Cari di sini, Bos

Memuat...

Sabtu, 21 April 2012

Alfi 6 - Threesome


Udara pagi masih berkabut tipis, jam di dinding menunjuk ke angka 6. Alfi sudah siap berangkat ke sekolahnya bersamaan dengan Dian akan berangkat kerja.
“Ayo fii nanti kita telat!” ujar Dian sembari menstarter mobilnya.
“Sebentar kak!!”
Alfi memagut bibir Sandra sebelum keluar dari pintu depan.
“Emppp…. sudah ahh nanti kamu terlambat” ujar Sandra seraya merapikan kerah baju Alfi yang belum rapi.
Alfi berlari menuju mobil ia masih sempat melambaikan tangan sesaat sebelum mobil yang membawa mereka lenyap dari pandangan Sandra. Pagi itu terlihat Sandra sendirian di rumah sedang menuju ke ruang cuci sambil membawa segelas kopi panas, Ia mulai merendam  seprey kotor berlumuran sperma kering Alfi, sesekali ia menyeruput kopinya untuk menghilangkan rasa kantuk masih membayangi kepalanya. Persetubuhan semalam sungguh menyisahkan keletihan. Alfi.. anak itu menyetubuhi dirinya mulai sejak sore hingga larut malam seperti biasanya. Setiap malamnya selalu Alfi minta persetubuhan.
Untung saja di sini ada Dian, rasanya ia tak akan sanggup meladeni nafsu bocah itu apabila sendirian. Namun terkadang Sandra juga merasa kasihan pada sahabatnya itu. Dian yang masih capek saat pulang bekerja dari kantor tak banyak waktu untuk beristirahat, baik Ia maupun Dian tak dapat pernah dapat menolak apabila Alfi memintanya bercinta malam itu. akibatnya Dian terkantuk-kantuk di kantor keesokan harinya. Terkadang Alfi menginginkan persetubuhan bertiga, meski ia lebih menyukai menggarap mereka berdua satu persatu pada setiap malamnya secara bergiliran. Seminggu yang lalu mereka masih bertiga dengan Nadine menerima jatah ‘digiliri’ oleh Alfi. Namun saat ini kehamilan Nadine  memasuki masa 7 bulan, Sandra dan Didiet tak lagi mengijinkan Alfi mendatanginya.
Sandra
Sandra
Memang Alfi bagai memiliki energi yang besar dan tak pernah lelah. Sandra dan kedua sahabatnya benar-benar dibuat bertekuk lutut oleh kejantannya. Sebenarnya Alfi senang bersetubuh dengan Nadine dalam kondisi payudara gadis itu semakin kencang. Ia sungguh tak sabar menanti kedua puting tersebut mengeluarkan air susu. Dihisapnya puting Nadine kuat-kuat sampai gadis itu terpekik-pekik kegelian.
“percuma saja sayang….kamu harus menunggu sampai putrimu lahir dulu setelah itu baru kamu bisa meminumnya sebanyak mungkin yang kamu mau” terang Niken.

Alfi merasa bangga benihnya tetanam dan tumbuh dalam perut Nadine. Ia memang adalah bapak biologis dari bayi yang dikandung Nadine. Namun Alfi tetaplah anak bau kencur yang belum cukup umur untuk bertanggung jawab sebagai seorang bapak. Suami Sandra, Didiet telah menikahi Nadine dengan maksud menghindari permasalahan yang bakal timbul akibat kehamilan itu. Untuk sementara Nadine tinggal bersama ibunya. Tak seorangpun mengetahui kejadian sesungguhnya kecuali mereka berempat, termasuk ibu Nadine. Ia percaya bayi tersebut adalah dari hasil hubungan putrinya dan Didiet.
Awal kejadiannya bermula saat Sandra datang mengunjunginya beberapa bulan yang lalu. Ia begitu terkejut saat Sandra mengatakan ingin meminang putrinya untuk Didiet.
Sandra merupakan sahabat Nadine sejak kecil. Bahkan Ia dan ibu Sandra merupakan sahabat baik sejak lama. Sandra mengarang cerita yang membuat ibu Nadine percaya. Ia menjelaskan keadaan dirinya yang tak mungkin mendapat kehamilan di sebabkan oleh suatu kelainan genetic. Lebih lanjut ia mengatakan saat ini rumah tangganya di ambang perceraian karena Didit menginginkan seorang anak darinya.
“Nadine sudah setuju akan hal ini, bu. kami hanya tinggal meminta doa restu dari ibu”
“Tapi Nak Sandra..apa sudah tidak ada jalan keluar yang lain, apa kamu mau dimadu oleh sahabatmu sendiri” ujar ibu Nadine saat itu. Ia menganggap anak jaman sekarang suka berlaku yang aneh-aneh.
“Ketimbang  Didiet harus menikah dengan gadis lain, aku lebih rela berbagi dengan sahabat ku sendiri. Bu, tolong saya menyelamatkan perkawinan ini, buu…” mohon Sandra sambil bersimpuh di kakinya.
“Aiihhh…..” wanita tua itu menghela napas lalu berkata lagi.
“Apa kamu dan suamimu sudah memikirkan matang-matang hal ini”
“Sudah, bu”
“Baiklah ibu ijinkan Nadine menikahi suamimu namun ibu mau bertemu dulu dengan Nadine dan juga…… suami egoismu itu dulu! Ibu mau jewer kupingnya dulu.. masa ia tega menelantarkan wanita semolek kamu hanya karena demi keturunan!!”  ujar ibu Nadine sewot.
Sandra tersenyum geli dalam hati , biar Didiet yang menanggung resikonya. Bukankah ini adalah buntut dari fantasi anehnya tempo hari. Ia juga gembira usahanya telah berhasil untuk menyakinkan ibunya Nadine hari ini. Beberapa minggu kemudian pernikahan tersebut berlangsung secara sederhana dan hanya dihadiri beberapa keluarga dekat saja.
———————-
TingtonG!!!!
Suara bel berbunyi nyaring. Sandra melepas celemeknya lalu berjalan menuju ke arah ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Saat daun pintu dibuka sebuah wajah cantik bertubuh tinggi semampai menebarkan senyum ramah ke arahnya.
“Selamat pagi, bu Sandra ya?”
Sandra heran bagaimana wanita ini mengenal namanya, seingatnya ia belum pernah mengenal wanita ini.
“Selamat pagi, ya benar saya Sandra, ibu siapa?”
“Saya Niken, gurunya Alfi bu”
Sandra ia tertegun sejenak saat menyambut uluran tangan tamunya. ternyata inilah gadis yang sempat membuat Alfi sampai jatuh sakit beberapa bulan yang lalu. Anak itu sempat menderita demam tinggi selama satu minggu, Dian mengatakan Alfi habis pergi kemping selama dua minggu dan tahu-tahu pulang dalam keadaan demam tinggi. Saat tidur terkadang terdengar bibirnya mengigau menyebut-nyebut nama Niken berulang-ulang.
Setelah demamnya redapun Alfi lebih banyak diam dalam kesedihan bahkan sempat tidak mau makan. Anak itu baru mau bicara setelah dibujuk-bujuk Sandra dan Dian. Kedua wanita itu terkejut  mendengar penuturan Alfi, mereka sebenarnya agak kuatir jika Alfi sampai melakukan aktifitas seksual dengan perempuan lain selain mereka bertiga dengan Nadine. Alasannya mereka takut semua rahasia dalam rumah ini tersiar keluar. Kini wanita itu sudah berdiri dihadapannya. Pantas saja Alfi sampai tergila-gila setengah mati, ternyata wanita ini memang luar biasa cantik!
“Ohh!!..” Sandra baru menyadari ke bengongannya. “maaf saya lupa mempersilakan anda masuk…mari silakan bu” Sandra mengajak tamunya duduk.
“Sebentar ya …”
“Ngga usah repot-repot bu..”
“Oo..ngga pa pa, engg baiknya jangan panggil saya ibu, cukup Sandra saja, biar kedengaran akrab”
“Ohh..baiklah, kalau begitu panggil saja saya Niken atau Nien”
Tak lama kemudian Sandra kembali sambil membawa segelas teh hangat.
“Silakan diminum”
“Alfi sering membicarakan kamu….Nien” ujar Sandra membuka pembicaraan.
Sambil mengamati gadis dihadapannya. Ia belum mengenal Niken, memang selama ini Alfi telah banyak menggambarkan sifat-sifat gadis ini.
“Benarkah? Bagaimana dengan sekolahnya, apa dia masih sering bolos?”
“kadang-kadang sih, namun sampai saat ini nilai raportnya masih cukup baik, Cuma beberapa bulan belakangan ia jadi agak pendiam”
“Ohh..demikiankah?” Timbul  perasaan bersalah pada hatinya, ia menduga pastilah ia yang menyebabkan anak itu jadi demikian.
Sejak menikah dengan Donie, sudah hampir enam bulan ia tak pernah bertemu lagi dengan Alfi. Dan Ia masih ingat kala itu Alfi menangis menghadapi perpisahan dengannya. Satu bulan sebelum resepsi pernikahan berlangsung Niken telah mengajukan pengunduran dirinya sebagai pengajar di sekolah tempat ia mengajar. Alasannya karena Donie menginginkan istrinya tetap di rumah saja.
“Apakah Alfi pernah mengatakan mengenai hubungan kami padamu?” ujar Niken agak ragu saat menanyakan hal tersebut pada Sandra. Bukan disebabkan perasaan takut namun semata-mata karena malu. Ia sedikit banyak sudah tahu sifat Sandra dari Alfi tempo hari. Alfi pun begitu memuja gadis cantik ini bak seorang dewi. Meski agak ceplas-ceplos Sandra adalah gadis yang hangat penuh kasih sayang.
“Ya…Alfi sudah menceritakan semuanya” jawab Sandra tersenyum geli melihat sikap Niken yang kikuk
Wajah Niken bersemu merah karena malu.
“A..a.ku jadi tidak enak padamu Sand..”
Lalu tanpa diduga air mata Niken mengalir dan Gadis itu mulai terisak-isak. Sandra sungguh terkejut. Ia raih bahu gadis itu lalu memeluknya. Perlahan ia membelai rambut nya Lama tangisnya baru reda. Keakraban menjalar pada keduanya,
“Ngga usah kuatir Nien.. rahasiamu adalah rahasiaku juga..kamu maukan menjadi sahabatku”
Niken mengangguk kecil. Ia begitu terharu atas penerimaan Sandra padanya
“Makasih Sand..”
Setelah berbicara banyak, Sandra dapat menilai ternyata pendapat Alfi selama ini tidak salah kalau Niken adalah seorang gadis yang lembut dan baik hati. Tak ada kesombongan dari nada bicaranya, bahkan tak pernah sekalipun sejak tadi Sandra mendengar ia membicarakan ataupun menjelekan-jelekan orang lain. Bagai dua orang sahabat lama mereka mencurahkan perasan hatinya satu sama lain. keakraban di antara keduanya semakin lama semakin menguat. Sandra sangat menghargai kepercayaan yang Niken berikan, Gadis itu mau berbagi hati dengannya. Perlahan gadis itu menceritakan banyak tentang dirinya, rumah tangganya yang hambar, dan lain-lain. Saat Niken menunjukan foto dirinya bersama sang suami pada Sandra, ia cukup terperanjat melihatnya.
“Di..akah suamiimu..?”
“Ya.. apa kau mengenalnya?
“Suamimu ternyata adalah teman suamiku Didiet sejak lama, meski mereka bukanlah teman akrab. Aku pernah satu kali bertemu dengannya saat menemani suamiku bertugas di kota G tempo hari. Tak kukira ternyata ia adalah suamimu”
Sandra banyak tahu tentang kebiasaan Donie dari Didiet suaminya. Donie gemar bergonta ganti pasangan, terkadang pasangannya hari ini berbeda dengan yang ‘dibawanya’ besok. Padahal Didiet mengatakan bahwa Donie akan menikah dua bulan kemudian. Namun Donie yang saat itu ke kota G bersama seorang gadis muda. Sandra tahu perempuan itu  cuma ‘mainannya’ Donie. Sandra sungguh tak menyukai lelaki seperti Donie. Jika di bandingkan dengan suaminya Didiet , Donie bukan apa-apa.
Didiet memang ‘sakit’ namun ia merupakan suami yang setia dan hangat terhadap istri.
Hubungan seksnya dengan Dian dan Nadine pun atas sepengetahuan dan ijin dari Sandra terlebih dahulu. Sandra sangat menyayangkan jika gadis istimewa seperti Niken menjadi istri pria macam Donie. Namun hatinya senang pada kenyataannya Alfi-lah pria pertama yang telah ‘menjebol keperawanan’ Niken. Lebih lanjut Niken menuturkan kehidupan kamar tidurnya yang hambar.  Meski suka bergonta ganti cewe, ternyata Donie bukanlah seorang suami yang mampu memberikan kepuasan nafkah batin bagi istrinya. Diranjang ia adalah seorang pecundang sejati. Sejak awal menikah ia tak pernah sekalipun memberikan orgasme pada Niken. Malam pertama mereka lalui hanya meninggalkan kesakitan bagi Niken saat selaput daranya robek. Tidak lebih dari itu. Ia lebih sering kalah sebelum bertempur. Paling-paling hanya sempat memasuki istrinya setengah menit ia sudah jebol. Kalaupun ia menebar pesona kesana kemari kepada setiap wanita cantik, itu cuma untuk menutupi kekurangannya sebagai lelaki agar orang melihat dirinya seakan lelaki normal. Ketidakmampuan memuaskan istrinya yang cantik sangat membanting harga diri Donie sebagai lelaki sehingga ia semakin larut dengan prilaku buruknya. Dengan berbagai alasan ia selalu meninggalkan istrinya sendirian di rumah.
Penderitaan Niken bertambah saat sang bunda meninggal dunia satu bulan yang lalu. Ia makin tak ada tempat mengadu dan bagai orang yang kehilangan pegangan dalam menghadapi hidupnya. Namun nasehat ibunya seakan selalu menari-nari di telinganya , bahwa seorang istri yang baik haruslah senantiasa menjalankan kewajibannya melayani suami, meski apapun yang sedang terjadi. Sandra menangkap penderitaan dari wajah Niken. Sungguh ia merasa sangat iba pada nasib gadis itu. Ia bersukur hidupnya lebih beruntung dibandingkan dengan nasib Niken. Setidaknya ia mendapatkan kedua-duanya suami yang setia dan kehangatan badani dari Alfi.
“Aku harap kamu jangan pulang dulu, bukankah tadi kamu bilang  jika suamimu sedang ke kota G?”
“Betul Sand emang kenapa?”
“Tidakkah kamu ingin menunggu Alfi pulang dari sekolah? Atau..kangen pada kehangatannya?”
Niken tersipu malu mendengar bahasa Sandra yang begitu vulgar baginya. Sejak kecil ia diajari bertutur bahasa yang halus, hingga akhirnya ia menjadi seorang pendidik.
“Se…baiknya ja..ngan Sand”
“Nga pa pa Niken manis aku tak cemburu Kok. Perlu kamu ketahui satu bulan ini aku dan Dian hampir semaput meladeni ‘kenakalannya’ di tempat tidur , lagian Alfi pasti kecewa jika kamu tak mau menemuinya.” ujar Sandra sambil menggenggam telapak tangan Niken. Ia ingin Niken dapat merasakan ketulusan hatinya.
“Ta..pi..Sand”
“Ngga ada tapi-tapian kamu sudah terlalu lama ‘puasa’. Aku tak ingin lagi melihat kesedihan pada wajah cantik ini”
Niken tahu Sandra berniat tulus membantunya. Tentu saja ia mendambakan perjumpaan dengan Alfi. Kebersamaannya dengan Alfi dulu telah meninggalkan kenangan indah dan selalu membekas dihatinya. Begitu sulit untuk dilupakan sampai terkadang ia sering mendapatkan mimpi erotis dalam tidur-tidurnya.
“Sandd… makasihh.. kamu baik sekali padaku” ujar gadis itu lirih.
Sandra memeluk erat sahabat barunya itu sebelum tangisnya meledak lagi seperti tadi sambil berbisik.
“Nien.. aku turut prihatin dengan keadaanmu biarkan aku dan suamiku membantumu mendapatkan lagi kebersamaanmu dengan Alfi ….  ”
Seakan mendapat pencerahan dan dadanya terasa longgar terlepas dari sebagian bebannya selama ini . Niken terlihat ceria bercanda ditemani Sandra Terkadang terdengar tawa mereka berderai memenuhi ruangan. Hingga berjam-jam tak terasa. Hari sudah menunjukan pukul satu siang. Sandra bangkit dari duduknya sambil menarik tangan Niken
“Nien ikut aku ke kamar sebentar, ada yang ingin aku perlihatkan padamu”
Niken menurut meski ia masih diliputi tanda tanya. Saat Sandra membuka daun pintu sebuah lemari pakaian Niken dapat melihat di dalamnya ada banyak pakaian dalam dan sejenisnya di situ. Sandra mengambil sebuah Lingerie atau sejenis pakaian dalam yang seksi berenda-renda berwarna hitam.
“Nien coba kamu pakai ini, Alfi paling suka dengan warnanya karena kontras dengan warna kulit kita”
“Sand aku.. tak pernah…”
“Pakai saja Nien, Aku ingin Alfi melihat bidadarinya dalam kecantikan yang sempurna”
Niken agak jengah gaya liar Sandra yang sangat bertolak belakang dengan dirinya. namun di dalam hatinya ia membenarkan ucapkan Sandra. Sungguh iapun ingin terlihat menyenangkan Alfi. Lingerie itu diraihnya lalu dihadapan Sandra ia menganti pakaiannya.
“Ck..ck.ck..tubuhmu sempurna sekali Nien, pantas saja si Alfi klepak-klepek ”
“Aku jadi malu kamu puji terus, kulihat tubuh kita berdua tak berbeda Sand buktinya saat bersamaku ia sering muji-muji kamu dan kedua temanmu, katanya kak Sandra bohai-lah, kak Dian punya body gitar-lah dan bahkan ia paling suka payudaranya Nadine bagai melon kembar katanya.”
“Hi..hi..hi  iya ya dia emang suka muji kami seperti itu, kalau aku ngga salah ia sering menyebutmu….”
“bu guru molek” ujar mereka berdua nyaris berbarengan.
Mereka berdua lantas tertawa cekikikan.
“Eng.. Nien apakah Alfi mempunyai pacar di sekolahnya saat kamu masih mengajar di sana?”
“Setahuku tidak ada Sand. Kenapa kau tanyakan hal itu?”.
“Aku hanya cuma kuatir bila ia sampai pacaran dengan gadis seusianya, kupikir belum tentu gadis seusia itu mampu menerima kejantannya yang ngga ‘normal’ itu bisa-bisa kewanitaan mereka cidera oleh Alfi, kita sebagai wanita dewasa saja kelabakan meladeninya bukankah sudah kau rasakan sendiri”.
“Iya juga sih namun sepertinya Alfi tidak tertarik dengan gadis-gadis seusianya walau di sekolah banyak siswi yang cantik. Bahkan  ia pernah mengatakan kalau ia cuma suka dengan wanita yang tubuhnya sudah tumbuh sempurna seperti kita..”jelas Niken
“Syukurlah jika demikian”
Tingtong!! Bel kembali berbunyi
“Itu pasti Alfi Nien, biar aku saja yang menyambutnya sebaiknya kamu tunggu ia disini biarkan ia mendapat kejutan”
Nikken
Nikken
Niken bergegas merapikan diri. Ia berdiri menunggu di depan kasur. Bagian atas lingerie itu bagai hanya tergantung pada ujung payudara indahnya. Sedangkan bagian bawahnya melayang menghiasi kedua batang pahanya yang putih mulus. Sandrapun memberinya sebuah celana dalam berwarna senada yaitu hitam berenda yang terlihat mengintip mengoda dari balik lingerie-nya. Jantungnya berdetak keras menantikan pertemuan yang mendebarkan ini. Sementara itu Sandra membukakan pintu. Alfi langsung memeluk dan membekap bibirnya dengan ciuman.
“Emmpp…”
Anak ini selalu begitu… Ini juga merupakan daya tarik seksual dari Alfi. Ia selalu hangat dan penuh gairah di setiap situasi kepada setiap gadisnya namun tentu saja hal ini tak berlaku jika ada orang lain yang melihat. Sandra begitu menyukai kemesraan yang ditunjukan Alfi itu.
“Ihh..baunya!..sana mandi dulu yang bersih. Kakak tunggu kamu di kamar tidur kakak kalau kamu udah wangi, kakak punya kejutan besar buat kamu” ujar Sandra begitu ciuman itu terlepas.
“Asiikkk… kejutan apa ya kak?”
“Ada aja deh, pokoknya kamu pasti suka”
Meski diliputi rasa penasaran namun tanpa menunda-nunda lagi Alfi bergegas membersihkan diri. Ia  tahu para wanita begitu sensitive terhadap kebersihan tubuh pasangannya. Bau yang tidak enak dapat menurunkan gairah mereka dan dapat menggangu kemesraan yang sedang berlangsung. Seluruh tubuh termasuk batang penisnya ia sabuni terutama pada bagian kulit kulupnya dan juga pada setiap lipatan yang ada. Pernah satu kali dr.Lila menawarkan pada Sandra agar bagian kulup itu di buang saja atau disunat. Namun ke tiga gadis itu menolak. Mereka justru menyukai bagian itu yang katanya paling seksi dari penis Alfi
Setelah yakin tubuhnya bersih, Alfi mengeringkan diri. Lalu tanpa mengenakan pakaian terlebih dahulu ia bergegas menuju ke kamar Sandra. Penisnya sudah tegang dan kaku itu berayun-ayun saat ia berlari kecil. tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Ia menerobos masuk.
“Kakk Sandraaa..Alfi suddahh… siaaa……”
Tiba-tiba saja Alfi tak bisa menyelesaikan kalimatnya, suaranya seakan-akan tercekat tersangkut pada kerongkongan. Pandangannya menatap kaku kedepan dengan mulut melongo. Lalu ia mengucek kedua matanya seakan tak percaya dengan apa yang ia dilihatnya saat itu. Ternyata ia memang tidak sedang menghayal atau bermimpi, di hadapannya kini telah berdiri seseorang yang selama ini sudah sangat ia rindukan…. Niken dengan segala kencantikan dan kesempurnaan ragawi seorang wanita..
“Alfiii… apa kabar sayangg” sapa gadis itu.
Alfi tak lagi mampu menjawab . Ia segera berlari menubruk dan menangkap tubuh gadis itu dalam pelukan. Tak ada yang bisa mencegahnya kali ini. Bibirnya segera menemukan bibir Niken dan memagutnya dalam sebuah ciuman panjang dan panas. Mereka tak peduli pada nafas mereka yang hendak bersikulasi. Keduanya saling mengecup, mengisap dalam gairah tinggi menumpahkan segala kerinduan dan kasih sayang terhadap orang dipelukannya.
“emmppp…emmppp..” hanya bunyi itu yang terdengar di antara tautan bibir ketat mereka.
Jemari Alfi menemukan buah pantat montok bekas gurunya itu, diremasnya lembut sambil ditekan kearah tubuhnya. Ciuman itu berlangsung bermenit-menit. Tak ada tanda-tanda keduanya akan segera mengakhiri ciuman tersebut. Semakin lama ciuman itu berubah semakin lembut. Sementara air mata meleleh pada pipi Niken. Hingga akhirnya bibir mereka terpisah sejenak. Mata keduanya saling menatap.
“buu Niken…buu…buu ja..nga pernah tinggalin Alfi lagi ya buu …” ujar Alfi memohon dengan wajah memelas
“Ssttt…sudah ngga usah bicara lagi,  perasaanmu sama dengan ibu….” Niken menempelkan telunjuknya ke bibir Alfi
“benar ya buu”
“Ya fii… ibu janji ngga akan ninggalin kamu lagi karena Ibupun tak bisa hidup tanpa kamu”
“kalau begitu Alfi bolehkan jadi…suami ibu? Alfi mau menikahi ibuu”
Niken tersenyum geli. Menikah? anak ini ia serius saat mengatakan itu. Alfi rupanya ingin memiliki dirinya secara utuh dalam hubungan yang sacral. Padahal tanpa menikahpun ia telah menyerahkan hati dan tubuhnya secara utuh kepada Alfi.
“Hi hi kamu harus sabar menunggu beberapa tahun lagi hingga usiamu cukup untuk itu sayang, lagian sekarang ibu masih terikat oleh tali pernikahan dengan pak Donie”
“Alfi ngga perduli,  Alfi maunya jadi suami ibu sekarang bolehkan bu?”
Sekilas Niken melihat garis kecemasan di wajah Alfi. Ia tak tega kekasihnya itu kehilangan harapan untuk memilikinya. Alfi sudah cukup menderita kehilangan dirinya dan Niken tak mau menambah kesedihan anak itu.
“iya sayang….. sejak sekarang kamu boleh menganggapku istrimu, besok-besok kita cari orang yang bisa menikahkan kita”
Alfi girang bukan main ia merasa yakin kali ini Niken tak akan meninggalkannya lagi.
“Alfi kangen sekalii bu, ibu jangan pulang dulu , ibu menginap saja di kamar Alfi, Alfi mau entot ibu sampai besok pagi ya?”
“Hi hi iya deh aku siap kamu apa-apain tapi kamu maukan sekarang panggil aku dengan sebutan Kak Niken saja bukan ibu, aku tak ingin terlihat jauh lebih tua di bandingkan ke tiga gadismu yang lain”
Dalam hati Niken gembira bukan main, ia tak dapat melupakan sentuhan-sentuhan Alfi yang jantan dulu yang memberinya jutaan kenikmatan ragawi. Saat ini Niken benar-benar dalam kondisi haus akan belaian dan ini akibat ketidakmampuan Donie sebagai laki-laki.
“iya kak .. kakak Niken manis”
Kegembiraan hatinya tak mampu lagi ia ungkapkan lewat kata-kata. kerinduannya kini telah  menyatu dengan gairahnya. Tanpa menghiraukan keberadaan Sandra di sana, ciuman panas itu terjadi lagi. Semuanya terjadi di hadapan Sandra. Ia tersenyum-senyum menyaksikan adegan tersebut. Ia sangat mengerti perasaan mereka saat ini. Ia teringat hal ini pernah dialaminya pada saat malam pengantinnya dulu. Perlahan ia keluar dari kamar dan menutup pintu. Tanpa melepas ciumannya perlahan tubuh Niken bergerak mundur terdorong ke arah kasur. Tubuh sintal itu kini terlentang dan menggeliat pasrah dalam tindihan tubuh telanjang bocah 16 tahun. Kejadian di dalam kamar cottage xx tempo hari sepertinya bakal terulang kembali. Namun kali ini berlangsung di atas ranjang empuk Sandra. Meski sama-sama dalam kondisi tegangan tinggi dan kerinduan yang teramat dalam, namun Alfi tak ingin tergesa-gesa melakukan penetrasi ke vagina Niken. Ia ingin memberikan kepuasan total agar Niken tak akan meninggalkan dirinya lagi. Ia sadar ini akan menjadi suatu sore yang panjang bagi mereka berdua. Alfi melepas dulu ciumannya. Matanya menatap Niken. Niken terlihat sangat cantik terbaring di sana dengan bibir yang merekah dan rambut yang tergerai di atas bantal. Buah dadanya dapat terlihat dari balik lingerienya yang tipis, menjulang seperti dua gunung kembar. Sungguh ia adalah bidadari yang sangat molek. Mungkin hanya kak Sandranya yang mampu menandinginya. Jemari Alfi masuk menyusup ke balik Lingerie indah itu dan meraih payudara Niken yang ranum dan putih mulus kemudian mengeluarkannya dari pembungkusnya. Puting susunya yang kemerahan mulai mengeras karena diakibatkan oleh pergerakan tangan Alfi.
Kecupan Alfi  beralih ke leher jenjang Niken perlahan turun hingga sampai di belahan dada gadis itu  lalu lidahnya mulai menjilati setiap jengkal permukaan kulit kedua bukit putih kembar di hadapannya. Ia mengetahui dan selalu ingat dimana saja titik kenikmatan setiap pasangan wanitanya. Niken paling menyukai bagian yang ini dimana saat Alfi mulai  menyusu bagai seorang bayi pada payudara kirinya. Mulanya bibirnya menghisap dengan lembut sambil sesekali memutar-mutar lidahnya lalu semakin kuat seakan ingin menelan puting susu itu.
“Errggggggg…Fiii…” gadis itu merintih-rintih
Namun sensasi ia rasakan kali ini sungguh berbeda dengan dulu. Rasa geli dan nikmat yang dengan cepat diikuti oleh sebuah perasaan menyenangkan yang hebat, lalu menjalar ke setiap syaraf pada seluruh tubuh lalu menyebar hingga ke pinggul bagian bawah.
Tak disangka-sangka, vaginanya yang belum diberi rangsangan sama sekali telah berkontraksi sendiri. Niken mengalami sebuah orgasme padahal vaginanya masih dalam keadaan kosong dan belum memiliki sesuatu untuk dijepit.
“Auwwwww……fiiiiiiiiiiii!!!!” pekiknya tertahan sambil menekan erat kepala Alfi pada payudaranya
Alfi berhasil meletupkan kenikmatan yang selama ini tak mampu diberikan oleh suaminya. Celana mungil yang diberikan Sandra terbuat dari bahan yang sangat lentur. Selama ini Alfi selalu menyetubuhi Sandra tanpa membuka celana dalam tersebut terlebih dahulu. Ia hanya cukup menyingkap sedikit bagian tengahnya sehingga tititnya dapat melakukan penetrasi. Begitupun kali ini. Sesekali ujung tititnya yang berkulup masuk sedikitt dan mencolek belahan yang sudah mulai basah itu. dan membuat  vagina Niken bereaksi berkedut-kedut  mencucup benda tersebut. Beberapa kali gadis itu mencoba mengangkat pinggulnya namun percuma saja Alfi selalu menarik kejantannya menjauh.
“oughh..Fiii.. …masukin itumu dong sayanggg…..” rengek Niken. Ia sungguh sudah tak sabar agar Alfi menuntaskannya. ia sudah terlalu lama menanti kejantanan Alfi untuk mengadul-aduk kewanitaannya dan sekaligus berinya kenikmatan seperti dulu.
“Kakk.. kakak ngga takut kan kali ini Alfi buntingin?”
“Ohhh..Alfiii….lakukan sayangggg…Kakak mau uu hamilll anak kamuuuu …”
lalu Alfi menggenggam penis besarnya yang sudah menegang penuh dan diarahkan pada vagina Niken. Ia terlebih dahulu menyapu kepala penisnya ke atas dan bawah di sepanjang bibir cantik itu sebelum melakukan penetrasi. Setelah  terlihat cairan yang merembes semakin banyak keluar dari celah vagina Niken, barulah ia menekan batang kemaluannya masuk.
“terima titit Alfi sekarangg. Kakk.”  Mereka saling berpandangan sejenak sesaat sebelum penyatuan itu terjadi dan
Srtttt  …..Lepp…bibir vagina Niken terbelah dan kepala penis Alfi mulai menghilang ke balik bibir vagina itu. Labia dalamnya mencengkram dengan ketat sehingga mencegah kepala penis itu masuk lebih dalam.
“Ouhhhh…Fiiiiii..pelaann-pelannn sayanggg” rintihnya begitu merasakan nikmat bercampur sedikit rasa perih pada selangkangannya. Napasnya sampai  tersengal-sengal Ia tak menyangka titit Alfi tumbuh lebih besar dari tempo hari. Benda benar-benar itu sudah tumbuh dengan sempurna pada tubuh kecil Alfi. Bahkan jauh lebih besar dari milik suaminya.
“Sakitt..ya..kak? kok punyaa..kakakk..tambahh sempittt!! tambahh… enakk..Ouuhhh”
“Uhh.. punyaaa kamuu yangg tambahh ..b..esarrr …Fiii”
Untunglah Alfi bersikap sabar saat melakukan penetrasi pada vagina Niken walau kondisinya yang sudah sangat terangsang. Alfi menduga pastilah Donie mempunyai penis yang kecil sehingga vagina Niken  ia rasakan masih sangat  rapat seperti dulu.
Niken membuka pahanya lebih lebar untuk memberi ruang bagi Alfi memasuki dirinya.
ketika otot-otot vaginanya mulai rileks, Alfi mulai lagi menekan lagi dan srttttt…batang penisnya yang hitam besar itu melesak lagi sedikit dan seperti awal tadi, Niken tersentak sambil menjerit
“Awwww…Fiiiiiiii…Saakkiiiittt” ia merasakan vaginanya dipaksa merenggang sampai batas maksimal.
Alfi mulai mengocok penisnya selembut  mungkin sehingga membuat bibir vagina Niken perlahan-lahan lebih meregang sedikit demi sedikit menyesuaikan diri dengan ukuran penisnya. Kemaluan anak bagai membongkar liang senggamanya dan menimbulkan rasa sakit dan linu diiringi nikmat yang luar biasa. Perlahan tapi pasti sebagian besar dari batang hitam itu masuk ke dalam tubuhnya dan tiap hentakan dia menerobos semakin dalam…semakin dalam…dan  Leppp…hingga akhirnya terbenam seluruhnya tanpa sisa bersatu kembali dengan liang cinta yang pernah diperawaninya dulu.
“Oghhhh…Fiiiii….”
Niken menggeliat dan merintih sambil melingkarkan kedua kakinya ke pantat Alfi lalu menekankan tubuh anak itu agar penisnya tetap dalam posisi terbenam dalam vaginanya. Daging itu mampu menjamah tempat yang tak mampu dijangkau oleh penis Donie. Ujungnya yang masih berkulup itu menekan mulut rahim. Sementara tetisnya membentur pantat putih Niken. Mata Niken terpejam menikmati sensasi nikmat yang semakin lama semakin menyengat. Dan tak menunggu lama vaginanya kembali berkedut keras dan Niken kembali Orgasme!
“Argggg….. Alllfiiiiiihhhhhhhhh!!!…”
Beruntung Alfi sudah berpengalaman bersetubuh dengan banyak wanita dan sudah berkali-kali orgasme tadi malam jika tidak mana mungkin ia dapat bertahan selama ini dalam lumatan istimewa vagina Niken
“Fii…kakak cinta sama kamuu” bisik Niken setelah orgasmenya mereda.
kebahagian terpancar dari wajahnya yang cantik. Pipinya merona merah
Apa yang ia dambakan sebagai seorang istri, kepuasan sejati dalam persetubuhan, kini sudah dituntaskan bukan dari suaminya melainkan dari Alfi, bekas muridnya yang pertama kali telah mengenalkannya dengan dunia seks, sekaligus merengut kegadisannya, dan membuatnya ketagihan disetubuhi anak itu.
“Ohh.. Benarkah kak? Kakak sayang dan cinta sama Alfi” seakan tak percaya mendengar langsung Niken mengucapkan kata ‘cinta’ kepadanya. Ditatapnya kedua bola mata gadis itu seakan mencari-cari  kebenaran di situ.
“ya Fii, Kakak cinta padamu” ujar Niken sambil membelai kepalanya. Iapun tak mengerti perasaan sayangnya kepada Alfi yang semakin lama semakin menguat bahkan ia merasa tak dapat hidup tanpa bocah keling ini. Yang ia butuhkan adalah  perhatian dan kasih sayang yang berlimpah selama ini Alfi tunjukan padanya, bukan napsu sesaat , ketampanan dan materi yang ada pada diri Donie suaminya.
“Alfi sejak dulu cinta kakak” ujarnya kembali menenggelamkan kepalanya dalam pelukan . Kala sebelum menikah Niken belum sepenuhnya memberikan hatinya padanya mungkin hanya sebatas dorongan napsu dan rasa kasihan saja namun kini anak itu bangga dirinya yang buruk hitam itu bisa mendapatkan cinta gadis semolek Niken secara utuh.
“Entot kakak lagi fiii…” pinta Niken
“He e Kak” ujar Alfi bersemangat.
Jika dulu setiap kali ingin mengulangi persenggamaan Alfi-lah yang selalu memohon padanya. Namun kini Niken sudah tak malu untuk memintanya terlebih dahulu. Adegan persetubuhan seorang bocah ABG dengan wanita dewasa penuh gairah tinggi itu berlangsung lagi.
Penyatuan dua insan berbeda jenis dan usia. berbeda pula status sosial, bahkan begitu tak sepadan untuk disandingkan. Niken yang cantik bertubuh indah menggelepar dan merintih dalam genjotan seorang bocah kurus kering berkulit hitam kesat. Alfi mengocok mengayunkan pinggulnya dengan cepat dan dalam diringi desah dan rintihan keduanya. Tak ada yang terlewat oleh adukan penis besar Alfi. Daging hitam itu menekan, clitoris, G-spot, mulut rahim dan seluruh gumpalan-gumpalan daging dalam vagina gadis itu sehingga menimbulkan perasaan geli nikmat bagi Niken secara total. Kejantanan Alfi yang sejak kecil sudah terlatih ngentot serta di godog oleh ramuan ajaib Sriti tumbuh dengan ukuran besar dan panjang dan memiliki struktur yang kokoh perkasa. jangankan gadis biasa seperti Niken seorang bintang porno sekalipun mampu bocah itu taklukan. Menit-menit berlalu. Peluh mengucur dari tubuh keduanya. Udara kamar yang dingin tak mampu menghalau panas gelora yang memancar dari himpitan keduanya. Niken sudah merasa sebuah dorongan dasyat hendak pecah. Kukunya menancap pada bongkahan pantat alfi yang hitam legam.
“Awww..owww..fiih..ffiiihh..”
Orgasme gadis itu pecah tak tertahankan …..dan kali ini tak hanya berlangsung sekali… dua kali…tiga..dan terjadi terus susul menyusul bagai sebuah mata rantai!
“Aooooooooo…Fiiiiiiii……..eenaaakkk ….bangett!!!” jika sudah sampai pada tahap ini Niken bibir mengeracau tak karuan. Tubuh sintal itu mengelinjang dan mengelepar bagai seekor ayam yang disembelih. tubuh kecil Alfi-pun ikut terlonjak-lonjak namun tetap melekat erat bagai seekor lintah yang menggarap mangsanya. dekapannya yang kuat tak membuat tubuhnya merenggang sedikitpun dari tubuh cantik Niken.
Dulu setiap kali Alfi melakukan persenggamaan dalam waktu yang lama. Vagina Niken menjadi semakin sensitif menerima setiap gesekan dengan penis Alfi. Hal itu membuatnya orgasme datang  tak henti-hentinya menyapa sepanjang persetubuhan seakan orgasme yang satu menjadi pemicu datangnya orgasme berikutnya. Bahkan beberapa kali orgasme itu mampu membuat Niken terkencing-kecing bagaikan sedang berejakulasi. Sebuah fenomena yang tak Niken mengerti, namun itulah yang membuatnya sungguh tergila-gila dengan penis bocah itu dan kini hal itu  tersebut kembali dialaminya. Alfi memang seorang pejantan sejati, namun sepertinya ia sudah tak lagi mampu bertahan. Selama sepuluh menit vagina Niken melumat penisnya tanpa henti dan ia  sudah memberikan orgasme tak berujung pada gadis itu. Ia merasa ini adalah saat yang tepat baginya melepaskan ejakulasinya. Spermanya sudah terasa mengalir perlahan disepanjang saluran kencingnya. Tak mungkin untuk ia tahan lebih lama lagi. Kepalanya menyusup ke relung leher Niken seraya berbisik
“Kaaak…. Alfiii…muncratt … kakaaak..”
“kamuuuu udah mauu sekarangg sayangggg?”
“Iyaaaa  kakkkk sekarangggg  oughhh”
“Ohh..keluarinnn…semuaaa sayangg…..isii rahimmmkuu  samaa benihhh..muuu” Niken merasakan daging kejantan bocah itu mengembang mengempis  bertanda akan segera berejakulasi.
Pelukan Alfi mendekap sambil menekan penisnya sedalam mungkin ia dapat masuk hingga menyentuh dasar liang senggama Niken.
“Aargggggg…. Fiiiiiiiiiiiiiiii….…” Niken terpekik saat orgasme yang paling kuat datang menyergapnya, jemarinya  mencengram dan menekan bongkahan pantat bulat bocah itu.
Pinggul gadis itu berayun terangkat membuat liang senggamanya menelan habis batang titit Alfi tanpa sisa. Semua otot-otot kewanitaannya berkontraksi berirama dengan sangat cepat dan kuat diikuti di bagian panggul dan rahim. Lalu diakhiri dengan cengkraman kuat pada penis Alfi. Kocokan  Alfi mendadak macet total, penisnya bagai tercekik dan terkunci. Bahkan gumpalan sperma kental yang terdorong dari testis nya sulit memancar hingga menyesaki saluran dalam tititnya. Kejadian yang berlangsung hanya beberapa detik itu membuat Alfi ia bagai melayang ke surga. rasa geli plus nikmatnya sungguh menyengat tak tertahankan. Kontan saja Alfi terpekik keras sementara kedua matanya  mendelik dan hanya terlihat bagian putihnya saja.
“Aaaaoooooo…..enaaakkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!”
setelah vagina Niken kembali berkedut-kedut barulah titit Alfi agak lega memuncratkan sperma. Cairan itu melesat bagai peluru begitu terlepas sumbatannya.
Creettt…cretttt…cretttt…Begitu banyak jumlah cairan  yang  ia muntahkan sehingga vagina dan rahim Niken bagai tak mampu menampung semuanya. Sebagian tumpah dan mengotori seprey kasur Sandra. penantian mereka selama ini akhirnya telah tertuntaskan. Sandra sempat terkaget mendengar jeritan anak. Untung saja rumahnya yang berhalaman luas berada cukup jauh dari bagunan milik tetangga.
“Gilaa.. diapain aja si Alfi sama Niken sampai meraung begitu? kena batunya juga rupanya si bandel kecil itu”gumam Sandra sambil tersenyum geli.
Rasa penasaran membuat ia berkeinginan mengintip keadaan di dalam kamarnya. Tak ingin mengganggu Ia mendorong sedikit daun pintu. di hadapannya ia menyaksikan  tubuh Alfi dalam keadaan melekat menyatu dan memeluk erat dengan tubuh sintal Niken masih dalam belitan orgasme bareng yang dasyat. Sesekali itu pinggul bocah itu menghentak- hentak sambil terus menerus memompakan benihnya ke rahim gadis itu seakan-akan ia ingin mengosongkan seluruh isi testisnya.
Uhhh ..Niken masih tetap orgasme dalam kondisi itu. Sandra tercengang ternyata ada wanita lain yang mengalami hal tersebut selain dirinya. Selama kejantanan Alfi tetap mengeram kaku dalam vaginanya maka wanita itu akan terus memperoleh kenikmatan bersambung-sambung tanpa henti. Daging hitam besar itu tetap kukuh meski sudah berejakulasi. Dan seperti biasa beberapakali orgasme belum mampu membuat birahi Alfi mereda. Mulanya Sandra tak ingin mengganggu keduanya yang sedang asyik masyuk namun gairahnya yang naik memerintahkan lain. vaginanya berkedut-kedut seakan minta jatah kenikmatan. Perlahan satu persatu pakaiannya jatuh ke lantai hingga tubuhnya bugil total. Sandra perlahan mendekat kearah tautan kemaluan keduanya. Perlahan lidahnya menjulur dan menyapu lelehan campuran cairan cinta kedua insan itu.
“Ohh..Sandddd..apa yang kamu lakukannn..ohghh” Niken sempat terkejut melihat Sandra sudah berada di sana. Ia tak menduga Sandra mau menjilati miliknya, rasa geli dan nikmat menambah panjang sesi orgasme Niken akibat sapuan lidah Sandra pada bibir vaginanya yang masih merekah lebar oleh penis Alfi. Sandra menghentikan jilatannya ketika ia melihat orgasme Niken sudah mereda. Lalu berbaring menyamping menghadap tubuh Niken. Sementara kepala Alfi-pun sudah terkulai
“Maaf ya Nien telah mengganggu kalian abis aku terangsang banget liat kalian bereng tadi” ujarnya sambil menyeka sisa tetesan sperma Alfi disekitar bibirnya.
“Kamu juga suka begituan dengan sesama cewek Sand? Kulihat kamu ngga jijik jilatin punyaku tadi.”
“Aku cuma mau melakukannya dengan gadis tertentu saja, seperti Dian, Nadine,…. dan juga kamu”
“Makasih ya Sand, kamu mau menerima aku jadi bagian hidup kalian.”
“Kurasa kamu pantas bahagia, Nien”
Ketika tatapan kedua beradu
“Boleh Nien?.” bisik Sandra menurunkan wajahnya
“He e” Niken mengangguk matanya terpejam menanti bibir Sandra menyentuh bibirnya.
“Emppp..mpppp”
Keduanya saling memagut, mengecup dengan panas dan menghisap lidah. Ini pertama kali dalam hidup Niken melakukan ciuman dengan sesama wanita. Sebelumnya Niken tak pernah tertarik dengan berhubungan dengan sesama jenis namun entah mengapa ia kini malah meladeni permainan Sandra dan bahkan menikmatinya.
“Kamu memang terlalu mengairahkan untuk ukuran seorang guru, Nien” puji Sandra ketika ciuman mereka terlepas.
“Kamupun terlalu mengiurkan untuk menjadi seorang ibu asuh Kan? Hi hi hi”
Mereka tertawa lepas. Tak ada lagi beban berat di hatinya selama ini. Bagi Niken berada di tempat yang tepat diantara orang-orang yang menyayanginya telah mampu memberinya rasa aman dan kedamaian. Tekadnya sudah bulat. ia tak ingin kebahagiaannya terengut oleh aturan dan adat yang ada. Bahkan ia sudah tak peduli lagi dengan nasib perkawinannya dengan Donie ke depan. Kini Ia sudah mengerti membedakan antara kebahagian sejati dan yang semu.
“Kak Sandra terima kasih ya kejutannya.” Ucap Alfi
“Masa cuma bilang terima kasih doang?”
Alfi nyengir lalu menatap Niken
“Kakk boleh Alfi ngentot sama kak Sandra dulu?” ujarnya meminta ijin pada Niken.
Setelah Niken mengangguk barulah ia mencabut lepas penis perkasanya dari vagina Niken. Plop! Penis itu sempat meninggalkan lobang menganga, namun dengan cepat mengatup lagi bagai sebuah bibir tipis. Sebagian cairan kental pun mengalir keluar dan sebagian lagi tetap tertinggal di rahim Niken.
“Eng..tapi jangan lama-lama ya Fii punya kakak masih ngilu bekas kamu kerjai tadi malam” mohon Sandra. Ia tahu sekali bila kontol Alfi sudah memasukinya pastilah butuh waktu lama untuk mengakhiri persetubuhan itu.
“Kamu cari gara-gara sich Sand” ujar Niken tersenyum geli.
Alfi kini mulai bergerak mengangkangi Sandra, kepala kemaluan Alfi yang membengkak itu menempel dan digesek-gesekan ke  bibir vagina Sandra. Nafas Sandra tertahan-tahan merasakan tekanan birahinya.
“Fii perlahan ya ..”
Lalu tanpa ba bi bu kontol hitam yang masih basah oleh lendir Alfi dan Niken itu di sodokan membelah bibir vagina Sandra. kedua tangan Alfi berpegang pada pinggul Sandra sambil menusukkan kemaluannya kuat-kuat  bawah. Blesss!! penis Alfi berhasil memasuki kemaluan Sandra secara sempurna.
“Ougghhhh…Fiii.. enakkkk bangettt”  erang Sandra ketika vagina sudah penuh sesak oleh kemaluan Alfi, Kedua tangan Sandra berpegangan kuat-kuat pada leher Alfi sementara kedua kakinya menjepit pinggang Alfi kuat-kuat. Sandra memutar pinggulnya yang padat sesekali menghentakan-hentak secara kuat dan liar.
“Aooooo….Kakkkkkk Sandraaa  enakkk!!” pekiknya. Tititnya bagai dihisap , dicengkram, dikulum bahkan saat Sandra menghentak seakan vagina gadis itu hendak mencabut putus miliknya. Rasa geli menjalar cepat terutama pada bagian kepala penis yang dipenuhi syaraf kenikmatan. Alfi tak membiarkan dirinya ditaklukan secepat itu, ia segera bergerak mengentot. Kemaluannya yang hitam besar mulai maju-mundur dengan cepat, tusukannya selalu dalam dan kuat. Liang vagina Sandra bagai tertarik keluar saat Alfi menarik penisnya, begitupun saat ia menekan bibir vagina Sandra seakan ikut terdorong masuk kedalam.
Wow…Niken jadi teringat pertama kali saat ia mengintip persetubuhan Sandra dan Alfi tempo hari. Kala itu pandangannya tak begitu leluasa. Tak disangka-sangka kini ia menyaksikan adegan itu lagi dari jarak demikian dekat. Ia takjub akan ukuran kejantanan Alfi yang besar dan panjang,  juga pada staminanya padahal baru saja bocah itu mengintiminya selama lebih satu jam tanpa henti dan kini ia sudah nangring diatas tubuh gadis lain. Wajar saja Sandra dan para sahabatnya kewalahan, gairah anak ini memang tak kujung reda.
“Oughhhhhhhh….. kakaaak keluaaar….Fiii.” Sandra  menjerit penuh dengan kenikmatan.
ia merasakan orgasme yang luar biasa. Punggungnya melengkung dan cairan kenikmatannya membanjiri titit Alfi yang perkasa. Sandra terus mengejang sambil terus mengeluarkan cairan kenikmatan . Kukunya tambah kuat menancap pada pantat Alfi yang bulat.
“Fii udahan dulu ya punya kakak ngilu”
“Dikit lagi ya kak, mani alfi sudah mau muncrat”
Sandra tak bicara lagi, ia tahu tak mungkin membujuk pejantan kecil ini untuk berhenti mengumulinya. Ia menarik kepala Alfi kearah payudaranya.
“Ernggggg…geliiiii” erang Sandra ketika salah satu puting payudaranya sudah dalam kuluman bibir Alfi. Setelah mengalami orgasme, tentu saja tubuhnya dalam keadaan bertambah sensitive terhadap sentuhan. Rasa geli lebih dominan ketimbang rasa nikmat.
Oh… Sandra orgasme lagi! Ia merasakan kembali kenikmatan itu datang. kocokan yang kuat dan cepat pada liang vaginanya mempercepat orgasmenya datang lagi. Tubuhnya melenting dan bibirnya merintih rintih. Diikuti dengan kontraksi pada semua otot-otot kewanitaannya yang berkedut-kedut keras dan berirama sekaligus menghisap setiap inci benda hitam besar yang mengaduknya sejak tadi.
“Oughhhhhh….Kakkkk”  kedua biji mata Alfi mendelik.
Lumatan vagina kedua wanita itu satu sama lain memang agak berbeda. Namun tetap saja jangan dikatakan nikmatnya. Itu membuatnya betah terus menerus menyetubuhi mereka. Lubang pipis Alfi memuntahkan cairan panas ke dalam rahim Sandra. Benih cinta yang tak ada habis-habisnya walau sudah dikuras berulangkali oleh dekapan dua vagina wanita cantik. Ketika dilihatnya Alfi tak lagi berejakulasi, Niken mendorong perut Alfi agar merenggang dari tubuh Sandra, batang titit Alfi terlepas dari balutan vagina Sandra. ia tahu Sandra tak kuat lagi melanjutkan persetubuhan. Plop! Dilihatnya kemaluan bocah itu masih berdiri kukuh, tak ada tanda-tanda anak ini mau mengakhiri persetubuhan ini. Alfi selalu kembali terangsang apabila melihat tubuh-tubuh indah polos Sandra dan Niken. Kedua tubuh yang ia perawani dulu yang memang sangat aduhai. Niken memasukan penis yang berlumuran cairan cinta Sandra dan sperma Alfi itu ke dalam mulutnya
Menjilati setiap tetes campuran penuh protein itu tanpa sisa. Setelah penis Alfi bersih, kepala gadis itu menyelusup ke antara paha Sandra. Terlihat kelopak kewanitaannya masih menganga dan didalamnya penuh dengan lendir bening. Meski baru pertama kali ia melakukan prilaku para kaum lesbian itu namun tak ada rasa jengah atau jijik pada diri Niken. Bau yang keluar dari situ malahan merangsang dirinya. Dijilatinya kemaluan Sandra dengan lembut, sambil meminum cairan yang tertinggal didalamnya. Alfi memang keterlaluan semalaman ia sudah menghajar benda cantik ini lebih dari enam jam lalu ditambah setengah jam-an siang ini. Bagaimanapun nikmatnya persetubuhan itu tetap saja menciderai Sandra.
“Ouhhh Niennn..” rintihnya.
Kelembutan Niken mendatangkan rasa nyaman sekaligus nikmat bagi Sandra. Hingga akhirnya orgasme Sandra memaksa seluruh sperma Alfi terdorong keluar bersama miliknya. Niken dengan sigap menghisapinya sampai  habis. Dasar bandelnya Alfi  penisnya yang masih agak tegang itu ia selipkan kembali ke dalam vagina Sandra. Dan dibiarkannya mengeram di situ
Alfi menyusupkan kepalanya dicekungan leher Sandra. Sementara tangannya mengelus-elus lembut dada Niken. Betapa membahagiakan berada di antara pelukan dua bidadari yang sangat dipujanya ini. Sayang kak Dian belum pulang dan kak Nadine dalam kondisi hamil. Ingin rasanya saat ini ia bersetubuh dengan ke empat gadis itu secara bersamaan.
“Fii” Sandra berbisik
“Iya kak?”
“Kamu lebih cinta aku atau kak Nikenmu Fii?” goda Sandra
“Kkakaakk.. …Alfi sayang dan cintaa sama kakakk berduaaa”
“Kalau kusuruh memilih salah satu, kamu akan memilih siapa?”
“Ahhh kakk.. jangannn nanya begituuu”
ujar Alfi mempererat dekapannya pada tubuh sintal Sandra. Ia kuatir Sandra cemburu terhadap kecantikan Niken. Dan memutuskan meninggalkannya
“Sand.. udahan bercandanya nanti dia stress” bisik Niken iba melihat wajah Alfi sudah memerah mau menangis.
“iya ..ya , kakak cuma bercanda kok, kakak tetap mencintai kamu Fii walau kamu punya banyak kekasih nantinya”
“Kak sandraaa, Alfi ngga mungkin ninggalin kakak, kakak cinta pertama Alfi, kakak Perawan pertama Alfi, Alfi cinta setengah mati sama kakak”.
“Idihhh gombalnyaa bikin aku klepek-klepek Nienn” ujar Sandra. Niken tersenyum geli
Ia tahu meski kedengaran gombal perkataan Alfi merupakan cerminan ketulusan cintanya pada Sandra dan dirinya.
“Fiii terlentang sayang, kakak mau di atas”  bisik Niken. Kali ini.ia menginginkan persetubuhan dengan posisi di atas tubuh Alfi.
Alfi melepaskan tindihannya dari tubuh Sandra. Lalu terlentang di antara keduanya dengan batang kemaluan berdiri bagai sebuah tonggak. Niken naik ke atas tubuh kecil anak itu. Perlahan vagina indahnya melahap hingga habis daging cinta Alfi yang hitam legam.
Clkteppp…sekejap penis besar Alfi menyatu sempurna dengan vaginanya, dalam posisi duduk dengan kaki terlipat kebelakang lalu Niken mengayun pinggulnya ke depan dan ke belakang. Kedua payudaranya  yang indah berayun-ayun mengikuti goyangan tubuhnya. Alfi hanya dapat menatap keindahan tubuh Niken sambil Jemarinya meremas pinggul bulat wanita itu. Tak banyak yang bisa ia lakukan dalam posisi ini. Ia membiarkan Niken mendominasi persetubuhan.
“Uhhhhh  Kakaak …punya kakkakk enakk bangettt…kakak cantikkk…kakakkk molekkk” Alfi mulai meracau karena keenakan.
“Hmm.. masih saja ngegombal ya, dasar laki-laki, rasakan inii…” kata  Niken sambil mempercepat ayunan pinggulnya  dan otot-otot vaginanya mencengram kontol Alfi lebih kencang dari sebelumnya yang membuat Alfi kian melambung keenakan.
“Ouuuuuuuggghh.. Kakakkkkk…Sayangggggg!!!!” lolong Alfi nikmat seakan jiwanya ikut terbetot..
Niken tahu rasa-rasanya Alfi tak akan menunggu waktu lama untuk berejakulasi. nikmat itu menggila dan tak dapat  anak itu  tahan lagi. Dan…creetttt…creett..crettt
“Kakaaaakkk…Allfiiii muncrattt!!!!! Ougghhh!!!”
Jemari Alfi mencengkram pinggul Niken kuat-kuat. Bersamaan dengan pekik nikmat, penisnya berkejat-kejat lalu lubang pipisnya melepaskan memuntahkan seluruh sisa spermanya kedalam rahim Niken. Meski tak satu tetes manipun  yang keluar lagi namun penisnya masih menghentak-hentak kuat dan vagina Nikenpun seakan tak pernah mengendur mencengram batangnya. Niken paling suka memandangi ekspesi wajah Alfi kala bocah itu mendapat orgasme darinya.
“Wow Nien… kamu hebat bisa menaklukan dia hi..hi” ujar Sandra yang sejak tadi tak lepas menatap persetubuhan mereka. Baik ia maupun Dian dan Nadine juga memiliki posisi favorite dan kebiasaan sendiri-sendiri. Sejak diperawani Alfi dulu Sandra lebih suka posisi ‘missionary’  di mana Alfi menindih tubuhnya, menghajarnya dengan hujaman kuat. Dian memilih ‘doggie style’ alasannya pada posisi itu Ia merasa G-spotnya tertumbuk secara maksimal oleh titit Alfi.  Sedangkan Nadine ada kecenderungan menyukai persetubuhan di luar kamar tidur. Tempat yang paling di sukai Nadine adalah kolam renang di rumah Sandra. Alfi melepas dekapannya lalu memutar kembali posisi tubuhnya kembali menindih tubuh Niken.
“Tungguuu duluu! Fii” seru Sandra saat Alfi mulai membentangkan kedua paha Niken dan segera akan kembali melakukan penetrasi.
“Kenapaaa kak?” ujarnya heran karena Sandra tiba-tiba mencegahnya.
“Kita istirahat dulu sebentar ya, setelah makan siang kita lanjutin lagi, apa kamu ngga kasihan sama kak Nikenmu?” jelas Sandra. Alfi mendongak melihat ke arah jam dinding. Uhh..ternyata sudah pukul 2.30 siang, pantas perutnya berbunyi-bunyi tanpa ia sadari.
“Iya ya kak, hi hi biar Alfi yang beliin keluar ya” ujarnya bergegas berpakaian dan menghilang dari balik pintu.
Sepeninggal Alfi keduanya memanfaatkan waktu buat beristirahat sambil memulihkan tenaga karena mereka yakin setelah makan Alfi akan menggarap tubuh mereka lagi.
“Nien, apakah kamu bahagia kan sekarang?” Tanya Sandra diantara napasnya yang masih belum teratur.
“He e Sand, aku bahagia …hanya saja…”
“Aku tahu kamu bingung memikirkan soal kelanjutan rumah tanggamu dengan Donie kan?”
“Iya itu Sand. Haruskah aku minta cerai saja pada Donie?”
“Hmmm… aku rasa biar Donie yang memilih”
“Mak..sudmu bagaimanaa Sand?”
“Cerai dari Donie adalah pilihan terakhir. Biarkanlah ia tahu hubunganmu dengan Alfi dan selanjutnya terserah ia mau menerima keadaanmu atau dia harus merelakanmu pergi”
“Jangaaan… Sand, a..ku takut hal ini akan menimbulkan masalah besar”
“Ngga usah kuatir manis, Aku tak akan gegabah, baiknya kamu nonton saja, biar aku dan suamiku yang mengatur hal itu. Yang penting sekarang kamu sudah mendapatkan kembali kebersamaanmu dengan Alfi.”
“Aku harus mempunyai alasan untuk itu Sand sebab Donie tak mengijinkan aku sering-sering keluar rumah”
“Sementara ini kamu bisa bikin alasan memberi les private bagi Alfi, Donie pasti tak dapat menolak bila Didit dan aku yang minta kamu ke sini. dan bila suamimu sedang ke  kota G si Alfi dapat menginap di rumahmu”
Meski masih belum mengerti betul akan rencana Sandra namun Niken menyetujuinya. Selama ini ia sudah cukup bersabar menanti datangnya kebahagian dalam rumah tangganya. Apalagi ibundanya kini sudah tiada jadi tak ada yang dikuatirkannya lagi. Awalnya ia hanya bisa pasrah dan tak tahu lagi harus berbuat apa namun Niken berpikir inilah saatnya bagi ia mengapai kebahagian bagi dirinya .
“Sand..”
“Ya?”
“Tadi Alfi meminangku”
“Hi hi kamu serius menanggapinya?”
“Menurutmu bagaimana?”
“Kurasa Alfi hanya sedikit trauma karena harus berpisah denganmu tempo hari. Lantas apa jawabanmu?”
“Aku tak ingin ia kecewa kukatakan aku bersedia ia nikahi. Sebenarnya yang jadi permasalahan aku kuatir setelah itu ia tak mengijinkan aku pulang atau bertemu dengan suamiku sehingga akan menggangu kelancaran rencanamu”
“Hi hi kamu ngga usah kuatir Nien. Nanti semuanya akan kita atasi bersama-sama. Saat ini aku ingin melihat kamu berbahagia dulu”
“Baiklah…makasih kamu mau bersusah payah demi aku, Sand” ujar Niken dengan senyum mulai mengembang pada bibirnya.
“Nah begitu dong..Yuk kita mandi bareng sambil nunggu Alfi pulang dari resto”
terdengar Bunyi air yang memancar dari Shower.
Tuk..tuk..seseorang mengetuk kaca dinding shower. Sandra menggeser pintu, di sana telah berdiri Dian dengan senyum manis.
“Hi” sapanya
“Eh Dian, kok sudah pulang? Oh ya ini Niken gurunya Alfi” ujar Sandra sambil mematikan keran air
“Panggil Nien saja” ujar Niken.
Dian menyambut uluran tangan Niken, lalu menariknya mendekat. tanpa takut bajunya basah. Lalu Dian mencium kedua pipinya. Ciuman itu beralih ke bibir Niken. mulanya Niken terperangah mendapat sebuan mendadak itu, namun sejurus kemudian ia sudah membalas lumatan bibir Dian. Cks..cks…ciuman singkat namun hot itu terhenti ketika Dian melepas lumatannya
“Nien..aku berharap kamu mau menjadi bagian dari keluarga kami” ujar Dian tulus
“Terima kasih yah kalian semua mau menerima kehadiranku” Niken terharu atas penerimaan ke dua wanita ini.
“E..e  kok  sedih-sedihan lagi, sekarang waktunya gembira dong” ujar Sandra
“Ck.. ck.. kamu ternyata memang sangat molek seperti kata Alfi”
“Ah.. kamu juga suka memuji seperti Sandra, Kalian berdua-pun mirip bidadari”
“iya ya emang kita semua cantik dan molek Hi hi . Sand sepertinya beberapa hari ini kita bisa beristirahat, biar Niken dulu yang menemani si Alfi”.
“Iya biarin mereka berbulan madu tanpa ada yang mengganggu” ujar Sandra menimpali  membuat pipi Niken memerah  malu.
“eh .. aku boleh gabung mandi sama kalian kan?”
“Ayolah..toh pakaianmu juga sudah basah gitu hi hi”
Selanjutnya hanya terdengar tawa canda ketiga gadis cantik itu diantara bunyi percikan air shower.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar