. Lalu lama kelamaan kecurigaan itu hilang dengan sendirinya.” jawab Frans sambil terus memijit-mijit dada bu Donna bergantian, kiri dan kanan, rasanya sungguh empuk dan lembut sekali.

“Ah ya, ramalan pertamanya tentang Frieska kan?” Nampak napas Bu Donna jadi agak sedikit memburu.

“Frieska yang malang. Dia cukup beruntung tidak sampai tewas kudorong dengan keras begitu. Andai kau melihat tubuhnya yang terguling di tangga, begitu menyedihkan.” Frans semakin berani, teringat akan bentuk buah dada Bu Donna yang sering ia lihat, maka dengan sedikit tidak sabar, tangannya mulai masuk ke balik baju perempuan itu dan meremasnya langsung dari balik BH. Ah, terasa hangat dan kenyal.

“Souvenir-mu dari kecelakaan itu sempat menyusahkanku,” cibir Bu Donna dengan suara lirih, tapi dia tidak menolak saat Frans mulai mempreteli baju atas dan juga BH-nya.

“Foto itu maksud ibu? Ayolah, Bu Donna, ma’afkan aku yang tidak sanggup menahan keinginan untuk sekedar memiliki kenang-kenangan di hari itu.” sejenak, Frans memandangi payudara munjung yang membusung ke depan itu. Buah dada Bu Donna begitu besar, putih dan bulat.

“Dengan memotretnya?” Bu Donna agak sedikit menggeliat saat Frans mulai meremas-remasnya penuh nafsu.

“Foto itu memiliki fungsi lain kan?” tanya Frans sambil menundukkan kepala, mencoba mencium puting Bu Donna yang sebelah kanan, lalu mengemut-emutnya seperti mengulum permen.

Sepertinya Bu Donna sangat menikmati permainan itu, nafasnya memburu dengan cepat dan jadi agak sedikit terengah-engah sekarang. “Ahh, tepat, kau berhutang padaku untuknya. Ahh, Kau tahu kan sulit sekali meyakinkan galeri di Bandung itu melalui telepon untuk memajang foto sialan tersebut.”

“Aku suka ide ibu meniru suara si nomor 25 saat menelepon,” puji Frans makin bersemangat, seluruh payudara Bu Donna terus ia jilati, ia emut dan kulum-kulum, bergantian kiri dan kanan.

“Kok kedengarannya ucapanmu tidak tulus ya?” Bu Donna menjadi semakin gelisah, tangannya yang tadi mengocok-ngocok penis Frans berhenti bergerak dan hanya meremas saja dengan kencang sekali. Sebenarnya agak sakit juga rasanya, tapi Frans membiarkannya saja.

“Orang yang paling ’berjasa’ di hari itu kan Ochi, bukan Bu Donna.” agar lebih nikmat, Frans menciumi leher dan bahu Bu Donna yang putih. Ia juga membuka celananya sehingga Bu Donna bisa bebas memegangi penis dan telurnya secara bergantian.

“Keahlian yang unik ya, Ochi itu.” Bu Donna merebahkan tubuhnya di ranjang ambulans hingga Frans lebih leluasa lagi menciumi buah dadanya.

“Layaknya seorang profesional.” semakin terangsang, Frans segera menyerbu tonjolan daging di dada Bu Donna penuh nafsu. Ia meremas-remasnya, memijit-mijitnya keras, sambil tak lupa terus menghisap dan menjilati putingnya. ”Ehmm... berkat ’keahliannya’ itu aku bisa ’mengusir’ Gaby dan yang lain dari sisi Frieska.” kata Frans dengan mulut penuh oleh payudara Bu Donna.

“Bagaimana caramu membujuknya supaya mau terlibat?” tanya Bu Donna kegelian saat ciuman Frans pelan-pelan mulai turun ke perutnya.

“Diawali pujian untuknya tentunya. Dia gila dipuji. Selanjutnya dia langsung tertarik sewaktu kuberi ide untuk mempraktekkan keahliannya.” jawab Frans sambil membuka rok span Bu Donna.

“Apa dia tahu keterkaitan rencana itu dengan rencanamu mencelakai Frieska?” Akhirnya rok yang dikenakannya terlepas dan Frans membuangnya jauh-jauh. Bu Donna hanya memakai celana dalam saja sekarang. Tubuhnya terlihat mulus menggiurkan, bodinya meliuk seperti gitar, dengan tonjolan bokong dan buah dada yang sangat besar sekali, membuat Frans melongo dan tak berkedip saat melihatnya.

“Tidak-lah! Ibu kira aku bodoh. Makanya dia ketakutan setengah mati menghadapi kecelakaan Frieska. Dia menyalahkan dirinya. Hampir saja dia mengaku pada Sonya tapi keburu kutahan dan kubilang padanya semua itu kebetulan belaka. Dia tidak bersalah sedikitpun. Dan pengakuan dirinya hanya bakal membuat dirinya dianggap sebagai ’si pelaku pendorongan.’” jelas Frans sambil mulai menciumi perut Bu Donna, lalu merambat ke bawah dan semakin turun ke bagian kemaluan perempuan cantik itu.

Bu Donna mengangkat pinggulnya sambil mendesah lega. Dibiarkannya Frans menarik turun celana dalamnya hingga terlepas. Wanita itu sudah sepenuhnya telanjang sekarang.

Frans berdecak kagum memandangi tubuh polos ibu gurunya, "Kurasa aku harus sedikit berhati-hati mengenai foto-foto Icha sebenarnya, foto yang mati-matian kuambil diam-diam. Tapi tentu saja berhasil dengan baik. Akuilah ibu kagum padaku." desak Frans sambil mulai menciumi kemaluan Bu Donna yang mulus tanpa rambut pelan-pelan.

“Aku akan kagum kalau ’semua rencanamu’ berhasil. Tanpa celah! Ugh…” sahut Bu Donna dengan tubuh menggelinjang kegelian. Terdengar napasnya yang semakin berat dan terengah-engah.

Giliran Frans yang mencibir. “Aku cuma gagal satu kali kan! Itupun tidak bisa dianggap gagal. Toh Nabilah tetap trauma karenanya. Akibat sopir truk brengsek itu ketakutan di saat-saat akhir dan jadi meleset menabrak Nabilah.” Di bagian tengah vagina Bu Donna agak ke atas, Frans menemukan daging agak keras seperti kacang, klitorisnya.

“Tidakkah terlalu berlebihan membuat Nabilah cacat sebelum waktunya? Aghhh...” rintih Bu Donna saat Frans mulai menjilat-jilat dan kadang mengemut-emut klitoris itu dengan penuh nafsu.

“Mau gimana lagi, aku benci sekali cewek cerewet itu.” sahut Frans, ia terus menciumi vagina Bu Donna dan tahu-tahu merasakan sesuatu yang agak basah dan berbau khas meluncur keluar.

“Ehm, mungkin ancamanmu ke sopir truk itu kurang mengena. Sshh!!” Bu Donna tampak menggoyang-goyangkan kepala dan pantatnya. Cairan yang keluar dari vaginanya juga semakin banyak dan licin.

“Siapa bilang aku mengancamnya!?” Frans yang sudah tidak tahan, segera membuka seluruh bajunya. ”Si sopir truk dungu tersebut minta bayaran 100 juta untuk melakukannya.” Dia sekarang sama-sama bugil seperti Bu Donna. ”Dan alih-alih menabrak Nabilah seperti yang kusuruh, dia malah menghantam pagar.” diperiksanya lagi vagina Bu Donna yang terlihat mengkilat karena basah.

“Dia melaporkanmu ke polisi loh. Auw!” jerit Bu Donna saat Frans menusuk lubang vaginanya dengan jari tangan, berusaha meraba dan mengorek lubangnya yang kecil mungil.

“Mana mau polisi percaya pada ceritanya. Mereka menganggap si sopir mengada-ada untuk meringankan hukumannya.” Wajah Frans mengernyit menahan sakit, dia memijiti kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.

“Kenapa kepalamu sampai terluka begitu?” tanya Bu Donna bersimpati.

“Tak ada alasan khusus sebenarnya. Aku memukul kepalaku sendiri dengan batu biar terlihat seperti korban betulan.” jawab Frans sambil terus mempermainkan selangkangan perempuan cantik itu, berharap agar lubangnya terkuak dan membesar agar bisa segera dimasuki oleh batang penisnya.

“Ooo... pasti sakit sekali ya, Nak?” kata Bu Donna iba. Dibukanya kedua pahanya lebar-lebar saat vaginanya terasa semakin basah dan lengket.  

Frans memicingkan mata, memandanginya. “Aku masukkan sekarang ya, Bu?” sambil ia arahkan penisnya ke vagina Bu Donna.

“Lakukan, Frans… aku sudah siap,” jawab Bu Donna pasrah.

Tanpa harus mengulangi lagi permintaannya, Frans segera merangkak naik, menindih tubuh montok Bu Donna. Bu Donna melebarkan pahanya, memberi jalan bagi penis Frans untuk menuju ke lubang vaginanya. Tapi beberapa kali mencoba memasukkan, beberapa kali pula Frans gagal. Frans tak tahu mana yang benar-benar lubangnya, mana yang hanya belahan vagina.

Tapi tangan Bu Donna segera membantu, memegangi penisnya, membimbingnya ke depan lubang yang tepat, lalu berkata. "Ya, yang itu, Frans... disitu... tekan, Frans... aakkhh...!” Bu Donna merintih ketika penis Frans sudah menekan masuk.

Ketika sudah terbenam seluruhnya, sejenak tubuh Frans menegang kaku, ia diam saja, sedikit nervous. Batang penisnya terasa terjepit oleh dinding-dinding vagina Bu Donna yang seperti berdenyut-denyut dan menghisap-hisap. Nikmat luar biasa.

Bu Donna menggoyang-goyangkan pinggulnya, setengah berputar-putar dan kadang naik turun. Penis Frans yang tertancap di vaginanya dibuat seperti mainan yang membuatnya nikmat tak karuan. "Ayo, Frans... ayo bareng-bareng, goyang juga tubuhmu.” rintih Bu Donna dengan mata setengah terpejam dan mulut yang terus terbuka mendesah-desah kuat.

Frans pun mengimbanginya dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya seirama dengan ayunan sang ibu guru, sampai tiba-tiba Bu Donna seperti terdiam dan kedua tangannya merangkul leher Frans kuat-kuat. Dari mulutnya keluar desahan panjang. "Aakkhh... Oukhh... Engkhh..." Bersamaan dengan rintih kepuasannya, denyutan dan hisapan vagina Bu Donna semakin kuat dan nikmat rasanya. Wanita itu orgasme!

Frans yang juga sudah tidak tahan lagi merasa spermanya akan segera keluar. Karenanya ia menaik-turunkan penisnya semakin cepat, diputar-putar dan dinaik-turunkan terus pinggulnya hingga akhirnya... croott... croott... crroot... cairan itu meledak keluar.

"Akhh..." Bersamaan dengan muncratnya sperma Frans di liang vaginanya, kembali Bu Donna mendesah nikmat. Nafasku memburu, dan dia orgasme sekali lagi. Orgasme beruntun yang membuat tubuhnya jadi lemas sekali. Tapi Bu Donna tetap menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan pelan dan tangannya mengelus-elus rambut Frans sampai penis bocah itu melemas dan terlepas dengan sendirinya.

Beberapa saat mereka tetap saling berpelukan dan bertindihan, sampai akhirnya Frans berkata. “Bagaimana dengan pencapaian tujuan kita, Bu. Apakah ada hasilnya?”

Bu Donna menggeliat dan menarik setumpuk kertas dari dalam tas kerjanya. “Tahun ini panen, Frans. Selain mendapat penggantian asuransi untuk setiap jiwa anak-anak itu, kita juga mendapatkan penutupan asuransi kebakaran untuk sekolah ini.”

“Kuharap kalian puas. Rasanya permainan ini mulai membosankan bagiku. Mengumpulkan semua anak-anak orang penting dan berkuasa dalam satu kelas, memasang asuransi jiwa yang tinggi bagi mereka, menjebak mereka dalam suatu kecelakaan, lalu apa yang keluarga kami dapat? Upah yang tak sebanding sementara pihak sekolah berfoya-foya dengan uang penggantian dari pihak asuransi.”

“Jangan mengeluh padaku. Bukan aku yang membayarmu. Pihak sekolah bilang ini adalah tahun terakhir, Frans. Perusahaan-perusahaan asuransi kita mulai curiga walau mereka tidak punya bukti semua kecelakaan dalam enam tahun terakhir sudah diatur.”

“Asuransi jiwa siapa yang paling tinggi?”

“Kau tidak akan percaya ini!” Bu Donna membalik kertas di hadapannya, menunjuk ke sebuah nama, “Giovani Nova! Lihat, nilai pertanggungan asuransinya bahkan dua kali lipat dari nilai Trisha Ellen yang kita dapat tahun lalu.”

“Yang paling kecil?” tanya Frans.

“Tunggu, kubaca sampai akhir dulu. Wah, ternyata ada tiga anak di tahun ini yang nilainya lebih tinggi dari nilai Trisha. Haya Saptayudha, si anak sok penting itu; Radith Cobey, luar biasa nilainya; terakhir Andy Dhanie Elfani, si bodoh itu, ada gunanya juga dia akhirnya. Sayangnya aku agak kecewa pada nilai pertanggungan Rudy Wisnubrata. Menyamai Trisha sih, tapi kupikir seharusnya bisa lebih tinggi lagi.”

“Siapa yang paling kecil!?” ulang Frans tidak sabar.

“Rica Leyona.”

“Apa? Bukan Shania Juniantha ya?”

“Kau ini kenapa!? Kaget mendengar Rica pertanggungannya rendah, tapi tenang-tenang saja saat tahu Gio mendapat angka fantastis.”

“Ayah Gio memang cuma seorang pemilik restoran mewah. Kalah pamor dengan anak yang lain. Tapi ibunya adalah sepupu Presiden.”

“Yang benar!!!” tanya Bu Donna tak percaya.

“Aku juga baru tahu saat ke rumahnya untuk membuat bakpau maut dulu.”

“Pssssttt…” Bu Donna menempelkan telunjuknya di bibir. “Inspektur itu kembali.”

Mereka cepat-cepat memakai pakaian kembali dan berlagak tidak pernah terjadi apa-apa.

Frans menyambut Inspektur Gunther, “Pak Inspektur, bagaimana teman-teman saya?”

“Sulit,” jawab Inspektur Gunther. “Ruang penyimpanan yang kau maksud dipenuhi bongkahan beton yang runtuh dari langit-langitnya. Kami terpaksa mengeluarkan bongkahan-bongkahan tersebut terlebih dahulu. Aku ke sini untuk melihat keadaanmu. Namamu Frans, kan?”

Frans mengedik pelan. “Ya. Bapak tahu dari petugas paramedis ya?”

“Bukan. Sebenarnya saat ini seluruh orangtua teman sekelasmu telah tiba di sini dan mereka menunggu proses penyelamatan di dekat pintu tingkap ruang penyimpanan. Aku punya daftar nama murid di kelasmu dan kuperhatikan hanya orang tua dari anak bernama Frans Lephard yang tidak datang.”

“Saya tinggal bersama kakak saya,” jelas Frans.

“Aku juga sudah selesai membaca buku diary kalian.” Inspektur Gunther mendesah panjang. “Sungguh tak terbayangkan penderitaan yang kalian alami selama ini. Siapa si nomor 25 itu sebenarnya?”

Frans menunduk, berakting terpukul, “Kami tidak tahu apapun tentang dia.”

“Aku bisa merasakannya. Kelas kalian terasa tidak normal bagi siapapun.” Inspektur Gunther menepuk kepala Frans. “Usai membaca tulisanmu, dan mempelajari pandangan setiap anak padamu, aku mengambil kesimpulan kau anak yang baik, Frans.”

“Saya setuju,” kata Bu Donna ikut campur.

“Maaf, Anda siapa?” tanya Inspektur Gunther, baru menyadari keberadaan Bu Donna.

Bu Donna mengulurkan tangannya yang disambut ragu oleh Inspektur Gunther. “Saya Collins, salah satu guru di sekolah ini.”

“Guru?” tangkap Inspektur Gunther. “Anda kenal dengan Pak Richard berarti?”

“Dia kolega kami.”

“Apa Anda tahu dia telah memberikan tes-tes aneh pada siswa dan cara mengajarnya pun tak lazim? Buktinya tertulis di buku ini.” Inspektur Gunther menunjukkan diary kelas.

Bu Donna mengulurkan tangannya, dikiranya si Inspektur menyuruhnya membacanya.

Namun Inspektur Gunther menjauhkan buku itu dari jangkauan Bu Donna. “Maaf, Bu Collins, buku ini barang bukti, jadi tak sembarang orang bisa melihatnya.”

Toh aku sudah tahu isinya, pikir Bu Donna, sedikit kesal. “Kami juga minta maaf Pak Inspektur. Pihak sekolah baru mengetahui ’penyimpangan’ Pak Richard dua minggu kemudian. Karena itulah kami memecatnya dan menggantinya dengan Pak Benny.”

“Saya rasa Pihak Sekolah harus bertanggung jawab terhadap kasus ini. Ditambah permintaan maaf pada semua orang tua murid secara langsung. Itupun takkan cukup. Saya akan pastikan pihak kepolisian tidak akan tinggal diam. Sekolah ini dalam masalah besar.”

Bu Donna menunduk. “Pasti, Pak.” Namun hatinya tersenyum, karena sekolah selalu berhasil lolos seperti tahun-tahun sebelumnya, polisi takkan menemukan keterlibatan pihak sekolah sedikitpun dalam kasus ini.

“Anda tenang sekali,” kata Frans. Dia tidak suka mendengar kata ’tanggung jawab’ apalagi ’permintaan ma’af.’

“Ya, Nak?” Inspektur Gunther kebingungan pada nada suara Frans yang mengandung kebencian.

“Anda tenang sekali,” ulang Frans, memasang lagi nada suara ‘anak baik-baik’nya. “Padahal Anda bilang ruangan penyimpanan tempat teman-teman saya berada termasuk anak Anda penuh bongkahan beton. Dengan kata lain persentase kemungkinan mereka masih hidup sangatlah kecil.”

Inspektur Gunther menggigit bibirnya. “Aku hancur. Tentu saja. Tapi kalau aku tidak mampu mengatasi emosiku sendiri, aku hanya akan membuat segala sesuatunya tambah tidak karuan.”

“Anda hebat,” puji Frans pelan.

“Aku harus kembali.” Inspektur Gunther beranjak pergi.

“Saya ikut.” Frans turun perlahan dari ambulance.

“Jangan, kau harus banyak istirahat,” cegah Inspektur Gunther.

“Tak apa, saya akan menemaninya,” tawar Bu Donna.

Inspektur Gunther menimbang-nimbang usul tersebut. Terasa sekali kebenciannya pada pihak sekolah mempengaruhi caranya menilai Bu Donna (atau Collins).

“Kau yakin sudah cukup kuat?” kata Inspektur Gunther. Nada penolakannya mudah dikenali.

“Saya bersikeras,” putus Frans.

Inspektur Gunther tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ketiganya berjalan dalam diam. Tidak. Tidak ketiganya. Bu Donna menelepon seseorang melalui ponselnya. Inspektur Gunther tidak mendengarnya sebab suara wanita itu teredam oleh celotehan ratusan orang yang pulang setelah yakin tak ada lagi yang bisa mereka tonton.

Frans menghirup udara malam dengan lega. Bayangan hari-hari terakhir yang dilaluinya berkelebat di kepalanya. Hari dimana Baddy duluan menyapanya dan memintanya duduk di sampingnya. Game bodoh ’Truth or Dare’ yang dimainkannya bersama Radith dan Ken, yang berakhir pada aksi ciumannya dengan Ken. Dan pertandingan catur penuh muslihatnya melawan Rica.

Dia menyukai mereka sekaligus mengasihani. Rasa sukanya bahkan lebih untuk satu orang. Mova. Frans sudah memohon supaya boleh mencoret nama Mova dari daftar anak yang harus dikorbankan. Namun Dewan sekolah menolak mentah-mentah permintaannya, mereka malah menertawakannya dan menuding kemampuannya melempem gara-gara terbawa perasaan.

Kelegaannya terhenti. Beban yang dipikirnya akan turut menghilang seiring selesainya tugasnya ternyata malah meninggalkan ruang kosong di hatinya. Dia membalikkan badan, melemparkan pandangan sengit pada Bu Donna yang masih saja sibuk menelepon. Kemarahan membuncah di dadanya. Bu Donna membalasnya dengan memberi pandangan ‘apa?’.

“Kau harus memakainya.”

Frans terkesiap. Inspektur Gunther menyodorkan sehelai masker kain ke wajahnya.

“Udara di belakang sekolah dicemari oleh asap, debu, abu dan benda-benda mikroorganik lain yang cukup berbahaya kalau sampai terhirup. Makanya kita harus memakainya.” Inspektur Gunther memakai masker tadi. Frans mengikutinya.

Seorang polisi memberikan masker untuk Bu Donna. Bu Donna mengakhiri pembicaraannya, memakai masker tersebut dengan cara menempelkannya di hidungnya menggunakan tangan, bukan dengan mengaitkan talinya di telinga seperti yang dilakukan orang lain.

Gedung sekolah tak bisa dikenali. Tiang-tiang besar menghitam. Bersedih sebab tak sanggup menopang beban yang diterima setiap lantai. Reruntuhan lantai dan dinding berkeretak-keretak, sementara abu dari perabotan yang terbakar menumpuk dimana-mana. Api kecil masih berkobar di beberapa titik, para petugas melemparkan pasir untuk memadamkannya.

Di sekitar pintu ruang penyimpanan, berdiri puluhan orang tua murid yang memasang wajah terpukul. Beberapa diantaranya terisak perlahan. Frans mengenali ayah Micah dan menyapanya. Ayah Micah memperkenalkannya pada ibu Micah sebagai ‘teman Micah yang baik hati’. Ibu Micah menangis sambil memeluknya. Frans mengusap punggung ibu muda itu untuk menenangkannya.

Bu Donna menatap pemandangan itu penuh rasa kagum. Sialan si anak setan ini, mahir sekali bersandiwara, pikirnya.

Sekonyong-konyong terdengar kegaduhan dari bawah.

“Ada apa itu?”

Setiap orang bertanya-tanya dan menunggu dalam gelisah.

“Mereka menemukan anak-anak itu!” seru Inspektur Gunther. “Tolong semuanya mundur ke belakang! Kalian mempersulit proses evakuasi timku bila bergerombol di sini! Mundur segera!” Inspektur Gunther berteriak-teriak.

Sembari berharap banyak dan berdo’a tanpa henti, lamban serta enggan, para orang tua murid mundur mengikuti instruksi. Setiap orang diliputi ketegangan. Tak ada yang berniat berbicara.

Frans mengernyit. Jari jemari ibu Micah mencengkeram lengannya terlalu erat.

Kemudian tubuh pertama diangkat perlahan dari dalam ruang penyimpanan.

Seorang ibu gendut berteriak histeris, “ANDY...!!!” Dia berlari menyongsong anaknya. Memeluk dan menangisi tubuh Andy yang mulai dingin.

Mayat kedua muncul hanya berselang beberapa menit kemudian. Mayat Imban. Darah mengering di kakinya yang remuk. Kali ini giliran seorang nenek yang memekik menyedihkan. Seakan tak kuat menanggung kenyataan, nenek itu roboh di tempat.

Kejadian tersebut terus terulang, setiap ada tubuh yang diangkat ke atas pasti dilanjutkan oleh jeritan maupun tangisan.

Begitu pula Inspektur Gunther yang menatap getir wajah Cleopatra yang diselimuti serpihan batu. Dia mengangkat mayat anaknya menjauh sambil terisak perlahan.

Mayat demi mayat dikeluarkan. Rudy dikeluarkan setelah mayat Carada yang kondisinya paling mengenaskan diungsikan ke ambulance.

Lalu dua anak dikeluarkan bersamaan. “Anak ini meninggal dalam posisi memeluk anak yang lainnya,” terang seorang petugas evakuasi. “Kami tidak dapat melepaskan pelukannya. Mau tidak mau harus diangkut berdua sekaligus. Apa ada yang bisa mengidentifikasi siapa anak perempuan yang dipeluknya? Wajahnya penuh darah…”

“Melody,” jawab Frans, melepas maskernya.

Semua orang memandangi Frans.

“Satu-satunya anak yang akan dipeluk dan dilindungi Rudy hanyalah Melody Nurramdhani Laksani,” lanjut Frans.

Orang tua Melody melangkah maju. Pakaian yang mereka pakai elegan namun penuh noda arang. “Ya, dia anakku,” isak ibu Melody.

Tinggal tiga orang, hitung Frans dalam hati. Dan orang yang ditunggunya belum dikeluarkan. Seseorang menepuk pundak Frans. Frans menengadah, matanya bertemu mata Inspektur Gunther yang sembab.

“Inspektur? Bukankah tadi Anda…? Cleopatra kan?” Frans memaki dalam hati, tidak menyangka Inspektur Gunther kembali secepat itu.

“Aku khawatir padamu.”

“Pada saya?”

“Anak seusiamu melihat pemandangan mengerikan ini dapat menimbulkan trauma. Bisa merugikan kondisi kejiwaanmu. Ada baiknya kau segera pulang.”

Tidak usah sok baik hati, caci Frans dalam hati. “Sebentar lagi,” mohonnya berpura-pura.

Inspektur Gunther memanggil salah satu bawahannya. “Sisa berapa anak di bawah sana?”

“Dua,” jawab bawahannya. “Satu anak perempuan. Yang lagi diangkat itu…”

Mova.

Tubuh Frans spontan bergerak berniat mendekat. Dengan sigap Bu Donna menarik tangan Frans, menahannya. Frans menyentakkan tangan itu, berusaha melepaskan pegangan Bu Donna. Tenaga Bu Donna lebih kuat, pegangannya tak terlepas, dia menggeleng, memaksa Frans bersabar.

Dengan getir Frans hanya bisa memandangi dari jauh sosok Mova yang berada dalam gendongan ayahnya. Ibu Mova membelai rambut anaknya, menangis tanpa suara.

“Satu lagi anak laki-laki gendut, agak sulit mengangkatnya,” terang bawahan Inspektur Gunther.

Mereka salah hitung, pikir Frans.

Sebuah kepala muncul dari dalam ruang penyimpanan. “Inspektur Gunther. Ini keajaiban, Pak! Kami perlu bantuan Anda di bawah sini!”

Inspektur Gunther buru-buru berlari, “Kuharap ini penting, Larry!”

Secercah senyum samar menghiasi wajah Larry. “Ada yang masih hidup, Pak.”

Frans terhuyung ke belakang. Wajahnya pucat pasi. Shock yang serupa dialami oleh Bu Donna.

“Frans, apa mereka serius? Hei, Frans!” Kata-kata Bu Donna melesat bagai angin lalu.

Frans tidak menjawab, dia sibuk mengingat siapa saja yang sudah diungsikan keluar.

Merasa tidak diacuhkan, Bu Donna mencari tahu sendiri jawaban atas pertanyaannya. Dia berlagak mau membantu proses evakuasi. Disingkirkannya bongkahan beton yang menghalangi jalan dua petugas evakuasi yang menggotong tubuh Gio. “Kudengar ada anak yang berhasil bertahan hidup?” tanyanya.

Mereka mengiyakan. “Mukjizat, kurasa. Anak itu jiwanya sangat terguncang. Inspektur Gunther masih membujuknya supaya mau keluar.”

“Bagaimana dia bisa bertahan?”

“Oh, anak itu bersembunyi di sebuah lubang kecil. Lubang itu tak terlihat oleh kami karena anak gemuk ini menutupinya.” Mereka membaringkan tubuh Gio di sebuah tandu. “Kalau dipikir-pikir lagi, aku malah menduga semua anak yang meninggal di sana berusaha melindungi lubang persembunyian dia. Bisa dilihat dari posisi mereka yang berkumpul di sekitar lubang.”

Cukup, batin Bu DonnaDia harus kabur. Anak yang selamat tadi bisa membongkar penyamarannya. Bu Donna melalui Frans tanpa pamit.

Inspektur Gunther keluar dari ruang penyimpanan membawa seorang anak bersamaan dengan menghilangnya Bu Donna di tengah kerumunan petugas kebakaran.

Bagi Frans, waktu terasa berjalan sangat lambat. Dia menatap anak itu. Anak itu membalas tatapannya. Si anak melepas rangkulan Inspektur Gunther, menepis tangan orang tuanya. Frans merentangkan tangannya, bersiap memeluk Nabilah.

Ya, anak itu Nabilah.

Cuma Nabilah, pikir Frans. Hanya anak yang kekurangannya lebih menonjol daripada kelebihannya, pikir Frans lagi. Apa sih yang bisa Nabilah lakukan? Rencana-rencana yang disusunnya sempurna. Seorang Nabilah takkan berpeluang mengacaukannya.

Nabilah beruntung. Oh, Frans berharap andai saja yang selamat dan berdiri di hadapannya sekarang adalah Mova.

Langkah Frans tersendat. Ada yang salah, pikirnya. Tangannya makin terangkat, namun Nabilah tak juga menjatuhkan diri ke pelukannya. “Nabilah?” lirih Frans.

Kejadian itu berlangsung cepat. Telapak tangan Nabilah menghantam pipi Frans. Tamparan itu membekas merah. Frans tak sempat menghindar.

Inspektur Gunther dan kedua orang tua Nabilah terbelalak. Orang-orang yang berada di sekeliling mereka juga membisu, menghentikan pekerjaan mereka masing-masing.

“Kami TAHU!” teriak Nabilah diselingi tangisan pilu. “Jika kau pikir kau sudah berhasil membodohi kami, maka kau SALAH! Kami TAHU kau menjebak kami!!!”

“Tenangkan dirimu, Nak,” kata Inspektur Gunther. “Kau masih terpukul.”

Nabilah menggeleng lemah. Diserahkannya sehelai kertas pada Inspektur Gunther. Dan Nabilah pun mulai bercerita dengan terbata-bata dan air mata yang tak berhenti mengalir.

***

Jalan yang Mereka Pilih

Ruang Penyimpanan, satu jam sebelum kebakaran

Radith mendorong si nomor 25. Tubuh gadis malang itu jatuh tersungkur. “Katakan apa maumu!?” hardik Radith.

Si nomor 25 bangkit, berdiri. “Apa semuanya sudah di sini?”

Anak-anak di sana saling berpandangan. “Sepertinya sudah,” jawab Icha, mewakili teman-temannya.

“Baiklah.” Si nomor 25 tersenyum singkat. Tangannya gemetaran mengeluarkan sebuah benda dari sakunya. Benda tadi tergelincir dari tangannya. Terbanting di lantai dan berhenti di antara kedua kaki Jhan.

Jhan menunduk berniat mengambilnya. Namun si nomor 25 duluan melompat, menyambarnya dan menekan tombol di benda tersebut.

BLARRR!!! Sebuah ledakan mengagetkan semua anak.

Rica yang berada paling dekat dengan lubang keluar, melompat mundur. Menabrak Frieska yang langsung mengomel.

“Pi-pintunya!” teriak Andy kalap.

“Apa yang kau lakukan!!!” raung Radith pada si nomor 25. Ditariknya kerah seragam anak itu.

Si nomor 25 tertawa panjang. Sumpah serapah menyembur dari mulutnya. Radith makin kalap dan mengguncang tubuh gadis tadi. “Per-cu-ma…” kata si nomor 25. “Apa-pun yang kau lakukan, kita tetap akan mati disini.”

Radith melepaskan cekalannya. Si nomor 25 terbatuk-batuk. “Apa arti kata-kata lue barusan!?” paksa Radith.

Si nomor 25 memandangi wajah setiap anak satu persatu. Lalu dia menjelaskan semuanya. Kemarahannya, rencana balas dendamnya dan kematian yang menanti mereka semua.

Keheningan tidak wajar menyelimuti ruangan itu. Setiap anak tak mau kehilangan barang satu katapun dari mulut si nomor 25. Mulut-mulut mereka menganga tak percaya.

Reaksi pertama mereka adalah kepalan tangan Radith yang menghantam pipi si nomor 25. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali. Radith membabi-buta memukuli si nomor 25. Dia meraung sejadi-jadinya.

Penyiksaan itu berakhir berkat Fahira dan Gaby yang menahan kedua tangan Radith. “Hentikan...” mohon Fahira.

“Ini tidak menyelesaikan masalah,” lirih Gaby. Air mata keduanya membasahi lengan Radith.

“Mereka benar, Radith. Dalam keadaan seperti ini kita harus menghadapinya dengan kepala dingin,” kata Haya.

“Diam lue, Haya! Jangan mentang-mentang lue ketua kelas maka lue pikir bisa memerintah gue seenaknya! Jabatan lue itu formalitas belaka! Tak pernah ada yang mau lue pimpin!” bantah Radith.

“Kau pikir aku mati rasa ya!” teriak Haya tidak kalah keras. “Oke, kalau kalian tidak suka aku yang jadi ketua kelas. Tapi tolong untuk kali ini saja, dengarkan aku!”

Anak-anak terperangah, selama ini ‘tolong’ adalah kata yang anti diucapkan si angkuh Haya.

“Kau punya ide?” tanya Ken.

Haya mengiyakan. “Rudy, pakai ponselmu. Hubungi siapapun juga, minta mereka segera mengeluarkan kita dari sini.”

“Waaa… Gio tidak terpikir ada cara seperti itu,” puji Gio.

Rudy menelan ludahnya. “Maaf, seluruh ponselku kutinggal di tas, di kelas.”

“Kalau begitu, siapapun di antara kalian yang membawa ponsel bisa melakukannya,” lempar Haya kepada yang lain.

Tak ada gerakan.

“Kenapa tidak pakai punyamu sendiri?” celetuk Icha.

“Tidak bisa, ponselku dipinjam Frans. Katanya ponsel dia ketinggalan dan dia mau menelepon orang tuanya, penting.”

“Loh, Frans juga pinjam ponselku,” kata Baddy.

“Punyaku juga,” sambut yang lain.

Nada keheranan bermunculan.

“Alasannya malah sama,” tukas Melody, diakuri semua anak.

Haya mengangkat tangannya, menyuruh tenang. “Tunggu dulu, siapa saja yang ponselnya dipinjam Frans?”

Tangan-tangan diacungkan. Semuanya!

“Ponsel siapa yang sudah dikembalikan?”

Tangan-tangan diturunkan. Lagi-lagi semuanya!

“Bagaimana bisa ponsel semua anak dipinjam bersamaan?! Lalu mana Frans?” lontar Haya pada Baddy.

Sebagai jawaban, Baddy mengangkat bahunya. “Mana kutahu, aku dari tadi juga tidak melihatnya.”

“Anu Ha-ya…” Andy menarik baju Haya.

“Tidak sekarang Andy, aku sibuk.”

“Haya... a-aku…”

“Andy, jangan ganggu aku!” bentak Haya.

Akibatnya jelas, Andy mundur dengan wajah pucat. Gaby menengahi keduanya. “Kau mulai mempertontonkan keangkuhanmu lagi, Haya,” sindir Gaby. “Kami tak mungkin mau mendengar kata-katamu bila kau sendiri menolak mendengar apa yang mau kami katakan.”

Mulut Haya naik turun.

“Kau ingin menyampaikan apa, Andy?” tanya Gaby.

“A-aku… su-sudah menghi-hitung jum-jumlah kita. A-ada dua e-empat orang sa-saja,” jelas Andy, gugup.

“Dua empat!” Nabilah bersorak. “Nabilah juga menghitung. Frans tidak ada di sini!”

“Bagus sekali!” kata Icha. “Frans pintar dan tidak terjebak di sini. Saat ini dia pasti memanggil bala bantuan untuk menyelamatkan kita. Tinggal menunggu saja.”

Beberapa anak bersorak setuju. Gembira dan lega.

“Ide ponsel tadi juga bagus.” Haya bersikukuh pada ide awalnya.

“Sia-sia,” tanggap Carada. “Liat kompas di jam tangan gue. Jarumnya berputar tidak karuan. Itu menandakan dinding di sini mengandung magnet kuat. Sinyal ponsel juga bakal bermasalah jadinya. Dan dia sudah memperhitungkan itu.” Ditunjuknya si nomor 25.

“Untungnya dia gagal,” kata Icha. “Hei kamu.” dia menjambak rambut si nomor 25.

“Icha, lepaskan anak itu!” suruh Mova.

“Jangan ikut campur, Mov. Aku cuma mau tahu kenapa anak ini tidak juga mau mengakui semua kesalahannya dan malah berencana mencelakakan kita semua.”

“Itu intinya kan…” jawab si nomor 25, tenang. “Kalian memaksaku menanggung semua kesalahan yang tidak pernah kuperbuat.”

“Terus darimana kau mendapat cd itu!?” todong Icha.

Si nomor 25 melirik Icha, mengasihani, “Kau benar-benar ingin tahu?”

Icha menarik rambut si nomor 25 keras-keras. “Kau ingin mempermainkanku ya!?”

Si nomor 25 menjerit kesakitan. Mova dan Melody menolongnya. Menjauhkan Icha yang berwajah murka.

“Aku mendapatkannya dari Frans!” rintih si nomor 25. “Puas!?”

“Bohong!” tolak Icha.

Kemudian Rica bergabung dalam pembicaraan itu. “Aku mau tanya…”

“Kumohon jangan menyinggung masalah darah, Rica,” mohon Melody. “Kita menghadapi masalah penting di sini.”

“Kali ini bukan,” kata Rica. Melody menarik nafas lega.

Rica berlutut di depan si nomor 25. “Apa kau yang memecahkan kaca jendela saat kita berkebun?”

“Bukan aku,” jawab si nomor 25, tegas.

“Dia bohong lagi!” lolong Icha.

Tidak peduli pada lolongan tadi, Rica mengalihkan pandangannya pada Radith. “Radith, apa kau melihat hal yang sama seperti yang kulihat saat itu?”

Radith mengumpat, “Gue gak ngelihat apa-apa!”

“Kalian ngomong apa sih?” seru Carada. “Gue gak paham nih.”

“Kau melihatnya kan, Radith?” paksa Rica.

“Melihat apa!?” Radith berusaha menghindar.

“Melihat pelaku sebenarnya yang memecahkan kaca itu,” kata Rica, senang melihat Radith ketakutan.

“Pelaku sebenarnya?” repet Carada. “Rica, katakan siapa pelakunya!”

“Frans,” cetus Rica tenang, tapi berhasil menimbulkan gelombang kekagetan.

“Sekarang Rica yang berbohong!” tuduh Icha.

“Tanya saja pada Radith. Aku memang tidak yakin karena melihat sekelebat saja. Tapi aku yakin Frans memakai ketapel untuk memecahkan kaca.”

Semua anak memandang Radith. Meminta konfirmasinya.

Radith menggertakan giginya. “Iya! Iya! Memang Frans pelakunya!”

Lagi-lagi Icha merepet, “Jangan-jangan, ’rahasia besar’ Frans yang kamu pegang itu, ’itu ya?’”

Radith mendengus mengiyakan.

Rica ditegur Melody, “Rica juga, kenapa baru mengatakannya sekarang?”

“Aku kan tidak yakin,” cengir Rica.

“Tetap saja tidak merubah kenyataan, bahwa gadis itulah yang mencelakaiku,” todong Frieska pada si nomor 25. Dia duduk di lantai diapit Sonya dan Ochi yang sama-sama pucat dan ketakutan.

“Harus berapa kali kubilang pada kalian, aku tidak terkait sedikitpun dengan kecelakaan itu!” balas si nomor 25.

“Pem-Bo-Hong!!!” Icha membela Frieska.

“Thanks, Icha, tapi aku bisa membela diriku sendiri,” kata Frieska.

Sonya mempermainkan rambut panjangnya. “Tidakkah kalian penasaran bagaimana Frieska bisa kecelakaan padahal dia terus bersama kita? Aku sih penasaran.”

“Aku meninggalkan kalian kok,” kata Frieska.

“Oh tidak, Nona, aku mengobrol denganmu sepanjang jalan, aku mendu—“

“Itu aku,” potong Ochi.

Frieska dan Sonya menjerit bersamaan. “O-Ochi... kau… kau!! Kau bisa bicara!”

Terluka oleh kata-kata tersebut, Ochi merengut. “Tentu saja aku bisa!”

“Maksudku, ada kata-kata lain yang keluar dari mulutmu, itu… eng… aneh…”
kata Sonya malu-malu.

“Aku mau mengakui sesuatu.” Ochi berdiri. “Ini tidak mudah, tapi aku harus.”

“Ada pembohong yang lain?” tanya Icha bersemangat.

Bukan itu maksudku,” kata Ochi, suara yang keluar berbeda jauh dari nada suaranya sendiri.

“Hei, itu suaraku!” Jhan terperangah.

Ochi berdeham. “Kalian bisa melihat kemampuanku.” Suaranya kali ini dalam dan renyah.

Carada terkekeh. “Hooo… itu ‘suara’ gue! Coba ’yang lain’, Chi!”

Ochi menurutinya. Meniru suara anak-anak yang lain. Sangat mirip. Tak terlihat berbeda sedikitpun. Andy bahkan bertepuk tangan saking kagumnya.

“Sejak kapan kau bisa menjiplak suara orang lain?” Ken memonyongkan mulutnya pada Ochi.

“Sejak SD. Sebagai catatan, aku tidak suka istilah ’menjiplak’-mu.”

“Ochi, katamu tadi kau ingin mengakui sesuatu.” Gaby mengingatkan.

“Ya, Gab. Frieska memang meninggalkan kalian saat itu. Setelah dia pergi, aku diam-diam mengikuti kalian dari belakang. Menjawab setiap pertanyaan yang kalian lontarkan padanya. Dengan meniru suaranya. Mengira dia terus bersama kalian adalah tujuanku. Aku menyesal lelucon itu berakhir buruk.”

“Itu tindakan bodoh, Ochi!” maki Frieska. “Apa kau disuruh si nomor 25?”

“Kecelakaan itu diluar kendaliku. Frans bilang kalian pasti mengerti!”

“Frans!? Apa hubungannya Frans dengan lelucon brengsekmu!?” Frieska jadi
kalap.

“Di-dia yang menyuruhku melakukannya…” Wajah Ochi pucat pasi. “Di-dia
me-menyuruhku…”

Anak-anak berpikir keras mencernanya. Firasat mereka mulai tidak enak.

“Terlalu aneh untuk disebut kebetulan.” Gaby bersandar sambil menopang dagu. “Frans terus terkait di berbagai kasus.”

Tangan Gio dilambai-lambaikan. “Gio suka Frans-kun. Dia baik. Kalian keterlaluan menjelek-jelekkan Frans-kun di belakangnya. Apalagi saat ini Frans-kun pasti sedang mengusahakan suatu cara untuk mengeluarkan kita semua dari sini. Frans-kun harapan kita satu-satunya!”

“Kami tidak menjelek-jelekkan siapapun, Gio. Kita hanya sedang mencari kebenaran di sini, tidak lebih.” Gaby berusaha menenangkan Gio.

“Syukurlah…” Gio mengurut dada. “Gio kagum sama Frans-kun. Selain baik pada siapapun dia juga pandai membuat kue. Bakpau buatannya waktu darmawisata kemarin enak kan?”

“Wo… wo… wo…” Carada membuat isyarat ‘dia sudah gila’ dengan jari-jarinya. “Bakpau itu buatan lue kan? Masa lupa.”

Gio melongo. “Bukan. Gio kan cuma ngebawakan. Frans-kun yang buat.”

“Jelaskan lebih rinci, Gio,” pinta Gaby. Tangannya memegangi bahu Gio.

“Malam itu Gio sudah mau tidur. Lalu Papa mengetuk pintu kamar Gio, bilang ada teman Gio yang bertamu. Ternyata Frans-kun. Frans-kun minta maaf sudah mengganggu waktu istirahat Gio. Gio jawab, tidak apa-apa Frans-kun. Selanjutnya Frans-kun mengajak Gio ngebuat bakpau. Resep baru katanya. Untuk dibagikan ke teman sekelas katanya lagi. Untungnya dapur di rumah Gio punya persediaan semua bahannya. Frans-kun hebat loh. Cara menakarnya, mengaduknya, mengukusnya, dan menghiasnya sudah layaknya seorang koki profesional. Frans-kun juga menambahkan perasa yang dibawanya sendiri. Mungkin berkat cairan perasa berwarna biru itu ya maka rasa bakpaunya berbeda? Kalau tidak salah di botol cairan itu tertulis EMR gitu. Hehe.. Gio lupa lengkapnya.”

“Huwaaa….” Micah mendadak merepet aneh. “EMR Absolute Milk?!. Kau yakin cairan itu yang dimasukkan oleh Frans?”

“Tepat… itu dia!” Gio kesenangan. “Micah-kun tahu juga perasa makanan itu ya?”

“Gio! Itu bukan perasa makanan! EMR Absolute Milk itu sejenis enzim sintesis yang akan jadi racun kalau bercampur dengan susu! Kau baru saja membuka fakta bahwa bakpau Frans-lah yang membuat kita keracunan sewaktu di Milkubaya!!!” teriak Micah, putus asa.

Teriakan Micah membuka otak-otak yang buntu, membelalakkan kebenaran sebegitu jelasnya, serta menghujamkan pisau-pisau pengkhianatan di hati setiap anak.

“Dia yang meracuni susu kita saat darmawisata. Dia! Si nomor 25 sialan itu!” sangkal Cleopatra. Dia masih menuduh si nomor 25.

“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk terus mempertahankan kekeraskepalaanmu, Cleo,” kata Gaby. “Frans pintar sekali, turut memakan bakpau itu, keracunan sama seperti korbannya, agar tidak dicurigai.”

“Apakah ini berarti kita menghukum orang yang salah?” Nabilah tidak berani memandang si nomor 25.

“Tidak. Lue ngelupain satu kasus. Si nomor 25 sialan ini menyetrum gue. Gue ngelihat sendiri dia berkeliaran dekat toilet pria,” amuk Radith.

“Aku baru mau membahas soal itu,” kata Rudy. “Kecuali si nomor 25 punya kemampuan membelah diri, maka orang yang kau lihat itu bukanlah dia.”

“Gue ngelihatnya! Dia! Apa lue menuduh gue rabun!” Radith mengibaskan tangannya penuh ancaman.

Rudy tidak takut pada ancaman Radith. “Radith, di saat kami mendengar teriakan Micah, semua anak perempuan, termasuk si nomor 25 masih lari marathon.”

“Larinya si nomor 25 cepat sekali,” kata Mova. “Dia jadi pusat perhatian semua anak perempuan.” Perkataannya mendukung pernyataan Rudy.

“Yang tidak ada saat itu malah Frans.” Rudy mengambil alih lagi. “Dia pergi berselang hanya beberapa menit setelah kalian kabur.”

Radith ambruk dan berlutut di lantai. “Jadi Frans yang mengatur semuanya…” katanya, tidak percaya.

“Bandoku juga tidak jatuh sewaktu di toilet cewek. Frans menyuruhku melemparnya ke luar jendela, dia bilang itu semacam terapi psikologi untuk menghilangkan claustrophobia-ku,” aku Sonya.

“Supaya kita menemukan pintu tingkap itu tentunya!” cericit Fahira.

“Makanan si nomor 25 juga si Frans yang menyediakannya kan!?” kata Ken. “Supaya terjamin kesehatannya katanya! Alasan licik agar dia bisa menukarnya dengan makanan basi!”

BLEGURRRR!!! Sebuah dentaman nyaring membuat semua anak menengadah. Dinding dan langit-langit bergetar hebat.

“A-apa itu!?” Nabilah histeris.

“Konstruksinya rapuh oleh api. Langit-langitnya telah kolaps dan sebentar lagi runtuh,” kata si nomor 25, dingin.

Krak!!! Kraaakkk!!! Krakakakaakkk…!!! Suara patahan bergema di ruangan tersebut. Anak-anak berlarian panik sewaktu sebongkah beton terjun ke arah mereka.

Carada terlambat menghindar. Beton itu menyerempet bahunya. Darah mengalir deras dari luka di bahunya yang terkoyak.

Nabilah berteriak memilukan. Melody tidak sanggup melihat, menyembunyikan wajahnya di pelukan Rudy. Bertindak sigap, Micah merobek seragamnya sendiri, membalut luka Carada yang meraung kesakitan. Sonya, Ochi, Fahira dan Frieska berkumpul di satu pojok dan menangis sambil berpelukan.

Di pojok yang berseberangan, Haya menarik Jhan, “Kalau kau memang ’bisa’ meramal, kenapa kau tidak bisa meramalkan kejadian ini!?”

“Aku tidak bisa!” teriak Jhan kalap. “Aku diberi Frans kartu! Ramalannya sudah ada di kartu itu! Bukan aku yang meramalnya!”

Sebuah beton jatuh lagi. Kali ini lebih besar. Imban menerjang Ken yang mematung di tempat. Ken selamat setelah terguling menjauh di lantai. Namun Imban tidak seberuntung itu. Kakinya terjepit patahan beton.

“Di-dia menolongku…” lirih Ken, air matanya menggenang di pelupuk mata. “Semuanya tolong… tolong Imban!!!”

Tak perlu diminta dua kali, Giovani, Baddy dan Andy mengangkat patahan beton tadi sementara Rica menarik keluar tubuh Imban.

“Apa kita akan mati di sini?” Nabilah mengguncang tubuh Rica. “Apa salah kita pada Frans!? Kenapa kita harus mati tanpa tahu sebabnya!? Kena—“

Plak!!

Imban menampar Nabilah. “Kalau kau tidak berhenti berteriak, aku akan menamparmu lagi.”

Nabilah sesenggukan. Rica memeluknya dengan air mata yang juga mengalir deras.

Dengan frustasi Ken memukul-mukulkan kepalanya ke tembok. “Kenapa… kenapa… kenapa kita mati dengan cara seperti ini.”

Segera Gaby dan Shania menariknya dari tembok. “Hentikan!” rintih Shania. “Kepalamu bisa hancur kalau begitu.” Semua anak dicekam perasaan yang sama; ketakutan, cemas dan panik melebur jadi satu.

Sekonyong-konyong, “Gio, kesini sebentar!!!” Mova berteriak bersemangat.

“I-iya,” sahut Gio.

Beberapa anak juga mengerubungi Mova, penasaran atas teriakannya.

Mova tersenyum lemah. “Kalian lihat retakan di dinding ini? Kita bisa menghancurkannya. Dinding di sebelah sini bagian belakangnya adalah tanah, kalau kita gali maka kita bisa membuat lubang perlindungan. Tempat yang aman dari reruntuhan gedung.”

“Waktunya tidak cukup untuk membuat lubang yang besar!” bantah Frieska, putus asa.

“Tidak perlu besar,” jelas Mova. “Cukup untuk satu anak saja. Anak yang akan hidup untuk kita semua. Anak yang akan membongkar semua kejahatan Frans.”

Pemahaman ide itu muncul layaknya lampu yang terang benderang di kepala setiap anak.

“Minggir, Mova-chan,” kata Gio. Dikepalkannya tangannya dan dihantamnya bagian tembok yang ditunjuk Mova. Patahan di tembok itu melebar.

“Gio, tanganmu!” jerit Ochi yang ngeri melihat tangan Gio yang berlumuran darah.

Gio tidak peduli hal itu. Digigitnya bibirnya untuk mengurangi rasa sakit. Dia membabi buta memukuli tembok tersebut. Entah pada pukulan yang ke berapa, Radith mendadak menahan kepalan Gio. “Giliran gue,” katanya. Gio memberi pandangan terima kasih dengan mata berkaca-kaca. Penuh semangat Radith meneruskan pekerjaan Gio.

Baddy berlutut di sebelah Radith. “Habis ini aku,” lontarnya.

“Lalu aku!” timpal Rudy.

“Jangan lupakan aku!” Ken menggosok-gosok lengannya.

“A-aku juga!” serobot Andy.

Semua anak laki-laki, kecuali Carada dan Imban yang sedang terluka, bergantian memukuli tembok. Tangan mereka terluka parah namun tak ada yang menangisinya. Andy bahkan harus diusir dari dinding karena menolak berhenti memukul padahal beberapa jarinya telah patah gara-gara terlalu keras memukul.

“Hanya selamat saja tidak cukup,” bisik Melody, takut menghancurkan semangat dan harapan teman-temannya.

“Kenapa?” tukas Sonya. “Yang selamat nanti kan bisa menceritakan semuanya?”

“Bisa saja kan dia dianggap mengada-ada. Frans bisa menuduhnya ‘gila karena pukulan mental yang hebat’. Harus ada bukti tertulis,” kata Melody makin pelan. “Andai saja kita bisa menulis pesan yang menjadi bukti nyata tuduhan kita semua pada Frans.”

“Pemikiranmu masuk akal. Tapi kita tidak punya kertas untuk menulisnya,” sela Fahira.

“Aku punya!” jerit Andy, tidak gagap sama sekali. Dikeluarkannya sehelai kertas berukuran kwarto. Di tengah kertas itu ditempel secarik kertas bertulisan ’Tiga hari dari sekarang. Freya akan jatuh dari tangga. Didorong seseorang, teman sekelas kita juga.’“I-itu kertas ra-ramalan pertama Jhan. Kutempel di ker-kertas yang lebih le-lebar. Dan se-selalu kubawa.”

“Oh, Andy.” Frieska memeluk Andy. “Kau itu aneh. Tapi aku suka keanehanmu.”

Malu-malu Andy meringis.

“Masih kurang alat tulisnya…” kata Carada. Wajahnya pucat kekurangan darah.

“Bagaimana kalau menggunakan darah kita untuk menulisnya? Setiap orang menulis begini, ‘Frans adalah pelakunya’ di kertas itu. Jadi saat polisi memeriksanya, mereka akan percaya bahwa kita semua menulis itu sendiri,” usul Imban.

“Imban… aku salah meng-underestimate-mu selama ini. Idemu brilian,” puji Mova.

Wajah Imban bersemu merah.

“Masih belum…” kata Carada lagi. “Darah ide bagus, namun untuk menuliskannya ke kertas itu, kita perlu alat lain yang seruncing pena bulu. Agar tulisan kita semua bisa muat.”

“Ah!” Icha menjerit seperti Andy. “Kalau pena bulu sih tidak ada. Tapi ’benda itu’ bisa menggantikannya. Ochi, kemarikan gelangku yang dulu kamu curi.”

Ochi melepas gelang yang dimaksud, menyerahkannya pada Icha. Dengan cekatan Icha membuka sambungan gelang. Mengeluarkan semua manik-maniknya, lalu meluruskan kawat penyambungnya. “Kawat ini tipis dan ujungnya tajam, pasti bisa digunakan layaknya pena bulu,” jelas Icha.

Kertas dan kawat berpindah ke tangan Mova. “Aku?” tanyanya pada yang lain.

“Siapa lagi yang paling tepat selain kamu untuk memulainya? Kita buat sesuai urutan diary kelas saja,” kata Gaby.

“Ada orang yang lebih tepat untuk itu,” tolak Mova. Dia membalikkan badan, menyorongkan kedua benda tersebut pada si nomor 25. “Dari tadi kau turut mendengarkan pembicaraan kami kan? Kami seenaknya menyebut kami sebagai korban. Sebenarnya kaulah yang paling menderita selama ini. Kaulah yang paling tepat memulai pesan kematian kita ini.”

Si nomor 25 terperangah, tidak menduga Mova memberinya kehormatan seperti itu. “Kalian yakin?”

Anak-anak lain lemah mengiyakan. Bukan karena tidak setuju, namun karena tidak enak atas perlakuan mereka sebelumnya pada si gadis.

Si nomor 25 memahaminya. Dipeluknya kertas tadi, menunduk sambil menangis. Dia mengangkat kepalanya lagi sewaktu Rica memegangi tangan kirinya, memijat-mijat telapak tangan gadis tersebut, bertanya, “Kau tidak kidal kan?”

“Tidak,” jawab si nomor 25 bingung.

Sebuah silet berkilat di tangan kanan Rica, sementara tangan kirinya menahan tangan kiri si nomor 25. “Ini bakal terasa sangat perih. Ditahan ya. Aku akan mengiris ujung jarimu.” Spontan si nomor 25 menarik tangannya. “Tunggu! Jangan takut. Kau perlu darah yang banyak kan untuk menulis kalimatmu? Di situlah tugasku untuk membantumu.”

Kontan Fahira mencericit panik. “Melody! Rica bertingkah gila lagi!”

Respons Melody sungguh di luar dugaan, “Biarkan saja,” katanya tenang. “Rica ahli dalam hal begituan kok.”

Fahira jadi melongo.

Sorakan Micah dan Baddy membuat anak-anak mengalihkan perhatian mereka. Kedua anak cowok itu bersalaman lalu meringis kesakitan sebab salaman tadi mengakibatkan tangan mereka yang melepuh tergesek.

“Temboknya sudah luruh!” teriak Micah.

Baddy tidak mau kalah, “Tinggal menggali tanahnya!”

Cleopatra menerobos kerumunan. “Anak-anak cowok semua menyingkir!” usirnya. Radith dan Ken langsung protes, yang disikapi Cleopatra dengan pura-pura menendang mereka. “Kalian sudah terlalu banyak berperan! Urusan menggali serahkan pada anak cewek!”

Semua anak cewek bersorak mendukung Cleo. Anak-anak cowok mengalah dan memilih mengantri di depan Rica yang mengirisi jari mereka dan bergantian menulisi kertas pesan kematian mereka.

Ruang penyimpanan semakin panas. Peluh mengalir deras di tubuh setiap anak. Anak-anak cewek tidak mau kalah pada semangat anak-anak cowok sebelumnya, mereka berjuang mati-matian menggali tanah menggunakan kedua tangan mereka untuk membuat lubang.

Setiap beberapa menit ada saja benda-benda yang berjatuhan dari lubang di langit-langit. Retakannya juga melebar, sewaktu-waktu bisa runtuh sekaligus.

“Cepat! Cepat! Cepat!” komando Cleopatra.

“Semuanya, berkumpul di sekitar lubang!” teriak Rudy. “Gio, kau duduk tepat di depan lubang. Badanmu paling besar. Usahakan tak ada asap yang masuk ke lubang.”

Gio mengacungkan jempolnya. “Sip. Gio siap!”

“Oh no...” jerit Mova. “Langit-langitnya sudah rapuh. Hentikan menggali! Harus ada anak yang segera masuk ke lubang. Kalau terlambat maka semua usaha kita sis-sia belaka.”

“Cuma bisa sebesar ini,” lapor Ochi, menunjukkan lubang yang mereka hasilkan.

“Siapa… siapa yang akan masuk?” tanya Ken sambil menarik tubuh Imban mendekati lubang.

“Dia,” kata Sonya. Didorongnya Nabilah ke arah kerumunan anak-anak.

“Jangan… jangan aku…” rengek Nabilah. “Kalian tidak bisa membayangkan trauma yang harus kutanggung seumur hidup bila menjadi satu-satunya anak yang bertahan hidup dari sini.”

“Kami bisa!” bentak Sonya. “Lubang itu hanya bisa menampung anak yang bertubuh kecil sepertimu.”

Shania membantu Sonya menyeret Nabilah ke dalam lubang. Setelah berada di dalam, Shania berbisik kepadanya, “Nabilah, asal kau tahu, dalam sudut keegoisanku yang terdalam, aku berharap kamu-lah yang selamat, jadi jangan membuat aku marah dengan rengekanmu yang tidak bersyukur itu!”

Nabilah terkesima.

“Lipat kakimu!” kata Haya. Diberikannya kertas pesan kematian mereka pada Nabilah. “Apapun yang terjadi, serahkan surat ini pada polisi! Paham!?”

Nabilah mengangguk lemah.

Setelah yakin seluruh tubuh Nabila berada di dalam lubang, Gio merapatkan tubuhnya ke mulut lubang. Tersenyum tegar pada yang lain. Anak-anak mulai mengambil posisi setengah lingkaran di sekitar lubang. Duduk berdesakan berusaha sedekat mungkin dengan posisi Gio.

Menunggu dalam diam sangat menyiksa perasaan mereka. Fahira meremas tangan Andy yang tubuhnya gemetaran hebat. Di sampingnya, Ochi dan Gaby menempelkan kepala mereka, berdo’a.

“Hei… Melody…” kata Rudy.

“Ya?” Melody mengusap air matanya.

“Boleh minta sesuatu?”

“Apa?”

“Aku ingin menciummu.”

Rona merah di wajah Melody tak mampu ditutupinya. “Rudy, itu tidak pantas!” ia berkata.

“Habis… rasanya tidak rela mati tanpa pernah mendapat ciuman dari orang yang paling kusayangi.”

Carada bersuit-suit, yang lain cekikikan sambil terisak mendengarnya.

“Ayolah, Melody,” dukung Ken. “Kami janji tidak akan melihat kok.”

“Eh… gue nggak ikutan janji loh,” seloroh Carada.

Tawa membahana di ruangan itu. Melegakan mereka untuk sejenak menghapus kata ’kematian’ di sana.

Ciuman itu murni. Melody menempelkan bibirnya di bibir Rudy.

“Rasanya asin,” kata Rudy.

Melody terisak. “Bodoh!”

“Hei… gue pengen dicium juga! Ada yang berminat?” seru Carada.

Gadis di sebelahnya, Frieska, menjewer telinga Carada, “Sini anak bodoh. Aku akan memberikannya padamu.” Dikecupnya kening Carada.

“Wow, tidak ada rasanya…” Carada memutar bola matanya.

Anak-anak tertawa lagi.

Tawa terakhir bagi mereka.

“Satu hal sebelum semua berakhir,” sentak Radith. “Gue… gue…” Tanpa diduga, dia merengkuh tangan si nomor 25. “Gue minta ma’af.”

Mata si nomor 25 berkaca-kaca. Anak yang lain membisu, bersyukur Radith melepas kungkungan yang membutakan mereka selama ini.

Radith meneruskan, “Kami sudah membuatmu sangat menderita atas dasar kebodohan kami sendiri. Andai kita bisa mengulang hari-hari sebelumnya, kita pasti bisa memperbaiki hubungan tidak sehat ini. Tidak saling menyalahkan. Berpikir secara sehat dalam menghadapi segalanya. Dan merasakan persatuan di antara kita semua. Seperti yang kita rasakan sekarang. Meski telah sangat terlambat, mewakili semuanya, kumohon… ma’afkan kami.”

Dan selesai kata-kata itu, atap pun roboh menimpa mereka semua.