Cari di sini, Bos

Memuat...

Sabtu, 21 April 2012

Alfi 5 - Alfi dan Dokter Lila



dr Lila

dr Lila
“Tak ada yang perlu engkau kuatirkan, janinmu dalam keadaan sehat” ujar Lila pada Niken.
“Ada baiknya memasuki trismester pertama ini kalian jangan terlalu banyak berhubungan intim dulu agar tak membahayakan janin di dalam kandunganmu ”tambahnya lagi.
Bagi Lila, pasangan Niken dan Donnie adalah merupakan pasangan yang aneh, seperti halnya  Didiet dan Sandra. Mereka semua menjalani kehidupan kamar tidurnya dengan cara yang aneh. Mungkin orang lain menganggap prilaku mereka ‘menyimpang’  ‘abnormal’ atau ‘sakit’. Bahkan Lila juga mengetahui bahwa bayi yang dikandung Niken bukanlah berasal dari Donnie dan siapa bapak biologis sesungguhnya meski terlihat keduanya sangat berbahagia. Namun Lila tetap bersikap profesional dengan menjaga kerahasiaan masalah pasiennya apalagi Niken merupakan sahabat akrabnya sejak SMU dulu.
“La, kapan kamu menyusul aku?” Tanya Niken disaat Lila sedang memeriksa perutnya yang mulai membuncit
“Eng..a.pa?”
“Ah engkau ini.. tentu saja maksudku menikah!”

“me.nikaah?”
“Iya menikah…dan punya anak”
“a..ku..belum memikirkannya Nien”
Lila merasa aneh karena baru pagi tadi ibunya menelpon dirinya juga menanyakan hal sama padanya.
“Kok bengong La?”
“Eh..a…ya” Lila baru tersadar saat Niken menegurnya.
“Kamu melamun memikirkan omonganku tadi ya?”
“He e…tadi ibu memintaku pulang ke kota H beberapa hari. Aku tahu ia pasti ingin membicarakan masalah yang kau katakan barusan”
“Bukankah itu merupakan sebuah niat yang baik kan? Lantas kenapa kamu terlihat murung La? Apakah kau masih juga memikirkan kegagalan hubunganmu dengan Erik dulu?”
Lila menghela napas, tatapannya menerawang ke arah jendela. Kejadian di masa-masa SMU sepuluh tahun yang lalu seolah kembali muncul membayang di kepalanya bagaikan adegan-adegan slide. Erik pemuda tampan, anak seorang pejabat tinggi kota H yang saat itu menjadi tambatan hati Lila. Cinta Lila bersemi layaknya gadis remaja lainnya.
Hingga pada suatu hari Lila tak sengaja memeregoki Erik sedang bercumbu mesra dengan seorang gadis lain di dalam ruang UKS. Gadis itu tak lain adalah Elena juga merupakan seorang gadis yang popular di sekolahnya. Jika dibandingkan dengan Lila jelas Elena unggul dari segi penampilan fisik. Elena seorang anak yang modis dan menonjolkan keindahan tubuhnya buat menarik perhatian kaum lelaki. Dengan rok mininya ia selalu membuat jakun para siswa lelaki naik turun karena berulang-ulang meneguk air liur. Sedangkan Lila lebih mengandalkan kecerdasan otaknya di sekolah.  Sebenarnya Lila lebih cantik dan memiliki bentuk fisik yang lebih baik dari pada Elena namun ia bukanlah type gadis pesolek. Ia adalah  seorang kutu buku yang betah bergelut di laboratorium biologi dan perpustakaan selama berjam-jam, rambut kepang dan kaca mata tebalnya itu menutupi semua kecantikannya. Kepergok berselingkuh bukannya meminta maaf, Erik malah meninggalkan Lila dan lebih memilih Elena yang ‘panas membara’ itu sebagai pacarnya. Betapa hancurnya hati Lila saat itu. Kekecewaan dalam cinta pertamanya terasa begitu menyiksanya. Satu-satunya sahabatnya yang ia percayai sebagai tempat mencurahkan isi hatinya hanyalah Niken. Sejak peristiwa tersebut Lila-pun tak pernah lagi menerima cinta pria lain di hatinya. Ia telah memutuskan telah menutup pintu hatinya rapat-rapat bagi setiap cinta yang datang.
“Entahlah Nien… hatiku masih terasa sakit bila teringat lagi akan peristiwa itu”
“Selama ini kamu terus sibuk meniti kariermu dan kejadian itu sudah lama berlalu. Tak ada salahnya jika sekarang kau berusaha membuka hatimu lagi bagi seorang lelaki, La”
“Aiihhh…Kita lihat saja nanti…yang jelas aku harus memiliki jawaban yang tepat saat bertemu ibu besok”
“O ya La, Kebetulan Alfi juga berada di kota H sejak seminggu yang lalu. Kasihan dia, Ibunya baru meninggal dunia. Mungkin kamu bisa mengajaknya pulang bersamamu ke sini bila urusanmu telah selesai”. Ujar Niken
“Ngga masalah Nien, aku akan menghubunginya setibaku di sana”
**************************
Kota H,
Wanita tua itu terlihat begitu bahagia saat melihat kedatangan putri sulungnya itu. Lila memang seorang putri yang sangat membanggakan buatnya. Cantik, cerdas dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga. Namun yang menjadi kekhawatiran ibu Lila karena sampai dengan saat ini tak terlihat tanda-tanda anak gadisnya itu akan menikah meski usianya merambat ke kepala tiga bahkan setelah adiknya Lidya menyelesaikan kuliahnya dan sudah memperoleh pekerjaan sekalipun. Jangankan memikirkan untuk menikah pacarpun ia tak punya. Lila bukanlah seorang gadis yang tak laku-laku. Penampilan fisik yang indah sempurna serta karier yang baik menjadikan Lila sebagai figure seorang  istri yang sangat diidamkan oleh banyak pria. Sayangnya kegagalan percintaannya dengan Erik menjadikan hatinya dingin bagaikan gunung es. Ketika hendak masuk ke dalam rumah seorang dara yang tak kalah cantik dengannya setengah berlari menyongsongnya. Lidya adiknya memeluk seraya mencium pipinya.
“Cup…Kakak lama sekali tak pulang kami berdua sudah kangen” ujar Lidya.
“Aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Setiap kali berencana buat weekend kemari selalu tertunda karena ada saja pasien yang  harus dibantu melahirkan. Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Lila kemudian.
“Baik kak. Aku menyukainya.” Lidya bekerja di sebuah Bank di kota ini.
“Syukurlah kalau begitu. Mana ibu?”
“Tuh baru keluar, sejak kemarin ia gelisah memikirkan kakak”
Lila menoleh ke arah pintu di mana seorang wanita tua menatap kedatangannya dengan senyum mengembang. Lila mencium tangan ibunya dan juga pipinya yang sudah berkeriput.
“Istirahatlah dulu nak. Lidya sudah membersihkan kamarmu” ucapnya.
Memang sebenarnya Lila sangat membutuhkan istirahat bukan hanya karena ia baru menyetir sendiri kendaraannya selama tiga jam nonstop dari kota S ke kota H, namun juga istirahat dari kesibukannya sebagai seorang dokter. Tiga bulan belakangan ini dirinya nyaris tak punya waktu buat dirinya sendiri. Paginya ia sudah harus praktek di dua klinik berbeda hingga hampir larut malam di setiap harinya. Paling-paling ia punya waktu istirahat di sela-sela jam makan siangnya. Belum lagi jika harus menolong pasien yang mau melahirkan yang sudah barang tentu tak punya jadwal tetap. Semua itu begitu menguras tenaga dan pikirannya. Ia berharap kesejukan dan ketenangan kota kelahirannya ini paling tidak bisa memberinya suasana yang fresh selama beberapa hari sebelum kembali bergelut dengan pekerjaan rutinnya.
“La , ibu mungkin telah mengganggu aktivitasmu, namun ada yang harus ibu bicarakan denganmu dan tidak bisa melalui telepon.” ujar ibu Lila saat mereka duduk berdua di beranda rumah sambil minum teh menjelang sore.
“Ngga papa kok bu, di klinik ada seorang dokter lain yang biasa menggantikanku.” ujar Lila sambil menghirup tehnya.
“La “ sang bunga nampaknya langsung menuju ke pokok pembicaraan
“Ya bu, ” Lila meletakan cangkir tehnya. Lila merasa ia mulai masuk ke bagian yang tidak ia sukai selama ini namun ia tak ingin terlihat gusar dan gelisah di depan ibunya.
“Barangkali kau sudah maklum apa yang ingin ibu bicarakan padamu? Ibu hanya ingin menanyakan tentang hubunganmu dengan Robert”
Robert adalah seorang dokter muda seperti halnya Lila ia juga memiliki karier yang cukup cemerlang. Dua bulan yang lalu ibu Lila berniat menjodohkan Lila dengan pemuda  yang merupakan putra temannya itu.
“Kami memutuskan untuk ber..teman bu”
“Hanya sekedar teman nak? Kenapa? Ada yang salah dengannya? Ibu lihat ia seorang pemuda sopan, sukses dan bahkan…sangat tampan” tanya ibunya. Ia  bingung type pria macam apa  yang mampu menggetarkan hati putrinya ini. Berkali-kali ia berusaha menjodohkan Lila pada seorang pemuda. Namun ada saja alasan Lila untuk menghindar dan menolak.
“Entahlah…Lila hanya tak merasa tertarik padanya” jawab Lila sekenanya.
“Haihhhh….ibu sudah tak tahu harus berbuat apa agar kau cepat bertemu jodohmu nak” ujar ibu Lila sambil menghela napas.
“Bu, bukannya Lila tak memikirkan hal tersebut namun Lila masih ingin sendiri dan fokus pada pekerjaan dan karier dulu saat ini.. Lila mau cari uang yang banyak buat membahagiakan ibu”
Memang semenjak ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu. Ibu Lila terpaksa membating tulang dengan menerima upah jahitan demi menghidupi dirinya dan  kedua putrinya saat itu. Terutama Lila yang tengah kuliah di Fakultas Kedokteran sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Setelah berhasil menamatkan kuliahnya dengan waktu yang cepat dan dengan nilai yang sangat baik. Lila sempat membuka praktek lalu melanjutkan program spesialisnya. Dan Sekarang setelah menyelesaikannya Lila-pun mengambil alih tugas ibunya sebagai tulang punggung keluarga. Beberapa bulan menjadi dokter pengganti bagi seorang dokter yang lebih senior pun di jalaninya. Perlahan semakin banyak pasien yang merasa cocok berobat padanya. Hingga akhirnya ia diminta oleh klinik tempatnya bekerja menjadi dokter utama di sana menggantikan seniornya yang memasuki usia pensiun.
“Sayangku …selama ini Ibu sudah cukup bahagia melihat kalian anak-anak ibu tumbuh dewasa dan berhasil dalam hidupnya namun rasanya kebahagian ibu belumlah lengkap ibu sudah semakin tua, sebelum ibu pergi ibu mau melihatmu menemukan seorang suami yang baik dan memberi ibu seorang cucu yang lucu. sekian lama ibu menanti namun hal tersebut tak kunjung datang. Sebenarnya apa lagi yang kamu tunggu, nak?.Bukankah saat ini kamu sudah memiliki semuanya, materi berlimpah,.karier yang baik…”
“Lila hanya belum menemukan lelaki yang cocok bu”
“Apakah ini karena…Erik” tanya ibunya. Lila diam tak menjawab pertanyaan yang satu itu.
“Ibu mengerti perasaanmu nak. Namun tidak semua pria itu berkelakuan buruk, contohnya ayahmu. Ia seorang suami dan ayah yang baik, pengertian dan penuh kasih sayang terhadap keluarga. Tak baik berlarut-larut membiarkan satu kegagalan menghalangi hidup dan kebahagianmu. Ada banyak pangeran tampan dan baik hati di luar sana yang menantimu” ujar ibunya.
Lila tahu banyak sekali kebenaran di dalam kata-kata sang bunda barusan. Selama ini jauh di dasar jiwanya ia selalu dilanda kegelisahan yang ia sendiri tak tahu penyebabnya. Tabiatnya yang keras kepala dan ingin mempertahankan prinsip hidupnya bukannya mendatangkan ketenangan bagi hatinya. Tak dapat dipungkiri jika jiwanya yang gersang itu sebetulnya sangat membutuhkan hangatnya cinta dari lawan jenisnya. Namun di sisi lain ia kapok buat dikhianati.
“Mungkin Lila akan pikirkan hal itu nanti bu, namun untuk Lila harus menunda dulu hal itu mumpung karierku sedang baik saat ini. aku kuatir setelah menikah belum tentu suamiku mengijinkan aku bekerja bu” jawabnya masih bersikukuh mempertahankan prinsipnya.
“Tapi nak kau tak mungkin terus-terusan melajang tetap saja pada akhirnya kita harus mengikuti kodrat kita sebagai wanita… menikah… .melahir anak”
“Bagaimana dengan Lidya bu, aku tak keberatan bila Lidya telah bertemu jodohnya lebih dulu dari aku bu” Lila sudah kehabisan kata untuk menghindari kejaran ibunya.
Wanita tua itu akhirnya terhenyak lemah. Ia sadar sulit sekali membujuk Lila buat menikah.
“Nak…Lidya adikmu tak mungkin melakukan hal itu nak, ia sangat menghargaimu sebagai yang lebih tua.”
Lila membisu.
“Baiklah … ibu tak ingin memaksakan kehendak ibu padamu …” ujar ibu Lila dengan suara bergetar sementara mata tuanya itu mulai meneteskan air mata.
Lila kaget.  Ia tak menyangka pembicaraan mereka kali ini telah membuat ibunya sedemikian kecewanya. Ia buru-buru memegang jemari tua ibu dan menciumnya. Tapi tangis penuh kesedihan ibunya sudah tak terbendung lagi.
“Bu..ibuu.”
“mungkin… sudah menjadi suratan buat ibu bila bakal melihat putri-putri ibu tak menikah sampai tiba waktunya ibu harus pergi” ujarnya lagi diantara isaknya.
“Buuu jangan berkata begituu…Lilaa tak bermaksud menyusahkan ibuu…Lila akann menuruti mauu ibu asalkan ibu tak sedih lagi ya bu” bujuknya sambil meletakkan kepalanya di pangkuan sang bunda. Air matanya pun meleleh tumpah. Ia begitu menyayangi ibunya. Ia takut sekali bila membuat ibunya sedih apalagi sampai menangis karenanya.
Wanita tuapun itu membelai rambutnya lembut.
Sementara itu di sebuah rumah kontrakan.
Sriti
Sriti
Pagi itu Alfi terlihat sedang dalam mengumuli seorang wanita cantik. Pantat bulatnya berayun cepat penuh dengan gairah membara. Wanita itu tak lain adalah Sriti, seorang mantan PSK tercantik dari lokalisasi X teman sekamar dan sejawat ibunya Alfi dulu. Tubuhnya yang sintal ditambah wajah yang manis menjadikannya rebutan para pelanggan tempat tersebut selama beberapa tahun. Meski kulit tubuh gadis itu tak seputih kulit Sandra maupun Niken namun wanita itu terlihat sangat ayu dengan kulit kuning langsat. Sejak berada di kota H, Alfi seakan menemukan lagi cinta pertamanya. Ia merengek-rengek minta persetubuhan pada wanita yang bertahun-tahun ia rindukan ini. Walau pada awalnya sempat menolak namun akhirnya Sriti mau menuruti keinginan anak itu. Sriti juga tak dapat mengingkari jika ia sebenarnya rindu akan belaian seorang lelaki. Sekian lama Ia memang  tak pernah lagi merasakan sebuah persetubuhan semenjak ia meninggalkan dunia hitam dua tahun yang lalu. Tak tanggung-tanggung hari ini ia mendapatkan penis Alfi yang sudah tumbuh sedemikian besarnya. Belum pernah ia melayani pelanggan yang memiliki alat vital sebesar milik anak ini. Mulanya Sriti agak kaget melihat pertumbuhan kemaluan Alfi yang sangat pesat tersebut. Pastilah sangat menyakitkan buat Sandra dan yang lain saat mereka di perawani oleh anak ini dulu pikir Sriti. Ia sungguh tak menyangka akibat  perbuatannya dulu itu telah menjadikan  Alfi seorang kuda jantan kecil. Clek..clek…clek..clek.. suara itu mencul akibat kocokan-kocokan Alfi pada vagina Sriti.
“Ouhhh…Fiiiiiii” rintih Sriti.
Ia tak tahu entah sampai kapan Alfi akan menyetubuhinya. Meski sudah tiga jam-an melakukan itu namun bocah itu tak kunjung merasa puas. Alfi berusaha keras bertahan agar tak berejakulasi di vagina wanita yang dulu mengenalkannya pada seks buat pertama kali dan sekaligus merengut keperjakaannya itu. Ia tak ingin membuat Sriti hamil. Ia sadar bila ia hanya akan menambah kesusahan bagi kehidupan Sriti. Lima menit berselang Alfi merasakan penisnya diremas kuat-kuat oleh otot-otot kemaluan gadisnya itu. Ia tahu Sriti telah kembali memperoleh orgasmenya. Entah ia tak mengitung berapa kali Sriti mengalaminya. Yang jelas ia harus bertahan dalam hisapan dahsyat itu setidaknya setengah menitan bila tak ingin kebobolan.
“Sayanggggg….kakak dapettt lagiiii!” pekik Sriti lirih.
Ploppp! Akhirnya penis Alfi terlepas dari vagina Sriti tanpa berejakulasi.
“Kurang enak ya Fi? Memek kakak ngga seenak punya kak Sandra-mu ya?” tanyanya merajuk melihat Alfi belum juga berejakulasi.
“Siapa bilang. Punya kakak legit banget, peret dan ngisep kuat kok”
“Tuh buktinya kamu ngga keluar-keluar”
“Kakak sayang, Alfi ngga mau kakak hamil. Biar Alfi muncrat di mulut kakak saja”
Sriti mengambil posisi berbaring menyamping sehingga penis Alfi menghadap ke wajahnya.
“Ihhh…Besar banget sih!…” gumam Sriti gemas pada benda berkulup itu.
“Ohh..kakaaakkk” desah Alfi setelah dalam sekejap seluruh batang kemaluannya sudah lenyap dilumat oleh mulut kekasihnya itu. Sriti menghisap, mencucup, dan melakukan semua gerakan yang ia ketahui semasa ia menjadi pelacur dulu.Hanya dalam hitungan detik Alfi pasti bakal muncrat dibuatnya. Dan benar saja…
“Arckkkkk…. Ka.kaaakkkk!!!” pekik Alfi, bola matanya terbalik ke atas, penisnya berdenyut-denyut keras dan dari ujung lubang pipisnya melejit lendir-lendir kental menghantam kerongkongan Sriti. Sriti menelan semuanya tanpa sisa hingga pada tetes terakhir.
“Apa? mau Lagi?” Tanya Sriti pada Alfi ketika anak itu sudah akan menindihnya lagi.
“He e kak lagi”
“Sudahan dulu ah, punya kakak nyeri. Lagian bukankah hari ini kamu ada janji buat ketemu dengan dokter Lila?”
“Iya kak tapi jam sebelasan kan masih lama. Alfi  masih pingiiiin bangettt..”ujar Alfi sambil menunci posisi pinggul Sriti yang montok.
Sriti berusaha mengerakan pinggulnya namun tetap gagal menghindari agar hujaman Alfi. Penis besar anak itu seakan bermata dan tak pernah meleset menemukan sasarannya dan kembali bersarang di dalam bekapan vaginanya yang legit.
“Ouhhh….Fiiii….Dasar kamu ngga ada puas-puasnya”
********************************
Siang harinya Alfi janjian bertemu dengan Lila di sebuah mal. Alfi nyaris tak mengenali Lila jika tak disapa duluan oleh gadis itu. Alfi terperangah tak menyangka Lila sedemikian cantiknya bila sedang tak memakai atribut dokternya. Tak ada kaca mata tebal yang selalu nangkring di hidungnya, Rambutnya tergerai indah, dan bentuk tubuh gadis itupun begitu indah terbalut oleh sebuah gaun hitam ketat yang menonjolkan semua sisi kefemininnya. Selama ini Alfi hanya bertemu dengan Lila di ruang praktek.
“Fi, aku berencana pulang ke kota S beberapa hari lagi. Niken berpesan padaku buat mengajakmu pulang bersama.. Mereka ingin kamu ada di sana saat Nadine melahirkan minggu-minggu depan. Kuharap masa berkabungmupun sudah selesai”
“Iya kak…Alfi nurut apa kata mereka, Lagian Alfi juga sudah satu minggu tak sekolah”
“Di mana kamu tinggal Fi?”
“Alfi numpang menginap di rumah kontrakannya kak Sriti”
“O..Sriti juga tinggal di kota ini?”  Lila teringat pada mantan primadona lokalisasi X di kota S temannya ibu Alfi.
“Iya kak, Sejak dua tahun lalu ibu bersama dengan Kak Sriti memutuskan untuk  pindah ke sini buat memulai kehidupan baru yang lebih bersih. Ibu dan Kak Sriti bekerja di sebuah motel namun hanya sebagai receptionist mereka tak mau lagi melakukan pekerjaan mereka dulu. Kasihan ibu ia tak mempunyai keahlian apapun sehingga hanya mampu bekerja seperti itu. Dan yang paling Alfi sesali karena ibu sudah pergi sebelum Alfi jadi orang dan bisa memberikan apa-apa baginya”
Lila melihat Alfi begitu tegar menghadapi musibah yang menimpanya. Anak ini telah tumbuh menjadi pribadi yang tegar dan mandiri seiring kedewasaannya. Lila sangat menghargai orang-orang yang melawan kesulitan hidup ini dengan kerja keras, mereka yang membangun hidup dalam kepahitan nasif seperti halnya Alfi beserta ibunya dan juga Sriti. Betapapun ini juga mengingatkan ia akan perjuangan ibunya sendiri dalam menghidupi ia dan adiknya.
“Kakak turut prihatin atas musibah yang menimpa dirimu Fi, yang penting sekarang kamu harus rajin belajar dan bertekat untuk menjadi orang yang berhasil kelak”
“Makasih ya kak”
“Fi, kamu pasti belum makan siang kan?”
“Eng..Iya kak”
“Bagus kalau begitu kita makan di resto itu ya?”
“Eng.. terima kasih kak tapi biar Alfi makan di rumah saja”
“Loh..kenapa Fi, aku masih pingin ngobrol sama kamu sambil makan siang bersama”
“baiklah jika demikian”
Saat makan siang bersama, Alfi  dengan sabar meladeni Lila ngobrol. Perbedaan umur dan tingkat intelejensi yang jauh tak membuat pembicaraan mereka jadi tidak nyambung karena Alfi berbicara apa adanya. Anak itu begitu polos, jujur dan apa adanya juga dalam menuturkan kisah hidupnya. Tapi omonganya tak pernah menyerempet ke hal-hal yang tabu.. Lila-pun dengan perhatian mendengarkannya. Terkadang secara tidak sengaja cerita Alfi berakhir dengan kelucuan-kelucuan dan membuat Lila tertawa geli. Entah kapan terakhir ia makan siang atau malam bersama seorang lelaki. Mungkin lima atau enam bulan yang lalu. Iapun tak ingat pasti. Kala itu ia sempat makan malam bersama seorang lelaki. Acara makan malam yang kaku itu berakhir begitu saja tanpa ada kelanjutannya. Hal sama selalu terjadi pada setiap pria lain yang di sodorkan ibunya sebagai calon suaminya. Bahkan Robert pemuda terakhir itu hanya sempat datang bertamu dua kali tanpa di suguhi Lila air minum. Entah apakah karena sang dewa asmara yang sudah putus asa menarik busur buat membidikan panah asmara ke hati Lila ataukah memang karena memang hati gadis itu sangat keras dan dingin bagaikan sebuah bukit es. Yang jelas satu persatu para lelaki yang coba mendekatinya mundur dengan sendirinya karena gagal mencairkan kebekuan di hati Lila. Namun tidak dengan makan siang kali ini. Bersama Alfi, Lila merasakan kenyamanan dan  kegembiraan. Paling tidak ia bisa melupakan sejenak kegundahan hatinya terhadap permintaan sang bunda padanya kemarin sore. Obrolannya dengan Alfi seakan mampu melepaskan sedikit beban hatinya selama ini.
“Sudah lama kamu tak datang ke klinik Fi, sebaiknya kamu rajin memeriksakan kesehatanmu” ujar Lila.
“Ke..napa Alfi harus sering diperiksa kak. Alfi kan tidak sakit?” ujar Alfi kecut jika harus datang ke sana.
Dari dulu Alfi memang takut sekali dengan jarum suntik, apalagi setiap kali bertemu Lila selalu memberinya suntikan.Selain itu ia juga tetap merasa malu bila terpaksa harus menunjukan batang kemaluannya buat diperiksa oleh Lila, walaupun benda miliknya itu sering di pegang-pegang dan diemut oleh banyak wanita.
“Bukankah tadi kamu mengatakan jika selama tiga hari dalam tiap minggunya kamu tinggal bersama Kak Niken-mu, lalu empat hari sisanya bersama Kak Sandramu kan?”
“I..ya kak”
“Nah. mengingat aktivitas seksu..eng…. itu yang sangat sering itu, paling tidak setiap bulan kamu harus memeriksakan diri”
“Ya kak tapi… bolehkan jika sekarang kita ngga ngomongin soal itu kak?”
“Hi..hi..memangnya  kamu takut ya Fi?” Tanya Lila.
“Iyalah, habismya kakak selalu nyuntik kalau ketemu, kan sakit!”
Lila tertawa geli mendengar ketakutan Alfi. Lila sudah mengenal Alfi sejak dua tahun yang lalu. Meski secara fisik Alfi terlihat tak berbeda dengan  anak lain seusianya namun anak ini telah banyak mengalami peristiwa yang dasyat dalam hidupnya. Hubungan mereka sebagai dokter dan pasien membuat Lila mengikuti pertumbuhan Alfi menuju kedewasaannya. Selama ini Lila tak pernah menerima pasien pria. Itu hanya karena mendiang ibu Alfi adalah salah satu pasiennya. Terkadang wanita malang itu terpaksa mengajak serta Alfi buat di periksa kesehatan terutama bagian alat kelaminnya. Ibunya tak dapat menjaga pergaulan Alfi di dalam lingkungan kotor seperti di lokalisasi X sehingga telah ikut menyeret putra satu-satunya ke dalam jurang kenistaan di usia yang masih sangat muda. Ketika Alfi diadopsi oleh pasangan Sandra dan Diditpun, Lila-pun dapat mengetahui semua kejanggalan yang terjadi dalam hubungan suami istri itu meski mereka tak pernah secara langsung mengatakannya padanya. Hingga akhirnya Niken sahabat terbaiknya pun ikut masuk dalam kehidupan Alfi.
Bagi Alfi sendiri, Lila merupakan figure yang patut dikagumi. Betapa tidak selama ini Alfi hanya mengenal para wanita di lokalisasi X yang hanya menjadi alat pemuas nafsu bagi kaum lelaki saja. Setelah bertemu Lila, barulah ia tahu ternyata ada juga wanita yang demikian pandai dan hebat melebihi kemampuan kebanyakan  kaum lelaki. Ia merasa sangat segan terhadap wanita satu ini. Lila tak seperti wanita lain kebanyakan yang ia kenal. Gadis itu sangat tegas dan sangat….dingin. Tapi hari ini Alfi melihat sisi yang berbeda pada Lila. Entah mengapa hatinya bergetar aneh seperti saat ia bertemu dengan Niken dulu. Meski demikian Alfi tak ingin berpikiran macam-macam terhadap Lila.
“Lila! Kamu? “ sapa seseorang tiba-tiba di tengah-tengah kegembiraan itu
“E..rik?” desis Lila ketika mengenali siapa yang menyapanya itu. Lila masih bengong dari duduknya.
Entah mengapa ada rasa perih di hatinya memandang pemuda itu. Apalagi saat itu Erik datang bersama seorang wanita dengan dandanan mencolok. Blouse ketat, rok mini, dan make up menor ala artis sinetron. Erik tak menyangka ia bakal bertemu lagi dengan  Lila, gadis yang pernah ia sakiti hatinya dahulu. ia bahkan terperangah melihat penampilan Lila sekarang. Tak pernah terbayangkan olehnya gadis itu menjadi sangat mengoda.. Paras yang sangat cantik dan mempunyai postur tubuh yang indah ukuran 34-27-34 ditunjang  tinggi tubuh yang 170 sentimeter membuatnya lebih nampak bagai seorang model ketimbang dokter. Berkali-kali ia meneguk ludah sambil mengamati tubuh Lila. Lila bukannya senang berjumpa dengan pemuda itu. Ia bertambah muak melihat sikap buaya Erik. Erik yang baru menyadari kebodohannya segera buru-buru memperbaiki sikapnya.
“Ehh…lama tak bertemu, Apa kabarmu La?”
“Baik, bagaimana denganmu Rik?”
“Juga baik, Lalu angin  apa yang membawamu kembali ke kota ini?”
“Aku hanya mampir sebentar menengok ibu dan Lidya”
“Kau pasti sangat sibuk sekali ya, kudengar dari teman-teman kita dulu kau telah menjadi seorang dokter ahli kandungan yang terkenal di kota S. O ya siapa ini? kacungmu kah?” ujar Erik dengan nada agak mengejek.
Lila bertambah tidak senang melihat tingkah laku Erik yang seakan memandang rendah orang lain.
“Hmm.. kenalkan ini Alfi sahabatku, dia orangnya sangat baik padaku tak seperti kebanyakan lelaki yang kukenal selama ini” sindir Lila
“Kau masih seperti dulu La, tak berubah” ujar Erik. Ia tahu Lila tak begitu senang bertemu dengannya.
“Kamu juga masih seperti dulu, terutama seleramu” ujar Lila. Sambil melirik ke arah wanita di samping Erik.
“Oya ini Monica, Mon kenalkan ini Lila mantanku dulu” ujar Erik semakin tak mengenal sopan santun.
Wajah Lila merah padam. Ingin rasanya ia menanggapi perkataan Erik dengan pedas namun ia cepat-cepat mengendalikan perasaannya. Sungguh rugi meladeni orang semacam Erik. Lebih baik ia lekas pergi dari situ karena pembicaraan mereka  menjadi semakin tidak sehat.
“Kupikir kalian perlu meja, kebetulan kami sudah selesai, silakan dipakai saja”
“Kenapa buru-buru kita bisa ngobrol bareng di sini” ujar Erik terkejut ketika Lila beranjak meninggalkan tempat itu diiringi si Alfi. Nampaknya dia agak menyesal juga dengan ulahnya tadi.
“Mungkin kapan-kapan Rik soalnya kami ada urusan lain, sampai ketemu” ujar Lila berlalu dari sana tanpa menoleh kebelakang lagi. Alfi terkejut saat Lila mengamit tangannya agar berjalan lebih cepat meninggalkan tempat itu
“Siapa pemuda tadi kak?” tanyanya setelah mereka jauh
“Teman kakak sewaktu si SMU dulu” Jawab Lila.
“Ganteng ya kak”
“Buat apa punya tampang tampan tapi tak punya kesetiaan” ujar Lila ketus.
“Iya juga sih”Alfi buru-buru tak meneruskan bicara mengenai topic tersebut  lagi sadar ia jika Lila tak senang mengupasnya lebih lanjut. Dalam hatinya ia dapat menduga pasti ada telah terjadi sesuatu pada hubungan mereka dulu.
“Kak, kita beli es krim di sana yok, kali ini biar Alfi yang traktir” ujarnya berusaha mencairkan suasana hati Lila.
Sepertinya usahanya berhasil. Nampak sunggingan senyum di bibir indah Lila.
***************************
Sore harinya, Lila dikejutkan oleh kedatangan Erik di rumahnya. Saat itu ibunya yang menyambut pemuda itu. Ibu Lila menganggap putusnya jalinan asmara antara putrinya dan Erik merupakan hal yang biasa dikalangan remaja. Oleh karenanya ia tetap menyambut baik kedatangan pemuda itu. Mereka sempat berbincang berdua sebelum ibu Lila masuk ke kamar putrinya. Di dalam kamar Lila terlihat sedang menatap kaca meja rias dengan malas, tak ada lipstick dan polesan bedak buat tamunya yang satu ini.
“Anak perempuan kok tidak dandan padahal kedatangan tamu istimewa”
Lila tetap diam, namun ibunya tahu kegundahan hati putrinya itu.
“Suka atau tidak suka kamu tetap harus menemuinya, tak sopan membiarkan seorang tamu lama-lama  menunggu nak.” kata ibunya lembut
Lila mengangguk lalu keluar dari kamarnya.
“Eng..saya sebenarnya mau mengajak Lila makan malam bu” Erik berusaha berlaku bagai seorang gentleman di hadapan ibu Lila.
“Oh..bagi ibu tak masalah,  semua itu terserah pada Lila, nak”
Sebetulnya Lila enggan meladeni Erik apalagi sampai menjalin hubungan kasih kembali dengan pemuda itu setelah apa yang pernah Erik lakukan di masa pacaran mereka dulu.
Tapi ia tak ingin terlihat berlaku kasar di hadapan ibunya. Apalagi setelah pembicaraan mereka berdua kemarin. Ia akhirnya setuju untuk pergi makan malam bersama Erik hanya buat menyenangkan hati ibunya saja.
*******************************
Sore itu pula nampak Alfi ditemani Sriti jalan-jalan di Mal. Sriti membiarkan Alfi menggandeng tangannya layaknya sepasang kekasih. Ia tak merasa malu pada pengunjung lain. Lusanya Alfi berencana pulang dulu ke kota S jadi sisa hari itu mereka manfaatkan buat bergembira bersama menikmati hingar bingarnya kota H.
“Fii, bukankah itu dr Lila?” Tanya Sriti. Alfi melihat  ke arah  yang ditunjuk oleh Sriti. Memang betul nampak Lila sedang duduk di sebuah cafe sambil menikmati makan malamnya bersama Erik.
“Ya betul kak, ayo kita kesana” ajak Alfi. Namun sebelum ia melangkah Sriti mencegahnya.
“Jangan Fi..sebaiknya kita tak mengganggu mereka”
“Kenapa kak? Kakak malu ketemu kak Lila ya? Ayolah …siapa tahu kita malah ditraktir makan malam oleh mereka”
“Bukan karena masalah itu…”
“Lantas kenapa kak?”
“Lelaki yang bersamanya itu…dia…”
“O itu kak Erik mantan pacarnya kak Lila sewaktu di SMU dulu, orangnya baik kok, sepertinya mereka mau kembali pacaran. Emang ada apa dengannya kak?”
“Dia itu…sering datang ‘ngamar’ di motel tempat kakak bekerja”
“HAaa… kakak yakinn?” ujar Alfi terkejut.
“Fi, Kamu tidak mengenal Erik,  dia itu adalah seorang buaya perempuan, Ia hanya ingin memuaskan napsu semata lalu pergi begitu saja  setelah mendapatkan apa yang ia mau, tak jarang ia berlaku kasar pada wanita yang ia kencani dan mereka di tinggal begitu saja si kamar motel setelah ia kerjai, tidak hanya itu ia bahkan pernah mencoba memaksaku melayaninya”
Alfi termagu setelah mendengar keterangan Sriti barusan. Apakah Lila tak tahu akan semua itu. Namun ia pikir hal itu sangat wajar. Sekian lama  Lila meninggalkan kota H ini sehingga ia tak tahu banyak tentang mantannya itu.
“Sungguh tak disangka ternyata kak Erik seperti itu, kalau begitu Alfi harus segera memperingatkan kak Lila”
“Memang seharusnya demikian namun kita tak bisa begitu saja mengatakannya. bisa-bisa Lila malah marah pada kita, Sebaiknya kau awasi saja sambil menunggu waktu yang tepat buat menjelaskannya”
“Alfi ngga rela wanita sebaik dan  secantik kak Lila jatuh ke tangan lelaki seperti itu kak”
“Hi hi bisa saja bicaramu Fi, emang kamu pinginnya kalau dr. Lila buatmu ya?”
“Akh  kakak, mana berani Alfi macam-macam sama kak Lila. Dia kan orang yang sangat terpelajar kak”
“Loh apa bedanya Lila dengan Sandra dan yang lain, Mereka sama-sama wanita dari keluarga baik-baik, berpendidikan bahkan bersuami, tapi tetap saja mau kamu gituin”
“Dia beda kak. Entahlah yang jelas Alfi sangat segan padanya”
“Ya sudah, baiknya kita segera pergi ke tempat lain biar tidak terlihat oleh mereka” ajak Sriti.
Alfi yakin Lila pasti mampu menjaga diri. Gadis itu tak bakal tergoda oleh rayuan gombal lelaki semacam Erik.
***************************
Sementara itu di dalam café, terlihat Lila dan Erik duduk di sebuah meja di sudut ruangan. Sambil menunggu pesanannya datang, Erik berusaha membuka percakapan. Ia mulai bercerita kesana kemari mengenai bisnisnya yang sukses, perjalannannya ke segala belahan dunia, tentang mobilnya, sampai soal binatang peliharaannya. Lila yang lebih banyak diam  hanya menanggapi omongan Erik dengan dingin. Setelah kehabisan bahan omongan yang semuanya berbau narsis, akhirnya ia mulai terlihat ngegombal.
“Sebetulnya aku mau minta maaf atas semua perkataanku siang tadi La”
“Tak mengapa, aku tak pernah memasukannya di dalam hati”
“Syukurlah jika demikian. Tak hanya itu aku juga ingin meminta maaf atas rusaknya hubungan kita dulu, aku memang bersalah, a..ku ingin kita kembali seperti dulu lagi”
“Apa?..Maaf? Kau baru bisa mengatakan maaf setelah sepuluh tahun aku terpuruk oleh penghianatanmu? Kau benar-benar tak berperasaan Rik!. Jika kamu bermaksud agar hubungan kita kembali seperti dulu, maka jawabanku adalah Tidak!”
“Tapi La paling tidak beri aku kesempatan sekali ini saja, aku ingin membuktikan jika aku serius untuk membina hidup bersama denganmu…aku masih menc..”
Belum selesai ia menggombal Lila telah memotong kalimatnya.
“Maaf Rik! Sekali lagi aku tegaskan bahwa aku tak tertarik membina hubungan asmara denganmu dan aku tak ingin membicarakan soal ini lagi, kita memang tak berjodoh Titik!”
Erik menatap Lila tajam, ia merasa terhina telah ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Pikiran kejinya muncul. Ia tak mungkin melepaskan makluk molek ini begitu saja. Bagaimanapun caranya ia harus mendapatkan Lila. Mungkin mustahil mendapatkan cintanya namun tidak sukar buat mendapatkan tubuhnya.
Erik akhirnya mendapatkan kesempatannya saat Lila pergi ke kamar kecil. Dari saku celananya ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan putih bening. Lalu ia tuangkan sedikit ke dalam minuman Lila. Ini adalah obat perangsang dosis tinggi. kemudian ia menambahkan juga bubuk putih yang tak lain adalah obat tidur. Kedua obat tersebut dengan cepat bercampur dengan minuman Lila. Cara ini yang sering Erik lakukan buat menjerat para korbannya apabila perempuan tersebut menolak di ajaknya tidur.
“Ayolah kita makan dulu lalu kuantar kamu pulang” ujarnya berusaha berlaku wajar saat Lila kembali ke kursinya.
Saat dalam perjalanan pulang, Lila mendadak merasakan kepalanya begitu berat. Gadis itu memijit-mijit kepalanya. Namun semakin lama pandangannya semakin kabur hingga akhirnya kepalanya terkulai di sandaran kursi mobil Erik.
“Kau akan tahu akibatnya bila berani menolak keinginanku La” ujar Erik tersenyum menyeringai
*****************************
Motel XX
Nampak Sriti duduk di meja Receptionist, Ia sedang menjalani Sift malam. Alfi baru saja pulang ke rumah kontrakannya setelah mengantarnya kemari. Terdengar deru kendaraan memasuki area parkir. Sriti terkejut melihat siapa tamu yang datang itu. Hatinya jadi was-was ketika mengenali pemilik kendaraan tersebut. Orang itu turun dan menuju ke arahnya.
“Ada kamar kosong, Say?” tanya Erik sambil mengedipkan mata genit.
“A..da mas,…eng…di nomor …dua belas”
Erik lalu kebali ke dalam kendaraan. Benar saja dugaannya Ia melihat Erik keluar dari mobil sambil memapah seorang wanita yang tak lain adalah Lila.
Melihat kondisi Lila yang dipapah berjalan, Sriti yakin Lila dalam keadaan setengah sadar. Erik pasti sudah membiusnya terlebih dahulu seperti korban-korban kebinatangannya  sebelum ini.
Ini gawat aku harus menghubungi Alfi segera, pikir Sriti.
“Fi!..kamu ada dimana saat ini?” tanyanya melalui telepon ke handphone-nya Alfi
“Alfi masih di jalan pulang menuju ke rumah kakak. Ada apa kak kok bicaranya grasa-grusu begitu”
“Kamu harus secepatnya kembali lagi kemari Fi!”
“A..da apa sebenarnya kak?”
“Kak Lila-mu Fi! Dia dibawa si Erik kemari dalam keadaan tak sadar”
“Apaaa?! Aduh gawat kak. Tapi  Alfi butuh waktu beberapa menit buat sampai di sana”
“Ya lekas!..kakak akan berusaha mengulur-ulur waktu hingga kamu tiba di sini”
Alfi tak membuang-buang tempo, ia tak melihat ada ojek atau kendaraan umum lain yang sedang melintas di sekitar situ. Maka ia memutuskan untuk berlari menuju ke motel XX. Jarak yang hanya tinggal dua kilometer itu bukanlah suatu masalah bagi dirinya. Sementara itu di motel XX, Di saat Erik masih berusaha memapah Lila dari tempat parkir ke kamar yang di tawarkannya padanya tadi. Sriti dengan tergesah-gesah menuju ke sebuah kamar lain yang kosong sambil membawa gelas kopinya. Lalu cepat-cepat  ia menumpahkan semua isi gelas itu ke atas kasur. Lalu setelah itu  ia berlari menghampiri Erik yang sudah sampai di depan pintu kamar nomor dua belas.
“Engg…mas Erik…maaf saya tadi salah, ternyata kamar nomor dua belas sudah ada yang ngisi, sebaiknya mas pakai kamar nomor tiga puluh saja”
“Haa? Gimana sih!?! Lain kali yang teliti dong! kan capek dibikin mondar-mandir seperti ini!” ujar Erik kesal.
“I..yaa..mas sekali lagi saya minta maaf. A..nu..baiknya biar saya yang bantuin nolonginnya teman mas” ujar Sriti berusaha mengambil alih memapah.tubuh Lila.
Jarak kamar nomor dua belas  lumayan jauh dari nomor tiga puluh. Sriti berharap usahanya mengulur-ulur waktu berhasil hingga Alfi tiba di sana.
“Ayo yang cepetan!”
“I..ya mas…maaf  soalnya temen mas badannya lebih gede dari saya..hosh..hosh” ujar Sriti terengah-engah.
Lalu mereka menuju ke dalam kamar. Saat lampu kamar di hidupkan,
“Loh kok kasurnya masih kotor begini! Wah ini sudah keterlaluan! Managemen tempat ini benar-benar sudah bobrok masa tamu langganan seperti gue di kasih kamar bekas ngentot gini! Kalau begini mendingan gue pindah ke motel lain saja dan jangan harap gue  bakalan mau lagi datang kemari!” ancam Erik. Wajahnya merah padam karena marah dan kesal.
“Aduhhh sekali lagi maaf mas Erik dan jangan pergi dulu …sebentar akan saya ganti sepreynya ya. Ini semua gara-gara si cleaning servicenya pada mudik, Jadinya saya yang kerjai semua” Sriti meletakkan tubuh Lila di sofa, lalu mengambil seprey baru yang bersih dari kantor meninggalkan Erik yang masih menggerutu.
Lima menit kemudian Sriti kembali lalu dengan sigap mengganti seprey tempat tidur tersebut.
“Sudah selesai mas”
“Ini buat kamu…tapi ingat lain hari aku minta ganti rugi waktuku yang terbuang dengan tubuhmu” ujar Erik sambil menyelipkan uang pecahan limapuluh ribuan ke dada Sriti sambil meremas bukit kembar itu.
Sriti kesal atas perlakuan Erik yang tak sopan kepadanya namun ia terpaksa berpura-pura senang sambil tersenyum nakal.
“Selamat malam mas” ujarnya lalu menutup pintu kamar dari luar.
Nampak Alfi tengah berlari ke arahnya. Sriti memberi isyarat kepada anak itu agar tak berisik, lalu mereka berdua menuju ke gudang yang tak jauh dari kamar itu.
“Host….host…host..ba..gai..mana kak? Di..mana.. kak ..Lila?” ujar Alfi terengah-engah. Karena napasnya nyaris putus karena berlari tanpa henti.
“Kau datang tepat pada waktunya, dia ada di kamar bersama Erik. Nah sebelum kita bertindak sekarang kau dengarkan dulu rencana kakak”
Sementara Sriti menjelaskan rencananya pada Alfi. Di dalam kamar nampak Erik tersenyum-senyum menjijikan bagaikan seekor hyena yang siap merencah-rencah  korbannya. Selama ini Erik tak pernah gagal memperdaya korban-korbannya apalagi hingga pada tahap ini. Ia menuangkan air putih dari teko yang di sediakan oleh pihak motel ke dalam sebuah gelas lalu ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan obat perangsang yang telah dipakainya sedikit di café tadi. Sisa cairan di dalam botol itu ia tuangkan semua ke dalam gelas. Erik benar-benar memperhitungkan waktu. Ia berniat menggarap tubuh Lila habis-habisan malam ini. Untuk itu ia mempersiapkan obat perangsang tambahan yang akan di berikannya pada Lila ditengah-tengah persetubuhan nanti agar Lila benar-benar takluk padanya hingga pagi hari. Tubuh Lila dipindahkannya dari sofa ke atas kasur. Lalu perlahan ia membuka reutsleting dibagian belakang gadis itu. Lila hanya mampu mengeliat-geliat. Ia sungguh tak berdaya. Obat tidur dari Erik hanya menyisahkan sepuluh persen kesadarannya. Berhasil menarik resleting gaun Lila hingga ujung. Erik terbelalak memandangi keindahan di hadapannya saat itu. Kedua payudara gadis itu seakan mau tumpah dari BH-nya karena begitu montoknya. Jemari Erik gemetaran saat melepas kaitan bra tersebut dari balik tubuh Lila. Bra itu-pun berhasil ia rengut lepas. Dan nampaklah ke dua buah daging putih bersih itu dengan putingnya yang berwarna merah muda. Benda indah ini dahulu yang sempat ia sia-siakan. Dan kini ia beruntung mendapatkannya kembali sebelum ada seorangpun yang menyentuhnya.
Namun baru saja jemarinya hendak menggapai ke dua benda itu, tiba-tiba pesawat telepon di samping tempat tidur berdering.
Riiingggg!!!!
“Haess!! Apa lagi sih!” meski kesal namun ia tetap mengangkat telepon tersebut.“Ya ada apa!”bentaknya. Terdengar suara Sriti di seberang telepon agak gugup.
“A..nu  maaf mengganggu mas…soalnya penting sekali”
“Cepat katakan saja  ada apa!”
“Eng…menurut informasi sebentar lagi ada tim aparat bakal datang melakukan razia kemari mas”
“Apaaa!…”
“Betul mas.. katanya sekitar lima menitan mereka bakal tiba di sini, sudah dulu ya mas saya mau ngasih tahu tamu yang lainnya” ujar Sriti memutus pembicaraan.
“SIALLL!!!…Keparatttt !!!” pekik Erik berang, Mengapa ia begitu sial hari ini. Dengan susah payah ia menjebak Lila sejak tadi sore dan ia hanya tinggal menyetubuhinya saja tapi semuanya menjadi kacau balau. Erik tak mau mengambil resiko berlama-lama. Secepat mungkin ia harus kabur dari tempat itu sebelum aparat datang . Untung saja ia belum melepas pakaiannya. Rasanya ia tak punya waktu buat membawa serta Lila bersamanya. Akhirnya ia putuskan untuk meninggalkan gadis itu begitu saja.Lalu bergegas lari keluar dari kamar. Sriti dan Alfi memandangi mobil Erik yang berlalu dari motel dengan meninggalkan kepulan debu.
“Berhasil Fi! Kamu panggil dulu Taxi di depan sementara aku akan merapikan dr Lila terlebih dahulu”.
Sriti dengan sigap memasang kembali gaun Lila yang terbuka sebagian. Namun ia tak sempat memakaikan bra Lila hanya gaunnya yang ia rapikan.
“Kak, taxinya sudah datang, loh ada apa dengan kak Lila?” Alfi melihat kondisi Lila dalam keadaan setengah sadar dalam pegangan Sriti.
“Ia tadi pasti dicekokin obat tidur sama Erik, sebaiknya kasih dulu dia minum air putih biar dia agak segaran sedikit”ujar Sriti.
Alfi melihat sebuah gelas sudah terisi penuh air di atas meja. Kebetulan pikirnya. Namun ia tak sadar kalau itu adalah air yang sudah di campuri oleh Erik dengan obat perangsang.
Alfi lalu meminumkan isi gelas itu ke Lila. Lila-pun meminumnya hingga habis setengah gelas.
“Ayo cepat kau bawa dia kabur dari sini aku kuatir Erik kembali lagi ke mari, kamu bawa kak Lila-mu pulang dan ini uang buat bayar taxinya”
“Sebentar kak, Alfi haus sekali karena tadi harus berlari kemari” Lalu Alfi meminum sisa air di gelas tadi sampai habis tandas.
Kemudian mereka memapah tubuh Lila ke dalam Taxi. Lalu pergi meninggalkan motel tersebut.
*********************************
Sesampainya di rumah Lila, Alfi dengan susah payah memapah Lila  hingga sampai di teras rumah. Jelas tidak mudah membantu orang yang memang lebih tinggi dan lebih berat dari dirinya itu sendirian. Tubuh Lila sementara di baringkannya di atas kursi lalu ia menuju ke arah pintu utama. Berulang-ulang ia mengetuk pintu namun tak ada seorangpun yang datang membukakannya. Hingga sepuluh menit berlalu tetap tak ada yang keluar. Tanpa bermaksud lancang ia  lalu memutuskan membuka tas Lila. Satu persatu isinya ia keluarkan dari dalam tas, Dompet, kosmetik, Alfi juga melihat segerombolan anak kunci yang di ikat menjadi satu. Hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari yaitu  HP gadis itu. ia berharap siapa tahu ia bisa menelpon seseorang buat dimintai bantuan. Namun ia melihat sebuah pesan pendek pada Hp tersebut.
“La kamu tinggal sendiri dulu di rumah, malam ini ibu dan Lidya menginap selama dua hari di tempat bu De mu yang sedang sakit”
Alfi baru mengerti bahwa ia harus berusaha masuk ke dalam rumah dengan menggunakan kunci milik Lila. Lama juga ia mencocok-cocokan tiap anak kunci ke lubang pintu depan. Hingga akhirnya ia berhasil. Lalu ia kembali membantu Lila berdiri dan memapahnya masuk ke dalam rumah hingga di sebuah kamar tidur. ia baringkan tubuh Lila di atas kasur. Setelah itu ia bergegas kembali ke arah depan buat mengunci pagar dan pintu ruang tamu. Setelah semuanya beres ia justru bingung harus mengerjakan apa lagi. Yang jelas Ia tak mungkin meninggalkan Lila sendirian dalam keadaan tak sadarkan diri seperti ini. Ia justru kuatir jika Erik tiba-tiba datang kemari dan pasti membuat keadaannya kembali menjadi runyam seperti tadi. Alfipun akhirnya memutuskan untuk tetap di sana menunggu  sampai  Lila bangun. Rasa letih membuat ia menyandarkan dirinya di kaki tempat tidur di samping tubuh Lila. Berkali-kali ia menoleh ke arah Lila yang terbaring di sebelahnya. Wajah gadis itu  terlihat begitu cantik dan menawan. Lekuk-lekuk tubuh yang sintal itu menonjolkan segala sisi kewanitaannya yang dapat mengguncang iman setiap pria yang menatapnya.
Alfi merasakan ada perasaan aneh bergejolak sejak di dalam taxi tadi. Entah kenapa birahinya tiba-tiba naik begitu cepat apalagi ketika tadi ia memapah dan bersentuhan dengan tubuh gadis itu. padahal selama ini ia tak pernah berani berpikir untuk berbuat macam-macam terhadap Lila.
Alfi
Alfi
Aarggg.. Alfi binggung ada apa dengan dirinya? Mengapa gairahnya mendadak menjadi beberapa kali lipat lebih tinggi dari biasanya? Sebesar-besarnya hasratnya untuk berhubungan intim tak pernah membuat dirinya sampai tak terkendali seperti sekarang ini. Di saat kegelisahan tengah melanda hatinya, tiba-tiba sebuah tangan halus merangkul lehernya dari belakang. Ternyata Lila dalam tidurnya juga sedang merasakan kegelisahan dan secara tak sengaja meraih leher Alfi. Alfi menoleh perlahan. Wajah Lila begitu dekat dengan wajahnya hingga hangat napas Lila dapat ia rasakan di pipinya. Bibir Gadis itu begitu merekah nampak terbuka sedikit seakan-akan  meminta untuk di kecup.
Harum tubuh dan kehalusan kulit Lila membuat dadanya semakin berdebar-debar kencang dan peluhpun mengucur deras keluar dari pori-porinya seiring napasnya yang memburu. Dan semakin lama hasrat itu semakin menyesakan dadanya.
“Tidakk! Aku tak boleh melakukan hal itu! Aku tak ada bedanya dengan Erik jika sampai menodai kak Lila!” Jerit Alfi dalam hati.
Dulu ia telah menodai Dian dalam situasi nyaris sama dengan saat ini. Dimana saat itu Dian sedang terlelap dan ia sendiri dalam kondisi terangsang hebat. Ia bertekat tak akan pernah mengulangi kesalahan itu lagi. Namun obat perangsang dosis tinggi milik Erik yang tak sengaja terminum olehnya itu sudah terlanjur bereaksi dan menjalar dengan cepat keseluruh syaraf-syaraf  kelaki-lakiannya. Jelas sia-sia saja ia berusaha melawan rasa itu. Tahu-tahu  ia menemukan fakta kalau tititnya sudah dalam keadaan mengejang kaku. Alfi jelas tak kuasa mengendalikan dirinya lagi. Wajahnya perlahan semakin mendekat ke wajah Lila hingga bibirnya bersentuhan dengan bibir lembut gadis itu. Lalu ia pun melumatnya. Bak tersengat oleh aliran listrik tegangan tinggi Lila membuka matanya. Pada saat itu tubuhnya tengah dipenuhi oleh gairah tinggi akibat pengaruh dari obat perangsang berdosis tinggi telah membuat nalurinya mengambil alih seluruh kesadarannya. Sesaat kemudian matanya terkatup lagi. Menit demi menit lumatan bibir mereka seakan tak pernah terlepas lagi. Lila membuka mulutnya lebih lebar membiarkan lidah Alfi masuk menjelajahi rongga mulutnya. Mulanya ia hanya merintih-rintih membiarkan lidah Alfi menari-nari kesana kemari namun tak membutuhkan waktu lama buat ia bisa memahami seni bercumbu itu dan akhirnya iapun mulai mampu  membalas lumatan bibir dan permainan panas lidah Alfi sehingga menjadikan ciuman itu menjadi sangat bergairah dan menyenangkan. Entah bagaimana ia bisa begitu pandai berciuman padahal ia belum pernah sekalipun melakukan hal itu sebelumnya. Meski dengan napas tersengal-sengal keduanya tetap saling melumat satu sama lain.
Lengan Lila merangkul dan mendekap tubuh Alfi semakin erat. Gadis itu seakan tak mau melepaskan lagi pelukannya. Sambil melakukan ciuman dan cumbuan pada Lila. Jemari tangan Alfi juga tak tinggal diam, meraba dan menjelajah ke sana kemari ke seluruh bagian sensitive tubuh Lila. Ini pertama kalinya bagi Lila membiarkan tubuhnya dijamah oleh seorang lelaki. Dulu semasa pacaran, Erik masih terlalu hijau dan tak pernah berani melakukannya. Alam kesadaraannya yang tersisa sedikit itu telah dikuasai secara penuh oleh gairah aneh yang menjalar ke setiap syaraf-syaraf di seluruh tubuhnya. Pengaruh obat perangsang itu menjadikan tubuhnya begitu sensitive terhadap setiap sentuhan Alfi.
“Fiiihh……Ohhh” Lila merintih lemah ketika jemari Alfi mengapai dan berusaha menarik reustleting gaunnya.
Ingin rasanya ia mengatakan kata ‘jangan’ namun tak mampu ia ucapkan. Ia sadar apa yang hendak anak itu lakukan pada dirinya saat itu namun demikian ia tak mampu menolak semua perlakuan dari Alfi untuk menggaulinya. Obat perangsang Erik yang memang mempunyai daya rangsang sangat tinggi itu benar-benar telah menguasai akal dan pikiran sehatnya. Bahkan kepandaian dan kekerasan hatinyapun selama ini telah sirna entah kemana untuk saat ini. Tinggalah yang tersisa hanyalah nalurinya sebagai makhluk hidup yang dipenuhi oleh napsu birahi dan gairah buat bercinta. Lalu perlahan-lahan gaunnya tertanggal dari tubuhnya hingga hanya tersisa satu carik kain yang masih melekat di tubuh Lila, yaitu sebuah celana dalam berenda-renda berwarna putih. Benda itu ketat membukus gundukan bukit kecil pada selangkangannya dengan bulu-bulu hitam yang membayang di situ. Dulu Alfi sempat penasaran membayangkan bagaimana bentuk tubuh Lila bila tak ditutupi oleh pakaian putih dokternya. Dan kini ia dapat dengan jelas melihat segala keindahan milik gadis itu. Sungguh tak pernah ia sadari selama ini jika wanita yang sering kali ia temui saat mengantar para wanita-wanitanya ternyata semolek ini. Meski Alfi telah sering melihat berupa-rupa tubuh indah dari para wanitanya, namun hatinya tetap bergetar menatap tubuh seorang gadis dewasa yang telah mengembang dengan sempurna di hadapannya itu. Kulitnya begitu putih bersih terawat dan tak nampak ada noda sedikitpun. Perut yang ramping serta pinggul yang bulat merupakan idaman setiap lelaki tak terkecuali dirinya. Dan yang paling mengagumkan adalah dua buah payudara Lila yang montok namun kencang dan indah dihiasi oleh puting berwarna merah muda di bagian puncaknya.
Setiap pria pasti tahu secara naluri bagaimana bermain dengan bagian tubuh yang ini tapi tidak banyak yang tahu bagaimana semestinya memperlakukan payudara seorang perempuan. Tidak demikian halnya dengan Alfi, ia begitu mengerti jika payudara adalah bagian yang sangat peka terhadap rangsangan dan tahu bagaimana menyenangkan setiap pasangan wanitanya lewat benda ini. Setiap wanita yang tidur dengannya memiliki bentuk tubuh dan payudara berbeda tapi mereka semua paling suka bila Alfi mengakhiri permainan di bagian itu dengan menyusu bagai seorang bayi pada payudara kirinya. Alfi mulai membelai-belai payudara indah itu Lalu melakukan gerakan melingkar dengan tangan di payudara dengan lembut dari bagian ujung payudara hingga dasar payudara. Kemudian kembali dari lingkaran besar hingga mengecil terus ke arah puting tanpa menyentuh putingnya. Ia sengaja tak menyentuh bagian itu untuk meningkatkan rasa penasaran dan nafsu Lila, lalu dengan keseluruhan jemarinya Alfi yang meraup bukit kembar itu. Dan Kemudian meremas-remasnya secara lembut.
“Oughhhhh….engggggg…”Lila mendesah dan merintih sementara tubuhnya meliuk-liuk dan mengelinjang keenakan hingga seprey di bawah tindihan tubuhnya menjadi kusut tak karuan. Pada saat itu Lila sudah tidak bisa lagi menahan remasan dan kenakalan jemari Alfi.
Alfi melihat puting payudara Lila berdiri, lalu menghentikan remasannya ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya…dan.
Hap…. bibirnya  menangkap putting susu sebelah kanan Lila lalu mengisapnya lembut.
“Argggg…Fiiiiiiiih” Lila terpekik tersengat oleh kenikmatan yang baru pertama kali ini ia rasakan. Matanya sempat terbeliak sebelum kembali terkatup. Garis-garis di keningnya berkrenyit  menahan rasa  nikmat itu.
Puas mengulum putting susu sebelah kanan bibir Alfi lalu berpindah ke putting sebelah kiri. Mulanya bibirnya menghisap dengan lembut sambil sesekali memutar-mutar lidahnya lalu semakin kuat seakan ingin memerah keluar air susu dari benda itu. Lalu semakin lama semakin kuat sehingga putting payudara Lila semakin keras mengacung.
“Eeenggggggg……” gadis itu terus merintih-rintih.
Ia semakin terbakar  oleh gairahnya yang meledak-ladak Dan ketika Alfi tak lagi melepaskan hisapannya pada puting payudara kirinya. Kedua tangan Lila menekan wajah anak itu hingga makin terbenam di bungkahan lembut dadanya dan berharap Alfi tak segera menyudahinya. Alfi tergesah-gesah melepas satu persatu pakaiannya hingga dirinya benar-benar bugil. Tititnya yang sangat besar dan panjang itu sudah dalam keadaan ereksi. Benda itu terlihat begitu mencolok karena ukurannya tak seimbang dengan tubuh kerempeng Alfi. Tanpa banyak kesulitan dengan ke dua tangannya Alfi perlahan menurunkan celana dalam Lila yang sudah sangat basah hingga benar-benar terlepas dari pergelangan kaki. Alfi melepaskan hisapannya pada puting payudara Lila dan menggeser posisi tubuhnya ke arah bawah sambil membuka lebar kedua paha Lila. Lila terkejut dan berusaha merapatkan kedua pahanya yang mulus. Namun terlambat  Alfi telah lebih dulu menyusupkan kepalanya masuk diantar kedua kaki jenjang dan mulusnya itu hingga wajah anak itu berada tepat di depan vaginanya. Di hadapannya hanya beberapa sentimeter dari wajahnya kini sudah terbentang sebuah taman surgawi dunia. Sosok indah vagina seorang gadis cantik. Bukit  kemaluan yang penuh ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menyebar hingga ke bawah bagian pusarnya. Bau harum yang terhirup oleh penciumannya yang menandakan jika Lila  selalu merawat dan menjaga kebersihan organ kewanitaannya itu. Liangnya nampak telah membasah oleh cairan bening yang merembes keluar karena gairah pemiliknya yang sudah tak terbendung. Alfi menjulurkan lidahnya dan perlahan mendekat pada belahan vagina Lila. Dan ketika ujung lidahnya yang runcing bersentuhan dengan benda cantik itu, Lila kembali tersentak.
“Oghhhhhh…. …”rintihnya dikala ia merasakan rasa nikmat yang begitu menyengat mengiringi rasa geli dan gatal pada organ intimnya.
Sebuah kenikmatan yang baru pertama kali ini ia alami dan membuatnya hanya mampu merintih-rintih. ia merasa sudah tak lagi mampu menahan desakan birahinya sendiri ketika lidah Alfi tak hanya menjilati bagian permukaan saja namun menyelinap masuk ke dalam vaginanya.
Jemari-jemarinya meraih seprey dan meremasnya seiring nikmat yang di rasakannya melanda organ intimnya.  Semua yang terjadi ini adalah pengalaman yang pertama bagi Lila. Tak ada seorang lelakipun yang pernah melakukan hal itu padanya karena selama ini ia selalu berhasil menjaga dirinya dari jamahan setiap lelaki.
Clek..clek…clekk..clek, tiba-tiba Alfi menghentikan jilatannya sejenak. Ketika Ia memandangi belahan cantik di hadapannya itu timbul rasa penasarannya, ia ingin tahu apakah Lila masih perawan atau tidak. Lalu dengan jemarinya ia bibir membuka bibir vagina Lila sehingga Ia dapat melihat sebuah selaput tipis yang menutupi bagian dalam vagina gadis itu.  Benda yang sangat di agungkan oleh seorang wanita sebagai lambang kesuciannya itu ternyata masih utuh memagari liang vagina Lila.
“Uhh ternyata kak.Lila memang masih perawan ting ting”, ujar Alfi dalam hati.
Baru kali ini ia melihat bagaimana sesungguhnya bentuk dan posisi keperawanan seorang gadis. Hanya sekitar tiga atau empat senti dari permukaan bibir kemaluannya. Setelah puas terhadap apa yang ingin ia ketahui. Alfi  kembali melakukan jilatan pada kewanitaan Lila. Gerakan lidahnya kali ini semakin jauh menjelajah ke dalam sehingga liang sempit itupun bereaksi berkedut-kedut seakan menghisap lidahnya. Hingga akhirnya lidahnya berhasil menemukan klitoris Lila. Lalu ia menghisap benda mungil yang sangat sensitif dan dipenuhi dengan ujung-ujung syaraf kenikmatan itu dengan penuh kelembutan. Cairan bening semakin banyak memancar dari dalam vagina Lila sehingga mulut Alfi belepotan.. Nampaknya Lila telah  sampai dipuncak kegairahannya. Sebagai seorang gadis suci yang belum pernah merasakan kenikmatan dalam berhubungan intim, jelas ia tak mampu berlama-lama dirangsang sedemikian rupa. Kenikmatan itu sudah tak lagi tertahankan. Diiringi lengking pekikan, Lila pun akhirnya mencapai orgasme untuk yang pertama kalinya seumur hidupnya.
“Aarggghhhhhhhhhhh !!!!!!”  saat itu terjadi Lila mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya seakan ia ingin lidah Alfi terbenam ke dalam liang senggamanya jauh lebih dalam lagi. Seluruh organ tubuhnya mengalami kekejangan terutama pada organ intimnya. Nikmat itu meletup-letup  diiringi dengan keluarnya cairan bening secara alami dari dalam liang senggamanya. Selama ini ia hanya tahu kata orgasme itu secara teoritis dari buku buku kesehatan yang ia baca selama di bangku kuliah dulu. Kini ia telah merasakan sendiri orgasme yang sesungguhnya. Ia terkesima mendapati rasa nikmat itu sangat luar biasa dan sungguh tak terlukiskan. Setelah lewat satu menitan pinggul Lila kembali terhempas ke kasur. Tampak napas Lila masih tersengal-sengal. Sekujur tubuhnyapun telah basah oleh keringat. Kedua matanya terpejam meresapi sisa-sisa  kenikmatan yang baru saja melandanya. Sebuah pertanyaan melintas di benaknya, akan ia membiarkan anak ini melakukan hal yang lebih jauh lagi dari ini? meski merasa hal itu sungguh tabu dan tidak bermoral, tetapi daya tarik buat melakukan asmara terlarang itu begitu menggoda dan tak terbantahkan. Tanpa disadari tubuhnya mengharapkan Alfi terus menjamahnya untuk membawanya pada sebuah titik akhir puncak kenikmatan. Hanya satu langkah lagi buat Alfi menuntaskan permainan cinta ini. Wajahnya meninggalkan vagina Lila dalam keadaan basah. Lalu tubuhnya naik ke atas tubuh sintal gadis itu dan menindihnya. Lila sudah terbaring pasrah dengan kedua pahanya yang membuka lebar memperlihatkan vaginanya yang memerah dan sedikit terangkat pertanda rangsangan yang ia rasakan sudah memuncak. Ini merupakan tanda bagi Alfi harus segera “memasuki” nya. Namun Alfi tak kunjung melakukan penetrasi. Titit besarnya hanya ia letakan di atas permukaan vagina Lila. Sejenak ia masih diliputi kebimbangan bahkan terpikir untuk mengurungkan niatnya meniduri Lila. Tetapi belaian lembut tangan Lila pada dadanya menepis segala keraguannya itu. ia sungguh tak mampu melawan hasrat dan gairahnya. Tak ada hal lain di dunia ini yang ia lebih diinginkan dari persetubuhan ini. Ia pun merasakan jika Lila juga sangat menginginkan hal ini terjadi. Alfi berpikir ia mungkin bisa ia bercinta tanpa harus merusak kegadisan Lila dengan hanya memasukan kepala tititnya saja ke dalam liang senggama Lila layaknya melakukan petting bersama Niken dulu.
Lalu ia genggam batang penisnya yang sudah menegang penuh dan diarahkan tepat di bibir vagina Lila. Ia terlebih dahulu menyapu kepala penisnya ke atas dan bawah di sepanjang bibir cantik itu. Setelah  terlihat cairan yang merembes semakin banyak keluar dari celah vagina Lila, barulah ia menekan batang kemaluannya masuk.
Srtttt  …..Lepp…bibir vagina Lila terbelah dan kepala penis Alfi mulai menghilang ke balik bibir vagina itu.
“Aawwwwwww fiiiii….saa..kittt” rintih Lila kesakitan. Jemari nya turun dari dada ke perut Alfi berusaha mencegah anak itu memasukinya lebih jauh.
“Kak..oh… Ugghh..”vagina gadis ini rapat sekali batin Alfi.
Kulit kulup yang membungkus ujung penisnya tertarik kebelakang dan membuat kepala bulat penisnya bersentuhan langsung dengan kelembutan vagina gadis itu  Sehingga menimbulkan rasa nikmat yang lebih kuat ketimbang saat bagian itu tertutup kulup. Ia memang harus bersikap sabar untuk melakukan penetrasi lebih dalam ke vagina Lila walau kondisinya yang sudah sangat terangsang dan menginginkan tititnya di balut secara penuh oleh daging cinta gadis itu. Beberapa saat kemudian ketika otot-otot vaginanya mulai rileks. Lila merasakan kenikmatan sedikit demi sedikit perlahan muncul dan menindih rasa sakit tadi. Menyadari akan hal itu, Alfipun mulai lagi menekan tititnya agar masuk lebih dalam. Ia lakukan hal itu dengan selembut mungkin agar tak  terlalu menyakiti gadisnya itu.  Lila pun tak tinggal diam, secara naluriah ia membuka pahanya lebih lebar untuk memberi ruang bagi Alfi memasuki dirinya. Ia merasakan nikmat yang perlahan menjalar di mulut vaginanya Kenikmatan yang begitu mempersona. Srttttt…batang penisnya yang hitam besar itu melesak lagi sedikit dan kali ini ujung penis Alfi membentur sebuah dinding tipis dan menahan laju kepala penisnya untuk masuk lebih dalam. Alfi tahu ia telah sampai pada dinding kesucian Lila.
“Ougghhhhh…k..kkkaak…” desis Alfi merasakan tititnya dicengram kuat oleh  otot-otot vagina Lila. Nikmatnya jangan ditanya. Kuluman vagina sempit si cantik itu membuat ia harus berjuang keras menahan rasa ingin berejakulasi.
Perlahan ia menarik tititnya lalu didorongnya lagi masuk sedalam tadi. Saat melakukan itu, Ia berusaha agar tautan kemaluan mereka yang cuma sedikit itu tak sampai terlepas. Nyaris tak ada ruang buatnya melakukan gerakan ngentot secara nyaman. Alfi hanya berhasil membuat beberapa kali gerakan mundur dan maju itupun tak berjalan dengan lancar karena mulut vagina Lila masih terlalu sempit. Bahkan kocokan itu sempat terhenti  ketika tititnya tiba-tiba terlepas dari vagina Lila. Lepp…penis Alfi kembali menancap.
“Oughhhh….Fiiihh” rintihan nikmat Lila-pun  kembali terdengar.
Meskipun percintaan itu berlangsung demikian, namun  itu sudah cukup menyenangkan bagi Lila. Kedua kaki jenjangnya melingkar pada pinggul Alfi dan menekan pantat anak itu ke arah tubuhnya. Sambil mengayunkan pinggulnya, Alfi membenamkan kembali bibirnya ke bibir Lila melanjutkan ciuman mereka tadi. Lilapun membuka mulutnya lebar-lebar lalu membalas setiap hisapan bibir Alfi. Tapi Alfi telah keliru jika berpikir ia mampu melakukan peting dalam hingga persetubuhan itu berakhir. Kondisi dirinya yang tengah dipengaruhi obat perangsang sungguh sangat berbeda saat di kala ia dan Niken dulu pertama kali bercinta. Lambat laun bocah itu semakin tak terkendali. Kocokannyapun semakin cepat dan tak teratur sehingga lebih sering penisnya terlepas ketimbang di dalam vagina Lila. Hal itu semakin membuatnya tak sabaran dan tak terkendali. Keadaan itu diperburuk pula oleh perlakuan dari Lila yang merespon setiap sentuhan Alfi dengan tak kalah panasnya karena ia justru meminum obat perangsang dalam dosis yang jauh lebih banyak dari Alfi. Gadis itu mengoyang pinggulnya di saat penis Alfi terdorong masuk lalu menghentakannya ke arah yang berlawanan saat Alfi menarik penisnya. Nikmat yang ditimbulkannya sungguh sangat memabukan Alfi.
“Awww..kakkk enakkk ” Alfi terpekik tertahan. Ia tak menduga Lila merespon setiap gerakannya secara dasyat.
Alfi kini telah sampai pada batas kemampuannya buat bertahan. Nalurinya mengatakan ia harus menjebol keperawanan gadis itu sekarang. Ia tak tahan lagi buat merasakan kuluman vagina Lila secara utuh pada tititnya bukannya lagi peting yang menyebalkan seperti ini. Ia bisa gila bila tak ngentot saat ini juga.
“Kak Lila maafkann Alfii” bisiknya lirih sambil menghujamkan tititnya kuat-kuat. Sekali sentak seluruh batang penisnya yang gemuk itu masuk menerobos ke dalam vagina Lila dan  akhirnya terbenam seluruhnya hingga ujungnya menyentuh mulut rahim gadis itu.
“Aaawwww!!… …Saakkiiiittt !!…sakittt” Lila tersentak sambil menjerit kesakitan saat merasakan selaput daranya dipaksa merenggang sampai batas maksimal hingga akhirnya terkoyak disertai rasa sakit dan linu amat sangat.
Darah pun terlihat meleleh keluar dari belahan vaginanya membasahi seprey putih di bawah pantatnya. Rasa sakit membuat vagina Lila secara spontan mencengram kemaluan Alfi yang baru masuk itu.
“Oughhhh….sempiiiit bangeeet” desah Alfi sambil menggigit bibirnya sendiri. Nikmatnya sungguh tak terkira. Semua syaraf-syaraf yang berada di kepala penisnya merasakan gatal geli tak tertahankan sehingga ia tak dapat mengendalikan desakan kuat buat berejakulasi. Kedua tangannya menyusup ke belakang punggung Lila dan memeluk pinggang gadis itu erat-erat. Sementara pantatnya bergerak naik turun beberapa kali mengocok kontol besarnya dengan cepat dan kuat ke liang perawan itu. Alfi benar-benar sudah tak terkendali. Saat itu ia sudah tak perduli pada Lila yang sangat kesakitan akibat ulahnya. Jelas vagina gadis itu masih sedemikian sempitnya buat ia hajar seperti itu.
“Awwwww…ee..nakkkkk” Alfi terpekik ketika kontolnya berdenyut-denyut keras memuncratkan air maninya keluar menghantam deras rahim Lila.
Crooottt…Croottt..crottt…Crroootttttt! Sebagian besar cairan kental yang syarat dengan benih-benih subur itu meluncur masuk ke rahim Lila. Sebuah rahim seorang wanita dewasa yang sehat, subur dan siap buat dibuahi oleh benih-benih cinta Alfi. Lima belas pancutan dasyat diiringi nikmat tiada taranya akhirnya mampu sedikit meredakan amukan birahi Alfi. Ia baru tersadar akan kekasarannya barusan ketika melihat Lila  terisak-isak karena kesakitan. Batang kemaluannya memang kebesaran buat dijejalkan penuh sekaligus ke liang perawan yang sempit itu.
Bingung harus melalukan apa buat mengurangi sakit gadisnya ini Alfi lalu mengecupi jentik-jentik keringat di kening gadis itu. Ia lakukan  dengan penuh kelembutan. Kecupannya  beralih ke mata basah gadis itu hingga ke cuping telinga yang menimbuklan rasa geli bagi Lila, Lalu pindah  ke seputar leher hingga akhirnya kembali menyusu pada payudara kiri Lila.Lila-pun merasa agak nyaman oleh perlakuan mesrah anak itu. Rasa sakitnya berangsur-angsur berkurang dan menjelma menjadi rasa nikmat yang aneh. Setelah beberapa menit Alfi memesrai Lila tanpa melakukan gerakan kocokan sedikitpun, barulah ia mengerakan penisnya selembut  mungkin berusaha agar organ cinta Lila perlahan-lahan lebih meregang sedikit demi sedikit menyesuaikan diri dengan ukuran penisnya yang besar itu. Kini tubuh kecil dan kurus Alfi sudah dalam keadaan melekat erat dengan sempurna dengan tubuh sintal Lila. Tangan bocah itu menyusup kebelakang punggung sementara jemarinya meremas bongkahan padat pantat Lila. Sedangkan Lila mendekap leher Alfi dengan kedua tangannya sedangkan kaki indahnya yang panjang melingkar pada pinggul anak itu lalu menekan ke arahnya. Bibir mereka-pun bertaut saling mengecup menghisap silih berganti menambah panasnya hubungan intim itu. butir-butir keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya. Bahkan terlihat Alfi tak lagi ragu menghentakan penisnya yang besar itu dengan cepat. Semakin lama semakin cepat.
“Awwww!!…Fiiii” rintih Lila yang masih tetap merasakan kesakitan pada selangkangannya.
Namun sedikit demi sedikit perih itu semakin lenyap tertindih oleh rasa kenikmatan yang semakin menjadi-jadi. Napasnya sampai  tersengal-sengal Ia tak menyangka jika nikmatnya yang ditimbulkan oleh titit besar Alfi akan sedasyat itu. Semua syaraf-syaraf lembut di dalam vaginanya merespon daging asing yang memasukinya itu dengan cengraman yang kuat. Sepuluh menit kemudian Alfi merasakan pelukan Lila semakin mendekap dan pinggul nya bergerak dengan liar. Ia tahu gadis itu bakal mendapat kembali orgasmenya. Lalu ia semakin mempercepat ayunan pinggulnya dan menghujamkan tititnya sedalam mungkin ia dapat masuk.
Ctap!!..ctapp!!..ctap!!..ctap!!, terdengar bunyi benturan kemaluan mereka
“Fiiiiiiii…. oughhhhhhhhh!!!!!!!…Fiiiiiii!!!” Lila tak dapat menahan pekiknya ketika orgasme itu meletup dari tubuhnya.
Semua otot-otot kewanitaannya berkontraksi berirama dengan sangat cepat dan kuat diikuti  bagian panggul dan rahim. Lalu diakhiri dengan rasa kenikmatan yang dasyat. Ini adalah orgasme kedua yang dialami Lila. Namun jauh berlipat kali lebih nikmat dari yang pertama tadi . Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Pantas saja orang selalu ingin melakukannya lagi dan….. lagi pikir Lila. Pada saat yang sama Alfipun sudah tak dapat menahan ejakulasinya. Liang perawan itu tiba-tiba melumat seluruh organ kelaki-lakiannya dan mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa hingga saat itu juga aliran sperma pada saluran didalam penisnya melaju dengan cepat menerobos hingga keluar melalui lubang kencingnya tanpa bisa dibendung lagi.
Creeett…crooot..croooot…..croooot…
“Aaaaoooooo…kakkk enaaakkkkk!!!”Alfi melolong ketika air maninya bermuncratan untuk kedua kalinya.
Daging kejantannya mengembang mengempis dan menghentak- hentak sambil terus menerus menyemburkan spermanya di dalam vagina gadis itu seakan-akan ia ingin mengosongkan seluruh isi testisnya. Orgasme yang begitu kuat membuyarkan kesadaran Lila untuk beberapa saat. Ia bagai melayang tanpa batas di atas gumpalan awan dan memberikannya  rasa yang nyaman dalam pelukan erat Alfi. Meski sama-sama baru saja mengalami orgasme baik Alfi maupun Lila tetap saling mendekap satu sama lain. Pengaruh dasyat obat perangsang itu tak juga kunjung pudar mengukung keduanya. Alfi semakin liar mengumuli gadis itu seakan tak ingin menyudahi kenikmatan itu. Begitupun Lila yang baru kali itu merasakan nikmatnya persetubuhan Kenikmatan itu begitu memabukan bagai candu membuatnya  rela terus menerus dicabuli oleh anak itu.
Persetubuhan itu berlangsung lagi bagai tiada akhir hingga jam tiga dini hari. Keduanya baru berhenti setelah mengalami orgasme demi orgasme dan titit perkasa Alfi-pun tak dapat lagi memancarkan air mani. Akhirnya keduanya jatuh terlelap dalam keletihan dan kepuasan. Di malam sunyi dan dingin itu, di atas tempat tidurnya sendiri, Lila telah kehilangan kesuciannya.
********************************
Kesokan harinya
Menjelang tengah hari, Lila baru menggeliat bangun dari tidur lelapnya. Namun alangkah  kagetnya ia mendapati sosok tubuh lelaki yang tak lain adalah Alfi sedang terlentang di sebelahnya di atas tempat tidurnya tanpa mengunakan busana sama sekali. Ia bertambah panic saat melihat tubuhnya sendiripun dalam keadaan telanjang bulat seperti halnya anak itu. Gadis itu berusaha menutupi ketelanjangannya itu dengan selimut dan mencoba bangkit dari tempat tidur namun keletihan masih mendera semua otot dan persendian nya sehingga ia tak mampu buat berdiri. Ketika kesadarannya berangsur-angsur pulih dan Ia-pun dapat mengingat-ingat semua kejadian semalam. Ia yakin apa yang menimpa dirinya bukanlah sebuah mimpi. Rasa sakit pada selangkangannya juga sangatlah nyata. Dan noda darah di atas seprey juga menjadi bukti bahwa hal itu benar-benar telah terjadi dan Ia kini memang telah ternoda!
“Ohh tidak ….mengapa hal ini terjadi menimpa diriku? Huu..huu.hu” tangisnya meledak tak terbendung lagi.
Apa yang dipertahankannya selama ini telah terengut  paksa oleh seorang bocah lelaki yang belum cukup umur itu. Tak hanya itu Alfi bahkan berejakulasi berkali-kali di dalam vaginanya tanpa pengaman. Membuatnya bakal menghadapi situasi yang sama dengan Niken tempo hari. Alfi yang juga baru terjaga  menemukan kondisinya dalam keadaan telanjang bulat bersama Lila di atas ranjang gadis itu. Ingatan serta kesadarannya berangsur pulih sehingga ia dapat mengingat dengan jelas kejadian semalam.
“K..kakk?” ucap Alfi bingung melihat Lila menangis.
Tiba-tiba Lila mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian pada matanya yang basah oleh air mata.
“Kkkau!! Sungguh tega melakukan perbuatan nista itu pada diriku!” ujar Lila  bercampur dengan  isak tangisnya.
“Kakakkk..maa..afkan Alfi…Alfi tak sengajaa..” ujar Alfi lirih bingung akan sikap Lila bukankah tadi malam Lila cenderung  membiarkan ia melakukan hal itu bahkan gadis itu sangat menikmati persetubuhan itu tetapi mengapa pagi ini ia terlihat begitu marah.
“Anak Jahanamm!! Kau masih berdalih setelah apa yang kau lakukan padaku. Ka..liann lelaki semuanya sama sajaa!.hu.hu.huu..” ujar Lila dengan suara meninggi lalu mendekap wajahnya dengan kedua telapak tangannya menumpahkan seluruh tangisnya di situ.
Alfi agak ketakutan melihat reaksi keras jelas-jelas Lila yang tak menerima perbuatannya itu. Ia berusaha mendekat untuk meredakan tangis gadis itu.
Jemarinya menyentuh dan mengelus-elus lengan Lila yang berkulit halus. Srrrttt..Lila merasakan dorongan aliran aneh seperti yang ia rasakan tadi malam kembali merasukinya melalui sentuhan bocah itu. Namun akal sehatnya lebih unggul dan memenangkan pertarungan kali ini.
“Jangan mendekat!!!Pergiii!!!! Pergiii!!!!” pekik Lila histeris sambil melemparkan barang-barang yang berada di dekatnya seperti jam weaker dan gantungan kunci ke arah Alfi. Alfi belingsatan namun ia tak berusaha menghindar ataupun melindungi wajahnya. Beberapa benda keras sempat mampir ke wajahnya namun Ia rela menerima kemarahan Lila saat itu padanya. Dengan rasa sedih anak itu memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai. Ia masih sempat menoleh ke arah Lila saat berada di depan pintu.
“Kakk…Alfi sungguh menyesal hal ini terjadi..” ucapnya lirih diliputi perasaan sesal yang mendalam. Hatinya begitu gundah sehingga tak tahu harus berkata apa lagi.
“Pergiiiiiiiii!!!!!.huu…huu” pekik Lila dalam tangisnya yang sungguh mengundang keibaan.
Alfi tahu Lila tak akan menghiraukan semua penjelasannya. Setelah berpakaian, perlahan ia pergi meninggalkan rumah Lila. 


Dr Lila

Dr Lila
Meskipun Alfi tak menginginkan hal tersebut malam itu terjadi padanya dan dokter Lila namun kejadian seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya pada setiap gadis yang pernah ia tiduri. Bukannya Lila menjadi suka dan ketagihan akibat di tiduri malahan gadis itu membenci dan mendampratnya habis-habisan. Atas saran dari Sriti, Alfi menelpon Niken dan menceritakan apa yang telah terjadi. Hari itu juga Niken dan Sandra dengan ditemani oleh masing-masing suami mereka datang ke kota H. Mereka berempat berencana mendatangi rumah Lila namun sebelumnya mereka menjemput Alfi dan Sriti terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan ke rumah Lila, Sriti memberikan penjelasan atas apa yang terjadi malam itu. ia sendiri tak menyangka jika semuanya akan berakhir kacau seperti ini, padahal awalnya ia dan Alfi bermaksud baik ingin menyelamatkan Lila dari Erik.
“Aduuuh Fi.. apa yang selama ini aku khawatirkan terjadi juga. Seharusnya kamu tak terlalu lama berjauhan dari kami karena aku tahu kamu akan kesulitan mengendalikan hasratmu. Kini aku benar-benar binggung harus bagaimana saat ini.” ungkap Sandra serius pada Alfi.
“Al..fi ngaku salah kak dan Alfi juga …sangat menyesal kak” jelas Alfi dengan wajah tertunduk penuh penyesalan.
“Se..benarnya selama di sini saya dan Alfi selalu ‘itu’ kok mbak Sandra. Bahkan setiap malam Alfi saya ‘kasih’. Karenanya saya ngga kuatir melepas Alfi sendirian bersama dokter Lila tadi malam itu” ujar Sriti menjelaskan tanpa bermaksud menyalahkan Alfi.

“Sudahlah, semua sudah terlanjur terjadi. Yang terpenting sekarang kita harus menghibur Lila agar hatinya tak hancur oleh kejadian itu” hibur Niken mencoba menenangkan keadaan. Lalu ia berpaling kepada  suaminya ”Mas Don kok diam saja? Ikut ngomong dong.”

“Fii, coba kamu ceritakan sekali lagi kejadian di dalam kamar motel waktu itu, mungkin ada yang terlewat saat kalian menceritakannya tadi” Ujar Donnie.
Alfi pun menceritakan kembali kejadian pas di dalam kamar motel secara rinci malam itu.
“Betulkah hanya seperti itu Fi?” Tanya Donnie lagi.
“Begitulah  kak, yang jelas saat tiba di rumah kak Lila semalam, Alfi merasakan debar jantung Alfi begitu kuat, lalu keinginan buat ngegituin kak Lila juga begitu kuat hingga akhirnya Alfi benar-benar lepas kendali. Dan semuanya…. terjadi” ucapnya dengan perasaan bersalah.
“Hmm..Aku curiga kemungkinan besar pastilah air dalam gelas yang diminum oleh Lila dan kamu itu telah di bubuhi Erik dengan cairan perangsang yang sengaja disiapkan si Erik buat Lila” gumam Donnie setelah mendengar kronologi kejadian itu.
“Kupikir kamu keliru Don. Menurutku Lila pasti telah dicekoki sejak di café” ujar Didiet menimpali.
“Itu betul Dit, tapi si Erik juga sudah menyiapkan amunisi tambahan yaitu air di dalam gelas itu agar saat ditengah pertempuran Lila bisa semakin lama terbius. Coba kau pikir betul-betul buat apa ia menyiapkan air minum tanpa meminumnya langsung jika ia saat itu memang sedang dalam keadaan haus” ujar Donnie yang terlihat begitu yakin melontarkan argumennya.
“Betul juga apa katamu Don” gumam Didiet. Mau tak mau ia harus mengakui kebenaran teori Donnie itu.
“Aneh! Kok mas bisa tahu sampai sedetil itu? pasti berdasarkan pengalamankan?” tanya Niken sambil memandang suaminya dengan mata menyipit.
“Eh..a..nu. bukann Nien, itukan cuma dugaanku saja kok.  he he” jawab Donnie cengar-cengir.
“Dasar lelaki, pintar ngeless!” ujar Niken mencubit pinggang Donnie kuat-kuat.
“Adohhh…ampun say…Kan tadi kamu yang minta pendapatku…aduhh duh” rintih Donnie kesakitan sambil berupaya menghindari serangan bertubi-tubi dari istrinya.
“Tunggu!….  Saya pikir ada benarnya perkataan mas Donnie barusan soalnya…. pas pagi harinya saya menemukan sebuah botol kecil di dalam tong sampah di kamar itu yang setahu saya itu memang bekas obat perangsang” ujar Sriti yang sejak tadi menyimak dengan serius pembicaraan Donnie dan Didiet tadi.
“Tuh kan apa kataku…aduhhhh!” Donnie menimpali sambil belingsatan karena jemari lembut istrinya tetap melekat kuat bagai capitan seekor kepiting di kulit pinggangnya.
“Jika benar demikian kejadiannya, Alfi tak dapat dipersalahkan dalam hal ini” ujar Didiet menimpali.
Tak terasa waktu telah membawa perjalanan mereka sampai di depan rumah Lila.
“Biar kalian para wanita saja yang turun, kami sebaiknya menunggu di mobil saja”ujar Didiet.
“Mengapa Alfi tidak boleh ikut turun kak? Alfi ingin sekali lagi minta maaf sama kak Lila” Tanya Alfi dengan wajah memelas.
“Jangan sekarang Fi, Lila pasti sedang tak ingin melihat kamu. Biarkan mereka yang berbicara padanya.” Jelas Donnie. Alfipun mengangguk menandakan ia mengerti tentang situasi saat itu.
Beruntung saat itu Lidya dan ibu Lila masih menginap di rumah budenya Lila sehingga kejadian semalam belum sempat mereka ketahui. Lalu Niken bersama dengan Sandra dan Sriti menuju ke rumah Lila. Ternyata Lila sendiri yang membukakan pintu bagi mereka bertiga. Lebih dari satu jam-an mereka di sana. Lalu terlihat hanya Sandra yang keluar menghampiri kendaraan.
“Ayo kita pergi dulu membeli makanan buat makan siang. Biar Niken dan Sriti menemani Lila dulu.” Ujar Sandra memasuki mobil.
“Bagaimana kondisi Lila Say?” Tanya Didiet.
“Saat ini ia masih sangat sedih atas apa yang menimpa dirinya tadi malam. Meski ia terlihat sangat tegar dan tak lagi hysteria hanya sesekali ia menangis. Lebih lanjut ia juga menduga dengan pasti kejadian semalam persis sama seperti yang Donnie utarakan tadi. Namun demikian ia tak ingin melanjutkan urusan ini ke jalur hukum karena menyangkut Alfi dan tentunya kita semua” jelas Sandra.
“Haihhh…kasihan Lila, tak kusangka kegilaanku berujung menjadi malapetaka buat orang lain” keluh Didiet.
“Tak perlu kita menyalahkan diri sendiri. Semua ini kan gara-gara pria yang bernama Erik itu. Aku ingin sekali melihat tampang lelaki bajingan itu lalu menghajarnya habis-habisan” ujar Donnie jadi geram. Sebab ia tahu Niken sangat menyayangi sahabatnya yang satu ini. Apalagi ia juga sudah mendengar dari istrinya mengenai kehidupan Lila yang telah banyak mengalami penderitaan sejak remaja.
“Ya …kita berharap kejadian ini tak sampai menghancurkan hidup Lila” ujar Sandra
*************************
Tiga hari sudah sejak kejadian tersebut
Selama itu Niken dan Sandra rutin menemani Lila hingga ibu dan adik Lila pulang. Namun Lila meminta kedua temannya tak menyinggung masalah tersebut di hadapan mereka agar tak menimbulkan permasalahan baru baginya.
Niken merasa menyesal atas apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Tak banyak yang bisa ia katakan.Tetapi Ia lega melihat Lila bisa menerima musibah yang menimpa dirinya dan mau meneruskan hidupnya. Lila memang sudah terbentuk menjadi sebuah pribadi mandiri yang keras sejak remaja.
“Fi, besok kita pulang ke kota S. Bukankah kamu juga sudah terlalu lama meninggalkan sekolahmu? ” Ujar Donnie saat mereka makan malam disebuah rumah makan.
“Ya Kak…tapi…ijinkan malam ini Alfi menemui kak Lila buat meminta maaf padanya, Hati Alfi merasa tidak tenang sebelum kak Lila mau memaafkan kesalahan Alfi” pinta Alfi pada Niken.
“Haihhh….Baiklah Fi. Kakak tak tahu ini merupakan  waktu yang tepat atau bukan buatmu menemui Lila walau kulihat tadi sore suasana hatinya agak membaik dan ia mulai bisa tersenyum. Hanya saja pesan kakak padamu apabila ia ternyata tak ingin menemuimu sebaiknya kau langsung pergi jangan membuatnya kembali marah atau sedih”ujar Niken lagi.
“Baiklah kak. Biar Alfi pergi sekarang ke sana mempergunakan kendaraan umum sendirian agar tak mengganggu acara kakak semua malam ini” ujarnya.
“Ya, jangan kemalaman pulang Fi dan jangan lupa berkemas buat pulang besok” ujar Didiet.
Alfi lalu mencarter sebuah ojek. Sepanjang perjalanan dalam hati ia berharap Lila mau menerima permintaanan maafnya meski apapun resiko yang akan diterimanya nanti.
Saat memasuki jalan ke rumah Lila, tiba-tiba sebuah mobil Jeep meluncur dengan kecepatan tinggi melintasinya dan nyaris saja ojek yang ditumpanginya terperosok kedalam saluran air pembuangan.
Alfi terkejut ketika sempat mengenali orang di dalam kendaraan itu.
“E..rik!” gumamnya, apalagi yang ia perbuat. Tiba-tiba ia teringat akan Lila. Alfi bergegas masuk kepekarangan rumah. Hatinya tercekat  saat ia sampai di pintu depan. Ia  menemukan Hp dan isi tas Lila berserakan di lantai teras. Alfi berlari ke dalam sambil berteriak memanggil nama gadis itu. Hatinya semakin kuatir karena tak ada jawaban. Dengan sigap Alfi memutar nomor Niken dari Hp tersebut.
“Kak Niken gawat kak! Sepertinya kak Lila diculik sama Erik!” ujarnya saat Niken mengangkat panggilannya.
“Apaaa! Ohh…La” isak tangis Niken terdengar dari seberang HP. Tak lama kemudian terdengar suara Donnie mengambil alih pembicaraan. Ternyata mereka berempat masih bersama-sama.
“Kau yakin akan hal itu Fi?!”
“Alfi ngga mungkin salah kak! Sebaiknya Alfi akan berusaha mengikuti mereka mumpung jam segini jalanan masih macet sehingga masih memungkinkan buat mengejar mereka”
“Jangan Fii! Itu sangat berbahaya!” cegah Donnie.
“Tapi kita harus tahu kemana kak Lila mereka bawa kak! Alfi akan kejar mereka dan Alfi akan terus menghubungi kakak melalui HP ini”
“Baiklah Fi. Tapi kau jangan bertindak sendiri, segera kabari kami apabila nanti kau berhasil mengikuti mereka dan tunggu  sampai kami datang!” Donnie tak lagi mencegah anak itu karena ia tahu Alfi telah mengambil keputusan yang paling tepat.
“Bang! Ayo ikuti mobil yang tadi itu, mereka telah menculik kakakku” ujar Alfi setelah mengakhiri pembicaraan dengan Donnie.
Si abang ojek langsung tancap gas. Beruntung jalur ke arah jalan raya utama dari rumah Lila hanya ada satu dan harus melalui dua buah persimpangan besar yang memiliki durasi lampu merah panjang. Sehingga ia yakin ia dapat menyusul mereka. Pada simpangan pertama ia tak lagi melihat kendaraan yang dicarinya. Harapannya hanya tinggal satu ia bisa menemukan kendaraan tersebut di persimpangan kedua karena lampu merah di sana juga tergolong lama yaitu 6 menit. Benar saja ia melihat mobil Erik masih dalam posisi antrian.
“Yes! Berhasil” pikirnya
Ketika lampu beralih ke lampu hijau kedaraan satu persatu bergerak. Dan mereka dengan hati-hati membuntuti kemanapun mobil itu pergi. Setelah sepuluh menitan, Alfi melihat mobil Erik melambat dan masuk ke sebuah komplek pergudangan tua yang tak terpakai lagi. Alfi menyuruh ojek untuk berhenti pada jarak yang cukup jauh diluar pintu masuk. Ia lalu mengontak Donnie dan menjelaskan dimana lokasi tersebut.
“Ok, kakak tahu di mana itu. Kami akan segera ke sana. Ingat Fi jangan bertindak sendiri!” pesan Donnie lagi.
“Bang ini uang ojeknya dan ini tambahan karena saya ingin abang menolong saya” ujar Alfi ke pada abang ojek yang sejak tadi ikut-ikutan tegang mengikuti pristiwa itu.
“Waduhh…. saya takut jika harus menghadapi mereka den, soalnya siapa tahu mereka bawa senjata, sebaiknya kita lapor polisi saja dulu” saran abang ojek itu.
“Iya emang maunya saya seperti itu! Abang saya minta hubungi polisi di pos terdekat sementara saya menguntit mereka ke dalam sana”
“Hah..Jangan nekat den. Aden bisa celaka jika menghadapi mereka sendirian!”
“Aduhhh ..ni abang cerewet banget! Maka dari itu cepetan berangkat supaya saya tidak harus menghadapi mereka sendirian. Sebisanya saya akan tunggu abang kembali bersama polisi”
“I..i..ya Den, abang pergi sekarang, hati-hati jangan sampai ketahuan ya!” ujar si abang sambil terburu-buru menstater motornya lalu kembali tancap gas.
**************************
Alfi lalu masuk ke dalam kawasan tersebut. Suasana begitu gelap karena  tak ada satupun lampu yang menyala. Pergudangan ini memang sudah lama tidak di pergunakan lagi. Alfi dengan sabar dan hati-hati mencari keberadaan mobil Erik. Setelah berjalan agak jauh akhirnya ia melihat kendaraan tersebut di parkir di depan sebuah rumah kecil. Alfi  berjalan mengendap-endap. Ia bukan tak tahu resiko perbuatannya itu, yang jelas ia bakalan celaka apabila mereka mendadak memergokinya. Kemungkinan apa yang di katakana pak ojek tadi benar adanya bahwa Erik tidak sendirian dan bersenjata. Keadaan sekeliling komplek yang gelap sangat membantunya mendekat ke rumah tersebut. Nampak cahaya cukup terang berasal dari beberapa batang lilin dari dalam rumah. Alfi mengintip dari jendela samping melihat ke dalam rumah. Ternyata benar dugaannya ia melihat Lila terlentang di atas sebuah sofa reot dalam keadaan tangan terikat dan mulutnya tertutup oleh plester. Erik rupanya memang tidak sendirian, ia bersama dengan dua orang lainnya. Alfi dapat menebak kedua orang tersebut pastilah begundalnya pemuda itu. Sepertinya Erik  merasa penasaran karena kegagalannya tempo hari, lalu menyusun rencana lain buat mendapatkan tubuh gadis itu. Sejak sore hari ia bersama dua orang begundalnya mengawasi rumah Lila dari kejauhan. Kebetulan saat itu Lidya sedang pergi mengantar ibu Lila. Lalu dengan cepat mereka menyergap Lila yang kala itu baru keluar dari rumah berniat dan hendak pergi.
“Bos boleh dong kami berdua dapat giliran setelah bos selesai nanti? He he” ujar salah satu begundal Erik yang bertubuh tambun bernama Parno nyengir.
“Aeesss!! Enak saja! Pergi sana jaga di pintu depan! bikin gue ilfeel saja Huh!” hardiknya  “Dan kamu Min awasi pagar depan!”
“Siap.. boss” ujar Paimin, sepertinya si kurus ini lebih berdedikasi ketimbang temannya yang bertubuh tambun. Ia lalu keluar dari rumah buat melaksanakan perintah Erik.
Sedangkan si Parno ngeloyor lesu keluar dari kamar menuju ke pintu depan. Ia kecewa padahal sejak tadi ia benar-benar berharap bisa ikut mencicipi tubuh indah gadis itu meski hanya sisa dari Erik. Dari tempatnya berdiri ia masih berusaha agar dapat  mengintip ke arah kamar tadi. Dasar nafsunya sudah naik ke ubun-ubun, setelah meletakan stick softballnya si Parno membuka reutsleting dan menurunkan celana jeansnya sebatas lutut, dalam keadaan berdiri ia mulai mengocok penisnya.
“He he.. kali ini kau tak dapat lolos lagi La. Tak perlu kau tangisi nikmati saja apa yang sebentar lagi bakal terjadi!” ujar Erik terkekeh-kekeh sambil mulai mencopot kancing kemejanya satu persatu.
Lila berusaha meronta dalam ketidak berdayaannya itu. Jeritannya terhalang oleh plester yang membekap erat mulutnya. Air mata gadis itu berderai membasahi pipi meratapi nasib malangnya. Melihat kondisi saat itu, Alfi jadi bingung harus berbuat apa. Ia masih ingat akan pesan Donnie tadi  bahwa ia tidak boleh gegabah dan bertindak sendiri. Namun keadaan sudah sedemikian gentingnya. Jika ia tak bertindak sekarang sudah jelas semuanya menjadi terlambat. Akhirnya ia terpaksa memutuskan untuk menolong Lila tanpa menunggu bantuan datang. Rasa bersalah dan sayangnya pada Lila mendorongnya untuk melakukan sebuah yang tindakan nekat. Sambil berusaha menekan  rasa takutnya perlahan ia mengendap ke arah Parno yang sedang asik meloco. Parno yang saat itu sedang focus menatap paha Lila yang putih bersih itu dari kejauhan sungguh tak menyadari kehadiran Alfi di dekatnya. Alfi merasa ini merupakan sebuah kesempatan yang baik baginya. Perlahan ia mengatur kuda-kudanya, dan…Bukk!! Sekuat tenaga kepalan tangannya ia hantamkan tepat mengenai dua buah ‘telur pusaka’ milik Parno dari belakang. Tak percuma Donnie melatihnya memukuli genting hingga pecah saat belajar karate setiap sore.
“Adoowwwwhhhhhh …peee…cahhhhhhh!!!!”
Parno kontan  terpekik menyayat ketika merasakan nyeri yang luar biasa. Tubuh tambun itu jatuh terduduk sambil memegangi alat vitalnya. Begitu dasyat nyeri itu membuat rohnya seakan pergi meninggalkan raganya. Perutnya yang buncit sampai mengalami kram. Alfi tak mau menyia-nyiakan momen baik itu, sekali lagi ia mempraktekan sebuah jurus dari Donnie itu kali ini yang menjadi sasarannya adalah tengkuk Parno. Buukk!! Pukulan itu tak dapat Parno hindari sekaligus langsung mengirim pria tambun itu berkelana ke alam mimpi. Alfi tak menyangka ia dengan mudah dapat melumpuhkan monster itu meski tangannya terasa sangat nyeri. Paimin yang berada di dekat pagar terkejut mendengar suara jeritan rekannya. Tubuh kurus ceking itu berlari memburu ke arah dalam rumah tanpa perhitungan. Alfi yang bersembunyi di balik pintu tiba-tiba muncul dan menghantam tulang kering kaki si krempeng dengan menggunakan stick milik Parno. Bletakkk!!! Tak ayal  Paimin jatuh terguling. Sialnya lagi wajahnya mendarat terlebih dahulu dan gigi tonggosnya menghantam sebuah meja kayu.  Belum ia sadar betul apa yang menimpa dirinya Alfi sudah menghadiahinya sebuah pentungan tepat  ditengkuknya dan Paimin-pun menyusul rekan seperjuangannya tak sadarkan diri. Namun keberuntungan Alfi tak berlangsung lama. Ia lupa memperhitungkan keberadaan Erik. Tiba-tiba Ia merasakan angin pukulan menerpa kepalanya dari arah belakang. Alfi berusaha berkelit tapi sayang reaksinya terlambat dan ‘Daakk!!’ Sebuah tendangan Erik berhasil mengenainya dan membuat tubuhnya terlempar ke arah kamar di mana Lila terbaring dan dalam keadaan terikat. Beruntung tendangan itu sempat membentur bahunya terlebih dahulu sehingga luput mengenai kepalanya. Sambil sempoyongan dan menahan rasa nyeri pada bahunya Alfi berusaha bangkit ke arah Lila. Cepat-cepat ia menarik lepas plester yang menutup mulut Lila. Namun Erik tak membiarkan ia bertindak lebih jauh.
“Kau lagi! Entah bagaimana kau bisa sampai kemari tapi aku tak perduli. Yang jelas kau memang patut di hajar” ujar Erik berang.
Kebenciannya meluap-luap ketika melihat anak jelek yang telah dua kali ini mengganggu rencananya menggagahi Lila. Dari seorang security motel XX Ia sudah mengetahui kalau ia telah dikerjai oleh Sriti dan Alfi saat malam itu. Sepertinya tak ada pilihan lain bagi Alfi ia harus melumpuhkan Erik terlebih dahulu agar dapat melepas Lila.
“Fii lekas larii dari sini..kau tak mungkin bisa menghadapinya sendiri!” pekik Lila memperingatkan.
“Ngga kak..Alfi harus menolong kakak dulu lalu kita sama-sama keluar dari sini”
“Tidak! kau harus lari fii.. ia tak akan segan-segan berbuat keji padamu”
“Alfi ngga mau…Alfi sudah berbuat dosa pada kakak.. Alfi rela jika harus mati demi menolong kakak”
“Fiii!!! Kamu jangan bodoh…tolong…turuti omongan kakak…” ujar Lila terisak-isak, ia tak menduga anak ini begitu nekat mempertaruhkan jiwa demi dirinya.
Alfi tak lagi mengubris permohonan Lila. Otaknya sedang berpikir keras mencari cara bagaimana memperdaya pemuda dihadapannya. Namun ia tak mempunyai banyak waktu karena Erik perlahan mendekat ke arahnya.
Wuss!! sebuah tendangan Erik datang mengarah ke tubuhnya. Alfi masih bisa menghindar. Tetapi tendangan ke dua datang terlalu cepat dan berhasil menggedor dadanya. Lalu yang ke tiga benar-benar tak tertahankan menghantam pelipisnya dengan keras. Alfi terpelanting hingga kepalanya membentur dinding dengan keras diiringi pekik ngeri Lila. Alfi tersandar di dinding dan secara perlahan kepalanya jatuh terkulai di lantai. Kepalanya terasa begitu sakit. Lalu ia merasakan kaki kokoh Erik telah menginjak telapak tangannya. Dan kaki satunya menginjak wajah nya. Agaknya Alfi sungguh tak berdaya ia hanya mampu  meringis kesakitan. Dari hidungnya mengucur deras darah kental.
“Kk..kaak..Li..lllaa..maafinn Al..fiiii …” ujarnya lirih sekali.. Matanya nanar menatap sayu ke arah Lila sebelum akhirnya semua pandangannya menjadi gelap.
“Ohh…Fiii.. …bangunnn….Fiii…” pinta  Lila sambil terisak-isak melihat wajah Alfi yang bersimbah darah Ia benar-benar tak menyangka Alfi nekat mengantarkan nyawa demi dirinya. Bahkan anak itu masih sempat-sempatnya mengucapkan permohonan maaf sebelum tak sadarkan diri tadi.
“Biar kubikin mampus sekalian” ujar Erik, nampaknya ia belum puas menganiaya anak itu.
“Aakhhh Rikkk!! Kumohon jangaannn sakiti anakk ituu lagii.”pekik Lila. Tangisnya tak tertahankan. Namun pekiknya tak dapat menghentikan aksi biadab Erik. Pemuda itu benar-benar telah mata gelap. Ia meraih stik softball milik Parno yang ada di dekatnya. Perlahan benda itu ia angkat tinggi-tinggi untuk dihantamkannya ke tubuh kecil Alfi yang telah tak berdaya itu.
“Rikkkk!!!jangaannnn!!!!AKkkkk!!”
Namun pada saat genting tersebut, Tiba-tiba sebuah hantaman kuat menerpa tangan Erik dan membelokan arah pukulannya dari tubuh Alfi. Tak hanya itu stick softball itupun terlepas dari pegangannya. Erik terkejut ketika melihat tiga orang yang baru datang itu.
“Sii..apaa..ka.liaan?!” ujarnya tergagap.
“Bajingan  pengecut!! Beraninya cuma sama anak-anak main keroyok lagi” hardik penyerangnya tadi yang tak lain adalah Donnie yang baru datang bersama Didiet dan Niken.
Aduh siapa lagi ini? keluh Erik gundah. Keadaan ini sangat tak menguntungkan bagi dirinya. ia menduga sebentar lagi rumah ini bakalan ramai dan polisi pasti datang. Namun tak ada jalan untuk kabur karena Donnie sudah menghadang di depan pintu sementara Didiet memegang pistol. Tak ada pilihan lain Ia harus menyingkirkan para pengacau ini dan secepatnya kabur dari situ.
“Kau pikir bisa menakuti aku dengan senjata mainan itu?” Ujar Erik yang mengetahui benda di tangan Didiet bukanlah senjata api sungguhan namun hanyalah sebuah AirSoftShotGun, senjata yang kerap di pakai oleh para hobbies real shotgamer.
“O ya?”
DHUarrr!! Sebutir peluru melesat dari laras pistol yang dipegang Didiet menghantam daun pintu yang tak jauh dari  Erik berdiri. Erik terperanga melihat sebuah lubang kecil selebar batang pensil menganga pada permukan pintu yang terbuat dari plywood itu. Benda itu tak bisa dianggap mainan karena ternyata memiliki FPS sangat tinggi. Ledakannyapun membuat kaget mereka semua yang ada di sana.
“Bagaimana? Apakah kau ingin mencicipi bagaimana rasa nikmatnya pada kulitmu? Ada satu magazine penuh peluru ‘mainan’ yang bisa kuberikan sebagai tanda mata di wajah dan di tubuhmu secara cuma-cuma” ujar Didit denga tatapan mata dingin.
“Ka..uuu…jangan pakai senjata kalau beranii!” ujar Erik ciut. Yang jelas ia tak ingin Didiet menjadikannya sebagai sasaran bidik pistolnya.
“Kami bukan pengecut tukang perkosa perempuan dan dan penganiaya anak-anak seperti dirimu!Dit, kau lindungi yang lain . Bangsat ini adalah bagianku” sergah Donnie.
“Ok.. kuberi waktu sejenak buat kalian bersenang-senang” ujar Didiet mundur memberi ruang bagi Donnie dan Erik.
“Kalian akan menyesal karena menghalang-halangiku!” ujar Erik kesal.
Apalagi melihat Niken yang telah berhasil melepaskan ikatan Lila Rencananya yang sudah ia susun dengan rapi kini benar-benar telah hancur berantakan. Alih-alih bisa menikmati tubuh sintal Lila malahan kini ia dihadapkan oleh masalah besar yang menantinya. Tiba-tiba Erik mengirim sebuah tendangan diiringi teriakan membahana. Namun Donnie telah siap sejak tadi. Hanya sepersekian detik sebelum tendangan dasyat itu menyentuhnya dengan kecepatan mengagumkan Donnie melengos ke kiri sehingga ujung sepatu Erik menerpa angin hanya satu inci dari wajahnya.
Serangan itu tak berhenti di situ. Begitu kaki kanan Erik menyentuh lantai kaki kirinya berputar menampar balik bagai gerakan seekor naga mengibaskan ekornya. Terlihat sekali kalau Erik bukanlah seorang yang buta akan ilmu bela diri. Ia sempat mengenal Taekwondo saat SMU dan pernah mewakili sekolahnya pada waktu itu. Donnie mengantisifasi setiap serangan Erik dengan tenang. sambil menjatuhkan diri kaki kanannya menyapu kaki kanan Erik. Tak ayal lagi tubuh Erik yang belum dalam keseimbangan penuh terjerembab jatuh mencium lantai.
“Cuma itu sajakah yang kau andalkan?” ejek Donnie.
Ia sengaja belum membalas serangan Erik. Ia sepertinya ingin menjajaki sejauh mana kemampuan berkelahi lawannya.Wajah Erik merah padam. Ia tak menduga orang yang di hadapinya itu ternyata cukup ‘berisi’ bahkan mampu mementahkan salah satu serangan terbaiknya dengan mudah. Kembali ia berteriak sambil  melompat  memberikan dua buah tendangan secara bergantian bagaikan gerakan mata gunting. Namun serangan itu kembali gagal menyentuh tubuh Donnie.  Ketika tubuhnya masih melayang di udara lalu kakinya menjejak dinding dan melontarkan dirinya sambil berputar memberi tendangan susulan ke arah Donnie. Ini serangan yang sulit untuk dihindari.Tapi Donnie bukanlah Alfi yang dengan mudah Erik jatuhkan, yang di hadapinya kali ini adalah seorang instructor dan atlet karate tingkat asia yang sangat disegani oleh lawan-lawannya di arena. Kali ini Donnie tak hanya diam menerima serangan Erik, Donnie mengayunkan kakinya bagai sebuah mata belencong  menghadang laju tendangan Erik yang mengarah ke arah mukanya. Terdengar suara benturan tulang kaki mereka beradu dengan keras. Erik terjajar mundur. Dahinya berkerenyit menahan nyeri pada pergelangan kakinya akibat benturan tadi. Saat itu pula sebelum ia dapat berdiri dengan mantap sebuah bogem mentah telah mendarat telak wajahnya. Bukkk!!! Erik terjengkang  untuk ke dua kalinya. Namun kali ini dengan pergelangan kaki nyeri dan wajah biru lebam akibat pukulan Donnie barusan. Beruntung bagi Erik, saat memukul tadi Donnie hanya menggunakan setengah tenaganya. Jika tidak pastilah wajahnya bakal remuk. Mata Erik memerah dan berair karena  menahan sakit luar biasa.
Merasa tak bakalan menang melawan Donnie, Erik meraih stick softball yang tadi dipakainya buat menghabisi Alfi.
“Sebaiknya kau buang senjatamu Ric atau aku terpaksa menembakmu!” Seru Didit.
“Jangan turut campur Dit  Sebaiknya kau awasi saja ke dua temannya yang baru sadar itu.  Menyerah terlalu enak baginya setelah semua yang dilakukannya pada Alfi dan Lila. aku ingin menghajarnya sampai puas dulu”
“Oke hati-hatilah Don sebab  ia bersenjata, Dan kalian berdua jangan mencoba berbuat macam-macam jika tak ingin kutembak!” hardik Didiet kepada Paimin dan Parno.
“A..ampunnn pak…jangan ditembakkk” ujar Paimin sambil menangis. Mulutnya masih berlumuran darah karena gigi depan bagian atasnya nyaris patah semua oleh ulah Alfi tadi.
“I..yaaa…paakkk..kasihani saya … kami cumaa di suruh sama bapak Erik” ujar Parno menimpali. Didiet nyaris tertawa melihat celana keduanya telah basah oleh air kencing.
“Dasar bajingan. duitnya saja mau, Awas kalian nanti!!” ujar Erik geram masih sempat mengancam kedua mantan begundalnya itu.
“Ha ha ha lucu bajingan kok teriak bajingan! Ayo berkelahilah seperti seorang lelaki jantan, bajingan!” Ejek Donnie.
“Aku akan membuat otakmu berceceran di lantai dengan ini..Hiatt!!!”
Erik yang merasa terjepit lantas menyerang Donnie bagai seekor singa terluka. Ia mengayunkan stick Softball-nya secara membabi buta. Sebuah kaca jendela ruangan tengah hancur berhamburan ketika serangannya luput mengenai tubuh Donnie
“Donn !! cepat selesaikan ini, kita harus segera menolong si Alfi!!!” teriak Didit.
Saat itu Donnie juga mendengar suara isak tangis Niken dan Lila karena Alfi tetap tak kunjung sadarkan diri. Bahkan wajahnya semakin pucat pasih. Dan betapa terkejutnya Donnie  melihat darah yang mengalir dari telinga Alfi.
Saat itu sebuah pukulan stik softball telah datang ke arahnya, Donnie menjadi geram bukan main melihat kebandelan Erik apalagi saat teringat kondisi Alfi saat itu. Sambil berteriak keras Ia memotong arah serangan tersebut.  Kali ini sebuah pukulan lurus yang teramat. kejam yang tak pernah ia lakukan bahkan di larang di komite beladiri manapun menghantam bahu Erik dengan keras. Krakkk!! Terdengar bunyi berderak menandakan ada tulang yang patah dan stick yang di pegang Erikpun terlempar jauh.
“Argggg!!!!! Banggggsatttttt!!!! Arrrgg!!” Erik melolong  kesakitan memegangi bahunya yang nyeri bukan kepalang sambil bergulingan di lantai.
Pukulan Donnie bagai sebuah palu godam yang dapat mematahkan papan setebal dua senti  sekalipun. Kemungkinan tulang bahunya patah atau ensel bahunya yang terlepas.
Pukulan terakhir Donnie tadi sudah mengakhiri perlawanan Erik. Saat itu Sandra muncul bersama beberapa orang dari sekitar tempat kejadian tersebut. Erik yang masih kesakitan beserta kedua begundalnya menjadi pelampiasan kekasalan mereka. pukulan demi pukulan beserta tendangan-pun melayang menghujani tubuh ke tiga pria apes itu..
Beruntung polisi segera datang bersama si abang ojek dan segera meredakan amarah orang-orang tersebut. Masih terdengar raung kesakitan Erik ketika polisi menyeretnya keluar bersama dengan kedua rekannya.
“Kita harus cepat-cepat ke rumah sakit sekarang. Don kamu yang nyetir !” ujar Didit cemas sambil membopong tubuh Alfi.
************************
Sesampai di ruang gawat darurat. Alfi segera mendapat penanganan oleh pihak rumah sakit. Beberapa dokter dan perawat terlihat begitu sibuk memakaikan beberapa alat bantu padanya. Sementara Didiet bersama yang lain hanya bisa melihat dari sebuah kaca kecil. Sriti juga sudah terlihat berada di sana. Lila tak henti-hentinya terisak, sebagai seorang dokter ia paham betul akan kondisi anak itu.
“Maaf saya perlu berbicara dengan keluarga anak itu” ujar seorang dokter senior yang baru selesai memeriksa Alfi.
“Saya adalah ayah angkatnya. Bagaimana kondisinya dok?” ujar Didit mewakili para sahabatnya. Mereka berlima tak sabar menunggu penjelasan dari dokter mengenai kondisi Alfi.
“Ia mengalami gegar otak serius, harus segera di operasi untuk mengeluarkan gumpalan darah di kepalanya agar jiwanya tertolong”
“Lakukanlah Dok, saya mengijinkan anda buat melakukan tindakan tersebut” ujar Didiet mantap. Memang sejak kematian ibunya Alfi, maka segala hal yang menyangkut diri Alfi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Didiet.
“Baiklah, sebentar lagi ada pihak administrasi rumah sakit yang akan meminta anda menandatangani surat persetujuannya”
Setelah urusan administrasi selesai maka Alfi-pun segera dipindahkan ke dalam ruang operasi. Didit dan Donnie terlihat gelisah mondar-mandir di sepanjang lorong. Sementara Niken dan Sandra masih berusaha menghibur Lila. Gadis itu begitu pucat sampai harus dibantu oleh seorang perawat.
“Ibu terlihat kurang sehat sebaiknya istirahat saja dulu di ruang perawat” ujar perawat itu menawarkan. Benar adanya, saat ini sebenarnya kondisi fisik maupun mental Lila memang dalam keadaan drop akibat penculikan dirinya dari rumah hingga menyaksikan penyiksaan Erik terhadap Alfi. Setelah dibujuk-bujuk Sandra akhirnya Lila baru mau menuruti saran perawat tadi. Sandra dan Sriti membimbing Lila menuju ruang yang di sediakan bagi mereka.
“Nien sebaiknya kau juga beristirahat ingat akan kandunganmu, biar aku dan Didiet yang menunggu di sini” bisik Donnie.
“Baik mas”
Tiga jam berlalu mereka tetap menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga akhirnya lampu di atas pintu kamar operasi padam menandakan operasi telah selesai. Didiet diikuti yang lain memburu ke arah dokter yang baru keluar dari kamar operasi.
“Kami telah berhasil mengeluarkan gumpalan darah beku di kepalanya. Meski demikian masa kritis anak itu belumlah benar-benar berlalu. Ia harus dirawat secara intensif dan diawasi oleh pihak rumah sakit di dalam ruangan ICU. Dan untuk sementara waktu dia belum boleh di bezug” demikian dokter tersebut memberikan penjelasan kepada mereka.
Untuk sementara waktu mereka bisa bernapas sedikit lega. Alfi mengalami koma selama tiga hari. Selama itu ke empat wanita itu secara  bergantian menjenguknya. Namun setelah melewati hari ke tujuh Alfi tak kunjung sadar juga, kekuatiran Lila kembali muncul. Kesehatan anak itu semakin hari perlahan tapi pasti semakin memburuk. Sebagai ahli medis Lila mengenali dan membaca tanda-tanda tersebut dari layar kecil di samping ranjang Alfi serta catatan medis dari perawat di sana. Lila merasakan ada sesuatu yang lain. Meski anak itu yang telah menggagahi dan merengut miliknya yang paling berharga tetapi entah mengapa ia justru merasa takut sekali hal yang lebih buruk menimpa diri anak itu. Pada suatu siang. Ia datang ke rumah sakit. Ia belum melihat Niken dan yang lain di sana. Lalu Ia menghampiri sebuah counter bagi perawat yang bertugas di bagian itu. Setelah memberitahukan bahwa ia adalah seorang dokter akhirnya perawat tersebut memberinya izin untuk dapat masuk ke kamar Alfi. Perlahan ia mendekat ke ranjang dimana anak itu terbaring tak berdaya. Hatinya begitu terenyuh dan air matanya mulai meleleh di pipinya melihat keadaan anak itu. Memar dan lebam akibat penganiayan Erik masih terlihat di sekujur wajahnya serta nampak beberapa selang terhubung dengan tubuhnya dari berbagai arah. Dengan agak berbisik bibirnya mulai berkata.
“Fi…Kakak harap kamu dapat mendengar ucapan kakak. Kakak hanya ingin kamu tahu bahwa  kakak sudah memaafkanmu. kakak sadar dan tak ingin menyalahkanmu atas semua perbuatan yang disebabkan Erik. Kamu…kamu …tak harus membayar sedemikian mahal untuk menebus kesalahan itu….bangunlah Fii…demi..kakak” ia berbisik di antara isak nya.
Setelah lewat lima menit ia kembali keluar. Kala itu Niken baru saja datang ke sana melihat mata Lila yang merah dan basah.
“La…., kamu baik-baik saja kan” tanya Niken
Lila mengangguk. Ia tak ingin Niken dan yang lain tahu dan kuatir akan perkembangan kesehatan Alfi. Tapi dadanya begitu sesak.
“Aku telah bersalah Nien…aku terlalu memojokannya saat itu…sehingga akhirnya  ia nekat mempertaruhkan nyawanya demi aku …huu..huu” tangis Lilapun pecah. Niken langsung memeluk sahabatnya itu. lalu menepuk–nepuk punggungnya untuk memberikan rasa nyaman bagi Lila.
“Sttt…sudah La…sudah…jangan terus-terusan sedih begini, tak baik buat kesehatanmu, aku yakin Alfi melakukan itu karena ia sangat menyayangimu”
“Tapi Nienn….aku takut ia…ia..”
“Dengarkan aku La…perasaan kami semua saat ini juga sama sepertimu… sedih dan takut …tapi kita hanya dapat berdoa agar Alfi segera sadar dan kembali sehat. Dan aku yakin ia akan bangun dan berkumpul bersama kita lagi. Kuharap engkau juga tak berlarut-larut menyalahkan dirimu.”
Lila mengangguk Lalu Niken menyeka pipi Lila dari sisa air mata.
“Kita pulang yo” ajak Niken setelah satu jam mereka di sana.
“Kamu pulang saja duluan Nien, aku masih kepingin di sini..” Ingin rasanya ia tetap di sana hingga Alfi sadar.
“Ahh Ayolahh maniss…” Niken menarik paksa tangan Lila. Akhirnya Lila mau juga diajak Niken pulang bersama.
************************
Pagi harinya ia terbangun ketika mendengar dering Hpnya.
“Ada apa Nien?” tanyanya lesu karena  rasa kantuk masih membayangi kepalanya akibat semalam ia baru mampu memejamkan matanya pada pukul tiga dini hari.
“Laa!..Alfii La!..” ujar Niken. Lila bergegas bangkit dari kasur karena kaget mendengar suara Niken seperti tergesa-gesa ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Ada apa dengan Alfi Nien!” Tanya Lila panik. Tak terasa air matanya kembali meleleh. Inilah yang sangat ia takutkan. Semua yang di kuatirkannya terjadi di saat ia tak berada di sana
“Ia…bangunn La! Alfi sudah sadar!”
“Ohh…Nien …syukurlahh…huu..huu”
Pembicaraan mereka terhenti beberapa saat, Niken membiarkan Lila melepaskan beban di dadanya dalam tangisan lega.
“Udah belum nangisnya cantik?” godanya pada Lila.
“Sudah… tapi aku benci sama kamu Nien” ujar Lila dengan nada merajuk.
“Loh kok jadi marah sama aku?”
“Iya habisnya kamu ngomongnya diputus-putus begitu  seharusnya sejak awal kamu bilang Alfi sudah sadar sebab tadinya aku sempat kuatir dan mengira kalau terjadi ada apa-apa pada dia. Kamu pasti sengaja mengoda aku kan?”
“Hi hi Iya..iya aku ngaku salah ..aku minta maaf…kamu tunggu saja di rumah sebentar lagi akan kujemput. Kita pergi ke rumah sakit sama-sama”
*************************
Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Di sana nampak Sandra, Donnie dan juga Sriti sudah menunggu di depan pintu kamar ICU. Lalu terlihat Didiet  baru keluar dari dalam kamar dengan mempergunakan pakaian steril. Sepertinya hanya Didiet seorang yang baru boleh di izinkan masuk dan bertemu Alfi.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Sandra pada suaminya.
“Syukurlah ia dalam kondisi baik dan sempat sadar selama lima belas menitan. Ia bahkan bisa berkata-kata sedikit dengan berbisik sebelum akhirnya kembali tertidur” jelas Didiet.
“Haihh….Ia seharusnya belum boleh dulu banyak berpikir dan berbicara” keluh Lila
“Yah…aku juga heran pada kondisi seperti itu ia tadi justru menanyakan keadaan dirimu. Dan setelah aku katakan bahwa kamu juga selamat malam itu tanpa kurang suatu apapun barulah ia nampak tenang dan kemudian terlelap lagi” jelas Didiet menambahkan.
Lila terenyuh mendengar penuturan Didiet, betapa anak itu masih mengkuatirkan keselamatan dirinya dalam keadaan seperti itu. Hari itu Lila bertekat belum akan pulang ke rumah  sebelum ia menjumpai berhasil Alfi dalam keadaan sadar. Ia menunggu di temani oleh Niken dan Sriti hingga sore harinya. Dan saat jam menunjukan pukul lima sore Alfi kembali terjaga. Niken memberi kesempatan bagi Lila terlebih dahulu masuk. Hati Lila merasa lega melihat seyum anak itu mengembang dari balik masker oksigennya saat melihat ia datang. Tapi Lila menjadi agak kikuk. Ia tak ingin memperlihatkan bagaimana gejolak perasaannya saat itu baik pada Alfi maupun Niken. Ia berusaha bersikap tenang dan dingin seperti biasanya meski hatinya gembira bukan main saat itu.
Demikianlah setelah berjalan satu minggu karena kondisi Alfi berangsur-angsur membaik. Dan kini Alfipun sudah boleh dipindahkan dari ruang ICU dan menempati sebuah kamar rawat inap. Dan di dalam kamar VIP tersebut Alfi baru bebas menerima kunjungan. Hari itu terlihat mereka semua hadir di situ.
“Fi, besok kami terpaksa harus pulang dulu ke kota S karena banyak sekali pekerjaan yang tertinggal dan harus di selesaikan” ujar Didiet.
“Ngga pa pa Kak. Alfi mengerti”
“Oya Fi ada kabar gembira buatmu, kak Nadine-mu telah melahirkan dengan selamat. bayinya perempuan,  gemuk, sehat, cantik dan berkulit putih bersih persis ibunya” jelas Niken.
“Selamat ya ‘PAPA’ Alfi” ujar Sriti disambut tawa yang lainnya.
“Oya ada salam sayang juga dari kak Dian-mu, katanya ia kangen sekali padamu” ujar Niken.
“Doakan Alfi supaya cepat sembuh ya kak”
“Ya, kau istirahat saja sampai pulih tak usah memikirkan untuk buru-buru pulang, kami akan bergantian datang ke kota ini buat menjengukmu” ujar Didiet menambahkan.
“baik kak, ngga usah kuatir kan di sini ada kak Sriti”
*********************
Selama satu  bulan lamanya Alfi di rawat di rumah sakit. Namun sejak Niken dan yang lain pulang, tak terlihat sekali-pun  Lila datang menjenguknya. Sudah dua minggu Ia hanya ditemani oleh Sriti. Ternyata Lila juga pulang ke kota S menyusul yang lain. Alfi merasa sedih ia yakin Lila pasti masih membenci dirinya dan tak akan pernah mau memaafkan dirinya atas kejadian tempo hari. Hingga pada suatu malam, menjelang pukul 9, Saat itu Alfi tertidur lelap setelah menyelesaikan sesi makan obat terakhirnya untuk hari ini. Terlihat seseorang memasuki kamarnya. Orang itu tak lain adalah Lila. Ia baru sampai dari kota S dan langsung menuju kemari tanpa pulang ke rumah ibunya terlebih dahulu. Ia berdiri di samping tempat tidur dan memandangi wajah anak itu. Dua minggu ia pergi menyibukan diri dengan praktek di Kliniknya untuk melupakan semua yang terjadi selama di kota H , termasuk melupakan anak ini. Namun yang terjadi malah sebaliknya semakin Ia berusaha menghapus kenangannya bersama Alfi semakin kuat pula kenginan dirinya untuk dekat dengan anak itu. Lila juga binggung entah apa yang terjadi pada dirinya. Ada sesuatu yang mampu mengganggu seluruh prinsip hidup yang telah ia jalani selama sepuluh tahun ini. Dimanakah keteguhannya selama ini yang tak sekalipun tergoyahkan oleh keberadaan seorang lelaki dalam bentuk apapun sejak penghianatan Erik dulu? Ia bukanlah type seorang gadis yang gampang tergiur oleh betapa hebatnya seorang lelaki dan berapa pun besarnya daya pikatnya. Bahkan kebanyak pria yang datang tersebut tergolong gagah, tampan dan mapan sangat jauh bila harus dibandingkan dengan Alfi.yang berbadan kurus hitam dan berwajah pas-pasan itu. Ia harus mengakui bahwa awalnya sebelum mengetahui bahwa Alfi tak sengaja terjerat dalam nafsunya akibat obat perangsang Erik, ia merasakan kebencian demikian meluap-luap karena Alfi menggagahinya malam itu. Namun seiring waktu rasa benci itu berganti menjadi rasa rindu yang mendalam.semakin ia mengingat kejadian malam itu semakin ia merasakan bagaimana dirinya berubah seperti segumpal bara panas kala dalam balutan dekapan tubuh anak itu.
Memang sejak hari itu, secara bertahap Lila merasakan hasrat seksualitasnya menggelora tak terkendali. Di malam-malam kesendiriannya ia kerap mendapati dirinya mengalami bermimpi erotis bahkan pada siang hari pikiran penuh gairah nafsu terus-menerus berputar dalam benaknya. Jelas ia telah jatuh hati pada anak ini, jatuh hati pada kepolosan dan pengorbanannya, terpesona pada kejantannya. Hal inilah membuat ia mengambil keputusan untuk kembali menemui anak itu malam ini. Saat pikiran dan perasaannya masih berkecamuk dan bercampur aduk tiba-tiba..
“Kak……Li..la..” gumam Alfi lirih. Lila terkejut anak ini membisikan namanya di dalam tidurnya. Bukan Sandra, Dian, Nadine atau Niken. Namun dirinya.
Terlihat anak itu menggeliat lalu perlahan membuka matanya. Alfi sempat terkejut ketika matanya menangkap sosok dihadapannya. Alfi mengucek matanya ternyata memang benar itu adalah Lila. Sungguh bahagia ia dapat kembali melihat wajah cantik gadis itu.
“Kak..Lila?” ucapnya lirih dan berusaha untuk duduk.
“Iya Fii…ini aku”
“Kak Lila…kapan datang?” sapanya
“Baru saja Fi”
Kekakuan masih terasa, namun Lila tak ingin berlama-lama dalam keragu-raguan. Bukankah sejak berencana datang kemari ia sudah memutuskan untuk dapat memperoleh kejelasan dan jawaban dari permasalahan antara ia dan Alfi.
“Hmm… Fii”
“Iya kak?”
“Ada yang ingin kakak bicarakan denganmu”
“Alfi tahu kakak pasti ingin membicarakan tentang kejadian tempo hari” ujar Alfi menduga-duga setelah melihat perubahan pada wajah Lila yang nampak serius.
“Ya Fii.  Kakak ingin memberi tahumu bahwa kakak telah hamil karena perbuatanmu dulu itu … oleh sebab itu…. kakak ingin meminta tanggung jawabmu Fi” ujar Lila.
Alfi terkejut mendengar ucapan Lila itu. Hatinya menjadi kecut teringat akan omongan Niken tempo hari.Namun hatinya sudah bertekat untuk menerima apapun keputusan dari Lila asalkan gadis itu tak lagi membenci dirinya.
“Alfi sudah tahu mengenai kehamilan kakak dari kak Niken. Alfi siap dan rela kakak apa-apain…Alfi ..juga rela jikaa harus kakak operasi menjadi… cewek” ujar Alfi bergetar ketakutan saat mengucapkan itu.
Lila jadi tertawa geli mendengar ucapan Alfi barusan, ia sudah mengira pastilah Niken yang telah mengarang omongan seperti itu buat menakut-nakuti anak itu. Lila mendekatkan tubuhnya ke Alfi. Harum tubuh wanita itu tercium oleh hidungnya. Alfi terkejut saat tahu-tahu wajah Lila sudah begitu dekat dengan wajahnya. Lalu bibir lembut gadis itu mengecup lembut pipinya.
“Kak?…” Alfi masih belum percaya jika Lila melakukan hal itu. Bukankah seharusnya Lila sangat membenci dirinya karena telah menodainya tempo hari.
“Apa kau masih bingung dan tak mengerti juga?”
“Apakah kakak tidak akan..mengoperasi Alfi?”
“Dasar anak bodoh….bagaimana mungkin aku mau memiliki seorang suami berkelamin perempuan”
Suami?…jadi Lila menuntutnya untuk dinikahi.
Alfi tercenung sambil menatap perut Lila, tempat dimana di dalamnya salah satu benih nya sedang tumbuh. Ia sadar situasi dan kondisi Lila tak dapat di samakan dengan Sandra dan wanita nya yang lain. Lila memang tak punya suami ataupun kekasih. Sedangkan Didit maupun Donnie sudah tak mungkin untuk menambah seorang istri lagi. Berarti ia sendiri yang harus menikahi Lila. Betapa beruntung hidupnya. Entah kenapa saat membayangkan ia bakal hidup bersama dengan Lila tiba-tiba saja kemaluannya berereksi dengan hebat setelah selama satu bulan ini tertidur.
“Ada apa Fi, ka..mu diam saja? A..pakah…kamu merasa keberatan menikahi kakak?  Ji..ka demikian kakak tak ingin memaksamu… ..biarlah kakak yang akan membesarkan bayi kita sendirian” ujar Lila dengan nada suara mulai bergetar, Ia sadar sulit bagi anak seusia Alfi memikirkan harus melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami meski Lila tak menuntut untuk diberikan nafkah secara materi.
“Ti..dakkk…bukannn begitu kakk, Alfi bersedia kok menjadi suami kakak, Lagian siapa tak ingin punya istri cantik dan pandai seperti kakak” ungkap Alfi cepat-cepat. Ia kuatir gadisnya itu terlanjur sedih dan kabur dari situ.
“Benarkah? Kau bersedia menikahi kakak?Dan apakah kau tak merasa aku terlalu tua untukmu?” Tanya Lila lagi.
“Kakak manis. Alfi sayang dan cinta kakak. Alfi bakal temani kakak hingga akhir hayat Alfi”ujar Alfi sambil meraih jemari Lila dan menggenggamnya agar gadis itu yakin akan keputusannya.
“Lantass kenapa dong tadi  kakak lihat kamu sempat diam dan nampak gelisah?” ujar Lila masih binggung. Tapi Ia sungguh gembira Alfi telah bersedia buat bertanggung jawab meski ia sendiri masih bingung bagaimana melangsungkan proses pernikahan itu di karenakan Alfi belum lagi berusia tujuh belas tahun.
“Ooo tadi itu Alfi..cuma …kuatir”
“Kuatir apa?”
“Ah..tidak apa-apa kak, kita ngomongin yang lain saja tapi yang jelas Alfi bahagia sekali bakal menikahi kakak, Eng..ya ngomong-ngomong kapan kak Niken dan yang lain berencana datang ke kota H kak?” ujar Alfi berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Hmm….Kamu bikin aku penasaran…ayo katakan dulu padaku apa yang kau kuatirkan sehingga bersikap seperti tadi?” ujar Lila duduk di bibir ranjang.
Percuma Alfi berusaha mengalihkan pembicaraan, Lila tetap mendesaknya buat berterus terang.
“Alfi tadi kuatirr kalau terus-terusan berdekatan dengan kakak … Alfi tak bisa mengendalikan diri lagi seperti tempo hari. Alfi kan sudah pernah sekali berbuat dosa terhadap kakak sehingga menimbulkan masalah besar, Alfi tak ingin mengulangi kesalahan itu lagi”” ujar Alfi sambil menunduk tanpa berani memandang ke arah Lila.
Tangan Lila menarikkan selimut yang menutupi dari bagian pinggang ke bawah Alfi. Alfi berusaha mencegahnya namun ia kalah cepat dari Lila. Lila tersenyum melihat ketegangan dari balik celana piyama anak itu. Lalu ia kembali mengulangi kecupannya tapi kali ini di bibir anak itu hingga Alfi terpancing untuk membalasnya. Meski demikian Alfi takut untuk bertindak kurang ajar ia hanya mengecup lembut dan buru-buru melepaskannya sebelum ia menjadi tak terkendali.
“Bagaimana jika aku yang memintamu… melakukan dosa itu lagi padaku?” tanya Lila saat ciuman mereka terlepas.
Kalimat terakhir Lila telah membuat Alfi mengangkat wajahnya dan menatap mata Lila. Ada sinar kerinduan terpancar di sana. Mata indah itu mengatakan kesungguhan sehingga segalanya menjadi jelas dan Alfi jadi tahu apa yang harus ia lakukan sekarang ini. Ia tak lagi ragu-ragu untuk menangkap tubuh mahkluk cantik di hadapannya itu ke dalam pelukankannya.
“Oh.. Kakk…kak…Alfii cinta kakak” bisiknya
“Nikahi kakak ya Fi… miliki kakak….kakak juga sayang padamu…cinta padamu..” Rengek Lila balas memeluk erat tubuh kecil bocah itu. Entah bagaimana caranya cinta dan kasih sayangnya terhadap Alfi bisa tumbuh begitu subur dan kuat padahal anak ini masih belum cukup umur dan tak bisa juga di katakan tampan. Bagaikan bumi dan langit perbedaannya. Kisah kasihnya lebih mirip sebuah cerita dongeng anak-anak ‘beauty and the beast’ ketimbang kisah cinta  ‘Romeo and Juliet’. Namun rasa ini tak terungkapkan indahnya. Hatinya begitu berbunga-bunga bagai perasaan seorang gadis ABG yang tengah dilanda cinta pertamanya. Lila seakan telah menemukan apa sebenarnya penawar bagi kegelisahannya selama ini.
Perlahan tubuh Lila rebah ke kasur sementara kepalanya telah jatuh ke dalam gumpalan  bantal Alfi. Sedangkan posisi tubuh Alfi berada di atas tubuhnya. Mata keduanya kembali saling menatap. Mereka tahu di hati mereka saling memendam kerinduan meski baru terpisah beberapa minggu saja.
“Kakak..cantik sekali” bisik Alfi terpukau. Seakan ada magnet yang kuat yang membuat wajahnya turun perlahan mendekat ke arah wajah Lila.
Emp…hanya itu yang terdengar. Rintihan Lila tak sempat keluar karena bibirnya sudah dipenuhi oleh hisapan bibir Alfi. Tubuh Lila gemetaran bagai orang terserang malaria. Tak ada pengaruh obat perangsang kali ini namun Lila merasa kali ini lebih mendebarkan ketimbang tempo hari. Pecintaan kali ini ia lakukan secara sadar dan karena iapun menginginkannya. Tak ada yang  menghalangi keinginan keduanya buat bersatu  sehingga ranjang kecil rumah sakit itu tak terasa sempit bagi mereka berdua. Untunglah tadi Lila telah mengunci pintu kamar terlebih dahulu saat masuk tadi. Lila heran Alfi menghentikan kecupannya. Anak itu merenggang menjauh dari tubuhnya sementara matanya menatap ke arah dada Lila. sejenak Lila mengerti keinginan anak itu. Dengan wajah  merona merah karena malu, Lila melepas sendiri kancing-kancing bajunya satu persatu. Ia tak menyangka ia mau melakukan itu semua itu di hadapan anak itu.
“pelan..pelan  Fi, ingat kepalamu belum boleh terlalu bayak bergerak” Lila mengingatkan anak itu.
Benar saja begitu semua kancing bajunya terbuka. Ciuman Alfi kembali menghangati bibirnya. Lila dapat merasakan jemari anak itu berusaha membuka pengait branya. Dan sepertinya ia sudah berhasil melakukannya. Kecupan Alfi  beralih ke leher jenjang Lila perlahan turun hingga sampai di belahan dada gadis itu  lalu lidahnya mulai menjilati setiap jengkal permukaan kulit kedua bukit putih kembar di hadapannya.
“Fiii…geliii..ouhhhhh” pekik Lila lirih ketika mulut Alfi menyergap salah satu putting payudaranya dan mengisapinya kuat-kuat.
Lila tak berani menekan kepala Alfi yang masih terbalut perban. Ia hanya meninggikan dadanya agar mulut Alfi makin terbenam di situ. Anak ini… ia pandai sekali menyenangkan diriku Pikir Lila. Ia seakan tahu di mana saja titik-titik rangsangan pada tubuh lawan jenisnya.
“Cks…..ckss……cksss” Alfi mengisapi ke dua putting Lila secara bergantian. Benda itu semakin memerah dan mengacung tegak. Puas menetek, Alfi melepas putting Lila
“Kakak Alfi ingin itu….” bisik Alfi. Penisnya sudah sangat tegang sejak tadi dan menagih untuk di lumat oleh sebuah liang vagina.
“Lakukanlah Fiii…kakak milik kamu sejak malam ini”
Alfi membuka kancing piamanya sedangkan celananya ia turunkan sebatas lutut. Ia sengaja tak telanjang bulat Ia kuatir setiap saat suster bisa saja masuk ke kamar dan memergoki mereka. Begitupun dengan Lila, Alfi hanya menarik lepas celana dalamnya dan menyembunyikannya di bawah bantal. Beruntung Lila memakai baju terusan yang longgar sehingga mudah bagi Alfi mengekplorasi tubuhnya.
Lila bisa merasakan kehangatan penis anak itu menekan perutnya. Jemarinya meraih ke bawah buat menyentuhnya kemudian menggenggamnya namun dia tidak dapat melingkarkan jari-jarinya secara penuh di pada benda itu. Lila merasa aneh, dulu-dulu ia tak pernah merasakan gairah meletup-letup seperti sekarang ini saat menatap dan menyentuh benda itu di ruang prakteknya. Benda  yang pernah memberikan rasa linu dan sakit namun juga sejuta kenikmatan pada vaginanya.
“Fii…” bisiknya lirih
“Kenapa kak?”
“ng..ga..punya kamu besar sekali ternyata”
“Kakak suka atau takut sakit?”
“Dua-duanya”
“Alfi janji bakalan pelan-pelan waktu masukinnya ke punya kakak nanti” Alfi membiarkan jemari lentik Lila mempermaikan daging miliknya itu.
“Fii..”
“Iya kakak sayang?”
“Ma..sukin sekarang…”rengeknya manja kerena menginginkan Alfi menuntaskan kerinduannya meski dengan agak malu-malu saat mengatakan itu.
“Pingin pakai lidah apa pakai titit,kak?”goda Alfi
“A..aaa Alfi gitu” rajuk Lila bertambah malu didesak mengatakan pilihannya itu sambil memukul-mukul manja dada Alfi.
“Bilang dulu…kakak sayang maunya dimasukin lidah apa titit Alfi?”
“Eng..ti..tit” ujarnya dengan pipi bersemu dadu.
Lila tahu ini pasti akan sedikit menyakitkan baginya, meski ia sudah tak perawan lagi karena  ia baru sekali melakukan persetubuhan dan kemaluan Alfi memang sangat besar dan panjang. Tapi saat ini ia sangat ingin merasakan kembali kenikmatan yang dasyat itu lagi lebih dari apapun di dunia ini. Dengan jemari tangannya, Lila membimbing penis anak itu yang berdenyut-denyut ke celah  basah vaginanya. Lalu secara naluriah Alfi menekan kemaluannya sehingga kepala titit berkulup besar itu meluncur masuk sedikit di antara bibir basah itu.
“Uhhhhh!!…sa..kitttt.”
Lila tersentak melengkungkan punggungnya untuk menahan penetrasi Alfi. Awal penyatuan itu  telah menciptakan sedikit rasa sakit sehingga Alfi pun menunda dulu tekanannya. Ia menjatuhkan bibirnya kembali menyusu pada putting payudara gadis itu sementara tangannya membelai lembut payudara satunya. Sedikit demi sedikit ia memberikan dirinya untuk dimasuki anak laki-laki hitam ini. Mendorong kemaluannya menerobos lipatan vulvanya. Ia merasakan kehangatan yang lezat ketika penis besar itu menyusup lebih jauh dan lebih ke dalam menembusi nya,
“Oughhh…Fiiiii…” desahnya nikmat setelah titit Alfi berhasil masuk semuanya ke liang senggamanya. Ia merasakan kenikmatan itu makin menyengat mana kala rahimnya terdesak oleh ujung kulup kemaluan Alfi.
“Masih sakit kak?” bisik Alfi. Lila menggeleng . Sambil melakukan penetrasi Alfi menatap wajah kekasihnya itu sehingga ia dapat melihat ekspresi Lila.  Mata Lila terpejam rapat di antara kerenyitan dahinya sementara giginya menggigit bibir bawahnya. Ia tahu gadisnya itu tak lagi merasakan sakit namun justru sedang dilanda kenikmatan.
“Ka..kak sayanggg…semua punya Alfi sudah di dalam punya kakak sekarang”
“Be..narkahh?” Lila baru yakin setelah melirik ke arah bukit kemaluannya yang bertumpu dengan bukit kemaluan Alfi.
Setelah organ cinta mereka berdua menyatu erat, kedua kaki indah Lila menyilang dan menjepit pinggang calon suaminya. Sementara jemari lembutnya mencengkram punggung Alfi. Kini tubuh kecil Alfi terjepit di antara montoknya ke dua paha wanita dewasa yang mengapitnya erat siap buat melakukan gerakan persetubuhan. Alfi mulai memaju mundurkan pantatnya. Ia sadar ini baru persetubuhan kali kedua buat Lila dan ia tak ingin Lilapun kesakitan akibat kocokan-kocokan yang cepat. Begitu ketatnya kemaluan mereka bertaut. Entah vagina Lila yang terlalu sempit atau memang ukuran penis Alfi yang tak normal. Bibir vagina Lila ikut tertarik keluar di saat penis Alfi di cabut. Begitupun saat daging hitam itu bergerak menusuk seakan bibir vagina Lila-pun ikut terdorong masuk. Kulit kulup Alfi tertarik keluar sehingga glans penisnya menyentuh dasar vagina Lila yang lembut. Namun Alfi merasa persetubuhan dalam tempo yang lambat seperti ini akan membuat dirinya berejakulasi dengan cepat. Vagina Lila dengan leluasa ‘menyiksa’nya dengan lumatan-lumatan kenikmatan. satu bulan tak bersetubuh sama sekali menjadikan tititnya terlalu sensitive.
“Ouhhhhh…kakakk” desah Alfi.
Lila dapat melihat wajah Alfi yang berubah pucat.
“Fiii…kamu tidak apa-apa kan?” tanyanya ditengah-tengah kenikmatan itu. Ia kuatir jika gerakan-gerakan yang mereka buat menimbulkan rasa sakit bagi kepala anak itu.
“ga pa…pa kak…Alfi..justru lagiii e..nakkk”jawabnya terbata-bata. Lila-pun merasa lega.
Sebagai seorang dokter ahli kandungan sedikit banyak ia tahu dan pernah membaca bagaimana cara mempergunakan otot-otot kewanitaan di saat berlangsung persenggamaan. Lila ingin mempersembahkan sebuah kenikmatan terindah bagi Alfi. Ia ingin meninggalkan kesan yang mendalam bagi anak itu. Ia ingin anak itu mencintainya dan tak pernah meninggalkannya. Lalu ia mencoba memperaktekan semua yang ia ketahui  pada persetubuhan mereka saat itu. Otot vaginanya ia kencangkan seolah sedang menahan laju air kencingnya pada saat pipis. Ia lakukan berulang-ulang. Akibatnya sungguh luar biasa. Alfi merasakan kuluman liang senggama gadis itu menjadi demikian tak terkira nikmatnya. Kedua biji matanya sampai terbalik ke atas. Sebenarnya Lila tak butuh melakukan gerakan itu karena vaginanya masih sangat sempit itu cukup untuk membuat Alfi bertekuk lutut.
“Ka..kaakkk manisss…Alfi bakal muncratt  duluannnn….Alfiii nggaa tahann lagiiiiii..Oughhhh” rintih Alfi sambil mendekap erat tubuh Lila. Pantatnya mengocok-ngocok beberapa kali sebelum akhirnya….
“Tumpahkan sayang…tumpahkan semua benihmu di dalam punya kakakkkk” bisik Lila sambil berdebar-debar menanti terulangnya saat-saat pembuahan dirinya oleh Alfi.
Alfi mencoba untuk menahan laju spermanya untuk terakhir kali namun kenikmatan itu sudah mungkin ia tahan lagi. Stok sperma yang terpendam selama hampir satu bulan itu dipompa naik dari testisnya dengan cepat mengalir menyentuh setiap syaraf-syaraf kenikmatan yang ada di alat kelaminnya. Kurang dari satu detik cairan-cairan kental itu akhirnya berhamburan memancar dari ujung kulupnya tanpa tertahankan lagi.
“Aoooooo…kakkkakkkk!!!!” Alfi terpekik sambil menghujamkan titit sedalam mungkin ke vagina Lila.
Crutttttt…..cruuuutttt…crootttttttt…..crotttt…Lila tersentak kaget. Titit besar anak itu mengembang kempis secara cepat di dalam cengkraman  dinding vaginanya. Lalu ia merasakan hentakan-hentak deras  ejakulasi Alfi membentur mulut rahimnya.
“Ohhhhh ….Alfiii kamu dapet sayang” Lila dengan pasrah menerima suntikan demi suntikan benih kekasih kecilnya itu.
Ia menunggu dengan sabar Alfi menyelesaikan ejakulasinya hingga tuntas sambil mempererat dekapannya. Lila sangat menikmati indahnya momen itu meski orgasmenya belum ia peroleh. Menit-menit berlalu, setelah orgasmenya reda, Alfi mengangkat wajahnya dari cekungan leher Lila  lalu mengecup kening gadis itu.
“Kamu kalah sayang!” ujar Lila.
“Iya…Alfi kalah sama kakak….memek kakak enak banget..bikin Alfi ngga tahan… sekarang giliran Alfi bikin kakak muncrat” ujar Alfi
“A..pa barusan kamu bilang?” Tanya Lila hatinya tergelitik mendengar kata ‘memek’ yang diucapkan Alfi. Menit-menit sebelumnya Alfi menyebut ‘titit’ buat kemaluannya sendiri dan bukan penis. Inikah bahasa persetubuhan? Terdengar begitu vulgar dan menggairahkan.
“eng… me..mek kakak enak. Ada apa kak?” Tanya Alfi.
“Ngga papa, bi…lang sekali lagi sayang “pinta Lila. Meski bingung Alfi menuruti permintaan kekasihnya itu.
“Memek kakak enak banget, memek kakak legit, memek kakak bisa ngisepin titit Alfi” bisik anak itu di dekat telinga Lila.
“Seperti inikahhh?” tanya Lila sambil mempergunakan otot-otot vaginanya seperti sebelumnya.
“Ohhh..kakaaaakkk”desahan Alfi keenakan. Ia lalu membekap bibir Lila lagi dengan ciuman. Kini Lila baru mengerti sekarang mengapa bocah ini begitu digilai oleh Sandra dan wanita lain yang pernah merasakan hubungan sex dengan Alfi. Titit bocah itu tak mengecil sedikitpun setelah berejakulasi secara dasyat tadi.
Setelah liang senggama Lila licin oleh spermanya. Kini Alfi dapat leluasa melakukan kocokan agak cepat.
“E..nak kak?”
“He..ehh…” jawab Lila. Kocokan Alfi kali ini cepat sekali membuatnya melambung.
“Besar ya kak?”
“He.ehhh be..saarrr…Fiiii”
“Kakak suka sama punyaku ya?”
“Iyahh Fiiii…kakakkk sukaa”
Alfi menyusupkan kedua telapak tangannya kebawah pantat montok Lila dan meremasnya. Sementara pantatnya semakin cepat berayun. Ia menggunakan semua kekuatan otot-otot pinggul dan pantatnya buat menaklukan dokter cantik itu. Penisnya yang besar seakan membongkar liang vagina sempit Lila.
“Fiiiii…All.fiiiii” rintih Lila memanggil-manggil nama Alfi diantara kecipak suara kemaluan mereka yang beradu akibat genjotan anak itu.
“Kakak sayang  sudah mau muncrat ya?” Alfi merasa Lila tak akan lama lagi bakal mencapai orgasmenya karena Organ kewanitaan Lila semakin kencang mencengram batang tititnya.
“Ohh…sayangggg punyamu besarrr….punyamuu enakkkk” Bibir Lila meracau tak terkendali. Kepalanya terlempar ke kiri dan ke kanan.
Denyut-denyut nadi ke duanya semakin cepat seiring semakin cepatnya kocokan titit Alfi ke liang senggama Lila. Lila-pun akhirnya telah sampai di puncak kenikmatan itu. Kuku-kuku Lila kuat dengan menancap pada pantat Alfi yang bulat sekujur tubuhnya bergetar hebat merasakan kenikmatan yang ditunggu-tunggunya seperti yang pernah ia alami saat malam ia di gagahi Alfi dulu itu telah datang menyapanya.
“Ouhhh….Fiiiiiiihh  eemfffffff!!!” sebelum pekiknya sempat terlontar buru-buru Alfi menyumbat bibirnya dengan ciuman agar tak membuat heboh rumah sakit.
Memang untuk  urusan ranjang, wanita memang mungkin kurang agresif menyerang. Tapi, untuk urusan orgasme, wanita tetap jadi juaranya!
Semua otot-otot kewanitaan Lila berkontraksi berirama dengan sangat cepat dan kuat diikuti di bagian panggul dan rahim. dan diakhiri dengan hisapan kuat pada titit Alfi
lebih kencang dari sebelumnya yang membuat Alfi ikut melambung keenakan. Lila terus mengejang sementara vaginanya berdenyut-denyut terus mengeluarkan cairan kenikmatan .
“Aooooo….Kakkkkkk Lilaaa  enakkk !!!!” Alfi berusaha menahan jeritannya karena sengatan nikmat yang seakan ikut membetot jiwanya bersamaan dengan cengkraman otot-otot vagina Lila yang dasyat pada penisnya. Bahkan saat Lila menghentak seakan vagina gadis itu hendak mencabut putus miliknya. Kedua biji mata Alfi mendelik menahan rasa geli yang menjalar cepat terutama pada bagian kepala penis yang dipenuhi syaraf kenikmatan. Rasa-rasanya ia tak akan menunggu waktu lama untuk kembali berejakulasi. Nikmat itu demikian menggila dan tak dapat  ia  lawan. Sehingga…..
Creetttt…Creett..Crettt
“Kakaaaakkk…Allfiiii muncrattt!!!!! Emmfffffff!!!” Kali ini Lila yang menangkap bibir anak itu dengan ciuman panjang.
Kedua tangan Alfi memeluk pinggang ramping Lila kuat-kuat. Bersamaan dengan penisnya berkejat-kejat keras lalu memuntahkan seluruh sisa spermanya kedalam rahim Lila. Cairan itu melesat bagai peluru dari lubang pipisnya dalam volume yang sangat  banyak. sehingga vagina Lila bagai tak mampu menampungnya semua. Sebagian besar keluar tumpah dan mengotori seprey di kasur. Bahkan setelah menyemburkan banyak mani namun titit Alfi masih terus menghentak-hentak kuat  seakan–akan cairan kental itu tiada habis-habisnya apalagi vagina Lila-pun seakan tak pernah mengendurkan hisapannya pada batang titit Alfi. Semua itu telah menambah panjang sesi orgasme yang mereka alami.
“Uhhh…sayanggg…benihmu banyak sekaliii”desah Lila kala kenikmatan itu mereda. Ia sempat heran mendapati begitu banyaknya jumlah cairan  yang dihasilkan oleh biji pelir anak itu.
************************
Malam semakin larut dan jam telah menunjukkan pukul dua dini hari. Sprey kasur Alfi telah kusut tak menentu oleh persetubuhan panas yang tiada henti itu.
“Sudah dulu ya sayang, kakak takut nanti luka di kepalamu berdarah lagi karena terlalu banyak bergerak. Besok-besok kita terusin ya?” bujuk Lila meski Ia tahu banyak dari Niken jika Alfi tak akan berhenti menyetubuhi wanitanya sebelum keduanya berkali-kali mengalami orgasme bahkan hal tersebut dapat berlangsung sampai menjelang pagi tiba. Kalau saja mereka tak sedang di rumah sakit ingin rasanya Lila membiarkan titit besar anak itu mengeram di dalam vaginanya hingga pagi hari.
“Ngga mau…Alfi mau entot kakak sampai pagi .”
“Sayang kamu harus ingat kita sedang di rumah sakit. Nanti ada yang melihat atau mendengar jeritan kita. Kita kan bisa melakukan sepuasnya di rumah kakak saat kamu pulang dari sini”
“Satu kali lagi saja kak…boleh ya?” rengek Alfi.
“Hmm…baiklah tapi hanya satu kali lagi saja” ujar Lila tak dapat lagi menolak meski hatinya was-was takut mendadak ada suster yang memergoki mereka dalam keadaan demikian.
Kali ini orgasme Lila datang lebih cepat dari yang pertama tadi. Seluruh syaraf-syaraf kewanitaannya menjadi sangat sensitive terhadap setiap sentuhan Alfi. Baru di genjot Alfi dua menit ia mengalami orgasme, lalu yang ketiga dan seterusnyapun susul menyusul  tanpa henti. Lila tahu ia telah mengalami multiorgasme. Hal yang didambakan setiap wanita yang pernah merasakan hubungan intim. Ia merasa sungguh takjub pada kejantanan Alfi. Padahal anak itu sudah berkali-kali pula berejakulasi namun tititnya tak pernah menjadi ciut. Hal itu semakin membuat Lila tergila-gila pada bocah itu.
“Anak bandel katanya cuma sekali saja…dasar!” ujar Lila di sela-sela napasnya yang belum teratur. Setelah orgasmenya mereda jemarinya mendorong perut Alfi menjauh dari tubuhnya. Alfi dengan berat hati mencabut lepas tititnya pelan-pelan dari kuluman vagina Lila. Sperma berhamburan keluar dari vagina Lila mengalir membasahi seprey.
“Sudah sayang. Besok lagi ya” bisik Lila  berusaha menahan hasratnya sendiri yang masih terus mengukunginya karena Alfi masih saja mencucup puting kirinya di saat gadis itu berusaha mengancingkan bajunya.
“Plokk!” pagutan Alfi akhirnya terlepas dari putting merah itu sehingga Lila dapat mengancingkan seluruh gaunnya.
Setelah membenahi pakaiannya Lila lalu pindah ke sofa. Namun mata mereka masih selalu beradu pandangan dari jauh dan tak kunjung merasa ngantuk. Tiba-tiba perlahan Alfi bangkit dan turun dari ranjang dan berjalan menuju ke sofa dimana Lila terbaring. Lila tersenyum geli. Ia merasa dirinyapun tak berbeda dengan anak itu yang tak ingin detik-detik malam ini berlalu sia-sia tanpa persetubuhan. Di atas Sofa itu ia kembali merasakan daging cinta Alfi memadati vaginanya dan memperoleh beberapa kali orgasme yang kuat sementara Alfi satu kali lagi sebelum akhirnya anak itu betul-betul tak menjamahnya lagi dan kembali ke atas ranjangnya sendiri malam itu. Lila tertidur lelap dengan senyum tersungging di bibirnya. Rasanya kenyataan yang ia alami barusan jauh lebih indah dari segala impiannya pernah ada selama ini.
*************************
Beberapa hari kemudian Alfi sudah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Dengan merengek Lila memaksa Alfi untuk tidak pulang ke rumah Sriti namun tinggal di rumahnya. Ibu Lila tentu saja tak keberatan Lila merawat anak itu di rumahnya. Wanita tua itu mengetahui jika Alfi terluka karena menolong Lila pada peristiwa penculikan yang menimpa Lila kecuali bagian kejadian saat Lila dicabuli oleh Alfi. Apalagi Alfi merupakan anak asuh Niken teman Lila sejak dulu. Alfi diperbolehkan menempati kamar tamu depan.
“Meski kamu sudah tak dirawat di rumah sakit namun dokter mengatakan kamu harus tetap beristirahat selama beberapa minggu hingga kamu benar-benar pulih Fi” ujar Niken yang saat itu datang menyelesaikan administrasi perawatan Alfi dengan pihak rumah sakit. Niken senang dengan situasi yang berakhir membaik terutama menyangkut hubungan Lila dan Alfi.
“Kakak juga minta maaf tak dapat terus merawat kamu Fi karena kakak di minta Kak Nadine-mu ikut tinggal bersama mereka di kota S buat merawat bayimu” ujar Sriti ikut lega. Iapun dipekerjakan oleh Didiet di dalam perusahaannya.
“Iya kak, sampaikan salam sayang Alfi buat kak Nadine dan juga buat kakak-kakak yang lain, Alfi kangen sama mereka”
“Kamu pasti cepat sembuh Fi sebab ada seorang dokter cantik yang merawatmu di sini” Niken mengerling ke arah Lila membuat gadis itu jadi tersipu malu. Jelas Lila tak dapat menyembunyikan keintimannya bersama Alfi dari Niken.
Sepulang Alfi dari rumah sakit percintaan panas tersebut berlanjut di rumah Lila. Lila menginginkan Alfi untuk menghabiskan setiap malam di tempat tidur dan bercinta dengannya sesering mungkin yang ia ingin.
Kedua insan berlainan jenis itu benar-benar sedang di amuk asmara dan birahi. Terkadang mereka melakukannya di kamar Lila lain waktu di kamar Alfi. Bahkan saat Lidya ada di rumah  di siang haripun mereka mencuri-curi kesempatan untuk bersama. Celana dalam Lila-pun tak pernah sempat terpasang semenjak Alfi tinggal di rumahnya. Lila sadar ia bisa mengundang rasa ingin tahu ibunya dan Lidya yang tidur di kamar sebelah. Oleh sebab itu Ia selalu berusaha menahan jeritannya dengan menggigit bahu anak itu ketika orgasme datang melandanya. Lumayan menyakitkan bagi Alfi tapi ia sungguh bangga berhasil membuat kekasihnya itu memperoleh orgasme demi orgasme yang begitu kuat. Kini si cantik Lila benar-benar telah takluk oleh keperkasaan Alfi. Otaknya yang cerdas dan hatinya yang dingin itu telah luluh lantak oleh kejantanan anak itu. Ia tak mampu menahan terjangan hasrat dan gairah yang meletup-letup yang ditebarkan Alfi padanya. Tak ada kata bahkan teori kedokteran yang tepat buat mengungkapkan keindahan badani itu. Apa dan bagaimana indahnya rasa orgasme itu. Hanya dengan melakukannya, hanya dengan membiarkan Alfi menyentuhnya, dan hanya setiap sentuhan anak itu yang dapat menjabarkannya secara nyata. Alfi telah mampu menuntaskan rasa rindunya sebagai wanita yang telah lama mendambakan datangnya curahan kasih sayang dan belaian dari lawan jenisnya.
***********************
Enam minggu kemudian
“Hoekkk…hoekkk” Lila tak dapat menahan rasa mual yang mendorongannya untuk muntah. Ini memasuki bulan ke tiga sejak pertama kali ia di gauli oleh Alfi. Lila memang tak pernah melakukan test terhadap dirinya namun secara naluriah ia tahu sejak awal bahwa dirinya sedang Hamil! Selama ini ia berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Lidya dan ibunya. Namun beberapa hari ini rasa mualnya semakin menjadi-jadi.
“Kau tidak apa-apa nak?” tanya ibunya kuatir sambil bergegas membantunya.
“Ngga apa-apa buuu, Lila hanya masuk angin….Hoekk…hoekkk!” ujarnya kembali menaruh kepalanya di washtafel.  Ibunya dengan telaten membantu mengurut tengkuknya. Itu biasa orang lakukan untuk mengurangi rasa mual sambil memoleskan minyak angin di dekat hidung putrinya. Setelah rasa mual Lila agak mereda, wanita tua itu dengan hati-hati membimbing putri cantiknya itu duduk di sofa bersamanya.
“Mari duduk bersamaku di sini sayang…ada yang ingin ibu tanyakan padamu”
“Iya bu?”
“Sudah berapa bulankah usia kehamilanmu nak?” ibunya bertanya dengan suara yang lembut
“i..bu…sudahh  ta..hu?” ujar Lila tercekat.
“Sayang…meski ibu bukan seorang dokter kandungan sepertimu namun engkau tak mungkin mengelabuhi mata tuaku ini, mungkin engkau lupa kalau aku adalah seorang ibu yang pernah melahirkan dua orang putri?”  ujar sang bunda. Lila betul-betul tak menyangka jika ibunya bakal mengetahui apa yang terjadi pada dirinya secepat itu.
“masuk ti..ga bulann bu” ujar Lila lirih sambil menunduk..
“Apakah…Alfi telah tahu jika dirimu sudah hamil olehnya?” Tanyanya lagi. Pertanyaan kedua itu membuat Lila lebih terkejut, Ibunya bahkan juga dapat menerka secara pasti jika si Alfi adalah ayah dari janin di dalam perutnya itu.
“Me..ngapaa ibu berpikir kalau anak itu yang..?”
“Ibu memperhatikan dari caramu meladeninya selama ini seperti saat membawakan makan dan minum baginya, menyuapinya, dan caramu berbicara dengannya, jelas itu bukan sekedar hanya sekedar hubungan antara seorang dokter dan pasien atau apapun hubungan biasa lainnya, itu jelas adalah hubungan yang didasari oleh kasih sayang dari seorang wanita terhadap lawan jenisnya. Nah.. kau belum menjawab pertanyaan ibu tadi”.
Jelas sulit bagi Lila buat menyembunyikan semua itu dari ibunya.  Mata bijak wanita tua itu telah dapat membaca semua yang terjadi pada putri cantiknya ini. Lila-pun mengangguk mengiyakan.
“Ma..afkan Lila bu….Lila mungkin telah sangat mengecewakan ibu”
Setelah mengatakan itu air matanyapun tumpah tak tertahankan. Ia bingung harus berkata apa lagi kepada ibunya. Hatinya jadi diliputi kekuatiran jika ibunya tak menyukai hubungannya dengan Alfi . Tetapi sang bunda segera meraih kepalanya dalam dekapan  erat. Lalu belaian lembut jemari tua itu memberikan rasa nyaman pada Lila.
“Tak perlu takut nak…ibu tak perduli ia seperti apa, yang terpenting ia sungguh-sungguh mencintaimu sepenuh hatinya begitupun sebaliknya. Ibu belum pernah melihat dirimu begitu bahagia sebelum bertemu dengannya. Ibu juga bahagia untukmu Nak” Ujar ibunya lembut
“I..bu juga tidak…malu punya menantu semuda itu? ia bahkan belum delapan belas saat ini”
“Tentu saja tidak, tahukah kamu usia ayah dan ibumu tak lebih tua dari anak itu saat kami menikah dulu, namun perbedaannya saat itu kami memutuskan untuk menunda memiliki anak sampai beberapa tahun ke depan”
Tangis Lila semakin jadi. Sungguh diluar dugaannya ternyata ibunya justru merestui hubungannya dengan Alfi. Entah mengapa ia menjadi begitu kolokan saat ini. Yang jelas ia merasakan lega bercampur bahagia.
“Sudahlah manis…ibu ingin kamu menjaga cucu ibu baik-baik, untuk itu kamu jangan terlalu memporsir dirimu dengan pekerjaan saat di kota S nanti”
Lila mengangguk Rasanya ia bahagia sekali melihat mata tua ibunya yang berbinar-binar dan bibirnya yang mengembang senyum penuh kebahagiaan pada wajahnya yang berkeriput itu.
**************************
Pagi itu, di atas kasur empuk dan hangat di dalam kamar tidur Lila, Lila menggeliat, terjaga dari tidur nyenyaknya. Penis hitam Alfi masih mengeram di dalam dekapan vagina rapat miliknya sejak semalam. Benda yang tak pernah benar-benar menjadi lembik setelah berejakulasi. Tak sampai satu jam benda itu selalu kembali mengeras dan kembali memadati liang senggama sempitnya. lalu kembali aktif keluar masuk tanpa henti. Bercak-bercak merah bekas cupangan Alfi tersebar di leher jenjang putih gadis itu hingga ke sekeliling payudaranya. Pada kedua bahu Alfipun nampak memar bekas gigitan Lila. Persetubuhan panas itu sudah berlangsung sejak semalam, namun tubuh sintal dokter cantik itu tak pernah lepas dari tindihan tubuh kecil Alfi. Betapa ia telah membiarkan anak itu mendominasi dirinya, menguasai dirinya secara penuh, membuatnya terpekik-pekik sepanjang malam saat dilanda orgasme tak berujung. Alfi masih tertidur lelap dalam dekapannya saat terdengar sebuah dering halus berasal dari  Hpnya . Ternyata berasal dari Niken. Lila tersenyum dan mendekatkan HP tersebut ke telinganya
“Selamat pagi putri cantik” sapa Niken dari seberang sana.
“Stttt… jangan keras-keras Nien, si Alfi masih tertidur” bisiknya. Ia tak ingin anak itu terganggu.
“Apakah sang pangeran masih di dekatmu?”
“Dia …bahkan masih di ‘dalam’ diriku saat ini”
“Woww… aku jadi cemburu nih hi hi. Eh ngomong-ngomong La apakah selama ini ibu dan adikmu tidak curiga terhadap kalian?”
“Tidak bagi Lidya namun ibu sudah tahu semuanya”
“Aduhh gawat! Lan..tas bagaimana…tanggapan beliau La?”
“Ngga ada yang perlu di kuatirkan, Ia mengerti kondisiku saat ini. Ia malah mendesak aku menikah segera dengan Alfi”
“Menikah La? Ia menyuruhmu menikahi anak itu? Tetapi Alfi kan baru mau tujuh belas tahun ini. Bagaimana bisa?”
“Aku juga binggung tapi akupun ingin dia…… nikahi”
“Wah gayung bersambut  nih…”
“Iya  Nien seperti halnya dirimu, aku tak ingin berpisah darinya lagi, aku tak perduli orang mau bilang apa tentang hubungan kami, yang penting aku bisa selalu bersamanya. Hanya saja aku masih harus minta ijin dari Sandra dan yang lain termasuk engkau Nien karena hal itu pasti akan membuat jatah kalian terganggu”
“Hmm…kau tak usah kuatir La, aku rasa Sandra dan yang lain pasti akan mengerti dan tak keberatan akan hal itu. Kaupun berhak atas diri Alfi karena ia juga yang merengut kesucianmu sekaligus memberikan janinnya di perutmu. Nampaknya Alfi memang jodohmu La, bukankah kaulah yang lebih dulu pertama kali bertemu dengannya ketimbang kami, tetapi kau yang terakhir menerima cintanya.”
“Makasih Nien atas dukunganmu. O ya Nien aku juga harus mengatakan padamu jika sementara waktu aku tak dapat meladeni kalian di tempat praktek karena aku harus merawat si Alfi dulu hingga ia sehat betul ”
“Ngga pa pa La, dokter penggantimu juga cocok buatku kok. Benar-benar tak disangka jika kita bakal melahirkan bayi-bayi dari lelaki yang sama hi hi”
“Oookhh…..Nienn…” tiba-tiba Lila memekik lirih.
“Laa ada apaa? kamu baik-baik saja kan?”
“I..yaaa..A..ku  hanyaa merasakan ia membesar lagi dalam tubuhku…” ujar Lila bergetar. Saat sengatan nikmat kembali menyentuh setiap syaraf-syaraf kewanitaannya.
“Kakakkk… sudah bangun duluan ya” ujar Alfi mengeliat dari tidurnya.
Secara naluri mulutnya menangkap puting payudara Lila yang terdekat dengan bibirnya.
Selanjutnya Lila tak dapat lagi meneruskan atau bahkan hanya sekedar buat menutup percakapannya dengan Niken ketika bibirnya sudah terlalu sibuk meladeni lumatan-lumatan panas bibir Alfi. Apalagi disaat yang sama pantat bulat Alfi telah bergerak naik turun menggenjotnya lembut. Hp-nya terlepas dari pegangannya dan meluncur jatuh ke karpet.
“La…laa…” masih terdengar suara Niken memanggilnya di seberang sana namun tanpa mampu ia jawab lagi.




Dr Lila

Dr Lila
Pagi itu Lila terlihat sedang asyik mengemut penis hitam Alfi. Gadis itu tampak begitu menikmati hal itu, dengan mata terpejam jemari lentiknya mencengram bagian pangkal batang sementara mulutnya dipenuhi sepertiga bagian batang termasuk ujungnya yang berkulup. Tak ada kocokan sedikitpun, Lila hanya menghisap kuat sambil mempermainkan lidahnya di sekitar leher penis bocah itu. Rasa manis dan gurih muncul dari mazi Alfi yang selalu keluar setiap saat dari lubang pipisnya tanpa henti
Bila ia bosan mencucup ujung kulupnya yang runcing sesekali ia tarik kulit penutup tersebut ke belakang hingga glans-nya yang bulat bagai sebuah tomat itu nampak sudah memerah. Lalu kembali mengemutnya.
Clek..cek…clek..cek..
“Ouhhh…ka..kakkk” rintih Alfi. Ia tak tahu entah sampai kapan Lila akan mengoralnya. Meski sudah lima belas menitan melakukan itu namun gadis itu tak kunjung merasa puas. Alfi berusaha keras bertahan agar tak berejakulasi di mulut Lila.
Plokk! Ketika akhirnya  penis Alfi terlepas dari bibir Lila.
“Besar banget sih!…” gumamnya sambil meremas gemas benda yang pernah merobek selaput daranya itu.

Lila mengambil posisi berbaring menyamping sehingga tubuh Alfi menghadap ke punggungnya. Lila ingin Alfi memeluknya dari belakang sambil melakukan penetrasi. Sulit bagi seseorang pria melakukan posisi percintaan seperti ini disebabkan pantat sang wanita akan mengganjal tubuhnya sehingga  penisnya tak dapat masuk secara maksimal ke dalam vagina wanitanya. Apalagi bagi pria yang memiliki panjang kemaluan standar-standar saja, bisa-bisa penisnya selalu terlepas saat melakukan gerakan persetubuhan. Namun tidak bagi Alfi. Meski ujung penisnya tak sampai menggapai mulut rahim Lila namun benda itu mampu menancap dengan sempurna dalam posisi itu.

“Oughhhhhhh…sayanggggg” desah Lila ketika kejantanan Alfi telah menyatu dengan kewanitaannya. Jemari Alfi meraih kedua payudara Lila dan meremasnya lembut sambil mengayunkan pinggulnya mundur maju.
Alfi dapat bertahan lama dalam posisi itu karena ia tak terlalu merasa nyaman. Penisnya tertekuk terlalu ekstrim. Kemungkinan penisnya bakalan jadi melengkung bila terlalu sering bersetubuh dengan gaya ini. Tapi Lila begitu menyukainya karena penis Alfi membentur G-spot secara tepat. Bagi Lila ini adalah posisi favoritnya selain posisi doggy.
“ka..kakk sayang…renggangin sedikit dong pahanya, nanti Alfi keburu kalah lagi” desah Alfi. Ia kelabakan menerima jepitan yang terlalu ketat itu. Vagina Lila yang memang masih sangat rapat dan sempit itu semakin sempit akibat kedua pahanya mengatup demikian.
“Se..gini?” ujar Lila sambil melakukan permintaan Alfi barusan.
“He.e” ujar Alfi mulai leluasa mengocok vagina kekasihnya itu.
Lima menit berselang Alfi merasakan penisnya diremas kuat-kuat oleh otot-otot kemaluan gadisnya itu. Ia tahu Lila telah memperoleh orgasmenya. Alfi harus bertahan dalam hisapan dasyat itu setidaknya setengah menitan bila tak ingin kebobolan.
“Sayanggggg….kakak dapettt!” pekik Lila lirih.
“Sekarang giliranmu kekasih” ujar Lila sambil terletang. Ia tersenyum melihat wajah Alfi sudah sedemikian pucatnya. Biasanya seorang wanita tak ingin teman prianya terlalu cepat berejakulasi karena takut percintaan mereka bakal terhenti setelah itu. Namun tidak demikian dengan Lila, ia tahu Alfi mampu berejakulasi berulang kali tanpa membuat penisnya menjadi lembik. Para wanita paling suka akan sensasi di saat penis seorang pria berkedat-kedut  memuncratkan sperma di dalam vaginanya demikian halnya dengan Lila.
“Ohh..kakaaakkk” desah Alfi setelah dalam sekejap seluruh batang kemaluannya sudah lenyap dilumat oleh vagina indah kekasihnya itu. Hanya dalam hitungan detik ia pasti bakal runtuh oleh kemolekan Lila.
“Mun.cratttin sayanggg” pinta Lila tak sabar. Otot-otot kewanitaannya mengunci setiap gerakan penis Alfi.
“Arckkkkk…. Ka.kaaakkkk!!!” pekik Alfi. Penisnya berdenyut keras dan dari ujung lubang pipisnya melejit lendir-lendir kental menghantam dasar vagina Lila. Mata Alfi terpejam menikmati setiap denyut kenikmatan tersebut hingga selesai.
Alfi menemui kenyataan bahwa Lila mampu mengimbangi hasratnya yang menggebu-gebu di tempat tidur. Gadis ini ternyata mempunyai hasrat seks yang besar bahkan jauh melebihi gadis-gadisnya yang lain. Menjelang jam tiga pagi-pun Lila masih membelitkan kedua kakinya dipinggul Alfi. Sudah lebih satu bulan ini sejak hubungan keduanya mendapat restu dari ibu Lila.mereka bersetubuh tanpa mengenal waktu. Pagi siang malam. Ibu Lila bukanlah orang yang kolot meski ia berasal dari generasi yang mempertahankan kekolotan norma dan adat. Ia maklum putri sulungnya itu baru mengecap keindahan menjadi makluk yang berpasangan. Wanita tua itu tak pernah mengganggu kemesraan keduanya ataupun merasa keberatan terhadap jadwal keseharian Lila yang berantakan. Mereka berdua hanya terlihat keluar dari kamar jam sepuluh pagi buat makan siang dan jam tiga dini hari buat makan malam. Selebihnya mereka habiskan bersama di kamar tidur Lila. Namun hubungan asmara keduanya bukan sama sekali tak memiliki rintangan. Lidya, adik Lila, sampai saat ini ia benar-benar tak mengerti mengapa kakak perempuannya yang selama ini sangat ia banggakan itu sampai melakukan prilaku yang sangat sulit diterima oleh akal sehatnya. Betapa tidak, sang kakak yang tak hanya demikian cantik dan berotak cemerlang bahkan memiliki karier yang sukses itu menjatuhkan pilihan hatinya pada si Alfi bocah bertampang pas-pasan yang berkulit hitam legam yang belum lagi genap berusia tujuh belas tahun. Bahkan Lidya-pun sudah mengetahui dari ibunya jika saat ini Lila sudah hamil tiga bulan mengandung benih anak itu. Jangankan memikirkan anak itu menyetubuhi kakaknya, membayangkan ia telanjang saja Lidya sudah mau muntah rasanya.
“Bu! Mengapa ibu sepertinya membiarkan hal ini terjadi pada keluarga kita? Tidakkah pernahkah ibu berpikir bagaimana jika hal ini diketahui oleh orang lain terutama keluarga kita?” tanya Lidya gusar.
“Jangan bicara terlalu keras dan kasar begitu nak, tak enak jika terdengar oleh mereka” ujar ibunya mencoba menenangkan putri bungsunya itu.
“Huh! Biar saja mereka tahu!”ujarnya bertambah kesal melihat ibunya masih saja membela sang kakak yang jelas-jelas sangat mengecewakan hatinya.
“Tak baik berkata kasar demikian apalagi sampai menyakiti hati orang lain nak. Kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik. Ayo lebih baik kita bicara di beranda biar tak terdengar oleh mereka” ajak ibunya lembut. Dengan wajah masam Lidya mendahului ke teras lalu menghempaskan dirinya di kursi.
“Lidya ingin ibu bertindak demi kehormatan keluarga kita”
“Sayang tak ada yang salah dengan hubungan mereka. Mereka saling mencintai mengapa ibu harus menghalangi mereka? Apalagi saat ini di dalam rahim kakakmu sudah tumbuh calon cucu ibu yang juga merupakan keponakanmu. Ibu justru bahagia kakakmu akhirnya mau membuka hatinya bagi cinta yang datang“
“Tapi Bu…Lidya malu punya bakal ipar seperti itu. Bukankah ada banyak pria tampan yang pernah kemari selama ini buat melamar kak Lila, lantas mengapa harus memilih anak itu?”
“Sayangku, tahukah kamu bahwa rasa yang dinamakan cinta itu memang aneh dan ajaib nak. Ia terkadang muncul tanpa mengenal perbedaan ras, status social, agama, bahkan umur sekalipun. Jika ia telah menghinggapi hati seorang pria atau wanita maka tak akan ada yang bisa menghalanginya. Dan itu yang terjadi pada kakakmu Lila saat ini.”
“Ahhh walau bagaimanapun Lidya tak sudi punya ipar seperti itu!”
“Apa kamu lebih suka melihat kakakmu hidup merana sendiri tanpa cinta hingga akhir hayatnya?”
Pertanyaan terakhir sang bunda membuat Lidya tak mampu menjawab. Jelas ia tak ingin hal itu terjadi pada Lila. Namun buat menerima kenyataan bahwa ayah dari calon kemenakannya adalah si Alfi tetap sulit ia terima. Untungnya Lila dan Alfi berangkat ke kota S siang itu. Lila sempat menangkap ketidak sukaan Lidya selama beberapa hari terakhir sejak Lidya mengetahui tentang hubungannya dengan Alfi. Namun ia maklum akan sikap Lidya tersebut dan tak mau berlama-lama di kota H agar tak semakin meruncingkan masalah.
****************************
Sesampai mereka di kota S, baik Lila maupun Alfi kembali melakukan rutinitas kegiatan mereka masing-masing. Lila kembali praktek di tempatnya bekerja sedangkan Alfi mulai masuk sekolah setelah beberapa bulan sempat absent. Kemesraan mereka berlanjut di kota ini. Namun setelah beberapa lama bersama Lila tak pernah lagi menyinggung rencananya buat menikah. Hati kecil dan akal sehat  Lila mengatakan jika anak seusia Alfi belum mempunyai kesiapan mental buat melakukan perkawinan. Hal itu tentunya akan membawa dampak yang  besar bagi perkembangan jiwanya. Ia justru kuatir lama-lama Alfi akan mulai terasa terkukung oleh aturan sebuah rumah tangga dan akhirnya bukan tak mungkin membawa dampak kejiwaan seperti stress. Untuk sementara waktu Lila memutuskan membiarkan hubungan tanpa status itu terus berlanjut begitu saja dulu sampai ia merasa Alfi akan siap buat itu. Lila mendapat jatah didatangi Alfi setiap hari jumat dan sabtu. Ia harus rela berbagi dengan yang lain. Kebetulan ia tak praktek hari itu sehingga ia puas mereguk kenikmatan setelah Alfi pulang dari sekolah. Meski sudah memiliki jadwal tetap namun seperti layaknya pasangan pengantin baru baik Lila maupun Alfi sangat membutuhakan frekwensi hubungan intim yang tinggi. Mereka terkadang mencuri-curi waktu bersama di luar jatah mereka. Hal itu sering sekali mereka lakukan walau hanya satu jam-an di saat-saat Lila pulang praktek sore.
“Fi kamu ngga usah jemput kakak, karena hari ini kakak ada rapat rutin bersama pihak menagemen klinik sekaligus acara perkenalan bagi seorang dokter baru” ujar Lila melalui ponsel-nya pada suatu hari.
“Iya kak, Alfi minta izin pulang sekolah mampir dulu ke toko buku dulu”
“he e tapi setelah itu jangan keluyuran kemana-mana ya Fi, kakak tunggu kamu di rumah pukul tiga”
“Iya kak daag” ujar Alfi menutup pembicaraan.
Saat Lila sedang menunggu Riri, perawatnya untuk merapikan ruang prakteknya. Tiba-tiba terdengar suara riuh para perawat di luar, meski hanya sejenak namun cukup mengundang rasa ingin tahu Lila. Tak lama barulah kemudian nampak Riri muncul.
“Apa yang terjadi diluar? Kenapa para perawat berteriak-teriak histeris begitu?”Tanya Lila
“Itu…dok..dokter yang baru itu…eng..anu”
“Kenapa?” Tanya Lila melirik ke arah perawatnya yang ganjen itu.
“Loh bu dokter belum tahu toh kalau dokter yang baru itu cowok dan orangnya cakep sekali mirip sama Vic Zhow.”
“Siapa itu Vic Zhow?”
“itu loh bintang dorama Taiwan, masa bu dokter juga ngga tahu? Aduhhhh…dengkul saya sampai gemetaran menatap senyumannya bu”
Lila menghela napas sambil mengeleng-gelengkan kepala melihat keliaran para suster di sana.
“Ri, Ingat kalian sedang bekerja di sebuah klinik kesehatan yang melayani masyarakat umum. Ulah kalian barusan bisa merusak reputasi klinik kita dan kalau sampai hal ini terdengar oleh pihak managemen kalian bisa dapat masalah” ujar Lila memperingatkan suster Riri.
“Iya dok, maaf” ujar Riri mesem-mesem mendengar teguran Lila sambil buru-buru membereskan peralatan medis Lila.
Sesampai ia di ruang meeting, ternyata yang lain sudah pada hadir termasuk bu Helen pemilik klinik itu. Wanita tua namun anggun itu semeringgah melihat kedatangan Lila.
“Ahh…ini dia Lila, dokter kebanggaan kami, La perkenalkan ini..” ujar Bu Helen sambil menarik tangan seorang pemuda ke arah Lila
“Robert?” ujar Lila lebih dulu sebelum bu Helen menyelesaikan kata-katanya. Ia agak kaget bertemu dengan Robert. Ternyata pemuda ini dokter baru yang membuat heboh para perawat tadi.
“Hi, La, apa kabar?” ujar pemuda tampan itu sopan sambil menjulurkan tangan kepada gadis yang dulu pernah menolak cintanya mentah-mentah.
“Uh..Baik, bagaimana denganmu?” jawab Lila menjabat tangan Robert. Namun ia menghindari pandangan pemuda itu. Ia sedikit tak enak karena ia pernah berlaku ‘kasar’ saat pemuda ini dikenalkan oleh ibunya beberapa bulan yang lalu.
“Baik La” jawab Robert.
Sejenak mereka berdua tak tahu harus berkata apa-apa.Untunglah di sana ada bu Helen.
“Wah..kalian sudang saling mengenal rupanya. Baiklah meski begitu, namun aku harus tetap mengenalkan Robert pada yang lain” ujar  Bu Helen.
Ternyata Robert adalah keponakan  bu Helen. Bu Helen sendiri adalah seorang pengusaha wanita yang mempunyai naluri bisnis yang tajam. klinik ini ia bangun bersama suaminya sejak tiga puluh tahun yang lalu itu. Dan sekarang klinik kecil tersebut telah menjadi sebuah klinik besar dan terkenal yang memiliki kreabilitas yang baik di mata masyarakat serta banyak merekrut dokter-dokter terbaik di kota ini.
Namun sayangnya Helen tak memiliki calon penerus lain kecuali anak dari adiknya ini hal itu juga yang membuat Helen sempat menunda buat meningkatkan status kliniknya menjadi sebuah rumah sakit. Hanya Robert satu-satunya lelaki yang tersisa pada keluarga mereka. Helen dan adiknya sempat kuatir jika Robert tak mau kembali ke tanah air setelah menyelesaikan study-nya di Canada dan tinggal selamanya di tanah air. Apalagi dulu pemuda itu sempat menjalin hubungan yang serius dengan seorang gadis asing teman satu collage-nya di sana. Namun kekuatiran mereka tak terbukti. Meski Ia terlahir sebagai blasteran karena ayahnya warga negara Canada namun akhirnya ia lebih memilih untuk tinggal bersama ibunya di sini.
Robert adalah seorang dokter lulusan terbaik di universitasnya  bahkan program spesialisnya ia tamatkan dengan cepat pula. Prestasi medisnyapun sangat baik meski baru berjalan beberapa tahun namun sudah menarik banyak minat para pemilik klinik maupun rumah sakit besar buat merekrutnya. Tak salah jika Riri mengibaratkan ketampanannya seperti Vic Zhow. Percampuran darah Chinese ibunya dengan wajah dan fostur bule ayahnya  menjadikannya memiliki wajah oreantal yang rupawan dan fostur tubuh ideal sehigga ia digilai oleh banyak gadis. Ia sempat dikenalkan dengan Lila karena ibunya merupakan teman lama ibu Lila. Namun penjajakan yang ia lakukan tak berjalan mulus karena sifat Lila yang sangat kaku dan tertutup tempo hari. Bahkan dua kali mampir  ke rumah Lila ia tak di suguhi Lila air minum layaknya melayani seorang tamu. Meski Lila tak membalas perhatiannya dan memperlakukannya dengan buruk, Robert tak merasa sakit hati terhadap Lila bahkan ia tetap mencari peluang buat mendekati gadis itu. Ia menduga pasti ada sesuatu yang menyebabkan Lila bersikap demikian yang tak hanya kepada dirinya melainkan ke seluruh pemuda yang mencoba mendekatinya. Robert mengagumi Lila. Gadis ini berbeda dengan gadis lain yang pernah ia kenal. Kecantikan Lila membuat hatinya tertambat erat dan sulit untuk dilupakan. Ia lalu banyak mencari tahu tentang diri gadis itu termasuk hal-hal yang berhubungan dengan gadis itu. Sungguh kebetulan Lila bekerja di klinik milik tantenya sendiri yaitu bu Helen. Sehingga ia mempunyai jalan buat berdekatan dengan gadis pujaannya itu. Memang sudah sejak lama tantenya berharap Robert mengantikannya buat menjalankan roda bisnis milik keluarganya itu. Helen sendiri sempat terkejut namun bahagia saat satu-satunya harapan keluarga mereka itu secara mendadak mau bekerja di Kliniknya. padahal sebelum ini ia dan ibu Robert sudah kehabisan akal membujuknya dikarenakan jiwa muda Robert yang masih menggelora dan ingin bebas bertualang ke tempat-tempat eksotis di seluruh pelosok negeri ini. Tentu saja Helen tak tahu jika hal itu terjadi karena adanya Lila di tempat tersebut.
*************************
Alfi duduk di kursi tunggu sambil memegang kantung belanjaannya. Ia sempat membeli tiga bungkus nasi soto sebelum ia ke klinik tadi. Pasien terakhir Lila sudah masuk sejak tadi dan kemungkinan tak lama lagi Lila bakalan selesai menanganinya. Sebenarnya malam ini bukan jadwal baginya ‘mendatangi’ Lila. Sehubungan Sandra dan Didiet berangkat ke kota G maka Lila mendapatkan jatah lebih pada minggu ini. Suasana klinik semakin sepi. Satu persatu para dokter dan perawat pulang hingga hanya tersisa ruangan Lila yang masih aktif melayani pasien. Alfi terperangah saat melihat sesosok tubuh gagah yang berjalan menuruni anak tangga dan melintasi di mana ia duduk. Wuihh..Tampan sekali pikir Alfi. Andai saja ia punya penampilan fisik seperti orang itu. Baru kali ini ia melihat sesosok figure lelaki yang membuatnya sangat terkagum-kagum. Orang itu menghentikan langkahnya di depan pintu ruang praktek Lila. Lalu menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
“Hai..kamu pasti Alfi kan?” sapa pemuda itu.
“Loh kok kakak bisa mengenal namaku?” Tanya Alfi heran
“O..aku tahu itu dari suster Riri. Oya kenalkan namaku…Robert atau panggil saja Robbie” ujar Robert menjulurkan tangan.
Tentu saja Alfi cukup tahu siapa Robert.sebelumnya. Alfi menyambut dan hendak menjabatnya. Namun ia terkejut saat dengan sigap Robert merubah cara menjabatnya dengan cara yang tak biasa. Robert menyodorkan tangannya yang terkepal sehingga Alfi juga harus melakukan hal yang sama dan mengadu kepalannya dengan Robert. Lalu diikuti gerakan-gerakan lain. Alfi pernah melihat cara bersalaman gaul ala anak-anak kulit hitam seperti ini di film-film.
“He he rupanya kamu juga tahu banyak cara ini Fi” ujar Robert tertawa. Lalu duduk di samping Alfi.
“Iya kak, Alfi sering lihat di televisi”
“Eh..Fi apa kak Lila-mu masih meladeni pasien?” ujar Robert menyengol perut Alfi dengan sikunya.
“Itu yang terakhir kak” jawab Alfi. Secara naluriah ia menduga Robert pasti ada hati terhadap Lila. Namun anehnya tak terbesit rasa cemburu sedikit pun pada hati Alfi mengetahui hal tersebut. Hanya saja ia pesimis Lila akan mau menanggapi perhatian pemuda itu.
“Eh apa itu yang kau bawa?”
“Uh..cuma nasi soto kak, kupikir kak Lila belum makan malam jadi Alfi bawakan untuknya”
“Kelihatannya enak sekali”ujar pemuda itu seakan berselera sekali.
“Apakah kakak mau kebetulan Alfi bawa lebih”
“Apabila kau tak keberatan Fi, soalnya aku juga belum makan malam”
“Tentu saja. Silakan kakak ambil satu” ujar Alfi menyodorkan satu buah bungkusan soto lengkap bersama nasi kepada Robert.
“Terima kasih Fi, ha ha, berarti malam ini aku bisa tidur tanpa perut kroncongan”
“Loh apakah kakak tidak ada yang memasakan di rumah?” Tanya Alfi heran karena menilai Robert terlalu sembarangan buat ukuran seorang dokter dengan membiarkan perut terlambat buat di isi. Apalagi sampai-sampai sering tidur dengan perut kosong.
“Itu dia masalahnya Fi. Kakak tinggal sendirian di sebuah Apartement. Sehubungan aku selalu pulang jam segini jadi aku agak sungkan makan sendirian di luar. Yah..begitulah nasib seorang bujangan yang ngga laku-laku ha ha”
“Ah masa iya ngga laku-laku kak, kakak kan sangat gagah dan tampan”
“Haihh Fi andai saja kak Lila-mu berpendapat demikian…..” ujar Robert wajahnya terlihat berubah agak murung.
“Eng..kakak suka sama kak Lila?” tanya Alfi tanpa ragu-ragu. Entah mengapa Alfi terasa cepat sekali akrab dengan pemuda ini padahal ia baru saja mengenalnya. Sikapnya yang begitu santun dan gaul cepat mengundang rasa simpatik Alfi padanya. Bahkan ia terlihat tak risih meladeninya ngobrol mengingat perbedaan tak hanya usia namun tingkat pemikiran di antara mereka yang begitu mencolok. Tidak seperti Erik yang langsung memandang rendah dirinya saat pertama kali bertemu dengannya dulu.
“Siapa sih yang tak tertarik padanya Fi? Lila itu kan cantik dan pandai”
“Lantas mengapa kakak tak segera mendekatinya?”
“Fi .. Lila itu ibarat sekuntum bunga indah yang tumbuh di atas sebuah gunung terjal dan penuh dengan rintangan. Buat mendapatkannya perlu usaha dan niat yang sangat keras. Aku tak tahu apakah aku mampu mengatasi rintangan itu”
Alfi merasa Robert merupakan sosok sangat sepadan buat bersanding dengan Lila ketimbang dirinya sendiri. Ia sadar ajakan Lila buat menikah hanya akan menambah penderitaan bagi Lila saja. Tentu saja Lila akan mendapatkan cemoohan dari banyak orang di sekitar mereka. Bahkan bukannya tak mungkin kariernya juga ikut hancur perlahan. Dan Alfi tak ingin hal itu terjadi pada Lila. Hanya saja ia menyayangkan dirinya telah terlanjur menodai Lila dan membuatnya hamil. Entah apakah ada seorang pria yang masih mau menerima keadaan Lila seperti apa adanya.
“Loh kok melamun Fi?”
“Eh a uh tidak apa-apa kak”
“Oya Fi kakak pulang lebih dulu, sampaikan salam buat kak Lila ya”
“Loh ngga ketemu kak Lila dulu kak?”
“Ha ha…ngga deh! entar dia bosan karena melihat tampangku seharian. Terima kasih sekali lagi buat soto-nya Fi” ujar pemuda itu berlalu sambil melambaikan tangan.
***********************
Tak berapa lama kemudian Alfi melihat pasien terakhir Lila sudah pergi meninggalkan ruang praktek. Ia pun lalu masuk ke dalam dimana nampak Lila dibantu Riri sedang membereskan semua peralatan kerjanya. Lila kaget bercampur senang melihat kekasihnya itu datang. Hampir saja ia beraksi berlebihan namun untung saja ia segera teringat jika di situ ada Riri.
“Hi Fi, tumben jemput hari kamis?” sapa Riri padanya. Dulu Riri sering melihat  anak ini ikut bersama Sandra atau Niken datang kesana. Namun ia hanya tahu hubungan Alfi dengan wanita-wanita cantik itu sebagai anak asuh mereka. Bahkan akhir-akhir ini ia sering melihat Alfi menjemput dan menemani Lila pulang  seusai praktek malam.
“Iya kak. Ini Alfi bawakan soto buat makan malam kakak berdua”
“Wah kebetulan saya dan bu dokter belum sempat makan karena sibuk melayani pasien sejak sore”
“Ri jatahku ngga usah di buka, biar saya makannya di rumah saja sekalian”
“Iya nih bu saya juga makannya di rumah saja soalnya teman saya sudah menunggu sejak tadi”
“teman apa pacar?”
“hi hi pacar bu”
“Ya sudah. jika tak ada lagi pekerjaan kamu boleh pulang duluan.” ujar Lila pada Riri.
“Ya bu”
Setelah menyelesaikan tugasnya akhirnya Riri-pun pamit pulang pada mereka berdua. Alfi di tugasi Lila buat mengunci pintu depan klinik karena hanya tinggal mereka berdua di sana dan biasanya mereka terakhir keluar lewat pintu belakang. Lalu ia kembali ke dalam ruang praktek Lila.
“Fi sudah kamu kunci pintu depannya?”
“Sudah kak, baiknya kakak makan saja dulu biar ngga sakit”
“Aku ngga mau makan soto. aku maunya itumu” ujar gadis itu genit menunjuk ke arah selangkangan Alfi.
“Sekarang? Di sini?” Tanya Alfi bengong. Lila mengangguk. Lila terlihat tak sabaran padahal baru tiga hari yang lalu mereka bersama.
“He e kakak mau kamu entot sampai pagi tapi sebelum pulang kakak pingin banget minum itu”pinta Lila manja.
“Baik  kak”
“Naik sini” ujar Lila menepuk kasur yang seding dipakainya memeriksa pasien.
Alfi membuka reutleting dan menurunkan celananya hingga lutut lalu duduk dipinggir ranjang.
Lila menarik kursi dan duduk dihadapan selangkangan Alfi. Tanpa harus membuka celana dalam anak itu terlebih dahulu, cukup dengan mengeluarkan penis Alfi dari samping sehingga ia dapat mengeksploitasi benda berkulup berukuran raksasa itu.
“Hei kamu yang sudah buat aku hamil sebentar lagi kasih cairan cintamu padaku “ ujar Lila berkata-kata pada penis anak itu seakan benda itu dapat di ajak berbicara. Alfi tersenyum geli melihat tingkah laku Lila yang selalu gemas pada daging di dalam genggamannya itu.
Clek..clep…clep..clep…tanpa membuang waktu ia menghisap benda yang sangat ia rindukan selama berhari-hari itu. Alfi membelai rambut gadisnya membiarkan Lila menikmati ‘makan malamnya’. Tak butuh waktu lama buat penis Alfi memancarkan cairan-cairan kental berprotein tinggi itu ke dalam mulut Lila.
“Uhhhhh….kakk…” rintih Alfi dalam kenikmatan. Tak setetespun benih cintanya yang tertumpah semuanya ditelan oleh Lila dengan lahap..
Keduanya begitu larut dalam gairah sehingga lupa akan situasi dan kondisi dan tak memperhatikan kehadiran seseorang yang sejak tadi mengintip dari balik pintu.
Tiba-tiba terdengar suara pintu berderit. Lila agak kaget dan baru menyadari kalau ternyata ia tadi lupa mengunci pintu ruang prakteknya. Lalu ia bergegas melepas penis Alfi dan segera berlari ke arah pintu tersebut. Uhh… Tak ada seorangpun di luar sana, hanya terlihat lorong kosong. Untung saja tak ada orang lain lagi selain mereka berdua di klinik itu. Mungkin pintu tadi berderit karena tertiup oleh angin bukan di sebabkan oleh seseorang yang mendadak menyelonong masuk pikir Lila. Hanya Lila yang di serahi kunci Klinik ini selain Robert dan bu Helen. Itu karena Lila selalu paling akhir selesai praktek. Bahkan satpampun tak dapat masuk ke dalam. Mereka hanya berjaga di bagian depan luar Klinik.
“Fi kita terusin di rumah aja ya?”
“Iya kak, Alfi juga kuatir kalau-kalau ada orang yang memergoki kita” kata Alfi sambil merapikan celananya. Lila segera mengunci ruangannya dan keluar bersama Alfi melalui pintu depan sekaligus menguncinya dari luar.
****************************
Hari senin terjadi kehebohan baru di klinik tempat Lila praktek. Saat baru tiba sore itu buat praktek ia menjadi binggung melihat sikap orang-orang di sana yang bertingkah tak seperti hari-hari sebelumnya. Pak Satpam bertindak menjadi lebih hormat dan tergesa-gesa membantu membukakan pintu baginya. Beberapa perawat berbisik-bisik melihat ia datang. Secara naluri Lila tahu dirinya yang menjadi bahan pembicaraan mereka.
Bahkan Riri-pun selalu tersenyum-senyum selama di ruang praktek.
“Ri..”
“Iya bu ada apa?”
“Apakah ada yang aneh pada penampilanku diriku hari ini? mengapa semua orang di klinik bertingkah aneh saat melihatku? termasuk kamu”
“A..nuu…ngga ada apa-apa kok bu”
“Kamu jangan bohong padaku Ri. Katakan saja padaku ada apa sebenarnya”
“Eng..Itu bu…kami semua di sini hanya kaget ketika mengetahui kalau ibuu…”ujar Riri terlihat ragu-ragu meneruskan perkataannya.
“Ya?”
“Akan menikah dengan pak Robert dalam waktu dekat”
“A…pa?! Ri si..apaa yang bilang begitu?!” ujar Lila kaget.
“Maaf bu. O..rang-orang bagian administrasi yang bilang. Me..rekaa katanya tahu dari pak Robert sendiri” ujar Riri kuatir melihat perubahan pada wajah Lila yang terlihat gusar.
Apa-apaan ini. Brengsek betul si Robert berani-beraninya bikin gossip murahan mentang-mentang ia keponakan bu Helen pemilik tempat ini ujar Lila dalam hati. Lila bergegas keluar dari ruangan prakteknya lalu naik ke lantai dua menuju ke ruang Direksi. Ia tambah kesal saat melintas beberapa staf di sana mengangguk memberi hormat kepadanya.
Bruak!! Lila mendorong pintu ruangan Robert dan melihat Robert saat itu sedang sibuk dengan setumpuk kertas.
“La? duduk dulu ya, aku minta waktu satu menit buat menyelesaikan ini”
“Tak usah banyak basa-basi!. Sebaiknya kau jelaskan secara jelas dan singkat karena aku tak ada waktu berlama-lama meladenimu. Aku kemari hanya ingin menanyakan maksudmu telah menyebarkan isyu bahwa kita akan segera menikah!”
“Sabar La. sebaiknya kau duduk dulu. Aku akan menjelaskan semuanya padamu”
Ujar Robert setelah mengambil napas ia lalu melanjutkan kalimatnya dengan hati-hati.
“La, ….Aku sudah mengetahui hubunganmu dengan anak itu. bahkan perihal kehamilanmu”
“Hu..bungann  a..paa? Kau jangan berpikiran gila!” ujar Lila kaget sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia sungguh tak mengetahui pasti apa maksud perkataan Robert barusan. Ia berharap Robert hanya menduga-duga dan berniat mempergunakan kalimat pancingan terhadapnya.
“La hari itu….secara tak sengaja aku telah melihat kalian…,  Apabila handphone ku tak tertinggal di ruang kerjaku mungkin aku tak sampai mengetahui hal tersebut dan beruntungnya hanya aku yang di serahi kunci belakang klinik ini sehingga tak ada kemungkinan orang lain yang memergoki kalian”
Wajah Lila memerah bak kepiting rebus. Sungguh tak terkira malunya. Entah bagaimana caranya rasanya ia ingin dirinya lenyap ditelan bumi saat itu juga. Tak di sangka pemuda yang pernah ia tolak mentah-mentah itu justru menyaksikan kecabulan yang ia lakukan dengan Alfi. Sungguh ia menyesal mengapa ia begitu ceroboh dan tak dapat mengendalikan hawa napsunya malam itu.
Pastilah Robert menganggapnya seorang wanita tak bermoral, munafik, cabul, hyperseks, pedophile, dan istilah buruk sejenis lainnya.
“Lantas apa maumu sekarang setelah kau sudah mengetahui semuanya? Sebagai calon pewaris perusahaan ini apakah kau kuatir nama baik Klinik ini bakal tercemar? Jika itu yang kau takutkan, baiklah! Hari ini juga aku akan mengajukan surat pengunduran diriku” ujar Lila ketus.
“Sabar dulu La, Aku tak menginginkan kau berhenti. Klinik ini sangat membutuhkan dirimu. Bukankah kariermu juga menjadi sangat baik selama berada di klinik ini. Lantas mengapa kita harus memutuskan hubungan kerja yang sudah terjalin baik selama ini?”
“Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa maumu sebenarnya Bert!”
“Aku ingin kau menikah denganku La”
“Apakah kau tak mengerti juga jika aku tak tertarik padamu apalagi sampai menikah”
“Sampai kapan kau akan merahasiakan kehamilanmu itu. Cepat atau lambat semua orang akan dapat melihat perutmu yang semakin membuncit tanpa dapat ditutupi oleh bajumu lagi. Menikah denganku adalah solusi yang tepat bagimu” ujar Robert.
Aneh! Pikir Lila mengapa Robert tetap menginginkan dirinya  padahal ia tahu tentang hubungannya dengan Alfi dan juga mengenai kehamilannya.
“Jangan kau pikir dengan demikian kau bisa memaksaku menjadi milikmu sehingga kau dapat melampiasan nafsu-terpendammu padaku. Aku lebih baik mati!”
“La…Lila .mengapa setiap kalimatku kau tanggapi dengan prasangka buruk? Aku tak pernah memaksamu. Aku justru ingin membantu mencarikan solusi bagi masalahmu. Maafkan jika aku telah membuatmu merasa tidak nyaman selama ini. Aku hanya ingin menunjukkan perhatianku padamu. Hanya itu La.”
Lila baru sadar jika ia memang tak melihat Robert berusaha memojokannya ataupun terlihat melecehkannya sejak tadi. Bahkan perkataan pemuda itu benar semuanya. Memang justru ia sendiri yang bertindak terlalu berlebihan.
tak pernah memberi kesempatan buat Robert
“Ta..pii aku tetap tak mau menjadi istrimu” ujar Lila dengan suara tak lagi meninggi.
“Apakah kau memiliki solusi lain La?”
Lila diam. Ia tercenung memikirkan omongan Robert. Ia sadar kariernya sudah di ambang  kehancuran bila orang-orang mengetahui ia hamil tanpa suami. Namun sebagai seorang wanita yang dikenal keras hati memiliki prinsip hidup tentu saja ia tak dapat menerima kenyataan ada orang lain yang mengetahui rahasia pribadinya. Apalagi ini bukan perkara biasa. Ini menyangkut moral dan kreadibilitas dirinya.
“Sebaiknya kau pikirkan saja urusanmu sendiri. Aku tak butuh bantuanmu!” ujar Lila dengan suara kembali meninggi. Lalu ia membalikan tubuhnya  dan berjalan ke arah pintu.
“La, tunggu !Pikirkan dulu saranku barusan!” ujar Robert berusaha mencegah Lila pergi namun sia-sia saja tanpa menoleh lagi gadis itu meninggalkan dirinya sendirian di ruangan itu.
Robert sengaja tak berusaha menyusul Lila karena ia maklum akan perasaan gadis itu saat ini. Benar saja, keesokan harinya Robert mendapati sepucuk surat pengunduran diri dari Lila di atas meja Helen. Beruntung saat itu bibinya belum tiba di kantor maka Robert dengan segera memusnakan surat tersebut.
*******************
Sejak dua hari Lila tak lagi datang ke Klinik. Ia memutuskan menghentikan semua kegiatannya sebagai dokter untuk menenangkan dulu pikiran dan perasaannya. Saat duduk diberanda rumah. Seorang tukang pos datang mengantar sebuah Amplop berukuran sedang yang ternyata berasal dari Robert dan ditujukan pada dirinya. Lila membuka amplop tersebut. Ternyata isinya adalah sebuah kepingan CD dan sepucuk surat. Lila mengambil surat lalu membaca tulisan disana.
“La hanya padamu kupercayakan rahasia hidupku. Setelah kau melihat isi CD yang kukirimkan padamu ini kumohon simpanlah dengan hati-hati agar tak jatuh ketangan orang lain, terimakasih, Robbie”
Lila tak mengerti apa maksud Robert mengirim CD tersebut padanya namun hatinya penasaran ingin melihat isinya. Bukankah di surat Robert menyebut-nyebut soal ‘rahasia’. Lila bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke dalam kamarnya sambil menghidupkan laptopnya. Lalu ia memasukan kepingan CD tersebut kedalam CD-Rom. Lalu muncul sebuah nama File video pada layar berjudul “Special day with Bianca (18-6-2005).AVI. Empat tahun yang lalu, ternyata sebuah rekaman video ‘jadul’. Jemari Lila menyentuh tombol enter pada keyboard. Lalu layar computer menampilkan Windowmediaplayer dengan layar hitam. Tak lama kemudian barulah ada sebuah adegan sebuah tempat tidur pada kamar namun tak terlihat seorangpun di sana. Lila mengira video ini di ambil pada sebuah kamar hotel atau penginapan sejenis itu. Setelah beberapa menit terdengar suara cekikikan tawa seorang wanita. Lalu adegan selanjutnya sudah dapat ditebak oleh Lila. Kini di layar telah nampak seorang wanita berwajah cantik khas asia bersama seorang lelaki. Meski sedikit berbeda dengan penampilannya sekarang karena terlihat agak lebih muda usianya namun Lila dapat mengenali siapa lelaki tersebut yang tak lain adalah …Robert! Robert menjulurkan tangannya ke arah kamera yang terletak tak jauh di samping tempat tidur. Sepertinya ia ingin mendapatkan engle yang tepat agar semua adegan di atas ranjang itu betul-betul terekam dengan sempurna.
Kemudian mereka berciuman dengan hot pada posisi si wanita tersebut dalam tindihan tubuh Robert. Robert begitu agresif meremas-remas dada gadisnya itu. Gila! apa sebetulnya mau si Robert ini. Apa dia mau membuatku cemburu melihat percintaannya dengan gadis lain? Huh tak usahnya! Pikir Lila. Lila sudah berniat akan mematikan komputernya. Namun ada yang membuatnya penasaran. Ia ingin melihat apa yang diandalkan oleh pemuda itu sampai-sampai begitu pede-nya mempertontonkan kemesraannya. Adegan demi adegan mengalir perlahan. Mungkin agak membosankan bagi Lila menonton setiap tahab Foreplay yang dilakukan Robert terhadap gadisnya itu. Apalagi ia tak dapat menangkap pembicaraan mereka disebabkan kualitas audio rekaman yang buruk. Lila menilai Robert tak se’lihai’ Alfi dan kalah dalam banyak hal. Terutama saat pemuda itu mulai mengeluarkan  ‘senjata’-nya.
“Hmm lumayanlah!” bisiknya geli sendiri memandang batang kemaluan milik Robert. Ia menaksir paling banter panjangnya hanya delapan belas senti-an. Meski Robert memiliki darah bule namun miliknya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan milik Alfi.
Teringat akan Alfi entah kenapa belahan vaginanya segera membasah dengan sendirinya.
“Fii dimana kamu, kok belum pulang-pulang sih?” gumamnya sambil melirik ke arah jam.
Lima menit berlalu. Anehnya Robert tak juga kunjung melakukan penetrasi terhadap kekasihnya itu. Lila heran buat apa pemuda itu berlama-lama melakukan pemanasan padahal gadis itu terlihat sudah siap buat dimasuki. Tiba-tiba saja Lila terperanjat menyaksikan adegan yang terjadi selanjutnya. Pada layar terlihat Robert beranjak dari kasur meninggalkan gadis itu dalam keadaan ‘trace’. Lalu… nampak muncul seseorang berkulit gelap entah dari mana datangnya yang tanpa ba-bi-bu langsung mengambil posisi diantara kedua paha gadis itu. Lila dapat melihat orang tersebut adalah seorang anak kecil berperawakan mirip dengan Alfi. Bertubuh kecil kurus berkulit hitam legam dan memiliki sesuatu yang menggantung besar dan panjang pada selangkangannya.
“Ohhh A..paa..yang terja..dii?” ujar Lila hampir-hampir tak percaya dengan apa yang ia saksikan itu.
Jantungnya berdetak kencang dan naluri keintimannya melonjak cepat. Terlihat kamera yang tadinya dalam posisi diam sejak tadi, kini nampak bergerak karena seseorang telah memegangnya. Perlahan kamera itu mendekat ke arah gadis dan bocah tersebut. Ternyata Robert bertindak sebagai juru kamera dan berniat mengambil gambar adegan secara close-up. Kini Lila dapat melihat adegan yang luar biasa di situ. Penis hitam anak itu di gosok-gosokan dari atas dan ke bawah pada permukaan vagina si gadis yang sudah sangat basah. Lalu ujung penis itu membelah bibir vagina gadis itu dan perlahan masuk hingga terbenam seluruhnya. Kini hanya tersisa biji testisnya menutupi engle kamera. Lalu yang terjadi selanjutnya membuat jantung Lila semakin cepat berdetak. Pantat anak itu mengocok cepat bagai sebuah mesin menghajar vagina gadis itu. Lila-pun kini dapat mendengar suara si gadis dengan lebih jelas, jeritan kenikmatannya membaur dengan ucapan-ucapan dalam bahasa yang asing dan tak di mengerti oleh Lila.
Bukan Jepang ataupun China. Entahlah Lila tak tahu. Beberapa kali kamera berpindah-pindah tempat. Terkadang yang di sorot adalah bagian atas dimana terlihat ekspresi wajah sang gadis yang sedang ‘trace’ dalam kenikmatan. Sesekali ia saling melumat bibir dengan si pejantan muda itu. Lalu kamera kembali pindah dan mengambil posisi di antara kedua pasang kaki kedua insan yang sedang memacu kenikmatan dengan gairah tinggi tersebut. Lila memandang setiap adegan demi adegan di layar monitor tanpa berkedip. Dengan penuh kegelisahan melanda sanubari kewanitaannya. Jemari tangan kanannya meninggalkan mouse dan naik perlahan ke arah payudara kirinya lalu secara naluriah mulai meremas lembut miliknya yang selalu menjadi tempat menyusu bagi si Alfi selama ini. Sementara tangan kirinyapun bergerak turun ke arah bagian kewanitaannya dan jemarinya mulai membelai-belai bagian yang masih tertutup oleh celana pendeknya itu.
Lima belas menit kembali berlalu. Terlihat kocokan penis anak itu semakin cepat diiringi oleh pekikak-pekikan silih berganti dari keduanya lalu diakhiri sebuah hujaman jauh kedalam vagina gadis itu. Beberapa kali anak itu mengulangi hujaman jauh itu sebelum akhirnya semua gerakannya betul-betul berhenti. Lila menduga keduanya telah memperoleh orgasme secara berbarengan. Dan…gadis itu… membiarkan bocah itu berejakulasi secara internal di dalam vaginanya. Karena kemudian nampak begitu banyak lendir bercampur dengan buih-buih putih meluber keluar di antara tautan kemaluan mereka. Lama posisi diam itu bertahan hingga akhirnya penis anak itu perlahan di cabut keluar. Adegan selanjutnya terlihat salah satu tangan Robert menjulur lalu dengan jemarinya ia membuka belahan basah itu sehingga menampakan genangan sperma kental bocah tadi di dalam vagina gadisnya. Lalu kamera bergerak ke atas menyorot wajah bocah tadi yang terlihat puas sambil cengengesan. Lalu beralih ke arah penisnya yang berlumuran lendir dan telah meruncing karena kulit kulupnya menguncup menutupi semua glansnya. Terakhir Robert mensyut wajah  gadisnya yang sedang terpejam meresapi sisa-sisa kenikmatan dari persetubuhan yang baru berakhir itu. Barulah Lila dapat memperhatikan secara jelas wajah gadis itu yang memang sangat cantik
“Bianca…คุณสำเร็จความใคร่?”Terdengar suara Robert memanggil namanya berulang-ulang kemudian berbicara dalam bahasa yang tak juga dimengerti Lila.
Terlihat gadis yang dipanggil Bianca itu mengangguk lemah sambil tersenyum.
“กระดอใหญ่” bisiknya di sela-sela napasnya yang masih memburu.
Hingga akhirnya adegan tersebut berakhir. Lila masih terpana di depan layar monitor. Ia benar-benar tak menyangka Robert ternyata mempunyai pengalaman liar seperti yang baru saja ia saksikan barusan. Dan Lila merasakann celana pendeknya sudah demikian basahnya oleh rembesan cairan dari dalam bagian kewanitaannya.
“Kak Lilaaa…..Alfi pulangg!” tiba-tiba terdengar suara Alfi yang baru pulang. Lila bergegas mematikan komputernya.
“Fihhh..ohhh… kok kamu baru pulang sayangg?” Ujar Lila dengan suara terdengar sengau karena nafsu birahi  sedang memuncak menguasai dirinya akibat menonton adegan dalam video tadi.
“Iya tadi Alfi diminta beres-beres di perpustakaan dulu sama Pak guru. Alfi mandi dulu ya kak” ujar Alfi yang baru pulang dari sekolah langsung mandi buat membersihkan badan. Ketika ia keluar dari kamar mandi ia sudah ditunggu oleh Lila  di atas tempat tidur dalam keadaan polos.
“Fi  kakak mau sekarang sayang” pinta Lila tak sabar. Gairahnya sudah tak tertahankan lagi dan butuh penuntasan dari kekasih kecilnya ini.
“Kakak sudah basah sekali?” ujar Alfi heran memperhatikan bibir vagina Lila yang blepotan cairan bening.
“Engg..Alfiiii” rengek Lila makin tak sabaran karena Alfi tak segera menghujamkan daging cintanya yang gemuk itu ke dalam vaginanya.
Clepp….
“Ouhggggg…sayangggg”pekik Lila begitu penis Alfi menyesaki seluruh liang senggamanya hingga ujungnya yang  kulup itu mendesak dasar vaginanya.
Lila langsung mencengram bongkahan pantatnya dengan kesepuluh kukunya dan isyarat tersebut dapat dimengerti oleh Alfi. Lalu Ia menghentakan kemaluannya dengan kuat dan cepat. Cukup dua menit bagi Alfi untuk membuat Lila mencapai orgasme yang sangat kuat. Tubuh sintal cantik itu melengkung  mendekap erat tubuh kecil Alfi yang berkulit hitam kesat. Vaginanya berkontraksi kuat meremas setiap mili penis Alfi yang mendekam di dalamnya. Fase kenikmatan itu berlangsung hingga beberapa detik.
“Kakak? semangat sekali?” ujar Alfi masih agak binggung melihat gairah Lila yang begitu meledak-ledak dan cenderung liar sore ini.
“Fi…. lagiiii” rengek gadis itu. Dan Alfipun kembali menggumulinya untuk memberinya kepuasan tanpa henti hingga hari menjelang malam.
************************
Di sebuah taman kota yang dipenuhi oleh tanaman asri tak jauh dari klinik tempat Lila bekerja. Nampak Lila sedang duduk di sebuah bangku sambil sesekali melirik ke arah arlojinya. Saat ini angka pada arlojinya menunjukan tepat pukul dua belas waktunya  istirahat bagi para pekerja kantoran. Perlahan taman itu mulai di datangi oleh beberapa karyawan dari kantor di sekitar taman itu buat makan siang bagi yang membawa bekal sendiri sambil melepas ketegangan akibat pekerjaan mereka. Memang taman itu sengaja di bangun secara patungan oleh beberapa perusahaan di sana sebagai tempat repressing bagi karyawan mereka. Sekian  lama menunggu Lila melihat Robert berjalan menuju ke arahnya.
“Terima kasih telah mau menemuiku La” ujar Robert lalu duduk pada ujung yang lain dari bangku panjang yang di duduki Lila.
“Ini… Kukembalikan lagi padamu” ujar Lila menyodorkan CD kepada Robert. Pemuda itu dengan agak sungkan menerimanya.
“Seharusnya benda ini kau simpan agar kau punya bukti yang lebih kuat bila aku berani berbuat macam-macam padamu.”
“Tidak perlu. Aku sudah bisa percaya jika kau tidak punya maksud buruk kepadaku”
“Terima kasih telah mempercayaiku, La”
“Apakah kau berharap aku akan merubah pendirianku setelah mengetahui hal tentang dirimu?”
“Bagiku itu soal kedua apakah kau akan menerima cintaku atau tidak. Paling tidak kita bisa mengenal lebih jauh pribadi masing-masing sehingga aku masih mempunyai harapan oleh karena hal tersebut.”
Lila teringat sikapnya dulu yang sangat keterlaluan pada pemuda ini.
“Mengapa kau tak menikahi gadis yang ada di dalam CD itu saja?, kulihat ia begitu cantik dan setidaknya kalian sudah saling mengenal satu sama lain”
“Kejadian di dalam CD Itu terjadi saat aku mengambil study lanjutan-ku di Canada. Nama gadis itu Bianca, seorang gadis blasteran Thailand dan Italy. Kami berkenalan di Collage tempat aku menyelesaikan spesialistku.Hubungan cinta kami sudah berjalan selama tiga tahun sebelum akhirnya kami memutuskan bertunangan dan merencanakan untuk menikah setelah aku di wisuda. Sejak lama Bianca memang meyukai petualangan cinta dengan beberapa pria kasar termasuk dengan anak-anak  dan aku-pun tak pernah keberatan dengan perilakunya itu. Aku justru sangat terobsesi oleh hal itu. Untuk memenuhi hasrat seks-nya yang menggebu-gebu kami sering bertualang ke sana-kemari. Hingga pada suatu ketika di saat liburan, petualangan kami membawa kami ke Thailand tempat ibunya berasal. Tak sulit bagi kami menemukan seorang gigolo seusia Alfi di sana. Para Pimp atau germo di sana harus selalu siap yang menyediakan kebutuhan para turis-turis asing yang aneh-aneh. Mulai dari yang penyuka seks anak bahkan dengan seekor binatang terlatih sekalipun. Bahkan di beberapa tempat ada yang menawarkan paket keintiman selama satu bulan hingga tak jarang para pria asing harus pulang ke negaranya dengan istri dalam keadaan bunting. Bianca mempunyai seorang kekasih kecil bernama Amnuay, ia yang kau saksikan di dalam video itu. Amnuay adalah anak seorang nelayan miskin di pesisir Phang Nga.” ujar Robert panjang lebar menceritakan kisah cintanya.
Bianca
Bianca
“Lantas apa yang terjadi pada hubungan kalian?”
Robert terlihat menghela napas dalam sebelum menjawab pertanyaan Lila.
“Satu bulan menjelang pernikahan kami,… sebuah kecelakan mobil merenggut nyawanya. Bersamanya ikut Amnuay yang juga ikut tewas dalam kejadian tragis tersebut. Kala itu Bianca hendak menjemput aku di Bandara Internasional. Yang rencananya kami akan bersenang-senang bertiga di sebuah pantai di Phuket.”
“A..kuu turut berduka Robb” ujar Lila.
“Tiga tahun lebih aku dilanda rasa sepi dan kesedihan. Jelas sulit bagiku menemukan pengganti Bianca. Mungkin orang lain akan jijik melihat perbuatan kami itu, namun tidak bagimu La. Entah mengapa sejak awal berkenalan denganmu aku seakan melihat diri Bianca pada dirimu. Dan bertambah yakin jika naluriku memang tak salah pilih setelah mengetahui hubunganmu dengan Alfi”
“Tapi aku bukan Bianca Bert. Aku dan Alfi saling mencintai dan tak mungkin lagi berpisah. Bahkan akupun sedang hamil saat ini ”
“Aku tak keberatan berada di atara cintamu dan Alfi seperti halnya saat aku berada diantara cinta Bianca dan Amnuay, La. Dan perlu kau ketahui saat meninggal Bianca sedang hamil dua bulan dan aku yakin sekali itu adalah anak si Amnuay  sebab hanya pemuda itu yang Bianca ijinkan menidurinya tanpa mempergunakan kondom. Meski demikian aku tak pernah mempermasalahkan janin di rahim Bianca  berasal dariku atau Amnuay ”
“Entahlah Bert, aku tak dapat memberimu jawaban sekarang. Namun aku ingin kau tak kecewa bila saatnya nanti jawabanku tetap sama.”
“Tak mengapa La, Aku siap menerima kemungkinan terburuk sekalipun. Paling tidak saat ini aku bisa menjadi sahabat kalian berdua. Aihhh….Seandaianya saja …”
“A..pa?.”
“Ya Seandainya pada waktu itu akulah yang berusaha menolongmu dari kekejian Erik bukan Alfi” ujar Robert berandai-andai
“K..kau juga tahu akan kejadian itu?”
“Kejadian tersebut cukup menghebohkan buat  ukuran sebuah kota kecil seperti kota H. Dan aku kebetulan membaca artikelnya dari  surat kabar saat aku mengunjungi ibuku di sana” jelas Robert.
“Oh  begitu…” gumam Lila singkat. Ia merasa sudah sangat jarang berdialog sedemikian panjang dengan seorang pria. Apalagi yang mereka bicarakan bukanlah sebuah topic yang berhubungan dengan pekerjaan.
Ada perasaan nyaman saat berbicara dengan pemuda yang satu ini. Lilapun lega karena pemuda itu mau menjaga rahasianya bersama Alfi. Sungguh di luar dugaannya ternyata Robert adalah sosok yang sangat tegar dan berbudi. Muncul kekaguman Lila pada pemuda ini.
“Oya La, sebaiknya besok kau masuk bekerja seperti biasa agar tak menimbulkan pertanyaan bagi staf lain di sana. Aku berjanji akan memulihkan nama baikmu akibat omonganku di sana. Lalu kita pikirkan cara lain buat mengatasi masalah kehamilanmu” ujar Robert tulus. Lila tahu itu. Secara naluriah ia dapat menangkap ketulusan dari ucapan Robert. Sungguh berbeda sekali sifat pemuda ini dibandingkan dengan Erik pikir Lila.
“Baiklah” ujar gadis itu setelah yakin atas niat baik dari Robert padanya.
“Eng ngomong-ngomong kita makan siang saja dulu”ujar Robert setelah permasalahan di antara mereka sudah beres.
“Hei….kau?”
“Aduhhh….La  jangan curiga duluu….masa kau tak mendengar bunyi keroncongan dari perutku sejak tadi, terserah mau ikut atau tidak yang jelas aku pinjam uangmu dulu karena dompetku tertinggal di klinik hanya buat beli semangkuk bakso di seberang jalan sana …ayo cepat cacing-cacing di perutku sudah tak sabaran” ujar Robert menjulurkan tangan agar Lila segera mengeluarkan uang dari dompetnya.
“Kau tidak takut sakit perut makan sembarangan seperti itu?” tanya Lila sambil menyodorkan pecahan uang lima puluh ribuan keada Robert
“Ketimbang aku pingsan karena kelaparan dan dituduh mau merayu anak gadis orang”
“Bi…ar kita makan saja di resto saja. Kurasa aku juga sudah lapar” ujar Lila agak terbata-bata menarik kembali uang yang disodorkannya barusan dan urung memberikannya pada Robert
“Nah, begitu dong! Aku mau padang-an yang di pojok itu La”
Robert agak berlari ke arah ujung jalan sambil tertawa girang sehingga Lila terpaksa mengayunkan langkahnya agak cepat agar dapat menyusul pemuda itu.
“Bert…jangan  terlalu cepat”
******************
Satu minggu berjalan. Hubungan Lila dan Robert semakin membaik dan akrab. Meski demikian Lila tak pernah memberi kesempatan pada pemuda itu buat melakukan pendekatan lebih dari sekedar teman. Tapi Alfi melihat perubahan besar pada diri Lila. Lila terlihat sering tersenyum-senyum sendiri sambil berulang-ulang membaca sms dari Robert bila sedang di rumah.
“Kak apakah kakak suka pada kak Robert?” Tanya Alfi pada Lila pada suatu hari.
“Eng kok kamu nanya gitu sih Fi”
“Kakak belum jawab lagi”
“Idihh amit-amit ngga la ya” ujar Lila namun wajahnya bersemu merah saat mengatakan itu.”Emang aku terlihat suka padanya Fi?”
“Iya kak buktinya kakak suka banget baca sms kak Robert. Bahkan sampai bermenit-menit diplototin padahal itukan sms yang kemarin-kemarin kan?”
Wajah Lila bertambah merah karena malu karena tebakan Alfi mengena.
“Ngga ah. Kakak cuma sayang sama kamu”
“Kakak ngga bisa bohong kalau kakak suka sama kak Robert”
“Kamu cemburu ya Fi?”ujar Lila berusaha mengalihkan topic pembicaraan.
“Ngga kok kak. Alfi malah senang bila kak Lila bisa menikah sama kak Robert. Dia itu sangat baik dan pantas menerima cinta kakak”
“Kamu mengatakan itu bukan karena kamu mau ingkar janji kan Fi?”
“Ngga kak Sampai kapanpun Alfi siap bertanggung jawab. Tapi Alfi juga siap mengalah demi kebahagian kakak bila telah datang pasangan yang sepadan buat kakak”
“Kamu bisa saja Fi. Kakak cuma ingin kamu yang jadi suami kakak. Kakak tak ingin berspekulasi menerima cinta Robert. Belum tentu ia sepenuhnya menyukaiku apalagi ia sudah tahu semua latar belakang kakak”
Alfi menghela napas. Percuma saat ini membujuk Lila. Ia harus memikirkan jalan lain buat membahagiakan Lila.
****************************
Malam itu di rumah Didiet diadakan pesta kecil menyambut kehamilan Sandra. Pasangan tersebut demikian gembiranya. Banyak tamu yang hadir yang rata-rata adalah teman-teman sekantor Didiet dan Sandra. Karena ruangan dalam rumah tidak cukup buat menampung semua tamu maka Didiet sengaja memasang beberapa meja di halaman depan dan belakang rumah mereka. Nampak hadir pula Niken dan Donnie di sana. Sementara terlihat Nadine sedang menyusui bayinya. Sementara si Alfi asyik ngobrol dengan Dian di depan televise. Lila baru datang sendirian dan langsung di sambut oleh Sandra.
“Sand, selamat ya” ujar Lila memberi kecupan di pipi Sandra.
“Ma kasih La. sudah datang”
“Apakah aku terlambat Sand” ujarnya
“Tidak juga La. kami baru mau mulai kok, ayo masuk bergabung dengan yang lain”
“Maaf seharusnya aku meminta izinmu terlebih dahulu, Aku tadi mengajak serta seorang teman datang kemari”
“O tentu aku tak keberatan La. Tapi mana dia?”
“kami memang tak datang bersama namun janjian bertemu disini”
“jika demikian aku ingin menyiapkan tempat satu orang lagi di meja makan buat wanita temanmu itu”
“Eng Sand, temanku itu seorang  ..lelaki”
“Wah ini baru berita baik, nampaknya si Alfi punya saingan nih”
“Tidak seperti yang kau pikirkan Sand, hubunganku dan Robert tak lebih dari sekedar hanya teman baik”
“Robert? Nama pria yang beruntung itu? Hati-hati dengan perkataan kita sendiri La. Terkadang banyak hal luar biasa dan tak terduga terjadi di luar perkiraan kita sebelumnya”
Lila tercenung mendengar ucapan Sandra tersebut. Memang banyak peristiwa yang  terjadi menghampiri hidupnya selama ini. Siapa sangka ia bakal kepincut pada sosok seperti Alfi. Padahal jika dipikir-pikir betul dengan akal sehat rasa-rasanya tak mungkin seorang wanita cantik berpendidikan dan berkarir baik sepertinya menyerahkan tubuhnya bulat-bulat dan takluk dalam kehangatan ragawi pada bocah ABG seperti Alfi.
Sandra lalu kembali ke dalam dapur membantu Niken mempersiapkan jamuan makan malam. Sementara Didiet terlihat sibuk membawa buah-buahan yang barusan ia beli dari supermarket.
“La ada hal yang ingin kutanyakan padamu” ujar Donnie tiba-tiba menghampirinya.
“Ya Don ada apa?”
“Eng begini sudah satu minggu ini Niken selalu uring-uringan. Aku binggung semua yang kulakukan selalu salah. Seperti pakai parfum salah! Ngga pakai parfum dia bilang bau! Apakah ini ada kaitannya dengan kehamilannya yang sudah memasuki masa-masa melahirkan?” ujar Donnie binggung.
“Oo. Itu akibat keseimbang hormonnya terganggu sehingga mempengaruhi psikologisnya. Bisa saja ia merasa kuatir jika setelah bayinya lahir perhatianmu menjadi berkurang padanya. Kau tak usah terlalu kuatir akan hal itu. Berikan saja lebih banyak waktu dan perhatian padanya agar ia merasa lebih nyaman dan katakan bahwa kau ada selalu di sisinya sampai kapanpun” jelas Lila tersenyum geli karena ia merasa iapun akan mengalami fase seperti itu nantinya.
“Yah ..ya.. aku memang terlalu sibuk selama dua minggu belakangan ini akibat menumpuknya pekerjaan di kantor”
“Ada persoalan lain yang ingin kau tanyakan? Mumpung Niken sedang sibuk di dalam”
“Tidak ada La,. Terima kasih atas penjelasan dan saranmu”
“Jangan sungkan-sungkan buat bertanya padaku Don. Bagiku Niken tak hanya merupakan sahabat baikku ia juga sudah seperti saudara kandung bagiku”
“Ya aku tahu itu. Eh.. sepertinya Niken butuh bantuanmu La” ujar Donnie menunjuk ke arah istrinya.
Tanpa mereka berdua sadari Robert memperhatikan pembicaraan mereka yang akrab itu. Pemuda itu baru saja datang namun tak ingin mengganggu pembicaraan mereka. Untuk sementara ia berdiri menunggu hingga mereka selesai. Tapi Lila kebetulan tak melihat kehadirannya dan malah masuk ke arah dalam rumah. Robert-pun jadi celingukan sendiri karena tak ada yang ia kenal di acara itu selain Alfi dan Lila. Hingga seseorang menepuk punggungnya. Iapun menoleh.
“Eh ternyata kamu Fi”
“Kenapa berdiri saja di luar kak, ayo masuk”
“Sebentar Fi, aku mau Tanya siapa pemuda yang bersama Lila itu”
“O itu  kak Donnie dia ..calon suaminya kak Lila” ujar Alfi cepat dan enteng mengucapkan itu.
“Hah?! calon su..ami Lila Fi? Ka..muu sedang bercanda kan Fi”ujar Robert terlonjak kaget.
“Tidak kak, Alfi mengatakan hal yang sebenarnya. Lamarannya sudah diterima oleh ibu kak Lila tadi siang dan bahkan sebentar lagi akan diumumkan sekalian di acara ini”
Robert lemas mendengar penuturan Alfi barusan. Ia percaya pada penuturan anak itu. Mengapa Lila tak pernah memberi tahunya mengenai hal ini?. Pantas saja Lila tak pernah membalas perhatiannya ternyata ia telah menemukan tambatan hatinya. Seorang pemuda tampan dan gagah. Sia-sia saja penantiannya selama ini. Hatinya terasa begitu perih menghimpit dadanya.
“Fi… kakak sebaiknya pulang saja” ujarnya lirih. Buat apa ia berlama-lama di situ. ia justru kuatir malah akan merusak acara orang lain. Jelas ia tak mungkin sanggup melihat Lila bersanding dengan orang lain di hadapannya. Dadanya begitu sesak oleh kesedihan yang sama seperti saat ia kehilangan Bianca dulu. Dua kali terpuruk oleh cinta membuat Robert benar-benar terpukul.
“Loh ngga tunggu sampai acaranya selesai kak atau paling tidak memberi selamat pada kak Lila?” ujar Alfi tak berperasaan.
“Sampaikan saja salam dan permintaan maafku pada Lila Fi.” ucapnya nyaris tak terdengar.
Mana mungkin ia mengucapkan kalimat itu langsung pada Lila. Ia tak setegar itu. Perlahan ia melangkah gontai menjauh dari kerumunan orang. Lalu menuju ke arah mobil yang diparkir agak jauh. Alfi sebenarnya tak tega menghancurkan hati Robert namun sepertinya ia memiliki sebuah rencana dengan mengatakan itu. Setelah Robert pergi, nampak Lila keluar melongok ke kanan dan ke kiri ke arah kerumunan para tamu di halaman depan.
“Fi apakah kamu lihat Robert datang kemari?”
“Ia kak tapi cuma sebentar dan langsung ia pulang”
“Loh kenapa?”
“Ngga tahu. Barangkali saja ada sesuatu yang tertinggal?” ujar Alfi sambil mengangkat bahunya.
Duh… ngapain dia pergi sebelum menemui aku pikir Lila sebal. Padahal ia berharap sekali Robert bisa ia perkenalkan dengan para sahabatnya di sini. Alfi melihat wajah Lila yang cemberut. Tapi Ia tahu Lila tak mungkin menelpon Robert karena gengsinya yang terlalu tinggi.
***************************
Sudah satu minggu sejak malam itu Robert tak pernah terlihat muncul di Klinik. Bahkan tak pernah lagi ia menelpon Lila. Bahkan mengirim sms-pun tidak. Padahal biasanya setiap hari ia rajin menelponnya walau hanya sekedar buat mengatakan hal-hal yang sepele. Apakah Robert sakit? pikir Lila. Entah kenapa ia malah memikirkan pemuda itu. Ia justru rindu akan ‘gangguan-gangguan’ yang kerap Robert buat selama ini. Namun egonya terlalu tinggi buat menelpon balik atau menanyakan ke perawat di situ. Tapi semakin ia berusaha tak memikirkan pemuda itu ia semakin sering melihat bayangan Robert melintas di dalam pikirannya. Lila tak tahu apakah ia sebenarnya telah jatuh hati pada Robert meski ia berusaha menyangkalnya. Perasaan ini sungguh berbeda dengan perasaannya terhadap Alfi. Ia sebenarnya tak yakin perasaannya terhadap Alfi adalah cinta sejati wanita terhadap seorang pria. Alfi muncul ditengah-tengah kekecewaannya selama bertahun-tahun terhadap penghianatan Erik. Hingga tanpa sengaja suatu pristiwa menyeret ia dan Alfi dalam pertualangan seks yang membara tanpa akhir. Memang Alfi-lah yang pertama membuatnya merasa membutuhkan kehadiran seorang lelaki bagi dirinya. Namun berjalan waktu ia sadar cinta tak sesederhana itu. Cinta tak hanya melulu seks walau pada kenyataannya seks dapat membuat cinta berantakan seperti halnya yang hampir terjadi pada sahabatnya Niken dan suaminya Donnie. Ia tak dapat mencegah cintanya terhadap Robert mengalir ke dalam sanubarinya. Dan kini setelah pemuda itu tak menghubunginya maka timbul rasa kehilangannya. Apakah Robert sudah bosan mengejar-ngejar dirinya atau jangan-jangan pemuda itu sudah menemukan wanita lain dan mulai melupakannya. Entah mengapa tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul di dalam hatinya dan ia merasa setitik kecemburuan melanda hatinya ketika  membayangkan Robert bersama dengan wanita lain. Kini rasa rindu tadi membaur dengan rasa kekuatiran. Lila benar-benar gelisah hari itu. Konsentrasinya menangani pasien menjadi  terganggu oleh hal ini. Akhirnya ia tak dapat menahan hasratnya buat mencari tahu keberadaan pemuda itu. Lila berpikir sebaiknya ia menanyakan hal tersebut langsung pada bu Helen ketimbang pada staf di sana. Awalnya ia ragu untuk mengetuk pintu ruangan bu Helen.
“Ma..suukk hk..hk” suara wanita itu terdengar begitu sengau.
Lila masuk ke dalam namun heran melihat ke dua mata Bu Helen yang basah oleh air mata.
“Apa yang terjadi bu?”
“Robbie nak…ia berangkat ke Somalia. Tanpa sepengetahuan aku dan ibunya ia mengajukan diri ke badan kesehatan PBB buat mengikuti misi kemanusiaan Hu huuu”jelas wanita tua itu dengan tersedu-sedu.
Somalia?…bukankah ini daerah yang masih dipenuhi oleh konflik antar etnis yang tak selesai-selesai hingga sekarang? Mengapa Robert mau mendatangi Negara yang memiliki pemerintahan kacau seperti ini? bagaimana dengan jaminan keselamatannya saat berada di pelosok-pelosok pedalaman benua Africa itu? Mengapa Robert sengaja membuang dirinya ke arena pembantaian manusi dimana anak-anak kecil dengan bebas memanggul senjata api di Negara itu.
“Anak itu sepertinya sudah lelah dan putus asa dalam mengejar cintamu yang tak kunjung ia dapatkan.Tak ada yang bisa mencegah ia pergi. Hatiku benar-benar sedih…mengapa ini harus terjadi pada satu-satunya lelaki keturunan keluarga kami”
“Di..mana Robbie sekarang bu?”
“Terlambat buat mencegahnya La, kupikir setengah jam lagi pesawatnya sudah take off hu hu hu”
Lila bergegas keluar dari ruangan. Beberapa perawat di sana terbengong melihat dokter cantik itu begitu tergesa-gesa sekali berlari menuruni anak tangga. Saat di depan Klinik ia melihat Alfi yang baru datang menjemputnya.
“Fi ikut kakak sekarang” ujarnya menarik tangan Alfi ke arah di mana mobilnya sedang parkir.
“Kemana kita kak? Kok terburu-buru sekali?”
“Ke bandara Fi. Kita harus menyusul Robert sebelum pesawatnya berangkat”
Sesampai di tempat parkiran, Lila menjadi kesal bukan main ternyata ia tak mungkin dapat mempergunakan mobilnya karena ada beberapa mobil lain yang sedang parkir dan menghalangi.
“Aduhhhhh….bagaimana ini?”ujar Lila kasar bercampur panik
“Pakai taxi saja kak” ujar Alfi.
“Ya betul Fi” mereka berlari ke pinggir jalan raya dan menghentikan sebuah taxi kosong yang sedang lewat.
“Pak cepat ya! ke bandara” ujarnya pada si sopir taxi.
Sepanjang perjalanan menuju bandara Lila hanya diam dan tak berkata-kata. sementara air mata meleleh dari pelupuk matanya. Berkali-kali ia melihat ke jam tangannya dengan penuh kegelisahan. Hal tersebut tak luput dari penglihatan Alfi. Namun herannya bocah itu malah tersenyum-senyum sendiri. Taxi yang membawa mereka meluncur dengan cepat hingga tak terasa dalam waktu dua puluh lima menit merekapun sampai di tempat tujuan. Sesampai di Bandara Lila langsung berlari ke arah dalam bagian keberangkatan namun ia di cegah oleh petugas karena tak dapat menunjukan tiket atau boarding pas.
“Paaak tolong izinkan saya masuk, saya mohoon” ujarnya memelas
“Siapa yang ibu cari? Kemana tujuannya?”
“Su..ami saya pak. Dia mau ke Afrika”
“Waduhh…telat ibu. Lima menit yang lalu para penumpang sudah naik ke pesawat”
Lemaslah Lila mendengar penjelasan petugas itu. Apakah hal ini memang sudah nasibnya selalu gagal menggapai cintanya Lila tak tahu. Namun hatinya begitu perih oleh kesedihan. Kesedihan kali ini bahkan lebih menyakitkan ketimbang saat ia ditinggalkan oleh Erik dulu.
“Tunggu dulu…Apakah bapak itu yang sedang ibu cari? Penumpang yang satu itu belum naik ke pesawat karena tidak memiliki boarding pass, yang katanya tercecer di toilet” ujar petugas tersebut menambahkan.
Benar saja Lila melihat Robert bersama-sama beberapa orang petugas kebersihan bandara sedang mondar-mandir di sekitar WC bandara. Jantung Lila berdetak kencang. Tapi ia menoleh terlebih dahulu ke arah Alfi.
“Susul dia cepat kak, Alfi rela mengalah demi kebahagiaan kakak” ujar Alfi tersenyum.
Lila berlari ke arah kerumunan orang-orang tersebut. Tak ada dapat mencegahnya lagi. ia telah yakin dengan keputusannya saat ini.
“Bert!!..”pekiknya
Robert menoleh ke belakang. Meski  terkejut, wajahnya yang kuyu berubah cerah di saat mendapati pujaan hatinya datang menyongsong dan  langsung memeluknya erat sekali.
“La…Kamu?” pemuda itu nampak kebinggungan  bercampur bahagia.
“Kau mau mati konyol?! Kau jahaaat!! Kenapa kau meninggalkanku?! kupikir kau sungguh-sungguh mencintaikuuu..ternyata kau sama saja dengan pria lain huuu huu” Lila tak dapat membendung tangis dan kekesalannya sambil memukul-mukul dada bidang pemuda itu. ia sadari rasa cinta tumbuh di hatinya sedemikian besar terhadap pemuda ini sehingga dapat mengalahkan rasa malu-nya, gengsi-nya yang tinggi, ego-nya yang besar dan semua hal-hal yang menghabat curahan cintanya.
“La? a..ku tak mengerti? bukankah kau lebih memilih Donnie sebagai calon suamimu?”
“Si…apa yang mengatakan itu? Donnie kan suami sahabatku Niken. Tu..nggu dulu!” Tangis Lila berhenti. Otaknya yang cerdas baru merasakan ada sesuatu yang tidak beres di sini. Lila menoleh ke kanan dan kiri mencari-cari Alfi. Tapi sepertinya anak itu sudah kabur dari sana entah kemana. Ia yakin sekali kalau semua ini pasti adalah ulah anak itu.
“Ja..di semua itu tidak benar?” tanya Robert yang semakin bingung.
“Orang-orang mengatakan kau adalah lulusan terbaik dari universitasmu tetapi ternyata kau begitu bodohnya sampai dikibuli oleh seorang anak-anak. Seharusnya kau mengecek kebenarannya padaku saat itu juga”
“A..ku  memang bodoh La. Aku terlanjur shok dan down ketika mendengar hal tersebut.”
“Bert jangan pergi. A..ku bersedia menjadi istrimu”
Bola mata Robert membesar mendengar sendiri permintaan tersebut meluncur dari bibir wanita pujaannya itu.
“La apakah saat ini aku tengah tak bermimpi? Be..narkah kau mau menerima aku?”
“Aku cinta padamu Bert” ujar gadis itu tanpa ragu-ragu mengucapkan cinta terlebih dahulu pada seorang pria.
“Ohhh La ..Lila sayang. Aaa..ku tak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa bahagia ini” Robert begitu gembiranya seakan tak percaya dengan kenyataan tersebut.
“Kau… tak terlihat seperti pria yang berpengalaman menyenangkan wanita seperti di dalam rekaman videomu” ujar Lila menatap bola mata lekat-lekat pemuda pilihan hatinya itu.
Kali ini Robert tak ragu lagi buat menerkam tubuh Lila dan mendaratkan ciumannya pada bibir gadis itu. Ciuman penuh kerinduan dan kasih sayang sehingga Lila sulit bernapas. Meski demikian Lila membalas ciuman itu. Ia tak peduli mata para pengunjung bandara tertuju kepada mereka berdua. Begitupun Lila ia benar-benar yakin Robert adalah cinta sejati bagi dirinya.
“La, aku akan datang kepada ibumu buat melamar dirimu hari ini juga. Lalu kita ke ibu-ku setelahnya” Ujar Robert mantab setelah ciuman mereka terlepas.
“Oh Bert benarkah? Tapi … Ibu sudah tahu kalau aku hamil oleh perbuatan Alfi. Entah apa katanya nanti”
“Serahkan semuanya padaku, kau jangan banyak bicara saat di depan beliau”
Mereka berjalan sambil berangkulan mesra, keduanya bagai tak ingin berjauhan lagi barang sekejapun. Hingga akhirnya mereka tiba di tempat antrian taxi . Di sana si Alfi terlihat sedang asyik melahap sepotong donat dengan wajah  belepotan coklat.
“Hai ..kak mau donat? tadi Alfi beli selusin buat kita bawa pulang” ujarnya tanpa rasa bersalah.
“Kau benar-benar keterlaluan Fi! Hampir saja aku mati konyol di sebuah negeri antah belantah itu. Apakah kau tak berpikir akan akibat yang bakal kau timbulkan?” ujar Robert tersenyum kecut. Akal sehatnya menyadari kalau sebenarnya  Somalia memang tempat yang sangat mengerikan.
“He he..Sebenarnya Alfi juga tak menyangka kakak akan separah itu mau berkumpul sama cewek-cewek Afrika. Tapi kan ngga jadi kak. Lagian kan kakak bisa saja pulang lagi saat tiba di Singapore. Kalau tidak seperti ini caranya bagaimana mungkin kakak berdua bersatu”
“Ternyata otakmu encer juga Fi, tapi kau tak cemburu kan aku jadi suami kak Lila-mu?”
“Kekasih Alfi kan banyak kenapa harus cemburu? He he”
“Makasih ya Fi, kamu sudah mau berkorban demi kebahagiaanku” ujar Lila yang masih mengglayut manja di dalam pelukan Robert.
“He he iya kak. Alfi juga bahagia sekali melihat kakak mendapatkan jodoh yang sepadan”ujar alfi tulus.
Dari bandara mereka langsung berangkat menuju kota H buat menemui ibu Lila. Wanita tua itu sempat kaget bercampur bahagia mendengar Robert akan menikahi Lila.
“Tapi mengenai kandungan Lila nak Robert”
“Maafkan saya  bu. Saya memang sudah membuat susah ibu dan keluarga selama ini. Saya sadar seharusnya memang sejak beberapa bulan yang lalu saya bertanggung jawab agar Lila tak bertambah menderita”
“Loh jadi itu anakk..?”
“Iya bu kehamilan Lila adalah akibat perbuatan saya. Bukan Alfi seperti yang ibu duga selama ini.”
“Tet..tapi mereka sering…?” Ibu Lila masih ragu dengan penjelasan Robert. Meskipun ia tak pernah melihat secara langsung Lila dan Alfi melakukan kemesraan. Namun ia tahu Alfi sering berlama-lama dalam satu kamar dengan Lila saat di kota H tempo hari.
“Lila dan Alfi sengaja berpura-pura menjalin kemesraan hanya karena Lila takut ia mempunyai bayi tanpa ayah”
“Ahhh…kalian anak-anak muda jaman sekarang memang selalu membuat binggung orang tua saja!” ujar ibu Lila lega mengetahui ternyata Lila putrinya memiliki pergaulan yang normal dan akhirnya Lila memenuhi harapannya menikahi putra sahabatnya itu. Kalimat terakhir Robert itu ternyata mampu meyakinkan ibu Lila.
“Ibumu harus segera diberi tahu berita bahagia ini nak sehingga penikahan kalian segera dapat dilangsungkan”tambahnya lagi.
“iya bu” ujar Robert sambil memandang wajah calon istrinya yang terus tersenyum dalam kebahagiaan
***************************
Tak menunda-nunda lagi dan hanya dalam waktu dua minggu Lila sudah resmi menyandang predikat sebagai nyonya Robert. Robert menawarkan pesta resepsi yang mewah namun Lila menolaknya dan memilih sebuah pesta sederhana yang diadakan dirumah ibunya dengan mengundang beberapa kerabat dekat dan tamu tertentu saja. Lila beralasan tak ingin perutnya yang mulai membuncit terlihat oleh  tamu yang hadir bila mengunakan gaun pesta yang mewah. Lila tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Bibirnya selalu tersungging senyum dan tawa disepanjang acara berlangsung. Orang-oramg yang hadir begitu kagum akan kecantikan terpancar sempurna dari wajahnya. Lengkap sudah semua kebahagiaan yang ia  tunggu selama ini. Begitupun dengan kegelisahannya selama ini membayangi hatinya telah sirna oleh hadirnya seorang suami yang sesempurna Robert. Sang bunda, ibu mertuanya beserta Helen terlihat begitu bangga dan bahagia akan pernikahan itu. Begitupun dengan Niken sang sahabat tercintanya dan yang lainpun ikut merasa berbahagia buat Lila. Malam pertama yang ditunggu-tunggu itu-pun akhirnya tiba. Percintaan itu berlangsung dengan sangat panas. Robert sempat kewalahan menghadapi gairah istri cantiknya itu yang tak kunjung usai. Ledakan gairah berbaur dengan kasih dan cinta menjadikan sepuluh kali orgasme tak juga meredakan Lila. Sampai-sampai Robert harus menyusupkan Alfi ke kamar pengantin mereka  buat memuaskan Lila. Anak itu awalnya menolak karena tak mau menjadi pengganggu bagi pasangan berbahagia itu lagi namun karena Robert memohon-mohon terpaksa ia menurutinya. Lila sempat merasakan sakitnya percintaan di malam pertama saat Robert ‘memerawani’ anusnya. Dan di malam itu pula Lila untuk pertama kalinya ia juga merasakan keindahan  dalam himpitan dua tubuh pria yang dicintainya secara berbeda itu.
**********************
Satu minggu kemudian
Di sebuah kamar Cottage ‘BB’ pantai Khao Lak
Propinsi Phang Nga sekitar 87 km dari Phuket, Thailand.
Pukul lima sore waktu setempat.
Villa
Villa
Saat itu Robert sedang terlentang di sebuah sofa empuk tanpa busana alias telanjang bulat sementara jemarinya mencengram penisnya yang sudah sangat tegang. Nampak kepala penisnya basah mengkilap oleh lendir mazi yang memancar tiada henti  dari ujung lubang kencingnya menandakan ia sedang terangsang hebat.. Sudah satu jam-an ia menghajar penisnya tanpa henti dengan kocokan-kocokan dan dalam kurun waktu tersebut beberapa kali ia berhenti sejenak buat meredakan hasratnya buat berejakulasi. Napas pemuda itu begitu memburu dan wajahnya pucat karena menahan desakan buat berejakulasi. Permukaan penisnya sudah berwarna merah tua ke unguan akibat dipenuhi oleh kumpulan pembuluh darah yang menegang. Rasa gatal nikmat menjalar ke seluruh bagian alat vitalnya. Robert masih menunggu  momen yang tepat buat ia berejakulasi. Adegan demi adegan yang  mendebarkan masih terus menerus terhidang di hadapannya. Di atas ranjang berseprey putih bersih, nampak Lila, wanita cantik yang baru ia nikahi beberapa hari yang lalu, terlentang dalam keadaan telanjang, merintih kenikmatan, dan segera mengalami orgasmenya, di dalam dekapan dua orang pemuda tanggung berkulit gelap berusia sekitar lima belasan, yang memasukan penis berukuran panjang lima belas senti milik mereka secara bersamaan ke dalam liang senggama Lila. Bhichai si anak nelayan asal Phang Nga itu mendekap Lila dari belakang, ia memiliki ukuran penis sedikit lebih panjang dari temannya itu. sementara Parnchand mendekap pinggang Lila dari depan sambil merintih–rintih keenakan. Kedua pemuda ini baru satu jam yang lalu melepas keperjakaan mereka pada Lila sehingga wajar saja keduanya begitu liar dan ketagihan terus-terusan menyetubuhi Lila. Parnchand, pemuda itu bahkan tak pernah lagi menarik lepas penisnya dari liang senggama gadis itu sehingga terjadilah kejadian seperti saat ini. Bhincai yang memang mendapat giliran pertama hampir menangis karena temannya itu tak memberinya kesempatan ke dua buat memasukan penisnya lagi lalu nekat mendesakan penisnya ke liang yang sama.
Robert puas meski harus merogoh koceknya agak dalam buat mendapatkan pemuda sesuai dengan keinginannya. Kedua pemuda itu benar-benar tak berpengalaman dan masih perjaka ting-ting meski demikian harga belinya jauh lebih mahal ketimbang seorang gigolo pro yaitu sebesar 8000 Baht atau sekitar tiga juta rupiah. Saat tiba di hotel siang tadi, kamar mereka di datangi seorang pelayan wanita yang khusus mengurus kebutuhan syahwat para tamu mereka. Wanita itu menyodorkan sebuah foto album berisikan foto para gigolo yang mereka bina secara professional . Semuanya memiliki sertifikat bebas menderita HIV. Awalnya Lila jengah dan tak menyangka Robert memberinya kejutan besar seperti ini. Pantas saja Robert berani mengajaknya berangkat berdua saja tanpa Alfi ikut serta. Rupanya ia sudah merencanakan ini buatnya. Robert memang ingin bulan madu nya bersama Lila dapat memberikan kesan yang mendalam dan tak terlupakan bagi Lila. Tapi mengingat kandungannya sudah memasuki usia empat bulan Lila agak takut-takut  melakukan itu.
“Ibu bisa melakukan cara doggie atau gaya lain dimana kekasih pilihan ibu berada di belakang” wanita itu berkata dalam bahasa ingris memberikan sarannya.
“ba..gaimana inii?”Tanya Lila dengan perasan bercampur aduk antara rasa kuatir, malu dan kepingin.
“Semua terserah kamu manis, kamu mau pilih yang mana?”
Lila membolak balik halaman album sambil menggigit bibirnya.Foto berukuran besar menampilkan pemuda remaja  yang rata-rata berusia remaja seusia Alfi dalam terlihat kondisi telanjang bulat dengan penis mengacung. Ada beberapa yang memiliki kemaluan hampir menyamai milik Alfi. Lila tergelitik dan menatap lama foto dua orang pemuda yang berlebelkan tulisan ‘virgin’ di bawah fotonya.
“kamu mau dia say?”
“Enga ahh” ujar Lila malu-malu.
“Nona, saya pilih anak ini” ujar Robert pada wanita itu. “Dan…..temannya yang ini” Robert menunjuk lagi seorang pemuda lainnya.
“Robbieee?” Lila kaget melihat Robert memberinya supraise lain.
“Ngga pa pa sayang, mereka berdua toh masih perjaka. Mereka belum tentu mampu memuaskan bila sendirian.Besok-besok aku mau kamu cobain ‘Charan’ anak yang penisnya paling gede di foto itu”
Kembali ke pada keadaan dimana Lila sedang digumuli ke dua perjaka itu. Lila sendiri dalam keadaan melayang ke langit ke tujuh. Baru kali ini vaginanya terasa sedemikian penuh karena harus di desaki oleh dua buah penis sekaligus.
“Robbieeeee……Ouggggghhhh” pekik Lila sambil mendekap tubuh Parnchand yang berada dihadapannya erat-erat. Orgasme besar melanda dirinya. semua otot-otot panggul dan sekitarnya berkontaksi hingga kebagian dalam liang senggamanya.
“Aoooooooo… โปรดปราน!!!!!”
Kedua pemuda itu menjerit bareng ketika cicin-cincin yang terdapat di sepanjang liang senggama wanita cantik dipelukan mereka itu mencengkram dan menghisap penis mereka bagai sebuah kompresor. kenikmatan menyengat pada seluruh syaraf-syaraf yang tersebar pada batang-batang penis mereka. Dan ketika aliran sperma menjalar di sepanjang saluran kencing mereka tak ada kemampuan bagi mereka berdua buat menahannya. Beberapa detik kemudian penis Parnchand lebih dahulu memuncratkan cairan kenikmatannya lalu di susul oleh Bhichai. Pancutan demi pancutan sperma susul menyusul memancar dari lubang pipis kedua pemuda itu. Begitu melimpah, kental, dan lengket. Parnchand ambruk. Rasa-rasanya ia tak mungkin punya stock sperma buat di semprotkan lagi. Ia memang paling sering muncrat ketimbang temannya. Bhincai mendorong tubuh Parnchand ke samping menjauh dari tubuh Lila. Namun ketika Bhincai hendak menindihnya Lila malah bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi. Lila tak menghiraukan keinginan anak itu buat menyetubuhinya. Nyaris tiga jam-an dalam antrian dan kukungan kedua pejantan muda itu membuat tubuhnya begitu penat dan terasa lengket. Lila ingin membersihkan diri terlebih dahulu agar merasa lebih nyaman.
“Kau belum mau mengeluarkannya?” tanya Lila sambil tersenyum nakal ketika melintasi suaminya yang belum rela membuang spermanya meski penisnya sudah terlihat membiru keunguan.
“Aku baru akan menumpahkannya di akhir petualangan malam ini sayang”
Tanpa Lila ketahui Bhincai-pun menyusulnya masuk ke dalam kamar mandi. Ia berdiri di samping kotak shower di mana Lila sedang asyik mandi di bawah pancuran air shower. Gadis itu terkejut melihat keberadaan anak itu. Anak yang satu ini belum puas pikir Lila. Ia seperti pingin sekali segera bersetubuh lagi itu terlihat dari wajahnya yang kampungan itu.
“Come here…” ujar Lila segaja mempergunakan bahasa ingris berharap anak itu mengerti maksudnya sambil menarik tangan anak itu ke bawah siraman air shower. Bhincai langsung merapatkan tubuhnya ke tubuh gadis itu. Ia tak dapat menahan diri melihat keindahan payudara Lila yang mengantung bagai buah melon kembar  dihadapannya. Bagai seekor kalong yang menemukan buah yang matang di pohon ia  meyergap dan menghisap daging mungil berwarna merah muda itu dengan kuat. Tubuh tinggi semampai Lila lebih jangkung sepuluh sentian darinya sehingga Bhincai kesulitan buat menjejalkan penisnya ke dalam belahan vagina Lila. Lila membiarkan anak itu ‘berusaha’ sendiri buat menemukan jalan masuk ke dalam tubuhnya. Tiga..empat lima kali ia mencoba mencobloskan ujung penisnya yang bulat itu bahkan dengan menjinjitkan kakinya namun hasilnya tak juga memuaskan. Sesekali ia berhasil masuk namun kembali dengan cepat penisnya terlepas lagi karena goyangan tubuh Lila.
Lila tersenyum geli mendengar gerutu kesal yang tak dimengertinya dari anak itu. Puas ia mengoda hasrat anak itu. Sambil  bersandar pada dinding di belakangnya ia menekuk lututnya sehingga bagian pinggulnya perlahan merendah ke ukuran yang ideal buat  bocah thai itu mempenetrasinya.
Cleeppp!!!
“Ohhhhh… Bhincaiiii” pekik Lila Lirih. Ketika penis anak itu berhasil bersarang dengan sempurna di dalam vaginanya. Bhincai mengocok dengan cepat meskipun ia tak begitu merasa nyaman dengan posisi ini karena dengkulnya sedikit gemetaran. Lila mengimbangi gerakan anak itu dengan memutar pinggulnya bagai goyangan yang sering di pertunjukan oleh salah seorang artis ibukota. Ternyata ada juga faedahnya gerakan tersebut bila dipergunakan ditempat yang semestinya pikir Lila.  Alhasil Bhincai-pun menjadi melolong-lolong keenakan. Ctap!..ctap!…ctap Bhincai menghentakkan pinggulnya lebih cepat lagi. Sesuatu yang nikmat dan sejak tadi ia tunggu kembali mendesak untuk keluar dari ujung kemaluannya. Lila menarik lepas mulut Bhincai dari putting payudaranya lalu mengantinya dengan ciuman yang panas. Mata Bhincai yang terpejam sontak terbelalak ketika Lila mengunakan seluruh kekuatan otot-otot kemaluannya. Kenikmatan itu sudah sampai pada puncaknya dan tak dapat ia tahan lagi.Tangan anak itu mendekap pinggang Lila erat. Bhincai melakukan hujaman terakhir disertai dengan semburannya air kenikmatan dari alat kelaminnya. Crott…crutttt..cruttttt, Meski ejalulasinya telah tuntas namunBhincai masih memeluk Lila dalam keadaan berdiri. Tautan kemaluan mereka sudah  terlepas ketika Lila tak lagi bertopang pada lututnya. Sambil membersihkan diri Lila juga membasuh penis anak itu. menyabuninya sehingga perlahan benda yang sempat mengecil itu kembali berdiri dengan kaku dalam remasan jemarinya. Lila sering melakukan itu pada Alfi bila mereka mandi bersama dan setelah itu biasanya mereka pindah ke kamar tidur dan melanjutkan persetubuhan di atas tempat tidur. Sepertinya Lila ingin melakukan hal yang sama pada Bhincai. Ia tahu  Bhincai sudah siap buat memberinya sebuah orgasme yang kuat di atas ranjang.
“Maaf.. bolehkah aku masuk sayang?” terdengar suara Robert yang ikut masuk kedalam kamar mandi.
“Sayanggg?…kamu mengintip kami? Dan Oh…. kamuu sudahh…” tanya Lila setelah melihat melihat batang penis suaminya yang sudah belepotan dengan sperma. Ini kali kedua Robert mengintip dirinya sedang bercinta setelah kejadian bersama si Alfi di klinik tempo hari.
“Oh.. La..kamu memang istri yang aku idam-idamkan. Maafkan aku telah lancang mengintip kalian ” ujar Ribert mengecup kening istrinya dengan penuh kelembutan.
Ternyata Robert memang telah lama mengintip persetubuhan lanjutan yang panas antara istrinya dan Bhincai sejak tadi. Hingga akhirnya berejakulasi di balik pintu kamar mandi. Robert lalu nampak berbicara pada Bhincai dalam bahasa Thai. Robert sempat mempelajari dan menggunakan sedikit-sedikit bahasa itu sejak bergaul dengan Bianca dulu.
“Ada apa sayang?” tanya Lila  melihat perubahan pada wajah anak itu yang terlihat agak kecewa.
“La, sepertinya mereka sudah harus berkemas karena ini sudah waktunya mereka pulang”
Jam sepuluh malam waktu bagi ke dua pemuda itu dijemput kembali oleh orang yang mengantar mereka sore tadi untuk di antar pulang ke rumah mereka masing-masing.
Robert menjelaskan jika jasa mereka tak dapat di nikmati hingga pagi harinya meski ia mampu untuk membayarnya. Ini sudah perjanjian antara si germo dengan orang tua mereka. Anak-anak lelaki remaja di sana harus berada di rumah buat membantu ibu mereka memilah-milah ikan hasil tangkapan ayah mereka keesokan paginya.
“Tapi punya Bhincai masih kaku dan sepertinya ia masih pingin lagi juga” rengek Lila
“Kita harus mentaati perjanjian dengan keluarga mereka. Lagian otot-otot Penis muda mereka sudah kelamaan tegang La, jika kau paksakan mereka bakal kesakitan” bujuk Robert pada istrinya yang masih dipenuhi gairah bercinta itu.
Meski agak kecewa Lila harus melepas ke duanya pulang. Lila menolak ketika Robert mencoba menawarkan jasa seorang pria lain yang lebih dewasa. Ia tak ingin mengambil resiko keguguran. Bukankah masih ada hari esok dan Toh masih ada Robert suami tercintanya yang akan mengaulinya malam ini pikirnya.
****************************
Pukul 01.00 malam waktu setempat
Malam semakin larut Lila tak juga mampu memejamkan mata. Gairahnya masih menggelora belum tertuntaskan oleh kejantanan Robert. Belum apa-apa ia jadi rindu  pulang. Ia rindu akan kejantanan Alfi. Hanya anak itu yang mampu memuaskannya.
Perlahan ia bangkit dari tempat tidur. Lila pergi ke teras buat menikmati pemandangan malam yang diterangi bulan. Tiba-tiba pandangannya menangkap sosok seseorang yang sedang duduk di atas pasir tak jauh dari kamarnya. Meski secara samar-samar Lila  dapat mengenali orang tersebut.
“Bhincai?” bisik Lila. Gadis itu memakai kimononya lalu turun ke lantai bawah. Ia sengaja tak membangunkan Robert yang sedang tertidur pulas di tempat tidur. Lalu berjalan menuju ke arah pantai.
Benar saja orang itu memang Bhincai adanya. Namun ia terlihat seperti takut-takut saat melihat Lila. Ia baru berani mendekat setelah Lila memberi isarat dengan tangannya. Meski agak ragu-ragu ia akhirnya datang menghampiri Lila
“Kamu kembali lagi?”Tanya Lila padanya meski ia tak yakin anak itu mengerti apa yang ia ucapkan..
Tiba-tiba anak itu meraih tangannya dan menariknya menuju ke rerimbunan semak.
Lila tahu apa yang anak itu inginkan. Ia dapat melihat celana usang anak itu menonjol menandakan ia sedang berereksi dengan kerasnya. Anak ini nekat berjalan kaki menempuh jarak lima kilometer hanya buat kembali menemuinya malam ini buat melakukan persetubuhan dengannya. Lila menduga Bhincai tak dapat jatah yang cukup saat bersetubuh dengannya sore tadi. Ia tahu Bhincai pasti ketagihan setengah mati pada pesona liang vaginanya. Karena tak ingin mengecewakan harapan anak itu dan ia sendiri memang sedang menanti seorang penjantan buat menuntaskan gairahnya yang masih membara maka Lila menurut ketika anak itu merebahkan dirinya di atas tanah berpasir lembut.. Ini bukan lagi sewa menyewa. Kali ini baik Lila maupun Bhincai akan memperoleh manfaat yang besar dari hubungan yang gratis ini!
Dengan sekali singkap kimono Lila terbuka sehingga tubuh indah itu terlihat bercahaya di sirami oleh sinar rembulan begitupun dengan Bhincai yang tergesa-gesa melepas kaus dan celana usangnya dan melemparkannya jauh-jauh. Lila tahu pemuda ini sangat tidak berpengalaman. Ia tidak seperti Alfi. Namun Lila justru menikmati keluguan pemuda ini. Tak ada Foreplay. Bhincai langsung membenamkan penisnya ke dalam liang cinta yang telah merengut keperjakaannya tadi sore itu. Benda itu menancap sempurna namun masih terlalu jauh untuk dapat menggapai dasar vagina Lila. Bagian itu hanya dapat di sentuh oleh ujung kulup si Alfi. Bhincai terpekik tertahan ketika Lila menggunakan kembali otot-otot kewanitaannya buat mencengkram penisnya. Penis muda itu terhisap kencang  seakan vagina itu bergerak menelannya bulat-bulat. Nikmatnya bukan kepalang. Sensasi  ini yang membuatnya ketagihan sehingga ia ingin selalu terus mengulang-ulang merasakan persetubuhan dengan wanita ini. Lila membiarkan anak itu mengumulinya dengan liar. Pantat kecil bulat itu berayun-ayun ketika ia mengeluar masukkan penisnya dengan cepat seperti sebuah piston. Satu menit berjalan anak itu mendekap Lila erat. Penis mudanya berdenyut hebat dalam sedotan liang senggama Lila lalu memuntahkan sperma kental. Crott…crott..crott..crot…Bola mata  Bhincai mendelik begitu ia berejakulasi. Tubuh ramping anak itu terhentak hentakan dalam dekapan tubuh sintal Lila hingga orgasmenya tuntas. Terbayar sudah usaha kerasnya berletih-letih berjalan kaki dari dusunnya hingga kemari buat mendapatkan kenikmatan dari Lila malam ini. Ia senang sekali sebab kali ini tak ada si serakah Parnchand yang bakal mengganggunya. Ia dengan tenang dan bebas dapat menikmati tubuh si cantik ini sepuasmya.Wow….Bhincai….ia masih terus memompa Lila meski baru saja berejakulasi. Penisnya masih berdiri kukuh. Anak itu memiliki gairah dan daya tahan yang lebih kuat ketimbang temannya si Parnchand. Bhincai-pun cepat mengerti apa yang di inginkan Lila ketika gadis itu menarik kepalanya menuju ke arah bagian payudara. Mulutnya segera menerkam putting susu berwarna merah dihadapannya lalu menghisapinya secara bergantian dengan liar.
Setelah sekali berejakulasi tadi, Bhincai terlihat bisa bertahan lebih lama. Hal tersebut akhirnya mampu membuat Lila mulai merasakan kenikmatannya. Semakin lama  kenikmatan itu semakin menyengat. Penis ramping anak itu ternyata cukup mampu mendatangkan rasa nikmat baginya. Dan Lagi-lagi! Bhincai terpekik lirih. Penisnya kembali tersentak dan kali ini berbarengan dengan datangnya orgasme Lila.
“Oggghhhh… Bhincaiiiiiiiii” pekik Lila tertahan.
Orgasmenya datang bagai gelombang air pasang yang menyapu kesadarannya. Ini sebuah orgasme yang begitu kuat meski dihasilkan oleh sebuah penis yang tak begitu besar. Sensasi keliaran di alam terbuka seperti ini menjadikan persetubuhan ini begitu mendebarkan yang mampu mendorong sebuah orgasme menjadi lebih kuat dan nikmat. Bhincai baru mereda setelah tiga kali mendapat orgasme yang kuat. Tampaknya stock sperma yang terproduksi sejak ia mengalami puber telah habis tanpa sisa berpindah ke dalam vagina Lila. Sementara Lila memperoleh satu kali lagi orgasme seperti sebelumnya. Gadis itu sangat puas karena hasratnya sudah terpenuhi oleh kehadiran anak itu. Bhincai terlihat meringis karena  merasakan sedikit nyeri mendera testisnya. Ternyata benar apa yang Robert katakan sebelumnya. Lila baru paham anak yang baru kehilangan keperjakaan itu seharusnya tak boleh berejakulasi sedemikian sering pada persetubuhan perdananya. Otot-otot selangkangannya jelas belum terbiasa terus menerus dalam ketegangan. Keduanya masih berbaring berpelukan di atas pasir sejenak meredakan napas mereka yang tersengal-sengal.
“Kamu bakal menjadi penjantan sejati, kelak” bisik Lila sambil mengelus kepala anak itu
Lima menit kemudian Bhincai mencabut lepas batang kemaluan yang mulai menguncup kecil. Air maninya mengalir keluar dari vagina Lila dan tumpah di pasir.  Lalu ia mengecup ke dua pipi Lila seakan-akan mengucapkan pamit sekaligus rasa terima kasihnya pada wanita yang telah mengenalkannya dengan dunia kedewasaan itu. Lalu dengan agak terpincang-pincang karena kedua dengkulnya gemetaran, ia bangkit dan memunguti pakaiannya yang tercecer. Lila masih dapat melihat lambaian tangan pemuda itu kepadanya sebelum akhirnya ia lenyap dari pandangannya di tengah kegelapan malam.
Lila tersenyum-senyum sendiri  merasakan pengalaman yang luar biasa selama di negeri gajah putih ini. Ia kembali ke kamar. Kimononya jatuh ke lantai. Setelah membersihkan diri dari butiran pasir dan sperma Bhincai di kamar mandi, Lalu ia naik ke atas tempat tidur dan kembali menyusupkan kepalanya di dada bidang sang suami tampannya. Tanpa sengaja jemari tangannya menyentuh perut Robert dan menemukan begitu banyak lendir yang lengket di situ. Dari baunya Lila sadar itu adalah cairan sperma yang masih baru di muncratkan dan ia yakin itu bukan milik Bhincai karena ia sudah membasuhnya hingga bersih dari tubuhnya. Ditengah keheranannya  tiba-tiba….“Cup” sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya. Oh…Apakah… suaminya yang gemar mengintip ini tahu apa yang baru saja terjadi? Jika demikian pastinya sperma ini adalah milik….. Akh…Lila tak perduli lagi. Ia kembali menutup matanya dengan sunggingan senyum penuh kebahagiaan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar